Anna tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan mantan suaminya, Liam. Akibat pil pe-rang-sang membuatnya menghabiskan malam bersama dengan Liam setelah satu tahun mereka bercerai. Anna menganggap jika semua hanya kecelakaan saja begitu pula Liam mencoba menganggap hal yang sama.
Tapi, semua itu hilang disaat mendapati fakta jika Anna hamil setelah satu bulan berlalu. Liam sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Anna adalah darah dagingnya. Hingga memaksa untuk menanggung jawabi benih tersebut meskipun Anna sendiri enggan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
"Anna!" Nora berlari masuk begitu saja tanpa permisi pada Liam yang membuka pintu untuknya. Hal yang sangat ingin Nora lihat adalah sahabatnya, ia ingin tahu apa yang telah terjadi hingga secara tiba-tiba Anna mengirim lokasi sedang berada di Rumah Sakit.
Langkah Nora terhenti disaat melihat Anna terduduk disofa dengan tiang infus disebelahnya. Mungkin karena terlalu terkejut sampai tas selempangnya jatuh, Nora juga terduduk dilantai menatap nanar Anna yang malah tetap diam menahan kesedihannya.
"Astaga, apa yang terjadi padamu, An?!" Nora sangat histeris, ia sangat menyayangi sahabatnya itu mendapatkan Anna dalam keadaan seperti ini membuat perasaan Nora sangat kacau.
Nora sedikit tertatih menuju Anna yang kesulitan untuk bangkit. "Sudah tidak apa, disana saja.. aku yang akan datang.." Nora berhasil mendekati Anna, ia menatap tidak percaya pada Anna yang kelihatan kurus memang karena sering mual-mual itu.
"Aku tidak apa, Ra. Hanya untuk mengisi tenaga karena sering mual-mual itu membuat tubuhku lemas." Jelas Anna akan keadaan sebenarnya, ia tidak ingin Nora berpikir yang tidak tidak.
Nora masih belum mengerti, hanya mual-mual saja tidak mungkin sampai seperti ini. "Kata dokter kau sakit apa?"
"Tidak sakit, tapi aku hamil.." Setelah menjawab yang sejujurnya Anna menunduk karena malu sekali dengan Nora.
Sementara Nora masih belum mencerna semuanya, lebih tepatnya masih di antara sadar dan tidak. "Hamil?" Tanyanya, Nora masih kebingungan. "Bagaimana bisa kau hamil, An? Bahkan suami saja kau tidak punya, berhubungan.... astaga!" Nora mengingat semuanya, sampai membekap mulutnya sendiri.
"Kau hamil anak Liam Alexander? Mantan suami tidak berguna itu?!" Tanya Nora, ia sangat sangat terkejut sampai jantungnya seakan mau terlepas. "Kalau begitu kau kabur saja, An. Jangan sampai Liam tahu, kau bisa gawat kalau orang kaya itu tahu keadaan..."
"Hem!"
Seketika Anna memukul lengan Nora yang suka sekali ceplas-ceplos, kemungkinan besar Nora tidak menyadari jika ada Liam disekitar mereka.
"Astaga, ada dia?" Tanya Nora, ia tidak berani berbalik badan karena takut dengan Liam.
Anna menjawab dengan menganggukkan kepala, banyak hal yang ingin ia katakan kepada Nora. Tapi, jika ada Liam disekitar mereka maka akan sulit. Apa lagi sekarang malah Liam sibuk menata makanan di meja dekat bed pasien Anna. Tidak menghiraukan ada Nora yang terus memperhatikan dirinya, tapi Nora tidak berani bertanya pada Liam yang memiliki aura menakutkan.
"Bagaimana bisa dia disini?" Tanya Nora sedikit berbisik, ia benar-benar takut tapi tidak sampai hati juga meninggalkan Anna tanpa penjelasan apapun.
Nora menghela napas melihat Anna yang tidak bisa berkutik apapun, kemungkinan besar jika sahabatnya itu kembali di tekan oleh Liam. Tentu saja Nora ingin mengeluarkan Anna dari beban berat itu, hanya saja ia tidak memiliki kemampuan yang besar untuk mengeluarkan Anna dari kekuasaan Liam yang cukup besar.
"Lalu, bagaimana?" Tanya Nora dengan nada pelan meskipun yakin jika Liam tetap mendengar semuanya.
Liam merasa pembahasan kedua manusia itu sudah mulai serius, dan juga merasa tidak perlu mendengar semuanya. Segala persyaratan dan perjanjian juga sudah Liam bahas dengan Anna, sudah seharusnya memberikan ruang pada Anna untuk menceritakan masalahnya pada Nora.
"Aku keluar sebentar, jika kau membutuhkan sesuatu bisa hubungi aku." Ucap Liam mengingatkan, mengambil dompetnya di meja lalu pergi begitu saja.
Anna menghela napas lega, ia langsung memegang erat tangan Nora. "Ternyata Emma model terkenal itu adalah kekasih Liam, jadi tadi tanpa sengaja kami bertemu di Boutique..." Anna menjelaskan semuanya tanpa dikurangin sedikitpun hanya ditambah sedikit drama saja.
Barulah Nora mengerti, ternyata semua seakan sudah ditakdirkan agar Anna bertemu kembali dengan Liam. "Lalu, anak itu?"
"Aku akan tetap mempertahankan anak ini karna Liam meminta," Jawab Anna cepat penuh kejujuran.
Kepala Nora semakin sakit melihatnya, ia merasa aneh kenapa Anna bisa sepercaya itu mengambil keputusan berat. Liam bukanlah hal kecil yang bisa Anna hadapi lagi, terlanjur lepas maka seharusnya lepas selamanya saja.
"Dengar, An.. jika Mama Liam tahu semua ini... mungkin saja kau akan dibunuh oleh keluarga besar mereka." Nora menyadarkan kenangan buruk yang telah berhasil Anna lewati.
"Lalu, Liam juga punya hak atas kehidupan anak ini, Ra. Dia menginginkan darah dagingnya, aku tidak sama sekali."
"Kau yakin tidak akan pernah menginginkan anak itu?"
"Tidak akan! Tidak sudi menyayangi anak dari pria seperti Liam, setelah anak ini lahir aku tidak akan pernah muncul lagi dikehidupan Liam atau siapapun." Sungguh tegas Anna menjawabnya hingga Nora tidak bisa protes lagi.
Nora dapat melihat kegigihan yang cukup besar dimata Anna, menandakan jika tidak main main dengan janjinya sendiri. Hanya saja bagaimana orang yang sama-sama memiliki hubungan masa lalu sangat dekat sering bersama selama 9 bulan.
"Apapun itu, asal yang terbaik untukmu aku akan tetap mendukung, An." Ucap Nora, ia bangkit sembari mengambil tas selempangnya.
Nora merasa sebaiknya ia segera pulang karena mungkin saja banyak hal yang perlu Anna diskusi bersama dengan Liam. "Aku pamit, setelah semua masalahmu beres.. kita akan bertemu kembali."
"Baiklah, Ra.. Terimakasih sudah tetap mendukung dan mengerti aku," Anna sungguh bersyukur memiliki teman seperti Nora yang selalu ada dimasa senang ataupun sedih.
"Aman, An.. santai aja.."
~
Anna merasa bosan terus berada di ruangan seorang diri, ia berniat untuk berjalan-jalan. Setiap langkahnya sembari memegang tiang infus, mencari udara segar diluar ruangan. Pandangan mata Anna tertuju pada sebuah tempat dimana ramai orang berkumpul disana. Anna berjalan ke arah sana berharap menemukan sesuatu yang menarik yang bisa melupakan sementara masalah yang ada.
"Lihat, tu pelakor memang tidak tahu diri!"
"Bener, Zaman sekarang yang namanya pelakor bisa dari Mantan suami sendiri ternyata."
Seketika langkah Anna terhenti, seakan menyinggung dirinya sendiri. "Pelakor?" Anna teringat dengan kekasih Liam, Kira-kira apa yang akan dilakukan Emma jika tahu kekasihnya menghamili wanita yang merupakan mantan istri.
"Kau mau kemana?" Suara itu mengejutkan Anna, hampir saja terjatuh untungnya tangan Liam sigap menarik tangan Anna. "Apa kau mau kabur dari ku?"
"Memangnya bisa? Kalau bisa biarkan aku kabur," Jawab Anna cepat, ia melepaskan tangannya dari Liam.
Sebenarnya Anna kesal dengan Liam yang sangat cerewet, selalu saja ingin tahu hal apa yang ingin ia lakukan. "Jangan sering berkumpul dengan orang-orang, ayo masuk.." Liam menarik tangan Anna untuk kembali masuk, padahal Anna ingin mencari udara segar.
"Aku tidak mau, Liam. Kau_"
"Kau belum makan sama sekali, aku membelikan makanan enak untukmu." Liam menunjukkan bungkus makanan yang ia bawa, ntah kenapa Anna menjadi tertarik.
"Kata dokter, Ibu hamil harus banyak makan yang sehat dan manis-manis. Aku membelikan berbagai yang dikatakan dokter, mohon dicoba dulu." Jelasnya, Liam jadi bingung harus berkata apa karena Anna menatap bungkus makanan yang ia bawa dengan penuh kelaparan begitu.