Aku adalah gadis minang, tapi tak banyak yang ku ketahui tentang ranah minang dan adat istiadatnya. Aku di lahirkan di perantauan dan menghabiskan waktu berpindah pindah daerah pulau sumatra.
Aku adalah asisten pengacara, tentu sudah banyak kasus yang aku selesaikan bersama sang pengacara yang tak lain adalah teman ku saat kami kuliah di salah universitas swasta di Jakarta.
Saat ini usia ku sudah 27 tahun, keluarga besar semua khawatir aku menjadi perawan tua. Aku sih enjoy aja toh yang penting aku kerja dan jalan jalan ke daerah mana saja yang objek kasus yang harus di tangani oleh tim pengacara tempat aku kerja.
Sampai suatu ketika aku kaget mendengar keputusan paman dari adik sepupu ibu ku di Padang. Beliau menjodohkan ku dengan seorang duda yang memiliki usaha perniagaan yang cukup berkembang pesat dengan pundi pundi yang fantastis.
aku tak menerima perjodohan itu dan menolaknya, paman marah besar dan berkata dengan sangat kasar pada ayah ku, aku yg tak terima dengan keputusan paman berasumsi apa hak nya paman dengan sampai marah besar karena aku menolak keinginannya?????. Pasti ada maksud terselubung, ayah ku hanya diam saja beliau tidak mau komentar apapun. Tapi aku melihat air mata ayah mengalir perlahan.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengajak nikah seorang pria yang baru aku kenal, pemuda itu seorang guru SMU di Serang Banten.
Apakah keputusan ku ini menikahi nya yang terbaik????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rais Caniago, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 11 Apak pulang ke Jambi
''Nada...Ridho...habis sholat isya nanti apak berangkat ke Jambi...apak kangen ama bengkel...apak dah pesan travel'', sambil mengambil gelas kopinya dan menyeruputnya.
''Lho...kok cepat apak pulang'', sahut mas Ridho.
''Iya...apak harus servis beberapa motor langganan yang mau nya apak yang servis...tak mau ama karyawan apak...'', apak menepuk sisi kosong di sebelahnya dan menyuruhku untuk duduk di samping beliau.
''Nada...apak pesan ya nak...jadilah istri yang patuh akan titah suami...jika ada masalah dalam rumah tangga jangan cerita pada siapapun...tapi cerita lah pada apak...selesaikan masalah kalian baik baik dengan hati yang tenang...ingat Ridho jangan pernah sakit hati Nada...karena ia adalah permata hati yang sangat berharga'', sambil menunjuk Ridho dengan jari telunjuknya.
''hmmm...tak sangka ternyata mertua ku galak juga...padahal penampilannya kalem...lembut dan berwibawa...mungkin karena beliau adalah anak tunggal... jadi wajar jika rasa sayang dan cintanya berlebihan pada anak anaknya. Tidak seperti ayah ku yang hanya menelpon tuk meminta uang biaya adek adek ku sekolah, bahkan ia tak pernah bertanya kabar" Ridho hanya berucap dalam hati kecilnya.
"Ridho....apa kamu mendengarkannya?...." tanya apak yang memang melihat Ridho seperti tengah melamun.
"Ridho janji apak...akan membahagiakan Nada...mungkin uang yang akan Ridho beri sebagai nafkah tidak sebanding dengan gaji Nada sebagai asisten pengacara...Ridho hanya seorang guru...", ujarnya sambil menunduk.
"Apak tak minta kamu membahagiakan dengan uang...cukup kasih sayang cinta dan perhatian itu saja...dan ingat...jangan pernah sekalipun KDRT...karena bukan hukum dari pengadilan yang berlaku...tapi hukuman dari apak yang kamu terima...", ancaman beliau cukup tegas.
"In syaa Allah apak...".
Apak bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar.
"Mas...omongan apak jangan kamu ambil hati ya...beliau memang seperti itu bicara ama semua menantu...sering intimidasi", aku berusaha menjelaskan sikap otoriter apak sebagai seorang ayah.
"Ngak kok...wajar apak bicara seperti itu...karena kamu adalah permata hatinya", sambil menatap ku dengan tatapan yang lembut penuh cinta.
Ya Allah...benarkah ia jodoh ku yang telah kau takdir kan untuk ku. Meski dalam hati ada keraguan terhadap suami ku. Apakah ia tulus tanpa ada maksud tertentu.
Suara azan berkumandang bersahutan dari setiap mesjid, mushala menandakan waktu sholat isya datang.
Apak dan mas Ridho telah pergi ke mesjid tuk sholat berjamaah...aku segera memesan makanan melalui aplikasi Go Food, karena belum ada sembako dan bahan bahan masakan.
Tadi siang apak memberi ku sejumlah uang yang katanya tuk kebutuhan yang mendesak. Meski sebenarnya beliau ingin sekali membelikan semua perabotan rumah yang belum lengkap, tapi beliau tak mau nanti menantu merasa tak mampu tuk memakai anaknya.
Flash back on
"Nada...dimana Ridho?, tanya ayah yang memang ia tau bahwa menantu sedang pergi membeli makanan tuk makan siang mereka, karena ia tak sengaja melihat suami putrinya itu dari jendela kamar pergi dengan sepeda motor metiknya.
" Pergi beli makanan tuk makan siang kita pak", jawab ku.
" Ini...duit ya tuk keperluan yang mendesak", sambil menyerahkan amplop coklat.
"Nada masih ada uang pak, pesangon dari Pak Idris saja lumayan...belum lagi amplop dari teman teman, dari uda...dan keluarga kita yang belum semua nada buka", aku menjelaskan pada apak bahwa beliau tak perlu lagi memberikan aku uang.
" Simpan semua uang itu dalam rekening mu, dan ingat jangan sampai Ridho tau, kamu harus punya simpanan pribadi karena kita tak tau sewaktu waktu akan membutuhlannya", ucap beliau sambil menepuk pelan pundak ku.
Flash back off