Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KINI AKU TAKUT BILA TERJADI SESUATU PADANYA
Aku pulang kerumah dengan hati kosong. Khawatir membayangi Vika melakukan tindakan bodoh lagi. Pernah kubaca buku, orang yang labil fikirannya bisa berbuat nekat. Dan Vika sedang dikondisi tersebut.
Sebelum kutinggalkan ia sendiri dirumahnya, kuminta lagi janjinya untuk menjaga diri dengan baik. Tidak berbuat hal-hal bodoh yang mencelakakannya. Dan Vika menyetujuinya.
"Kalau aku galak dan bicara kasar, itu sudah pembawaanku. Jangan dimasukkan kehatimu. Oke?" pintaku agar Vika mengerti jika suatu saat aku membentaknya lagi.
"Aku pulang ya? Ingat pesanku, mendekatlah pada Allah. Kamu pasti bisa sholat khan? Minimal berdoa, ...Allah pasti memberimu kebahagiaan jika kamu tulus meminta."
Vika menatapku. Tersenyum manis memelukku erat. Seperti hendak pergi jauh, aku jadi semakin takut meninggalkannya sendiri.
"Kamu mau menginap lagi dirumah kami? Kamu bisa tidur dengan Ranti. Mau?" ajakku dijawab gelengan kepalanya.
"Aku ga apa-apa, mas! Aku sudah biasa tidur sendiri. Pulanglah, kamu pasti lelah seharian bekerja." katanya membujukku pulang. Kakiku serasa berat melangkah.
"Aku takut kamu berbuat sesuatu yang tidak kuinginkan, Vika!"
"Ga, mas! Aku udah janji khan sama kamu. Aku akan jadi wanita kuat seperti pintamu. Sungguh aku ga mau buat kamu kecewa sama aku!"
"Kalau kamu ingkar janji, aku beneran marah ya Vika! Besok buatkan aku oseng cumi asin pake cabe ijo ya?"
"Maaf mas, uangku habis!"
"Kenapa ga bilang dari tadi?"
"Aku malu mas, minta kamu terus. Nyusahin kamu terus!"
"Ya udah, aku ke minimarket depan dulu ya? Ambil uang di ATM dekat situ! Kamu mau ikut? Mau sekalian beli sesuatu keperluan kamu? Ayo!"
"Aku tunggu dirumah aja ya, mas!"
"Vika!.... Hhhh...., aku harus berbuat apalagi agar kamu percaya kata-kataku ini."
Aku menutup wajahku cemas. Dan ketika kubuka tanganku dari wajahku, tiba-tiba Vika mengecup pipiku. Aku terkejut bukan main.
"Kamu manis sekali mas kalo lagi merajuk! Aku janji sama kamu, ga akan bikin kamu kuatir lagi. Maaf yang tadi ya mas, aku khilaf! Aku tunggu dirumah sambil bikin wedang jahe ya!?" Aku bernafas lega setelah melihat senyum Vika dibalik semburat merah diwajahnya.
Kuambil uang satu juta untuk bekal Vika hingga nanti kami bertemu si pembeli rumahnya. Aku harus lebih sabar menghadapi Vika yang memiliki sifat bertolak belakang dariku dan Ranti. Aku harus bisa memahami karakternya yang terbiasa dimanja sejak kecil. Jauh berbeda denganku.
Setelah meneguk wedang jahe buatan Vika. Aku pamit pulang karena sudah malam. Jam tanganku menunjukkan pukul 10 lebih. Sudah cukup malam.
Walau lega karena janji Vika tadi. Tapi hatiku seperti kosong. Ada sesuatu yang tertinggal, entah apa aku tak tahu. Seperti mengganjal hatiku.
Aku berdoa dalam hati, moga Allah menjaga Vika dari hal-hal yang buruk.
Ranti membukakan pintu dengan mata
mengantuk.
"Maaf yang, aku pulang terlalu malam!"
"Wajah mas pucat sekali. Pasti banyak banget kerjaannya ya!? Udah makan malam belum?" tanya Ranti membuatku memeluknya erat. Berusaha menenangkan hatiku yang galau.
Ranti merangkulku masuk kedalam. Menunjukkan baktinya pada suaminya dengan membukakan kemejaku yang berbau tak karuan. Aku tahu, ia istri yang sangat baik. Meski matanya sepat karena mengantuk, tapi ia melayaniku tanpa banyak kata.
"Aku udah makan, yang! Kepingin mandi, ga enak rasanya badan ini lengket banget!"
"Bentar, aku masak air dulu ya? Biar mas mandi pake air hangat."
"Jangan, yang! Udah ga apa. Kamu lanjut temenin Jingga tidur aja! Abis mandi aku juga langsung tidur."
Ranti menuruti perkataanku. Ia masuk kamar kembali menemani Jingga tidur.
Aku termenung sendirian dikamar mandi. Menurunkan suhu tubuh dan hatiku yang bergejolak tak karuan dengan kucuran air shower kamar mandi kami.
Aku bisa gila juga nih, gumamku dalam hati. Bayangan wajah Vika yang berselimut kesedihan mendalam melintas dipikiranku. Tangisan pilunya menyayat hatiku. Pelukan erat menunjukkan ketakutannya membayang disanubariku. Vika! Apa yang terjadi padaku kini.
Terlintas lagi kejadian ketika Vika hampir meloncat keluar dari mobilku. Andai itu terjadi, entah mungkin saat ini aku sedang berurusan panjang dengan pihak kepolisian. Dan kubayangkan Ranti menangis sepanjang malam. Menangisi aku dan Vika sahabatnya. Belum lagi anakku Jingga yang baru 2 tahun kurang jadi terganggu tidur malamnya. Hhh....!
Aku harus cepat tidur. Istirahat agar pulih fikiranku yang lelah selelah tubuhku ini. Moga besok pagi semua kembali seperti semula lagi. Hilang semua kegundahan berganti hari cerah dengan berjuta kebahagiaan. Aamiin!
Kupeluk Ranti dari belakang. Tidur seperti itu membantuku melupakan semua yang terjadi hari ini.
...
Mataku melirik jam ditanganku. Lagi. Terasa sangat lama menunggu jam istirahat tiba. Kuharap Vika datang membawa masakannya untuk makan siangku. Aku baru bisa bernafas lega bila melihat raut wajah Vika. Aku kuatir padanya, tapi tak tahu harus berbuat apa. Menghubunginya sama sekali tak mungkin karena terkendala alat komunikasinya yang tak ada. Ya. Vika belum memiliki hape lagi sejak ia mengikutiku dari Batam ke Jakarta.
Aku sebenarnya ada niat membelikannya handphone. Tapi kupikir, lebih baik Vika membelinya sendiri sesuai seleranya setelah ia mendapatkan uang rumahnya nanti. Dan lagi waktu itu aku masih berfikir panjang untuk mengeluarkan uang demi gaya hidup Vika. Bagiku kebutuhan hidup sehari-harinya lebih penting saat itu. Ternyata semua diluar kendaliku.
"Pak Dika, ada kiriman makan siang!"
"Oya, terima kasih. Orang yang mengantarnya sudah pergi, mas?" tanyaku antusias pada office boy yang mengantarkan makan siangku.
"Sepertinya masih dilantai bawah, pak! Tadi sempat ngobrol dengan mbak Cecil dilobi."
"Oke, terima kasih ya!"
"Baik, pak! Sama-sama."
Aku segera melesat pergi menemui Vika. Kuatir ia sudah pergi tanpa sempat kuucapkan terima kasih padanya.
"Vikaaa!" panggilku setengah teriak. Membuat beberapa orang dilobi gedung menoleh padaku termasuk Vika.
"Mas Dika! Aku pamit pulang ya, tadi bekal makan siangnya udah kutitipin mas OB!" kata Vika dengan senyum manis seperti biasa seraya melambaikan tangan hendak berlalu pergi.
"Tunggu, Vika! Kamu koq jadi berubah gini sih? Biasanya maunya nempel terus sama aku, udah kayak anak ayam ngintilin induknya!" aku mendengus kesal membuat Vika tertawa.
"Maaf mas! Nanti pulang aku tungguin kamu deh. Hehehe.... Aku udah bilang sama Cecil, bakal jadi tetangga barunya!" kata Vika membuatku tersenyum lega. Senang rasanya melihat Vika kembali bersemangat seperti dulu.
"Udah, mas makan dulu. Mumpung masih panas. Kalo dingin rasanya kurang enak. Memang kenapa cari-cari aku? Kangen yaa sama aku?" godanya setengah berbisik ditelingaku. Aku memelototinya membuatnya menutup mulutnya yang tertawa lepas. Melambaikan tangan bergegas keluar gedung.
Aku balas lambaian tangannya.
"Makasih yaaa, makan siang spesialnya!" kataku membuatnya tertawa sambil mengangguk.
"Aku mau kencan sama Ranti. Jangan cemburu ya, mas!" katanya sebelum menghilang dibalik pintu gedung Graha. Aku tersenyum senang. Berjalan balik kekantorku yang terletak dilantai 6 gedung Graha.
Bersiul-siul mencium aroma oseng cumi asin yang menggugah selera. Membaca doa makan dalam hati lalu menyantapnya dengan lahap. Masakan yang nikmat, puji hati kecilku.
Aku sadar, pertemuanku dengan Vika semua dengan izin Allah. Semuanya Dia Yang Maha Mengatur. Untuk itu, aku kini hanya menerima ketentuan takdirnya dengan ikhlas. Berharap hubungan ini sehat. Murni pertemanan tanpa percikan cinta yang terlarang. Aku hanya merasa kasihan saja pada Vika. Dan juga kewajibanku menolong sesama umat Allah. Itu saja.
Walau kadang kini bayangan wajah Vika lebih sering terlintas dibenakku. Semoga ini bukan apa-apa. Semoga ini hanyalah kekhawatiranku yang takut terjadi apa-apa pada dirinya.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..