"Sungguh ketulusan Cinta Allah kepada hamba-Nya tidak akan bisa dibandingkan dengan tulusnya cinta manusia kepada manusia. Namun, dengan menyebut nama Allah aku Raihan Raam Jaya begitu tulus ingin mencintaimu dengan sepenuh hatiku dan berniat mengkhitbahmu sekarang juga Hasna."
"Aku minta tolong buk Par untuk memberitahumu agar kamu bisa menikahi ku segera. Tapi nyatanya kamu lah yang duluan menyampaikannya. Awalnya aku bahagia saat mendengar ucapan mu.. tapi sekarang aku tak tahu Rai.. apa aku harus menerima lamaran mu atau tidak?"~ (Hasna)
Raihan dan Hasna sama-sama mengalami masa lalu yang menyakitkan, Allah seolah ingin menyatukan mereka melalui musibah yang menimpa mereka yaitu tenggelam di danau kembar.
Butir butir cinta air mata Hasna, akankah Muhasabah Cinta Hasna membawa ia berumah tangga dengan Raihan kelak? Yuk ikuti kisah nya..! Dan mohon dukungannya ya sobat...🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadih Hazar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCH 11
Di kamar Herman, Raihan bukannya tidur, ia malah sibuk memikirkan kejadian yang menimpa mereka kemarin sore.
"Sungguh dunia hanya selebar daun kelor.. Dini yang ku hindari malah aku bertemu dengan Roby.. Dan Hasna adalah korban dari keserakahan Roby yang tak cukup dengan satu wanita. Lalu Dini apakah juga hanya korban dari Roby?" Raihan memijit-mijit pelipisnya, ia merasakan denyutan di area tersebut.
"Ya Allah... jika memang Dini hanya korban dari ke Play boy an Roby, sungguh malang nasibnya..."
Raihan bisa menilai saat ia melihat perdebatan Hasna dengan Roby di tepi danau, Roby tampak begitu ingin mempertahankan Hasna. Sedangkan saat bersama Dini, Roby juga seperti menikmati kebersamaannya. Pikiran Raihan melayang saat ia memergoki Dini bersama Roby di kamar hotel saat ia yang tak sengaja salah masuk kamar ketika ia ikut acara perusahaan dengan Pak Raam papanya di Bali. Dan itu terjadi seminggu yang lalu.
Raihan sampai sekarang juga masih tak menyangka, saat ia bersama Dini, Dini tak pernah sedikitpun menunjukkan dirinya bahwa ia seperti wanita yang murah disentuh dan sama sekali tak pernah menuntut Raihan agar memberi perhatian dan perlakuan layaknya pasangan muda mudi yang sedang berpacaran.
Dini seolah ikhlas menerima Raihan yang sibuk dengan kuliahnya serta sering ikut Papanya keluar daerah dalam mempelajari cara mengelola perusahaan yang akan dihibahkan padanya kelak setelah lulus kuliah. Dan Dini juga berasal dari keluarga yang terhormat dan disegani. Papa Raihan dan Papa Dini adalah sahabatan.
"Din, padahal kamu tahu aku begitu tulus mencintaimu, tapi kenapa dirimu tak sabar menunggu hari itu tiba.. Kenapa Din... Kau dengan begitu mudah memberikan mahkota berhargamu sedangkan aku begitu menjaganya hingga sampai waktu itu tiba... waktu dimana kau halal aku sentuh dan memuliakan dirimu sebagai istriku hingga ke Jannah.." Ucap Raihan sendu.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar seketika membuyarkan lamunan Raihan.
"Nak Raihan, ibu bawakan ramuan penurun panas. Apa boleh ibu masuk?"
"Ya bu, silahkan.."
Raihan segera mengubah posisinya untuk duduk.
Buk Par pun membuka pintu.
"Ini nak diminum dulu habis itu istirahat, insyaallah ramuan ini bisa membantu menurunkan panas nak Raihan serta mengembalikan staminanya."
"Terimakasih banyak bu, maaf kami sudah banyak merepotkan ibu.."
Raihan meminum ramuan itu dalam beberapa tegukan.
"Nggak apa-apa nak Raihan, ibu sangat senang bisa mengenal kalian. Dan ternyata nak Raihan adalah temannya nak Hery, istri dari Omnya Hery itu adalah anak dari kakak perempuan ibu, jadi Hery sudah seperti cucu ibu sendiri."
"Ya Allah... sungguh rahasia Allah tak bisa kita tebak ya bu.. Raihan juga tak menyangka kejadian yang menimpa aku dan Hasna itu ada hubungannya dengan perempuan masa lalu ku bu, yaitu Dini. Mantan suami Hasna itu adalah laki-laki yang sama yang disukai Dini."
"Iya nak Raihan.. Hasna juga sudah bercerita sama ibu.. Hasna begitu terpukul ketika tahu suaminya yang ia cintai ternyata sudah berbuat asusila dengan perempuan lain.. Dini yang datang untuk merebut haknya yaitu menuntut pertanggung jawaban dari Roby saat hari itu adalah hari kebahagiaannya Hasna. Wajar saja Hasna merasa tertipu karena perlakuan Roby pada Hasna sebelum menikah itu layaknya laki-laki alim yang mendambakan istri sholehah seperti Hasna. Mereka memang dijodohkan, tapi Hasna sempat bertemu Roby saat ia magang kuliahnya di perusahaan yang dipimpin Roby di Jakarta. Dan selama magang itulah Hasna bisa mengenal Roby dan menyimpulkan Roby adalah laki-laki yang baik karena begitu menjaganya."
"Ya bu, Roby itu dulunya satu kampus sama Raihan dan Hery, ia kakak senior dua tingkat di atas kami, menurut cerita yang kami dapatkan, Roby laki-laki brengsek yang tak puas dengan satu wanita." Ucap Raihan sambil berusaha menahan amarahnya, namun tanpa ia sadari tangannya sudah membentuk kepalan.
"Ya sudah.. nak Raihan segera lah istirahat, semoga cepat sembuh."
"Ya bu, Aamiin, sekali lagi terimakasih bu."
Buk Par membalasnya dengan anggukan dan senyuman di bibirnya. Buk Par pun keluar dari kamar putranya yang ditumpangi Raihan itu. Buk Par pun meletakkan gelas bekas ramuan penurun panas itu kembali ke dapur yang berada di samping kamar Herman. Kemudian buk Par berjalan ke depan menuju ruang tamu dimana Hasna tadinya ia tinggal sendirian, sedangkan suaminya Pak Ahmad pamit sebentar ke ladang untuk memanen bawang.
"Bagaimana keadaan Raihan bu?" Tanya Hasna yang tampak mengkhawatirkan Raihan, bagaimana pun juga Hasna merasa Raihan bisa sakit karena menolong dirinya.
"Nak Hasna tak perlu khawatir insyaallah sebentar lagi Raihan akan baikan, ia hanya butuh istirahat. Ramuan itu biasanya begitu manjur jika ibu atau bapak merasakan demam."
"Terimakasih bu.."
"Jadi, nak Hasna nggak apa-apa kan, bersabar dulu menunggu orang tuanya Raihan datang, menurut ibu alangkah baiknya Ibu berbicara langsung saja pada orang tuanya Raihan."
Bibir Hasna terkembang memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi.
"Insyaallah Hasna percayakan sama Ibu, terimakasih sudah membantu Hasna ya bu.. sungguh Hasna seperti merasakan kasih sayang Mama lagi.. Semoga Mama tenang di sana.. Dan semoga nenek baik-baik saja di Padang."
"Aamiin, ya sudah.. semoga kalian bisa bersatu dalam mahligai rumah tangga yang diberkahi Allah kelak, Aamiin.."
"Siapa bu, siapa yang akan bersatu dalam pernikahan?" Tanya Yulia yang ternyata sudah berada di depan pintu rumah Pak Ahmad bersama Haikal. Yulia yang sudah nggak sabaran ingin segera bertemu Hasna langsung mengajak kakaknya Haikal seusai sarapan menuju rumah Pak Ahmad sesuai petunjuk dari petugas kepolisian yang menghubungi mereka.
"Eh nak Yulia, silahkan masuk, nak Haikal juga silahkan masuk... silahkan duduk dulu..!" Ucap Buk Par yang langsung menyambut kedatangan Yulia dan Haikal yang secara tiba-tiba itu. Buk Par pun tentunya sudah mengenal mereka. Namun buk Par masih terlihat bingung ada urusan apa mereka datang ke sana.
"Ya bu, terimakasih.." Yulia langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Hasna yang merentangkan tangannya pada Yulia. Mereka pun berpelukan erat. Dan itu diperhatikan secara seksama oleh Buk Par.
"Ya Allah, aku senang mendengar kabar kamu selamat Na.. Aku sampai tak bisa tidur semalaman memikirkan kamu, hiks hiks hiks.."
Hasna mengusap lembut punggung sahabatnya yang sudah seperti saudara kandungnya itu.
"Kalian duduk ya, ibu ke belakang sebentar buatin minum.." Buk Par menunda pertanyaan yang akan dilontarkannya pada Yulia melihat keakraban Yulia dengan Hasna, namun ia berniat membuatkan minuman terlebih dahulu.
"Nggak usah repot-repot bu, kami sudah sarapan sebelum kesini.." Sahut Haikal yang sudah duduk di sofa tepat di depan Hasna.
"Nggak apa... ibu kebelakang dulu ya nak Haikal.."
"Eh iya bu, terimakasih.." Sahut Haikal sopan.
Buk Par segera berjalan ke dapur. Sedangkan Yulia masih dalam keadaan memeluk Hasna sahabatnya itu.
"Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan padaku untuk hidup Yulia.. Aku pikir jika aku harus mati, aku sangat berharap bisa kembali dalam keadaan baik bertemu dengan Rabb-ku.. Aku rindu.. sungguh hanya Dia yang mencintai ku tulus.."
"Ya Allah Hasna.. Sungguh Allah tahu kamu itu masih dibutuhkan di dunia ini.. Apalagi ada seseorang yang begitu berharap bisa menjadi pendamping dirimu, bersama mewujudkan cita-cita mendidik anak-anak bangsa, aku rasa cintanya juga begitu tulus padamu.."
"Maksud kamu siapa..?"
Yulia melepaskan pelukannya, tampak dari matanya air bening masih setia menggenang di sana seolah air matanya itu belum kering karena menangis semalaman memikirkan sahabatnya itu.
Haikal langsung menjadi salah tingkah saat mendengar ucapan adiknya itu. Ia tahu sifat adiknya itu yang selalu saja ceplas-ceplos bila berbicara.
Mereka tak menyadari seseorang sudah berdiri di dekat mereka.
To Be Continued ya...
Jangan lupa tinggalkan jejak nya bila merasa kisah ini layak mendapatkan apresiasi dari kalian... Terimakasih buat yang udah mampir...🙏
semudah itu ya klo orang jht dpt alamat orang lain....hawdeeh thor
tenang aja,ado cowok kota yang lagi jalan ke alahan panjang, dia kayaknya jodoh kamu deh
🤭