NovelToon NovelToon
Imam Yang Seperti Bapak

Imam Yang Seperti Bapak

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:268.1k
Nilai: 5
Nama Author: lilinur m

"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."

"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."

Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.

"Bismillah, semoga aku bisa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu

Fatih dari tadi mondar-mandir di depan kamar Masnya. Sedari tadi, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Mas Akbar. Sudah jam segini belum keluar juga.

"Sabar, Mas. Mungkin Mas mu itu, pakai ritual untuk menarik kembang desa sini." Kata Ibunya terkekeh.

"Masa Bu, katanya Mas enggak akan tertarik dengan kembang desa sini." Tutur Fatih sambil tertawa.

"Pasti Mas mu itu lagi semedi, Tih. Mencari wangsit untuk menemukan seseorang untuk diajak silaturahmi besok." Kata Bu Suryo.

Keduanya tak henti-henti menertawakan kelakuan Mas Akbar dengan pikiran anehnya masing-masing.

"Sedang senang rupanya?" Kata Akbar sambil memegang pundak Fatih.

Fatih yang sedang tertawa pun berhenti. Kapan keluarnya Masku ini. Perasaan tadi katanya masih lama. "Apa sudah selesai mencari wangsitnya?" Tanyaku pelan, takut marah.

Akbar mengernyitkan dahi. Wangsit?. Sejak kapan aku mencari wangsit? Aku sedang bingung dengan mimpiku akhir-akhir ini.

"Aku sedang mencari makmum, Tih. Bukan wangsit." Jawabku dengan pelan.

"Ayo, Mas. Aku temani." Sambil menarik lengan Masnya. Fatih berteriak ke arah dapur, "Bu, aku dengan Mas, pergi dulu ya. Doakan Mas Akbar dapat bidadari desa." Pamitku pada Ibu.

"Iya. Hati-hati ya, Nak. Bawa motornya pelan saja. Tidak usah mengebut. Beras zakat sekalian dibawa. Fitrah dulu. Ibu dan Bapak sudah." Kata Ibu sambil memberikan dua kantong plastik putih berisi beras. " Assalamulaikum, Bu." Pamit Akbar dan Fatih bersamaan.

"Iya, Walaikumsalam, Nak."

.

.

Sekar dan Dira baru saja sampai masjid. Mereka berdua akan zakat fitrah terlebih dahulu sebelum mengikuti takbir keliling.

Dira sangat antusias sekali. Sekar sangat senang mengajak Dira. Dira mengajak Sekar menuju ke depan masjid untuk melihat kembang api yang sedang dimainkan oleh para remaja putra dan putri.

Dira tidak ikut bermain kembang api. Karena sebelum ke masjid, Sekar membawakan beberapa kembang api dan menyalakannya di rumah Mas Andra.

Dira berlari dan bermain kesana kemari. Peluhnya bercucuran. Sekar mengambil sapu tangan yang ada di tas kecilnya. Sambil melihat ke arah Dira yang berlarian.

"Aduh, keningku." Ucap Sekar sembari mengelus kening mulusnya yang sudah berubah menjadi merah, karena menabrak tiang kayu, penyangga salah satu atap tiang teras.

Sementara di tempat lain, tidak jauh dari Sekar yang sedang kesakitan. Akbar sedang memicingkan mata untuk meyakinan diri, bahwa yang dilihat benar atau tidak.

*I*tu dia. Sekar. Calon makmum yang dipilih oleh Ibu. Sedang apa dia disini? Kok gandeng anak kecil?

"Tih, kamu tahu perempuan yang berjilbab hijau tosca, yang pakai gamis hitam polos?" Tanya Akbar sambil menunjuk ke arah Sekar, yang sedang menggandeng Dira, sesekali mengelus kening karena sakit.

" Nah, itu dia Mas. Bidadari desa, eh, kembang desa sini, Mas. Namanya Mba Sekar. Manis kan? Itu keponakannya, Dira. Gimana, mau lanjut?" Jawab Fatih lengkap.

"Maksudnya lanjut?"

" Aduh, Mas. Kenalan maksudnya. Mumpung masih di masjid lho! Tempat yang baik, Mas. Mau aku temenin?" Tawar Fatih.

Tanpa menjawab, Akbar sudah berjalan menuju ke arah Sekar dan Dira. Mereka sedang menikmati bahagia malam takbiran.

"Assalamualaikum, Sekar." Kata Akbar, ketika sampai di samping teras masjid.

"Walaikumsalam, Om ganteng." Jawab Dira sambil tersenyum cengengesan.

"Maaf Mas, walaikumsalam. Ada apa ya?" Jawab Sekar tersenyum, hingga dimple kanan kirinya terlihat.

Hati Akbar menghangat.

Sejujurnya Sekar kaget bertemu dengan Akbar. Sedari tadi Akbar mengajak ngobrol Sekar, ia jawab sambil menundukkan kepala. Akbar semakin mantap dengan calon makmum yang dipilih oleh Ibunya.

**Makasih ya, Bu. Sudah mengirimkan calon makmum yang baik untuk Akbar, soleha juga.

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita saya. Semoga senang, ya**.

1
Suyatno Galih
disn othor sll menyebut desa asal dan domisili, ku kenal Ambal Mirit Kebumen Jateng---Makmur p rimau Banyuasin Sumsel benar or salh thor
Eny Hidayati
kata hati yang sama...
Eny Hidayati
ujian hidup selalu ada ...
Eny Hidayati
sahabat selalu ikut gembira untuk sahabatnya...
Eny Hidayati
mode on going ...
Eny Hidayati
Bapak ibu Suryo sepertinya baik, orangnya tidak sok ...
Eny Hidayati
seneng banget lamaran diterima...
Eny Hidayati
masih menyimak...
Eny Hidayati
nembung itu namanya...
Eny Hidayati
berlanjut berarti...
Eny Hidayati
sama2 berdebar ...
Eny Hidayati
mohon maaf sebelumnya... masih bingung pov-nya ... tapi aq nikmati saja karena adanya begitu ... tetap semangat Thor.
Eny Hidayati
memasak itu yg paling ditakuti kalo keasinan ...se buyar-buyarnya pokoknya...
Eny Hidayati
Akbar pasti terkejut dan tentu ingat itu adik tingkat .
Eny Hidayati
Bapaknya Sekar itu disebut orang yang nyungkani ...
Surya Langit
bagus
Eny Hidayati
pesawat melangit... seperti melangitnya sebuah harapan ...
Eny Hidayati
menyimak ceritamu Thor... AQ semangat membaca... Author semangat menulis... sehat selalu Thor...
Aminah Mimin
maaf perasaan waktu USG anak nya kembar kok waktu lahiran cm 1
Kimie Meonk
colon imam pilihan jga so sweet loh.. aq rekomend... bgt dh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!