Yuna gadis yang usianya sudah cukup matang nan pekerja keras memiliki sifat terbilang sedikit galak. Sejak dulu hingga sekarang kedua orang tua Yuna meminta dirinya untuk menikah. Namun, permintaan itu Yuna tolak keras dengan alasan Yuna masih ingin bebas dan masih mau berkarir sebagai guru PNS di Sekolah SMA Bakti.
Akan tetapi, takdir berkata lain. Sebuah peristiwa mempertemukan dirinya dengan seorang pria bernama Biansyah Hermawan yang terkenal tukang onar di sekolahnya SMA Taruna.
Hingga pada akhirnya pernikahan beda umur itu terjadi dalam sekejap.
Bagaimana Yuna menyikapi pernikahannya bersama Bian yang lebih muda darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama
Yuna mengusap air matanya dan menoleh melihat jam sebentar. Yuna memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Lalu, melangkah menuju pintu kamar dan membukanya
Dengan terkejut, Yuna menyahut, "Bian?" tegur Yuna heran dengan Bian.
Dengan sedikit ragu Bian berujar, "Mbak, boleh tidur di kamarmu?"
Yuan tersentak dan berkata, "Tidak. Sana tidur di kamar kamu!" Tolak Yuna heran.
"Mbak, tolong ya... , aku mohon!" Bian terlihat ketakutan.
"Mbak, aku ini suami kamu. Sah di mata agama," jelas Bian mengusap pelunya seperti orang yang tengah habis joging.
"Pokoknya tidak. Kamu memang su... su... suami ... ak... sudahlah. Sana di kamar kamu!" usir Yuna lagi mencoba untuk tenang setelah bian menyebut kata SUAMI.
"Apaan, sih, kalian ini? Yuna, Bian?" tegur Ibu Lusia yang terbangun mendengar pertengkaran kecil anak dan menantunya.
"Apa kalian sadar, ini sudah jam berapa?" Ibu Lusia bergantian menatap Yuna dan Bian. Bian membawa bantal gulingnya dan terlihat berkeringat.
"Nak, Bian? kamu sakit?" Ibu Lusia memperhatikan Bian sedikit aneh.
Sebelumnya, Bian sudah tidur. Dan tiba-tiba saja dirinya bermimpi sedang dikejar oleh seseorang. Setelah bian terbangun. Lampu di kamarnya tiba-tiba mati.
"Mana ada lampu kamar kamu mati. Jangan ngawur, deh. baru tiga hari ini, aku ganti, loh. elak Yuna tidak percaya di sertai tatapan menyelidik.
"Yasudah, Mbak, lihat saja sendiri kalau tidak percaya," lanjut Bian melihat Yuna dengan kening berkerut.
"Dasar, cowok penakut, Manja," ujar Yuna lagi membuka pintu kamar Bian untuk memastikan perkataan Bian.
"Aku takut gelap, bu. Dari kecil aku fobia dengan gelap," jujur Bian dengan sangat malu pada ibu mertuanya.
Ibu lusia hampir saja tertawa dan segera mengendalikan dirinya.
"Mati, kan, Mbak?" tanya Bian ketika Yuna keluar dari kamar Bian.
"Iya." jawab singkat Yuna menyiku Bian, karena menganggap Bian penakut.
"Sudahlah, Yun. Ini sudah tengah malam." ucap Bu Yuna agar Yuna mau berbagi kamar dengan suaminya.
Tidak ada alasan lagi untuk Yuna menolak selain pasrah berbagi kamar dengan Bian. "Sana masuk. Awas kalau macam-macam, ya." Yuna menatap Bian Tajam.
Ibu Lusia hanya geleng kepala melihat sikap dan judas Yuna sebagai istri dari Bian.
"Tutup pintunya, Yuna. Dan jangan lupa di kunci. kebiasaan." Ibu lusia mengingatkan kebiasaan buruk Yuna.
Yuna pun menutup pintunya, lalu menguncinya. Yuna kembali berfikir untuk meminta Bian tidur di lantai. Akan terapi, Yuna kembali teringat dengan punggung Bian yang masih sakit akhirnya niatnya dia batalkan.
"Paling pinggir. Awas saja kamu macam-macam. Ingat. Jangan lewati batas ini." peringatan Yuna sebelum dirinya mendaratkan bokongnya di atas kasur.
"Iya, Mbak. Gak akan. kecuali.... "
"Kecuali, Apa. Ha?"
"Kecuali, Mbak yang mendahului aku. kan bisa jadi... Mbak yang yang mendekat kemari," jelas Bian cepat melihat Yuna sedikit keberatan dengan ucapannya. Bian tersenyum.
"Mimpi sana," timpal Yuna atas perkataan Bian tidak terima jika dirinya akan mendahului.
Yuna pun mendaratkan bokongnya dan mulai berdoa sebelum tidur. Yuna merebahkan tubuhnya yang terasa remuk.
Begitu pun dengan Bian. Rasa sakit sekujur tubuhnya baru sangat terasa.
Yuna terlihat gelisah. Hingga beberapa detik, keduanya saling berhadapan. Mata keduanya bertemu.
Bian Menatap Yuna dengan jelas. Yuna memiliki mata indah, dan alis tebal. semakin di pandang, Bian seakan tidak bosan.
"Apa lihat kemari?"
"Mbak, Cantik."
"Makasih, pujianmu. Aku hargai. Awas saja macam-macam."
"Mbak, Ternyata tidur berdua aman, ya."
"Aman apa? Aku yang tersiksa. karena kamu di sini."
"Mbak takut? Aku bukan singa, lho Mbak, yang akan menerkam." ledek Bian tersenyum.
Terdengar suara tarikan napas berat Yuna. Lalu, membelakangi Bian. Yuna dengan segera memakai selimut menutupi tubuhnya.
"Dosa, lho, mbak membelakangi suami. Kata Ibu," ujar Bian lagi." Bian kembali tersenyum berhasil membuat Yuna berfikir.
'Aku tahu. Namun, aku tidak memantaskan diriku sebagai istrimu. Umur kita sangat jauh berbeda. Memalukan, kamu pantasnya seumuran kamu, Bian.' batin Yuna belum bisa menerima kenyataan takdir yang mempertemukan dirinya dengan Bian.
"Bian, aku mau tidur. Berhentilah bicara. Bila kamu masih bicara." Yuna memberikan jeda. "Keluar dari kamar ini." ancam Yuna menoleh sebentar pada Bian, lalu kembali membelakangi Bian.
"Sadis banget, Mbak?" senyum Bian menatap punggung Yuna.
Yuna tidak lagi menimpali perkataan Bian. Yuna memilih menutup matanya hingga suara dengkur halusnya terdengar oleh Bian yang belum tidur. Entah apa yang dipikirkan Bian.
Jantungnya tiba-tuba saja berdebar hebat setiap menatap Yuna. Apa lagi Yuna secara tidak sadar menghadap ke arah Bian dengan bantal guling di tengah mereka sebagai pembatas.
Bian dengan pelan menghilangkan bantal guling tersebut, lalu mendekat ke Yuna dan menatap Yuna tiada bosan. Yuna bagaikan bunga yang tampak mekar. Bian tersenyum.
'Marah gak, ya jika aku... mencuri bibir itu?' batin Bian yang tertarik dengan bibir merah jambu itu. Bian Ingat saat Yuna tersenyum sangat cantik menurut Bian. Walau umur Yuna sudah terbilang jauh dari umur Bian. Namun Yuna masih terlihat muda. Mungkin karena Yuna merawat diri. Pikir Bian membatin.
Bian dengan ragu semakin mendekat. Begitu Yuna bergerak, Bian secepat mungkin keposisi semula membelakangi Yuna.
'Ada apa denganku! Akh! Bian sendiri tidak mengerti dengan sikapnya sendiri.
'Umur kita memang berbeda, akan tetapi, apa itu salah bila aku... Tidak mungkin. Tapi kata hatiku mengatakan aku mulai nyaman. Pertemuan pertamaku denganmu, Mbak, Aku merasa nyaman dan bebas tertawa.' kembali Bina membatin yang terus memandangi Yuna Tiada bosan
Bian kembali mendekat dan sekejap, Bian menyentuh bibir pink itu sekilas. "Maafkan aku, Mbak."
Bian tidak berani lagi mendekat setelah mencuri hal berharga dari Yuna yang tidak pernah di sentuh oleh siapa pun.
Bian kembali tersenyum dan mulai memejamkan matanya. Sudah dipastikan bila saja Yina tahu entah apa yang akan terjadi pada Bian.
"Ya Allah, semoga saja Yuna tidak tahu. Kau istriku." Senyum Bian mulai memahami perasaannya pada Yuna.
***
pagi tiba menyapa, Bian tersenyum dengan pemandangan yang indah. Benar saja, Yuna memeluknya dengan hangat. Begitu Yina bergerak, Nian dengan segara berpura-pura tidur.
Yuna belum menyadari hal tersebut dan kembali masih dalam kehangatan memeluk Bian. Bahkan Yuna tampak tersenyum. Apakah dia mimpi?
Bian senyum-senyum sendiri melihat kelucuan Yuna di pagi buta. Bian tampak asyik-asyik saja mendapat pelukan dari Yuna yang sangat langka terjadi. Dirinya bisakah berharap momen ini akan kembali terulang?
Begitu Yuna kembali bergerak, Bian segera mungkin menutup kembali matanya. Yuna menguap dan membenamkan kepalanya dan mengira itu adalah bantal guling. ketika mata indah itu mulai terbuka...
"A...!" teriak Yuna.