Rindu menerima tawaran Azahra bos di kantornya untuk menjadi surrogate mother. Walaupun pamannya melarangnya, Rindu tetap nekad menjadi surrogate mother. Karena ia ingin menebus sertifikat rumah pamannya yang digadaikan ke bank.
Namun rencana tidak seindah yang dibayangkan. Ketika Rindu sedang hamil empat bulan, Azahra meninggal dunia karena penyakit jantung. Sedangkan suami Azahra yang bernama Nizam sulit untuk dihubungi.
Bagaimanakah dengan nasib Rindu dan bayi di dalam kandungannya?
Follow ig Deche @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Zahra Pergi
“Kamu ingin makan sesuatu?" tanya Zahra ketika mereka dalam perjalanan pulang ke apartement.
Rindu berpikir sejenak. Kalau makanan Melayu pasti rasanya tidak jauh dengan rasa nasi Padang. Kalau Turki pasti rasanya tidak jauh dengan kebab. Tinggal satu pilihan, ia belum pernah makan makanan India.
“Apa kamu mu ke Arab street?” tanya Zahra.
Rindu menoleh ke Zahra. “Arab street?” tanya Rindu.
“Pusat tempat tinggal masyarakat muslim. Di sana banyak restaurant yang menjual makanan Melayu dan Timur Tengah. Kita tidak akan kesulitan mencari makanan halal di sana,” jawab Zahra.
“Saya mau coba makanan Timur Tengah,” ujar Rindu.
“Oke, kita ke sana,” kata Zahra.
“Pak, kita ke Arab Street,” kata Zahra kepada supir.
“Baik, Nyonya,” jawab supir. Mobilpun berputar arah menuju ke Arab Street.
Rindu berjalan sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya. Toko yang menjual pakaian muslim berjejeran sepanjang Arab Street. Rindu teringat pada paman dan bibinya, ia ingin membelikan sarung, kopeyah, baju koko, mukenah dan baju gamis untuk mereka. Namun ia tidak memiliki uang. Uang di ATM tinggal sedikit, karena ia sudah lama tidak bekerja sehingga tabungannya tinggal sedikit. Semua kebutuhannya selama di Singapura dibelikan oleh Zahra.
Nanti saja kalau sudah menerima pembayaran termin kedua baru belanja, kata Rindu di dalam hati.
Akhirnya mereka sampai di restaurant Timur Tengah. Rindu dan Zahra masuk ke dalam restaurant itu. Mereka di sambut oleh pelayan restaurant. Zahra memilih tempat duduk yang nyaman. Seorang pelayan memberikan buku menu.
“Kamu mau makan apa?” tanya Zahra sambil melihat daftar menu.
“Ibu saja yang pilihkan. Saya belum pernah makan makanan Timur Tengah,” jawab Rindu.
Zahra memilihkan makanan yang enak menurutnya. Setelah mereka memesan makan, pelayan itu pun pergi.
“Rindu ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepadamu,” kata Zahra.
Rindu diam dan siap mendengarkan Zahra.
“Lusa saya akan ke Indonesia untuk mengecek butik. Sudah lama saya tidak mengecek butik,” kata Zahra.
Semenjak mereka pergi ke Singapura, Zahra belum pernah kembali ke Indonesia. Ia menemani Rindu sampai proses bayi tabungnya berhasil. Ia memantau butiknya melalui online. Sesekali Nizam datang ke butik untuk memeriksa pembukuan butik. Sekarang kehamilan Rindu sudah empat bulan sudah melewati masa rawan keguguran, Zahra bisa tenang meninggalkan Rindu.
“Berapa lama, Bu?” tanya Rindu.
“Mungkin sekitar seminggu atau dua minggu. Mudah-mudahan bisa cepat kembali ke sini,” kata Zahra, “nanti saya akan berikan kamu uang untuk makan dan kebutuhan lainnya,” kata Zahra.
“Baik, Bu,” jawab Rindu.
“Oh iya, saya mau transfer pembayaran yang kedua,” kata Zahra.
“Masih lama, Bu. Sebulan lagi,” ujar Rindu.
“Nggak apa-apa. Yang penting bayi sudah dalam keadaan sehat,” kata Zahra.
“Saya transfer kemana? ke rekening kamu atau ke rekening pamanmu?” tanya Zahra.
“Ke rekening saya saja, Bu,” jawab Rindu.
Rindu mengambil ponselnya dari dalam tas lalu ia mengirim nomor rekeningnya kepada Zahra.
Zahra langsung mentransfer uang itu ke Rindu.
“Sudah saya transfer,” kata Zahra sambil memperlihatkan bukti transfer.
“Terima kasih, Bu. Semoga Allah menggantikan dengan yang lebih besar,” ucap Rindu.
“Aamiin,” ucap Zahra.
“Satu lagi. Ada yang hendak saya titipkan kepadamu,” kata Zahra.
“Apa itu, Bu?” tanya Rindu.
“Jika terjadi apa-apa pada saya, saya titip Bang Nizam dan anak-anak. Apapun yang terjadi jangan sampai bercerai dengan Bang Nizam,” kata Zahra.
Rindu kaget mendengar.
“Ibu kenapa? Ibu tidak sedang sakit, kan?” tanya Rindu dengan cemas.
“Saya tidak apa-apa. Saya sehat, kok,” jawab Zahra.
“Kenapa Ibu berbicara seperti itu?” tanya Rindu.
“Saya hanya menitipkan mereka kepadamu,” jawab Zahra.
Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. “Ayo, kita makan. Saya sudah lapar,” kata Zahra.
Makanan yang tersedia di meja sungguh menggugah selera, namun entah mengapa Rindu menjadi tidak nafsu makan. Perkataan Zahra membuat Rindu menjadi cemas dan was-was. Rindu diam-diam memperhatikan Zahra. Wajah Zahra terlihat tenang, seperti terlihat bahagia dan lega.
Apa karena bayi-bayinya dalam keadaan sehat sehingga Ibu Zahra menjadi tenang? tanya Rindu di dalam hati.
Semoga tidak terjadi apa-apa, kata Rindu di dalam hati.
***
Dua hari kemudian Zahra kembali ke Indonesia. Zahra berangkat sendiri tanpa dijemput oleh Nizam. Rindu cemas ketika Zahra berangkat sendiri tanpa ada yang menemaninya. Apalagi pesawat yang ditumpangi Zahra mendarat di Jakarta bukan di Bandung.
Rindu mengantar Zahra ke bandara Changi. Ia seakan berat membiarkan Zahra pergi sendiri.
“Tidak apa-apa, saya sudah biasa pergi ke Singapura sendiri. Lagipula saya dijemput Bang Nizam di bandara Soekarno Hatta,” kata Zahra.
“Kalau sudah sampai di bandara telepon saya ya, Bu!” ujar Zahra.
“Baiklah. Sesampai di bandara saya akan menelepon kamu,” jawab Zahra.
Zahra memeluk Rindu.
“Jaga dirimu baik-baik,” pesan Zahra kepada Rindu.
“Baik, Bu,” jawab Rindu.
“Saya pergi dulu. Assalamualaikum,” ucap Zahra.
“Waalaikumsalam,” jawab Rindu.
Zahra melambaikan tanganya, Rindu membalas lambaian tangan Zahra. Zahra berjalan menuju ke terminal keberangkatan. Setelah masuk ke terminal keberangkatan Zahra tidak terlihat lagi. Air mata Rindu menggenang di pelupuk matanya ketika menatap kepergian Zahra. Rindu mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Ia menoleh ke bibi.
“Ayo, Bi. Kita pulang,” ajak Rindu.
Mereka pun meninggalkan bandara menuju teras bandara, menunggu di jemput oleh supir.
***
Zahra keluar dari terminal kedatangan sambil mendorong troli yang berisi koper dan tas. Matanya menyapu di sekeliling terminal kedatangan ia mencari seseorang. Senyumnya langsung mengembang ketika ia melihat seseorang yang ia cari. Ia menghampiri seorang pria tampan yang menggunakan kaca mata hitam. Pria itu merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk memeluk Zahra. Zahra langsung lari kepelukan pria tersebut. Pria itu mengecup kening Zahra. Pria tersebut adalah Nizam.
“Apa kabarnya, sayang?” sapa Nizam,
“Alhamdullilah baik, Abang,” jawab Zahra.
Nizam mengambil alih troli yang dibawa oleh Zahra. Mereka berdiri di depan bandara menunggu mobil mereka datang. Tak lama kemudian mobil mereka datang dan berhenti di depan mereka. Nizam dan Zahra masuk ke dalam mobil.
“Langsung ke Rumah Sakit Harapan Kita,” kata Nizam kepada supir.
“Baik, Pak,” jawab supir. Mobil meluncur meninggalkan bandara Soekarno Hatta.
Nizam duduk sambil merangkul bahu istrinya. Sepanjang jalan Zahra tidak berhenti menceritakan perkembangan bayi mereka yang berada di dalam kandungan Rindu.
“Anak-anak kita dalam keadaan sehat, Bang. Bentuk tubuh mereka perlahan mulai terlihat bentuknya,” ucap Zahra, “detak jantung mereka juga bagus, tidak terdengar lemah.”
“Baguslah kalau mereka sehat. Kalau mereka tidak sehat, Rindu harus bertanggung jawab!” ujar Nizam.
“Jangan keterlaluan kepada Rindu. Dia sudah berusaha sebisa mungkin agar anak-anak kita tumbuh dengan baik. Tapi kan semuanya Allah yang menentukan, kita tidak bisa apa-apa,” kata Zahra.
Nizam tidak menghiraukan perkataan Zahra.
“Keadaan kamu bagaimana?” tanya Nizam mengalihkan pembicaraan.
“Alhamdullilah baik-baik saja,” jawab Zahra.
“Tidak ada keluhan?” tanya Nizam.
“Tidak,” jawab Zahra.
“Kalau ada keluhan nanti kamu ceritakan ke dokter,” kata Nizam.
.
.
.