NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan

Keesokan paginya, Arya bangun lebih awal dari biasanya. Bukan untuk menyusun berkas atau bergegas ke lokasi, melainkan untuk berdiri di dapur—tempat yang selama ini hampir tak pernah ia sentuh. Ia berusaha meniru apa yang sering dilakukan Nayara: memanaskan air, menyiapkan cangkir teh, dan menyusun sepiring sarapan sederhana namun rapi. Tangan-tangan yang terbiasa mencengkeram senjata dan menandatangani keputusan besar kini terasa canggung memegang sendok dan piring, namun ia melakukannya dengan sepenuh hati.

Saat Nayara membuka mata, cahaya pagi sudah masuk menerangi kamar. Di samping tempat tidur, bukan lagi meja yang kosong, melainkan nampan berisi sarapan hangat dan secarik kertas bertuliskan tangan: "Maafkan aku yang kemarin lupa bahwa rumah bukanlah tempat untuk pulang saja, tapi tempat untuk hidup bersama. —Arya"

Nayara tersenyum di antara haru, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang tengah. Di sana Arya berdiri dengan wajah yang sedikit canggung, seolah takut disambut dengan kekecewaan lagi.

"Selamat pagi," sapa Arya pelan, tangannya meremas ujung kemeja sedikit. "Aku tidak membuat seburuk yang kau bayangkan, kan?"

Nayara mendekat, lalu mencium pipinya lembut. "Ini sudah lebih dari cukup, Arya. Terima kasih."

Namun permintaan maaf Arya tidak berhenti di situ. Setelah sarapan, ia mengambil tangan Nayara dan mengajaknya duduk di bangku kayu di taman depan rumah—tempat yang dulu sering ia lewati tanpa pernah benar-benar menikmatinya.

"Aku sudah berbicara dengan Bima tadi malam," ucap Arya mantap. "Aku mengatur jadwal agar tidak ada lagi pekerjaan yang menelan seluruh waktuku. Setiap sore setelah jam kerja, rumah ini akan menjadi tempat istirahat, bukan ruang rapat. Dan setiap hari Minggu... itu waktu kita berdua, tanpa gangguan apa pun."

Nayara menatapnya lekat. "Kau tidak perlu mengubah seluruh hidupmu hanya karena aku marah sedikit."

"Ini bukan hanya karena kau marah," potong Arya lembut namun tegas. "Ini karena kau benar. Aku hampir saja melakukan kesalahan yang sama seperti dulu—terlalu sibuk mengejar sesuatu yang jauh, hingga lupa menjaga apa yang ada di dekatku. Jika aku kehilanganmu, maka kemenangan apa pun akan terasa hampa."

Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata gadis itu. "Aku minta maaf, Nayara. Maaf karena membuatmu merasa sepi di sampingku. Maaf karena seolah kau hanya bagian dari rutinitasku, bukan bagian dari jiwaku."

Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata Nayara, namun kali ini bukan karena kesedihan. Ia merangkul pinggang pria itu dan menyandarkan kepalanya di dada yang kuat dan hangat. "Saya sudah memaafkanmu sejak kau menyadari kesalahanmu, Arya. Dan maaf itu bukan berarti tidak akan pernah ada kesalahan lagi. Tapi itu berarti kita berjanji untuk selalu saling mengingatkan dan tidak pernah berjalan sendiri lagi."

Siang itu, mereka berjalan berdua saja ke tempat sederhana di pinggir kota—tempat yang dulu Arya lewati dengan tergesa-gesa. Mereka duduk di bangku taman, membeli makanan dari pedagang kecil, dan tertawa lepas tanpa beban. Bukan hal yang luar biasa, bukan pula kemewahan yang tak ternilai. Namun bagi Arya, momen sederhana ini adalah kemenangan terbesarnya: mampu menikmati waktu bersama orang yang dicintai, tanpa takut diganggu, tanpa merasa terburu-buru, dan tanpa ada rahasia yang tersembunyi di antara pelukan mereka.

Malam harinya, saat mereka duduk di teras memandang langit, Arya berbisik pelan di telinga Nayara. "Dulu aku berpikir kekuatan terbesarku adalah kemampuanku bertarung dan memimpin. Tapi hari ini aku sadar... kekuatan terbesarku adalah kemampuanku untuk berubah, dan kemampuanku untuk diterima kembali olehmu meski aku pernah salah."

Nayara meremas jari-jemarinya erat. "Pengampunan itu seperti benih, Arya. Jika dirawat dengan ketulusan, ia akan tumbuh menjadi ikatan yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya."

Dan di bawah langit malam yang tenang itu, mereka memahami satu hal penting: bahwa cinta bukan berarti tidak pernah bertengkar atau tidak pernah salah. Cinta adalah tentang berani meminta maaf, berani memaafkan, dan berjanji untuk menjadi lebih baik—bersama-sama.

 

Lanjut ke Bab 34: Rencana Besar Arya Satria? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!