"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VILLA TUA DI TEPI DANAU SANUBARI
Suara derum mesin motor besar milik Zavier perlahan memelan saat roda-rodanya melintasi jalanan berkerikil halus yang membelah kawasan perbukitan sunyi. Udara dingin khas pegunungan merayap menembus jaket kulit Zavier, membuat Nayla yang memeluk erat pinggang pria itu dari belakang, makin merapatkan tubuhnya untuk mencari kehangatan.
Di ujung jalan setapak yang dinaungi pohon-pohon pinus tinggi, berdiri sebuah bangunan villa tua dua lantai bergaya gaya kolonial. Dinding batunya yang kokoh diselimuti tanaman merambat, sementara jendela-jendela kayunya memancarkan kesan hangat yang tenteram. Tempat itu adalah properti pribadi mendiang nenek Zavier dari pihak ibu, satu-satunya sudut bumi yang tak terdaftar dalam peta aset resmi Mahendra Group.
Zavier mematikan mesin motornya. Keheningan malam pegunungan seketika menyergap, hanya diselingi suara jangkrik dan gesekan dedaunan yang ditiup angin.
"Kita sudah sampai, Nay," ujar Zavier pelan. Ia melepas helmnya, lalu berbalik untuk membantu Nayla melepaskan helm yang dikenakannya.
Nayla turun dari motor dengan kaki yang sedikit gemetar karena lelah dan dingin. Ia memandangi sekeliling villa tua yang menghadap langsung ke arah danau alami yang tenang di bawah sana. Air danau itu memantulkan pendar cahaya bulan separuh dengan sangat indah.
"Ini... tempat apa, Zav?" bisik Nayla takjub, memeluk tubuhnya sendiri saat angin dingin berembus.
"Villa Mendiang Nenek," sahut Zavier seraya melangkah mendekati pintu utama kayu yang tebal, merogoh kunci kecil dari dalam sakunya. "Tidak ada pengawal Mahendra di sini. Tempat ini tidak pernah dimasukkan Papi ke dalam sistem pemantauan aset. Kamu aman malam ini."
Pintu kayu berderit halus saat Zavier membukanya. Ia meraba sakelar di dekat kosen, dan seketika lampu gantung bernuansa warm white menyala, menerangi ruang tengah yang dipenuhi furnitur kayu jati tua dan perapian bata merah yang bersih.
Zavier melangkah menuju perapian, menyalakan kayu bakar yang sudah tersusun rapi hingga lidah api keemasan mulai melahap kayu, menyebarkan rasa hangat yang membakar hawa dingin di dalam ruangan.
Nayla mendekat, berlutut di atas karpet rajut di depan perapian sembari menyodorkan kedua telapak tangannya ke arah api. Wajahnya yang pucat perlahan kembali memancarkan rona kemerahan.
Zavier memperhatikan setiap gerak-gerik gadis di sampingnya. Ia melangkah ke area dapur kecil, menyeduh dua cangkir teh chamomile hangat, lalu kembali dan mendudukkan dirinya di sebelah Nayla.
"Minum dulu," kata Zavier lembut, menyodorkan salah satu cangkir porselen itu.
"Terima kasih, Zavier," ulas Nayla pelan. Ia menyesap teh hangat itu, merasakan alirannya menenangkan kerongkongan dan dadanya yang sempat bergejolak hebat sepanjang malam.
Zavier meletakkan cangkirnya ke lantai pualam, lalu memutar posisi tubuhnya mendampingi Nayla. Matanya menatap profil samping wajah Nayla dengan binar mata yang campur aduk antara lega karena bisa melindunginya, dan cemas akan konsekuensi esok hari.
"Di rumah Vanya tadi... kamu bilang kamu merasa bukan manusia lagi," buka Zavier dengan suara rendah dan tenang. "Apa yang sebenarnya terjadi di Istana Alveric beberapa hari belakangan ini, Nay?"
Nayla menundukkan kepalanya, menatap uap teh yang membumbung tipis dari cangkirnya. Air matanya yang sempat mengering mendadak bergenang kembali di pelupuk mata.
"Ayah... Ayah sudah merencanakan jadwal kepindahanku ke cabang Alveric di London setelah lulus SMA nanti," tutur Nayla dengan suara bergetar. "Semuanya sudah dipetakan, Zav. Jurusan kuliahku, tempat tinggalku, bahkan lingkaran pertemananku nanti... semuanya diatur berdasarkan kalkulasi keuntungan bisnis dengan Barito Group dan Mahendra. Aku bahkan tidak diizinkan melukis lagi di kamar."
Nayla mendongak, menatap Zavier dengan mata jernih yang dipenuhi kepedihan mendalam. "Aku merasa seperti boneka porselen mahal yang cuma dipajang di etalase, Zav. Kalau aku terus diam dan patuh... aku rasa aku akan kehilangan diriku sendiri."
Mendengar penuturan jujur itu, dada Zavier terasa dihantam beban yang teramat berat. Ia tahu betul rasa sesak itu, rasa tercekik oleh ekspektasi klan yang tak pernah membiarkan mereka memiliki kehendak bebas.
Zavier mengulurkan tangannya, mengambil cangkir dari jemari Nayla dan meletakkannya ke lantai. Tanpa ragu, Zavier membawa kedua telapak tangan Nayla ke dalam genggamannya yang hangat dan kokoh.
"Kamu bukan boneka porselen, Nayla," tegas Zavier dengan tatapan mata kelam yang begitu intens dan jujur. "Kamu adalah kamu. Dan di sini, di tempat ini, tidak ada Alexander Alveric, tidak ada Kael Mahendra, dan tidak ada jadwal korporat yang bisa mendikte hidupmu."
Nayla meremas balik jemari Zavier, menyerap setiap energi dan ketenangan yang ditawarkan pria itu. "Tapi besok... besok saat matahari terbit, Ayah dan Papi Kael pasti sudah tahu kalau aku hilang bersamamu. Mas Adrian dan Bang Raka tidak akan tinggal diam."
Zavier menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman langka yang memancarkan keberanian mutlak di balik ketenangannya yang dingin.
"Biarkan mereka mencari," sahut Zavier pelan namun mantap. "Aku tidak pernah takut menghadapi Papi atau Ayahmu, Nayla. Yang membuatku takut adalah kalau aku melihatmu menyerah dan membiarkan mereka mematikan binar di matamu."
Zavier memajukan tubuhnya sedikit, mendekatkan dahinya ke dahi Nayla hingga napas mereka berembus di udara hangat perapian.
"Malam ini, lupakan Alveric dan Mahendra," bisik Zavier tepat di depan bibir Nayla. "Malam ini... cuma ada aku dan kamu."
Nayla memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kehangatan sentuhan Zavier menghapus seluruh jejak ketakutan dan luka yang membekas di hatinya. Di dalam villa tua di tepi danau yang tersembunyi dari peradaban itu, dua jiwa yang terbelenggu oleh takdir klan besar akhirnya menemukan tempat peraduan yang paling aman, sebuah sanctuary rahasia sebelum badai besar benar-benar menerjang mereka di esok hari.
Pagi di tepi Danau Sanubari menyapa dengan kabut tipis yang merayap halus di atas permukaan air yang tenang. Dari jendela kaca besar villa tua milik klan mendiang ibu Zavier, pendar sinar matahari keemasan perlahan menerobos masuk, membiaskan cahaya hangat ke atas lantai kayu dan perapian yang kini menyisakan bara merah padam.
Nayla terbangun dari lelapnya yang paling tenang selama bertahun-tahun. Saat memutar tubuh di atas sofa kulit berbalut selimut wol tebal, ia mendapati Zavier sudah duduk di ambang pintu kaca yang menghadap langsung ke arah danau. Pria Mahendra itu mengenakan kaos hitam polos dengan lengan yang tergulung hingga siku, memegang cangkir kopi hangat sembari menatap hamparan air yang berkilau.
Nayla perlahan menyibak selimutnya, melangkah mendekat tanpa alas kaki. Bunyi gesekan halus di atas lantai kayu membuat Zavier menoleh.
"Sudah bangun?" suara Zavier mengalun berat dan serak, memancarkan ketenangan khas pagi hari. Ia mengulurkan sebelah tangannya saat Nayla tiba di sampingnya.
Nayla menyambut uluran tangan itu, membiarkan jemari Zavier melingkari jemarinya yang hangat. "Jam berapa sekarang, Zav?"
"Baru jam enam pagi," jawab Zavier, menarik Nayla sedikit lebih dekat agar terlindung dari terpaan angin danau yang dingin. "Tidurmu nyenyak?"
Nayla tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat jarang terlihat selama beberapa bulan terakhir. "Nyenyak sekali. Ini pertama kalinya aku tidur tanpa harus memikirkan jadwal les bisnis jam tujuh pagi atau suara detakan sepatu pengawal di koridor kamar."
Zavier menatap lekat garis wajah Nayla yang kini tampak lebih segar. Namun, di balik ketenangan yang tercipta di antara mereka, layar ponsel Zavier yang tergeletak di atas meja kecil terus bergetar tanpa henti dalam mode hening. Puluhan panggilan tak terjawab dari Ethan, Raka, serta notifikasi mendesak dari tim keamanan Alveric yang melacak keberadaan motor Zavier terus bermunculan.
Nayla melirik ke arah ponsel tersebut. Senyumnya perlahan memudar, berganti dengan kilatan rasa cemas yang tak bisa sepenuhnya dihilangkan.
"Mereka sudah mulai mencari secara masif, ya?" bisik Nayla pelan, menatap nama 'Bang Raka' yang berkedip di layar.
Zavier mengimbangi tatapan Nayla, lalu meraih ponsel itu dan mematikannya sepenuhnya dengan satu sentuhan ibu jari. "Biarkan saja. Untuk beberapa jam ke depan, dunia luar tidak punya akses ke tempat ini."
Nayla meremas jemari Zavier, menghirup dalam-dalam udara pegunungan yang bersih dari aroma kaku Istana Alveric. "Terima kasih untuk semalam, Zav. Kalau tidak ada kamu... aku tidak tahu harus melangkah ke mana lagi."
"Kamu tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu yang memang sudah seharusnya aku lakukan, Nay," sahut Zavier mantap. Ia membawa genggaman tangan mereka ke depan dadanya. "Aku tidak akan biarkan siapa pun merenggut kebebasanmu lagi. Bahkan kalau itu artinya aku harus berhadapan langsung dengan Papi Kael dan Ayahmu."
Di bawah naungan pohon-pohon pinus tua dan gemericik air danau yang damai, mereka berdiri saling menguatkan, menyadari bahwa masa tenang ini hanyalah jeda singkat sebelum badai besar dari dua klan raksasa benar-benar mengepung sanctuary rahasia mereka.
Sementara itu, dua ratus kilometer dari tepi Danau Sanubari, atmosfer di ruang rapat utama lantai teratas Alveric Tower terasa bagaikan medan perang yang siap meledak.
Pendingin udara yang berembus kencang tak mampu mendinginkan suhu ruangan yang memanas. Alexander Lauren Alveric berdiri di dekat dinding kaca raksasa dengan kedua tangan terkepal rapat di belakang punggungnya. Di samping meja mahoni panjang, Adrian dan Julian berdiri tegap dengan raut wajah kaku. Di seberang mereka, Kael Mahendra duduk didampingi oleh dua putra tertuanya, Ethan dan Raka.
Kehadiran klan Mahendra pagi itu bukan untuk membahas draf investasi atau dividen konsorsium, melainkan karena sebuah laporan mengejutkan dari tim pelacak gabungan: motor besar milik Zavier Mahendra tertangkap kamera pengawas lalu lintas keluar dari batas kota Jakarta Selatan bersamaan dengan terputusnya sinyal pelacak Nayla Alveric.
"Ini bukan lagi sekadar urusan kenakalan remaja, Kael!" suara Alexander memecah keheningan dengan intonasi berat yang sangat menekan. Ia berbalik, menatap pimpinan klan Mahendra itu dengan mata yang memancarkan kemarahan dingin. "Putramu membawa lari putri tunggal Alveric! Sinyal pelacak Nayla sengaja dimatikan, dan Zavier mematikan seluruh saluran komunikasinya sejak tengah malam!"
Raka Mahendra menyunggingkan senyum sinis yang amat tipis di sudut bibirnya. "Om Alexander tidak perlu meledak-ledak begitu. Zavier itu memang anak kesayangan Papi yang selalu merasa punya kebebasan lebih dibanding kita semua. Dia pikir dunia ini berputar mengelilinginya."
"Raka, diam," potong Ethan tegas, menatap adiknya dengan peringatan dingin sebelum berpaling ke arah Alexander. "Om Alexander, tim peretas internal Mahendra sedang melacak sinyal satelit terakhir dari kendaraan Zavier. Kami jamin Nayla aman bersama Zavier. Zavier tidak akan bertindak bodoh yang merugikan keselamatan putri Anda."
Kael Mahendra menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menyesap kopinya dengan ketenangan yang mengintimidasi. Tatapan mata elangnya menyapu Alexander secara perlahan.
"Alexander," ujar Kael dengan suara basnya yang dalam dan terkontrol. "Jangan biarkan emosi pribadimu merusak profesionalitas yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Zavier memang pembangkang jika didesak terlalu keras, tapi dia punya perhitungan. Jika dia membawa Nayla pergi, itu artinya anakmu sendiri yang memilih untuk melangkah keluar dari rumahmu."
"Nayla tidak akan kabur jika tidak ada pemicunya!" sela Julian Alveric, membela adiknya dengan nada suara yang naik satu oktav. "Keluarga kami memang ketat, tapi tindakan Zavier menyembunyikan Nayla adalah bentuk pelanggaran batas yang nyata!"
Adrian mengangkat tangannya, menghentikan adiknya sebelum perdebatan makin tak terkendali. "Cukup, Julian. Menilai siapa yang salah tidak akan mengembalikan Nayla atau memperjelas posisi Zavier." Adrian lalu melangkah mendekati meja, menatap Kael dan Ethan secara bergantian. "Satu jam lagi, Barito Group melalui Gatan Rain akan tiba di sini untuk penandatanganan addendum proyek infrastruktur. Jika berita hilangnya Nayla dan keterlibatan Zavier bocor ke media atau ke tangan Gatan, reputasi konsorsium tiga klan ini akan hancur sebelum sempat berjalan."
Kael berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas mewahnya dengan gerakan anggun namun mengancam.
"Zavier punya lokasi-lokasi privat yang tidak pernah terdaftar di dokumen Mahendra," kata Kael datar, matanya tertuju pada Ethan dan Raka. "Ethan, Raka... cari adik kalian sampai dapat. Bawa Zavier dan Nayla kembali ke gedung ini sebelum jam makan siang. Gunakan seluruh jaringan yang kita miliki."
Raka berdiri, merapikan lengan kemejanya sembari menyunggingkan senyum penuh arti. "Dengan senang hati, Papi. Aku sendiri yang akan menjemput Si Anak Emas dan membawanya kembali ke tanah nyata."
Di dalam ruang rapat yang megah itu, keputusan telah diambil. Dua klan terbesar ibu kota telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melacak keberadaan Zavier dan Nayla. Pijakan kaca yang selama ini menopang rahasia kedua remaja itu kini retak sepenuhnya, bersiap menyambut benturan keras antara ketundukan pada keluarga dan keberanian untuk mempertahankan cinta yang terlarang.
kekny zavier ini tipe aku 🤭