Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Evren melangkah masuk ke dalam tenda dan semua orang langsung menatapnya. Kaelen yang berdiri tidak jauh dari kursi tempatnya biasa duduk, langsung berjalan dengan cepat menghampiri Evren.
“Apa kamu tahu siapa yang baru saja kamu tahan?” Seru Kaelen. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat namun ia masih menahan diri.
Di dalam tenda tidak hanya ada Kaelen seorang, melainkan ada para petinggi benteng. Mereka menatapnya dengan tatapan menghakimi, kecuali satu orang yang duduk di kursi komandan sambil menatapnya dalam diam.
Evren menatap Kaelen tanpa rasa takut sedikitpun lalu mulai menjelaskan kejadiannya.
“Orang itu berkeliaran di sekitar benteng sambil membawa bubuk mesiu, sudah saya tanya berkali-kali tapi dia tidak kooperatif sama sekali.”
Kaelen balas menatapnya tidak kalah tajam.
“Tapi dia adalah seorang pembawa pesan dari negara Eryndor!” Serunya yang langsung membuat Evren melotot.
Ada sebuah peraturan antar negara yang sudah disepakati oleh seluruh negara tetangga Alterus. Larangan menyerang pembawa pesan negara lain apapun yang sedang terjadi. Namun Evren malah menangkap dan menahannya. Itu sangat cukup dijadikan sebagai alasan oleh negeri Eryndor untuk menyerang benteng Draven.
“Tapi dia berkeliaran membawa bubuk mesiu, bagaimana kalau ada rencana peledakan benteng?” Seru Evren.
Ia menatap pemimpin pos komando sayap timur dan Kaelen secara bergantian.
“Dan kalian sebagai pemimpin malah tidak ada di tempat!”
Kaelen mengacak rambutnya, merasa frustasi dengan yang baru saja terjadi. Jika perang benar-benar pecah, kondisinya bisa fatal karena pasokan obat-obatan yang terbatas dan logistik yang kini harus dibagi dengan warga desa juga.
Lysander mengetuk meja di sampingnya pelan namun cukup untuk membuat semua perhatian tertuju ke arahnya.
“Kaelen, kirimkan prajurit ke tahanan untuk mengecek kondisinya. Pastikan agar dia tidak mati,” Ucapnya.
Kalimat pertama yang keluar darinya berhasil memancing reaksi yang cukup keras dari para petinggi benteng.
Semua orang tahu Lysander adalah bagian dari pasukan elit ibukota. Tapi melihatnya memerintah komandan Draven seenaknya, membuat mereka merasa geram.
“Ini bukan tempatmu ikut campur!” teriak salah satu pemimpin pos jaga benteng.
“Benar!” teriak yang lainnya.
“DIAM!” Seru Kaelen membuat ruangan seketika hening.
Reaksi penolakan dari para petinggi berkebalikan dengan reaksi Sang Komandan. Ia justru merasa kesadarannya ditarik kembali ke permukaan oleh ucapan Lysander. Baru saat itu Kaelen menyadari dirinya terlalu terbawa rasa panik.
“Komandan! tolong segera beri perintah. Zephyr melindungi benteng sendirian dan aku tidak tahu dia bisa bertahan sampai kapan,” Ucap Evren meskipun ia tahu bisa saja akan menjadi sasaran emosi Kaelen. Tapi keadaanya terlalu mendesak saat ini.
“Ucapan Lysander tadi benar, kamu pergi ke sel tahanan dan pastikan utusan itu masih hidup,” perintahnya sambil menunjuk seorang prajurit.
“Baik Komandan!”
Lalu ia beralih menatap para pemimpin komando pos, “Pemimpin pos pergi ke baris depan dan pimpin anak buah kalian,” ucapnya memberi perintah.
Setelah itu, Kaelen memandang Evren dan Jax bergantian.
“Kalian berdua pergi ke garis depan dan pimpin seluruh pasukan, Evren memimpin pertempuran dan Jax sebagai wakil,” ucapnya.
“Keputusan darurat di lapangan mengikuti keputusan Evren, bubar!”
Evren mengangguk dan bergegas keluar untuk mengambil senjata dan baju zirahnya. Diikuti oleh para pemimpin pos komando benteng. Lalu mereka semua berjalan cepat menuju ke barisan para prajurit.
Namun Jax masih berdiri di dalam tenda dengan raut wajah tidak suka.
“Kenapa aku harus menjadi wakilnya?” protesnya sambil menunjuk ke arah Evren yang baru saja keluar.
“Ini bukan waktunya untuk keras kepala!”
“Tapi dia hanya prajurit biasa! atas dasar apa aku harus menurutinya?”
“Atas dasar aku komandan di tempat ini! Pergi lakukan tugasmu!” Seru Kaelen sambil menunjuk pintu keluar.
Jax pergi dengan emosi yang melambung tinggi. Wajahnya merah dan tangannya mengepal kuat.
Bertepatan dengan Jax yang keluar dari tenda, seorang prajurit berlari masuk ke dalam tenda dan melaporkan bahwa tahanan tersebut baru saja bunuh diri di dalam sel tahanan.
Mendengar kabar itu, Lysander langsung berdiri dari duduknya lalu menghampiri Kaelen.
“Perang sudah tidak bisa dicegah lagi.”
“Aku tahu.”
Kaelen mengangguk lalu ia memakai baju zirahnya dan mengambil pedangnya. Begitu juga dengan Lysander dan Gavin yang kembali ke tenda untuk mengambil senjata mereka.
“Yang Mulia, apa anda akan menggunakan busur panah itu?”
Lysander menatap tajam Gavin. Ia mengambil pedang panjangnya, lalu melangkah keluar dari tenda. Tepat sebelum melewati pintu, langkahnya terhenti.
“Lain kali perhatikan panggilan yang keluar dari mulutmu,” perintahnya kepada Gavin.
“Baik Tuan Muda.”
Di atas benteng, Zephyr sendirian mempertahankan pelindung yang dibuatnya. Pasukan musuh sudah semakin mendekati garis penghalang benteng. Pasukan pemanah mereka terlihat sudah bersiap dengan anak panah yang terpasang di busur panah.
Keringat mulai mengalir dari pelipis Zephyr meskipun cuaca saat ini sangat dingin. Urat-urat di tangan dan lehernya pun terlihat mulai menonjol.
Lalu terdengar derap langkah kaki yang terus mendekat dari belakang.
“Pemanah, berdiri di posisi masing-masing dan bersiap!” Seru Kaelen.
Kaelen mengambil posisi berdiri tepat di sebelah Zephyr. Sementara Lysander dan Gavin sudah bergabung bersama dengan Evren di baris depan.
“Berapa lama kamu bisa mempertahankan pelindungnya?”
“Tidak lama lagi karena cakupannya terlalu luas.”
“Kalau begitu, cukup lindungi bagian atas saja, buka bagian bawah agar pasukan kita bisa keluar menyerang.”
Zephyr mengangguk lalu ia menggerakkan tangan kanannya dan perlahan batas di bagian bawah mulai menghilang. Kaelen memerintahkan untuk membuka gerbang benteng dan pasukan baris terdepan maju ke medan pertempuran.
Terompet pertama ditiup panjang menandakan perang dimulai. Prajurit yang menjaga gerbang langsung membuka gerbang benteng lebar-lebar.
Evren memacu kudanya untuk berlari ke depan. Diikuti oleh Jax, Lysander dan seluruh pasukan. Setelah seluruh pasukan keluar, gerbang kembali ditutup rapat agar tidak ada pasukan musuh yang menyelinap masuk.
“Lepaskan anak panah!” Perintah Kaelen.
Terompet kedua terdengar dan hujan panah dilepaskan menghujani pasukan musuh.
Sementara panah yang ditembakkan oleh musuh tidak satupun dapat mengenai benteng. Semuanya terpental saat mengenai sihir pelindung yang dibuat oleh Zephyr, membuat posisi Draven lebih unggul.
Tepat setelah anak panah pertama dilepaskan, Evren dan pasukannya menerjang ke depan. Mereka terus maju menyerang pasukan musuh. Menangkis dan menebas bilah pedang musuh.
Begitu juga dengan Jax. Meskipun ini perang pertamanya, tapi dia terlihat cukup unggul. Namun pengalaman tetaplah salah satu faktor penting dalam bertarung. Terlalu banyak celah yang diperlihatkan Jax saat menghadapi musuh dari berbagai sisi.
Saat sebuah pedang hampir mengenai punggungnya, Evren bergegas menangkisnya dan melindungi punggung Jax.
Jax menoleh ke arah Evren dan hampir saja ia ditebas untuk yang kedua kalinya.
“FOKUS!” Seru Evren membuat Jax langsung tersadar dari kebodohannya.
Jax dan Evren saling melindungi punggung masing-masing membuat mereka mampu bertahan sekaligus menyerang.
Lysander pun melakukan hal yang sama dengan Gavin. Pengalaman dan kebersamaan selama bertahun-tahun membuat mereka saling melindungi dan saling melengkapi secara otomatis.
Di tenda komandan pasukan musuh.
Seorang prajurit berlari masuk ke dalam tenda dan langsung berlutut.
“Komandan, di sana ada Lysander Regalis dan Jenderal muda Evren Vance.”
“Apa kamu yakin?”
“Iya komandan, dan juga…”
“Juga apa? cepat katakan!”
“Benteng itu dilindungi oleh seorang penyihir.”
BRAK!
Gebrakan meja menggema memenuhi seluruh tenda. Matanya menyorot tajam dan giginya bergemeletuk.
“Apa sebenarnya yang dipikirkan Cassian sampai menempatkan tiga orang elit sekaligus di satu benteng,” gumamnya.
“Tarik pasukan, kita mundur.”
“Baik komandan.”
Di Medan Perang.
Terompet musuh berbunyi dan pasukan musuh mulai mundur. Evren dan Jax melihatnya dengan sedikit kebingungan. Karena jalannya pertempuran masih ditengah-tengah dan belum terlihat jelas siapa yang lebih unggul. Begitu juga dengan Kaelen di atas benteng yang semakin waspada karena khawatir akan ada pasukan susulan yang lebih besar.
“Tuan muda, apa yang terjadi?” tanya Gavin kepada Lysander.
Lysander menatap Evren yang berdiri cukup jauh darinya, lalu ia menatap ke atas benteng tempat Zephyr berdiri.
“Mereka sudah menarik pasukannya, untuk sementara kita akan merasakan kedamaian,” ucap Lysander lalu ia masuk kembali ke dalam benteng.
Melihat pasukan musuh yang sudah tidak terlihat dan juga Lysander yang masuk kembali ke dalam benteng, Kaelen pun memerintahkan pasukannya untuk masuk ke dalam benteng.
Sementara itu tangan Zephyr langsung terkulai lemas dan garis pelindung pun menghilang. Perlahan matanya tertutup dan tubuhnya tumbang. Kaelen yang berdiri di sampingnya langsung panik dan segera menggendongnya kembali ke tenda.
Saat Evren kembali ke tenda, di luar ada Kaelen, Lysander, Gavin dan beberapa prajurit.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya kepada semua orang itu.
“Zephyr pingsan, apa mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya?” tanya Kaelen.
Evren menghela nafas lalu menggeleng pelan.
“Oh, dia hanya tidur. Mungkin tiga atau empat hari lagi akan bangun. Staminanya benar-benar buruk.” Ucap Evren.
“Kenapa kamu sangat tenang? dia sampai pingsan!”
“Aku tahu, makanya jangan khawatir, sebaiknya kalian kembali saja ke tenda kalian!”
Lalu seorang pria keluar dari dalam tenda dan langsung disambut pertanyaan oleh Kaelen.
“Apa dia baik-baik saja?”
“Iya, hanya kelelahan. Istirahat beberapa hari dan kondisinya akan membaik.”
“Syukurlah, terima kasih tabib.”
“Lihat kan? sekarang kalian kembalilah biarkan zephyr beristirahat dengan baik.”
Satu persatu orang orang itu pun pergi kembali ke tenda masing-masing.