NovelToon NovelToon
TUNGKU EKSTRASI SURGAWI

TUNGKU EKSTRASI SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.

#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis di Tepi Hutan

# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI

Setelah penolakan sang tabib dan kemunculan sosok berjubah abu-abu yang tiba-tiba menghadangnya di pasar, Xiao Bai memilih untuk tidak melanjutkan percakapan itu. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat instingnya waspada—terlalu tenang, terlalu terhitung, seperti seseorang yang sudah lama menunggu mangsa yang tepat.

"Maaf, Paman. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun hari ini," katanya, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meski ia bisa merasakan tatapan pria itu masih mengikutinya beberapa saat sebelum akhirnya menghilang di antara kerumunan pasar.

Xiao Bai berjalan tanpa arah, kakinya melangkah begitu saja mengikuti jalan yang paling sepi, menjauh dari pusat kota yang penuh wajah-wajah yang mengenalinya sebagai "sampah buangan sekte". Ia tak lagi peduli ke mana kakinya membawanya—yang ia inginkan hanya tempat sunyi, jauh dari tatapan menghakimi, jauh dari kecurigaan, jauh dari segala hal yang mengingatkannya betapa dunia ini terlalu sempit bagi seseorang tanpa nama baik.

Tanpa disadari, langkahnya membawanya semakin jauh dari Kota Qingyun, melewati ladang-ladang kosong, menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui, hingga akhirnya ia berdiri di ambang sebuah hutan lebat—Hutan Ba, yang oleh penduduk setempat dijuluki "hutan setengah liar" karena letaknya yang berbatasan dengan wilayah lebih dalam yang lebih berbahaya, meski bagian tepinya masih relatif aman untuk pencari kayu dan pemburu kecil.

Ia berhenti sejenak, menatap kegelapan pepohonan yang membentang di depannya. Entah kenapa, dibandingkan kota yang penuh manusia dengan seribu penilaian, hutan ini terasa lebih ramah—setidaknya pepohonan tidak akan berbisik "sampah buangan sekte" di belakangnya.

"Mungkin di sini aku bisa berpikir jernih," gumamnya, melangkah masuk perlahan ke dalam bayangan pepohonan.

---

Ia berjalan cukup jauh sebelum menyadari suara gemericik air di dekatnya—sebuah anak sungai kecil yang mengalir jernih di antara bebatuan. Xiao Bai mendekat, berlutut untuk mencuci wajahnya yang lelah, ketika matanya menangkap sesuatu yang tak terduga: seorang gadis berjubah putih sederhana, duduk di tepi sungai dengan kaki terendam air, tampak sedang mengobati luka kecil di pergelangan tangannya sendiri menggunakan daun-daun yang ia remas.

Gadis itu mendongak begitu menyadari kehadirannya, matanya yang jernih sempat terkejut sesaat sebelum berubah waspada.

"Siapa kau?" tanyanya, meski nada suaranya tidak seketus yang Xiao Bai duga—lebih ke arah hati-hati daripada bermusuhan.

"Maaf mengganggu," Xiao Bai buru-buru mundur setengah langkah, mengangkat kedua tangan sebagai tanda tak berbahaya. "Aku hanya sedang berjalan, tak sengaja lewat sini. Aku tidak bermaksud mengganggu."

Gadis itu memperhatikannya sesaat, matanya menyapu penampilan Xiao Bai yang lusuh—jubah compang-camping, rambut acak-acakan, wajah yang menyiratkan kelelahan berhari-hari. Namun anehnya, tak ada sedikit pun jijik atau penghinaan dalam tatapannya, hanya rasa ingin tahu yang tulus.

"Kau terluka?" gadis itu balik bertanya, menunjuk goresan kecil di lengan Xiao Bai—bekas cakaran ranting yang tak sengaja ia dapat sepanjang perjalanan tanpa arah tadi.

"Ini bukan apa-apa," Xiao Bai menjawab cepat, sedikit heran ada orang yang justru mengkhawatirkannya, bukan mencemoohnya. "Kau sendiri, kenapa mengobati luka sendirian di tengah hutan seperti ini? Berbahaya kalau ada monster liar lewat."

"Aku hanya... butuh waktu sendiri," gadis itu menjawab pelan, menunduk menatap remasan daun di tangannya. "Kadang dunia di luar sana terasa terlalu penuh aturan, terlalu penuh orang-orang yang menilaimu berdasarkan siapa ayahmu, bukan siapa dirimu sebenarnya."

Xiao Bai terdiam sejenak, kata-kata itu entah kenapa terasa familiar—meski dari arah yang berbeda. "Aku mengerti perasaan itu," katanya akhirnya, duduk di batu tak jauh darinya, menjaga jarak yang sopan. "Duniaku juga penuh orang yang menilai berdasarkan sesuatu yang tak bisa kupilih sendiri."

Gadis itu menoleh, tertarik. "Apa maksudmu?"

Sebelum Xiao Bai sempat menjawab, sebuah suara familiar—yang selalu berhasil merusak momen tenang apa pun—menggema dari arah semak-semak di belakang mereka.

"Ling'er! Akhirnya kutemukan kau!"

Xiao Bai membeku. Suara itu, nada arogan yang selalu dibalut kepercayaan diri berlebihan itu—ia sudah terlalu hafal untuk salah mengenalinya.

Lin Hai melangkah keluar dari balik semak, mengenakan jubah kultivasi terbaiknya, wajahnya berseri melihat gadis di tepi sungai itu—namun senyum itu langsung berubah jadi seringai penuh hina begitu matanya jatuh pada sosok Xiao Bai yang duduk tak jauh darinya.

"Kau," desis Lin Hai, langkahnya semakin cepat mendekat, "murid buangan sekte, sudah diusir masih berani mendekati Nona Ling'er?"

Xiao Bai membeku sesaat. Nona Ling'er? Gadis biasa yang mengobati lukanya sendiri di tepi sungai ini—yang tak menunjukkan sedikit pun keangkuhan atau jarak sosial—ternyata bukan gadis biasa sama sekali.

Gadis yang dipanggil Ling'er itu menatap Lin Hai dengan raut kecewa yang jelas, lalu berdiri, membersihkan jubahnya yang basah. "Lin Hai, aku baru saja mengobrol biasa. Tidak ada yang perlu—"

"Nona Ling'er terlalu baik hati sampai tidak sadar bahaya," potong Lin Hai, kini berdiri di antara mereka berdua, menatap rendah ke arah Xiao Bai yang masih duduk di batu. "Kau tidak tahu siapa dia, Ling'er? Ini murid sampah yang dantiannya cacat total, diusir dari Sekte Awan Sembilan beberapa hari lalu karena tidak punya bakat sama sekali. Jangan sampai kau ternoda hanya karena berbicara dengannya."

Xiao Bai berdiri perlahan, rahangnya mengeras menahan amarah yang sudah terlalu sering ia telan dalam beberapa hari terakhir. Namun kali ini, sesuatu terasa berbeda—bukan hanya dirinya yang dihina di depan umum, tapi Lin Hai juga baru saja mempermalukannya di depan gadis pertama yang memperlakukannya seperti manusia biasa sejak ia diusir.

"Ling'er," Lin Hai melanjutkan, nadanya kini melembut penuh perhitungan saat menatap gadis itu, "ayahmu, Master Sekte Agung, pasti akan khawatir kalau tahu kau berbicara dengan orang seperti ini. Ayo, biar kuantar kau kembali."

Xiao Bai terdiam mendengar gelar itu—Master Sekte Agung. Jadi gadis sederhana yang duduk mengobati luka sendiri di tepi sungai ini, tanpa pelayan, tanpa pengawal, tanpa kesombongan sedikit pun, adalah putri dari salah satu tokoh paling berkuasa yang pernah ia dengar namanya di seluruh wilayah ini.

Li Ling'er menatap Xiao Bai sesaat, matanya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak—entah rasa bersalah karena identitasnya baru terungkap seperti ini, atau sekadar rasa penasaran yang belum terjawab. "Maaf," gumamnya pelan ke arah Xiao Bai, sebelum akhirnya membiarkan Lin Hai menuntunnya pergi menjauh dari tepi sungai.

Xiao Bai berdiri sendirian di antara pepohonan, menatap punggung dua sosok itu menghilang di balik semak-semak—satu yang menghinanya seperti biasa, dan satu lagi yang, entah kenapa, meninggalkan sesuatu yang hangat di dadanya meski pertemuan mereka begitu singkat dan berakhir begitu canggung.

> **[Host, aku mendeteksi peningkatan detak jantung yang tidak berkaitan dengan bahaya fisik. Apakah kau memerlukan analisis?]**

"Tidak perlu," gumam Xiao Bai, sedikit tersenyum getir sambil menatap arah menghilangnya dua sosok itu. "Ada beberapa hal yang tidak perlu dianalisis, Tungku."

Ia menghela napas panjang, lalu berbalik menyusuri jalan pulang ke gudang tuanya—namun kali ini, di tengah segala penghinaan dan penolakan yang terus menghampirinya, ada satu wajah baru yang tanpa sengaja terekam dalam ingatannya: sepasang mata jernih milik seorang gadis yang, untuk sesaat, memandangnya bukan sebagai "sampah buangan sekte", melainkan sebagai manusia biasa yang layak didengar.

Jauh di balik semak yang lebih rimbun, sepasang mata lain—milik pria berjubah abu-abu yang sempat menghadangnya di pasar—kembali mengamati dari kejauhan, kali ini dengan seulas senyum tipis yang penuh perhitungan, seolah pertemuan tak terduga barusan baru saja mengubah rencana yang sudah lama ia susun.

1
Aisyah Suyuti
seru
Luó Lìxuān: makasih kak jangan lupa bintang 5 nya kak
total 1 replies
Crimson
daftar target baru balas dendam di masukkan./Angry/
Luó Lìxuān: kan bagus bg 🤣
total 5 replies
Crimson
Gw mampir lagi min. seru soalnya. hehehe /Grin/
Luó Lìxuān: makasih bg
total 1 replies
Luó Lìxuān
menurut kalian su yan ada rahasia apa ya kok bisa artefak kelas dewa di sembunyikan
Crimson
bunga untuk mu, min/Good/
Luó Lìxuān: makasih bg
total 1 replies
Crimson
Ciri" kacang lupa kulit ya, ini. Kan, biadab emang.😡🤬
Luó Lìxuān: soal nya perjalanan xiao bai masih panjang bg
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!