“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Bab 2: Aroma Hujan di Ruang OSIS
Langkah kaki Keisha terasa begitu berat, bagaikan menyeret balok timah di setiap ayunannya. Lorong SMA Nusantara yang biasanya tampak bising oleh tawa para siswa kini terasa sunyi dan mencekam. Setiap mata yang berpapasan dengannya langsung menatap dengan sorot penuh tanya, berbisik-bisik di belakang punggungnya. Berita tentang siswi beasiswa yang tiba-tiba dipanggil oleh sang ketua geng motor tentu saja menjadi santapan empuk bagi rumor satu sekolah.
Kenapa harus aku? Apa salahku? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Keisha, menciptakan rasa cemas yang kian menumpuk di dadanya.
Sesampainya di depan pintu ruang OSIS yang tertutup rapat, ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang menggila. Pintunya tidak terkunci rapat. Dari celah pintu yang terbuka sedikit, ia bisa melihat sosok pria berjaket kulit hitam sedang duduk dengan posisi kaki disilangkan di atas meja sekretariat, mengabaikan aturan dasar kerapian sekolah.
Rangga.
Pria itu sedang memainkan sebuah pemantik api logam di antara jemarinya, membuka dan menutupnya hingga menimbulkan suara klik berirama yang monoton. Di sekitarnya, dua orang anggota inti Black Raven—Satria dan satu orang bertubuh tegap bernama Bara—sedang berdiri di dekat jendela sambil memerhatikan situasi luar.
"Masuk," suara berat itu terdengar tanpa perlu Rangga menoleh ke arah pintu. Rupanya, ia sudah menyadari kehadiran Keisha sejak detik pertama gadis itu berdiri di luar.
Dengan tangan gemetar, Keisha mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ia melangkah masuk, namun langsung menghentikan langkahnya beberapa meter dari meja tempat Rangga duduk. Ia menunduk, tidak berani menatap langsung manik mata kelam milik sang ketua geng.
"Duduk," titah Rangga singkat, kali ini ia menghentikan permainan pemantiknya dan menegakkan tubuhnya. Tatapannya terkunci sepenuhnya pada gadis di hadapannya.
"Saya... saya bisa berdiri di sini saja, Kak," jawab Keisha dengan suara pelan namun tegas, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya di hadapan para berandalan sekolah.
Rangga mendengus pelan. Ia bangkit berdiri dari meja, postur tubuhnya yang tinggi dan tegap langsung mendominasi ruangan sempit itu. Langkah kakinya mendekati Keisha perlahan, membuat gadis tersebut secara otomatis mundur selangkah hingga punggungnya hampir membentur lemari arsip di belakangnya.
"Gue nggak suka diulang dua kali, Keisha Zahra Aurellia," bisik Rangga tepat di hadapannya, suaranya rendah namun penuh tekanan mutlak yang membuat bulu kuduk Keisha merinding seketika. Bagaimana pria itu tahu nama lengkapnya? Pikirannya mendadak kacau.
Melihat situasi yang mulai menegang, Satria berdehem kecil sambil melirik ke arah luar jendela. "Bos, kayaknya anak-anak Viper mulai berkeliaran di sekitar gerbang samping. Kita harus cek."
Rangga melirik sekilas lewat ekor matanya ke arah Satria, lalu mengangguk singkat. "Kalian keluar dulu. Jaga area luar. Jangan biarkan tikus-tikus itu masuk ke wilayah kita."
"Siap, Bos," ucap Satria dan Bara bersamaan sebelum akhirnya meninggalkan ruang OSIS, menutup pintu rapat-rapat dan meninggalkan Keisha seorang diri bersama pria paling berbahaya di sekolah ini.
Kini, ruangan itu terasa jauh lebih sempit. Udara di dalam ruangan mendadak terasa tipis bagi Keisha. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal saja. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi mint dan tembakau kembali menguar dari tubuh Rangga.
"Ka... kalau ada urusan terkait beasiswa atau pelanggaran, saya bisa dipanggil lewat guru BK," ucap Keisha terbata-bata, mencoba mencari celah untuk melarikan diri, sementara matanya tetap menatap lantai keramik.
Rangga tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, perlahan mengulurkan jari telunjuknya untuk menyentuh ujung rambut Keisha yang sedikit berantakan, lalu merapikannya dengan gerakan yang sangat hati-hati—sebuah kontras yang luar biasa ekstrem dengan reputasinya sebagai ketua geng motor yang beringas.
Keisha menahan napasnya, tubuhnya menegang kaku seperti patung. Ia tidak berani bergerak sedikit pun di bawah sentuhan itu.
"Siapa yang bilang urusan sekolah?" suara Rangging terdengar serak, ada nada dingin namun terselip kelembutan aneh di dalamnya. "Lo tahu apa yang terjadi tadi pagi di parkiran, kan?"
Keisha mengerjap cepat, ingatan tentang buku catatannya yang diinjak kembali melintas. "Buku saya... itu cuma tidak sengaja jatuh..."
"Bukannya soal buku," potong Rangga cepat. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Keisha, membuat gadis itu semakin mencengkeram erat rok seragam abu-abunya. "Waktu lo lewat di dekat motor gue pas jam tujuh kurang... lo sempat lihat sesuatu di balik jaket anak buah gue yang lagi megang tas hitam, kan?"
Deg!
Jantung Keisha seolah copot dari tempatnya. Darahnya mendadak berdesir dingin. Pagi tadi, sebelum insiden buku jatuh, ia memang sempat tidak sengaja menoleh ke arah sekelompok anggota Black Raven yang sedang berdebat di dekat pagar luar. Ia melihat sebuah benda mirip pipa besi pendek dan bungkusan mencurigakan yang buru-buru disembunyikan begitu melihatnya.
Jadi... mereka tahu kalau ia melihatnya?
"S-saya nggak lihat apa-apa! Sumpah, saya nggak tahu apa-apa!" suara Keisha mulai bergetar hebat, air mata ketakutan hampir menetes di pelupuk matanya. Di dunia anak-anak berandalan seperti mereka, mengetahui rahasia kelompok geng motor bisa berujung pada ancaman keselamatan. Apakah ia akan disingkirkan? Apakah ia akan diancam?
Melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajah manis Keisha, Rangga mendadak menghela napas panjang. Ia menurunkan tangannya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sorot mata tajamnya melunak seketika, menatap gadis di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kalau orang lain yang lihat, mungkin mereka udah gue bikin bungkam sejak tadi pagi," kata Rangga dengan nada datar, namun justru membuat nyali Keisha semakin ciut. "Tapi lo... beda."
Keisha mendongak perlahan, memberanikan diri menatap mata kelam itu. "Beda... maksudnya apa?"
"Lo cewek pertama yang berani natap mata gue tanpa melengos takut, meskipun lutut lo sendiri gemetaran hebat," jawab Rangga sambil tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang hampir tidak pernah dilihat oleh anggota gengnya sendiri. "Gue tahu lo anak baik-baik. Anak beasiswa teladan yang sibuk cari nilai sempurna buat masa depan."
Keisha terdiam. Otaknya berputar keras mencerna arah pembicaraan ini. "Jadi... Kakak mau apa dari saya? Kalau Kakak mau ancam saya supaya diam, saya janji nggak akan ngomong ke siapapun! Sumpah!"
"Gue nggak mau ngancam lo, Keisha," potong Rangga tegas. Ia melangkah mundur satu langkah, memberi sedikit ruang bernapas bagi gadis itu. "Gue cuma mau pastikan, mulai hari ini... nggak ada satu pun orang di sekolah ini yang berani nyentuh lo atau bikin buku lo jatuh kayak tadi pagi."
Keisha terpaku. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang paling ditakuti di sekolah. Perlindungan? Dari seorang ketua geng motor? Ini adalah hal terakhir di dunia yang pernah ia harapkan.
"Tapi... kenapa?" tanya Keisha dengan suara parau, bingung bercampur curiga. "Kenapa Kakak peduli? Kita bahkan nggak kenal."
Rangga terdiam sejenak. Pandangannya menerawang keluar jendela kaca ruang OSIS di mana rintik hujan mulai turun rintik-rintik membasahi lapangan upacara. Bau tanah basah dan petrikor mulai tercium dari luar, menyatu dengan keheningan di antara mereka.
"Karena di dunia luar sana, semua orang pakai topeng buat cari muka ke gue," ucap Rangga pelan, setengah berbisik pada dirinya sendiri. Ia kembali menatap Keisha lekat-lekat. "Tapi waktu lo ketakutan di depan gue tadi pagi... lo jujur. Dan gue benci kebohongan, tapi gue justru tertarik sama kejujuran yang dibungkus ketakutan itu."
Sebelum Keisha sempat merespons ucapan yang luar biasa membingungkan sekaligus mendebarkan itu, suara ketukan pintu berderit kencang dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Bos! Gawat, Bos!" suara Satria terdengar panik dari balik pintu ruang OSIS. Tanpa menunggu aba-aba, Satria langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar, napasnya memburu dengan peluh membasahi keningnya. "Anak Viper dateng ke area kantin belakang! Mereka nyari masalah sama anak-anak kita, dan situasinya mulai ricuh!"
Rangga yang tadinya berdiri santai langsung menegakkan tubuhnya. Aura dingin dan berbahaya kembali menyelimuti dirinya dalam hitungan detik. Sisi lembut yang sempat terpancar sesaat tadi menguap begitu saja, digantikan oleh sosok pemimpin Black Raven yang siap mencabik siapa saja yang mengusik wilayahnya.
Rangga melirik sekilas ke arah Keisha, lalu meraih jaket kulitnya yang sempat ia gantung di sandaran kursi. Ia mengenakannya kembali dengan cepat.
"Lo tetap di sini sampai hujan reda dan keadaan aman," perintah Rangga mutlak kepada Keisha, tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk membantah. "Jangan kemana-mana."
Tanpa menunggu jawaban, Rangga melangkah lebar melewati Satria,, meninggalkan ruang OSIS dengan deru langkah kaki yang tegas. Suara benturan pintu yang menutup kembali menyisakan Keisha seorang diri di ruangan yang remang-remang, diiringi suara rintik hujan yang semakin deras menimpa kaca jendela.
Keisha terduduk lemas di kursi terdekat, kedua tangannya memegang dadanya sendiri yang berdegup kencang bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena sebuah pusaran emosi asing yang baru saja dimulai.
Di luar ruang OSIS, hujan turun semakin deras, mengubah halaman SMA Nusantara menjadi basah oleh genangan air. Namun di balik tirai air hujan tersebut, badai yang sebenarnya baru saja dimulai di dalam lingkungan sekolah.
Rangga berjalan menyusuri koridor dengan kepalan tangan yang mengeras. Di ujung koridor lantai dua, bayangan musuh bebuyutannya sudah menunggu. Konflik antara Black Raven dan Viper tidak bisa lagi dihindari, dan di tengah pusaran konflik berdarah itu, nama Keisha Zahra Aurellia kini telah resmi terseret ke dalam lingkaran hitam sang ketua geng.
Waktu berlalu begitu cepat menjelang jam kepulangan sekolah.
Hujan di luar belum juga reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Keisha yang akhirnya diperbolehkan keluar dari ruang OSIS berjalan tergesa-gesa menuju gerbang depan sambil membawa payung lipat kecilnya. Ia ingin segera pulang ke rumah, melupakan semua kejadian menegangkan hari ini, dan kembali pada rutinitas normalnya yang tenang.
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping ketika ia melangkah keluar area gerbang sekolah.
Di seberang jalan, di bawah naungan pohon besar yang rindang, sebuah motor sport hitam terparkir tepat di pinggir trotoar. Pengendaranya duduk di atas jok motor dengan sebelah kaki menapak ke aspal basah, mengenakan jaket kulit hitam yang sebagian bahunya basah terkena titik-titik air hujan. Wajah tajam itu mendongak, seolah memang sengaja menunggu seseorang keluar dari gerbang sekolah.
Rangga.
Pria itu melepas helmnya, membiarkan angin sore dan sisa hujan menerpa rambut hitamnya yang sedikit basah. Saat melihat sosok Keisha keluar dari gerbang, Rangga menyalakan mesin motornya, membuat suara deru knalpot racing itu meraung membelah rintik hujan.
Ia melajukan perlahan motornya, memotong jalan basah, lalu berhenti tepat di samping trotoar tempat Keisha berdiri mematung.
Rangga membuka kaca helm visor-nya separuh, menatap tajam ke arah Keisha yang berdiri dengan payung biru muda di tangannya.
"Masuk," perintah Rangga singkat, nadanya tidak menerima penolakan.
Keisha menggeleng kuat-kuat, mundur selangkah ke belakang. "Nggak, Kak! Saya bisa pulang sendiri naik angkutan umum!"
Rangga mendengus pelan. Ia mematikan mesin motornya, lalu turun dari kendaraan beroda dua itu. Langkah kakinya mendekati Keisha yang kini terjebak di dekat tiang lampu jalan. Dengan tinggi badan yang jauh mendominasi, Rangga berdiri tepat di hadapan Keisha, melindungi gadis itu dari terpaan angin sore yang dingin.
"Angkutan umum udah nggak lewat jam segini di jalur ini, Keisha," ucap Rangga rendah, suaranya terdengar begitu dekat hingga membuat napas hangat pria itu menyentuh permukaan leher Keisha. "Dan gue nggak akan biarin cewek yang pegang rahasia gue pulang sendirian dalam keadaan bahaya."
Sebelum Keisha sempat mengeluarkan protes atau kata-kata penolakan lainnya, Rangga sudah meraih pergelangan tangan gadis itu dengan lembut namun tegas—gerakan yang tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk mengunci setiap pergerakannya.
"Naik," kata Rangga mutlak, sambil menyodorkan sebuah helm cadangan berukuran lebih kecil yang tadinya ia gantung di spion motor. "Atau mau gue gendong sampai ke rumah lo?"
Keisha menelan ludahnya susah payah. Ia menatap helm hitam di tangan Rangga, lalu beralih menatap manik mata kelam pria itu yang memantulkan bayangan dirinya di bawah temaram lampu jalanan kota yang mulai menyala. Di antara deru sisa hujan dan debar jantungnya yang tidak karuan, Keisha akhirnya menyerah.
Ia tahu betul, melawan seorang Rangga Dewantara Aldebaran adalah sebuah kesia-siaan. Dan malam itu, di atas jok motor sport hitam yang membelah jalanan kota yang basah, babak baru dalam hidup Keisha Zahra Aurellia resmi dimulai—sebuah perjalanan di sisi sang penguasa jalanan yang gelap, berbahaya, namun perlahan mulai merengkuh hatinya.