Darren Alfred, seorang mafia kejam yang berkedok Ceo tidak pernah merasakan jatuh cinta dalam hidup nya. Bahkan terhadap ibu dan adik kandung nya sendiri ia bersikap dingin dan ketus.
Bukan tanpa alasan, penyakit aneh yang di deritanya membuat pria itu tidak bisa melihat dengan jelas wajah seorang wanita.
Hingga akhirnya ia di pertemukan dengan Jean, wanita yang pertama kali menarik perhatiannya karena hanya wajah Jean lah yang bisa dilihat oleh Darren. Sampai pria itu terobsesi dan ingin menjadikan Jean miliknya.
Akankah Jean menerima cinta Darren ataukah sebaliknya?
#Cast pemeran bisa liat di Ig @meyda_30
Up 1-2 bab/hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Pilihan yang sulit
Jean sudah berada di dalam mobil bersama dengan Boy, asistennya. Belum lama James menghubungi nya dan meminta cucunya itu segera ke mansion utama.
Hanya ada keheningan tanpa sepatah kata yang keluar dari bibir keduanya. Biasanya Jean selalu protes dan marah-marah tidak jelas saat Boy tidak ada disampingnya tapi hari ini dia merasa ada yang aneh pada Nona nya.
"Ada masalah Nona? Setelah bertemu dengan Tuan Darren saya lihat anda jadi aneh" tanya Boy dengan wajah datarnya bermaksud mencairkan suasana.
"Memangnya kau peduli jika aku ada masalah?" celetuk Jean sinis.
"Tentu saja Nona saya peduli pada anda karena tuan James menyuruh saya--"
"Kau kemana saja tadi hah? Seharusnya kau ada di sampingku, bukan nya menghilang seperti jalaangkung. Datang dan pergi seenaknya sendiri," ujar Jean memotong ucapan Boy dan mengeluarkan semua kekesalan hatinya akibat perbuatan Darren.
Boy tersenyum tipis. Akhirnya Nona nya yang bawel sudah kembali.
"Apa anda tau kenapa Tuan meminta anda kembali ke mansion Nona?" tanya Boy yang melirik Jean dari kaca spion depan. Wanita itu terus menggerutu dan komat kamit tidak jelas.
"Tidak tau dan tidak mau tau!"
Boy menggeleng, Nona nya memang tidak peka sama sekali pikirnya.
"Sepertinya anda harus bersiap untuk kehilangan semua fasilitas dan kerja keras anda selama ini Nona," imbuh Boy menghentikan mobilnya tepat di depan mansion James.
"Apa maksud mu Boy katakan," tanya Jean bingung.
Drrt...Drrt...!
"Edward..."
"Masuklah Nona segera temui Tuan. Dan jangan sampai anda tergoda lagi dengan pria hidung belang itu," ketus Boy keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Jean.
Jean mengerutkan dahinya, untuk pertama kali dalam sejarah Boy yang selalu menampakan wajah dingin dan datar itu perhatian pada nya.
"Thanks Boy."
"Sama-sama Nona. Saya akan menyusul nanti setelah memarkirkan mobil di belakang," pamit Boy berlalu dari sana.
Sedangkan Jean sekilas membaca pesan dari Edward yang meminta dirinya untuk menemuinya di tempat biasa. "Ck!Dasar kadal buntung!" decak nya meremat ponselnya dan masuk ke dalam.
*
*
*
Prang!
Suara kaca meja yang dihancurkan oleh James berhasil membuat Jean tersentak kaget. Bagaimana tidak, Darren menarik semua saham miliknya dan membuat para sponsor membatalkan kerja sama dengan perusahaannya.
Di pastikan J.A Company akan gulung tikar dalam hitungan jam. Meski masih ada beberapa penanam saham yang mau dan bersedia membantunya tetap saja Darren tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Ditambah lagi pria itu mengancam akan memenjarakan James jika dalam waktu 24jam Jean tidak menerima cinta nya dan bersedia jadi kekasihnya.
Bukan tanpa alasan, Darren tau kalau James memiliki bisnis gelap yang memperjual belikan senjata ilegal tanpa ada ijin yang jelas.
"Jadi Kakek tega menjual cucumu sendiri pada si mesum itu?!" tanya Jean dengan nafas menggebu.
James mengerutkan dahi bingung. "Si mesum?" tanya nya heran.
"Lupakan, tidak penting," ujar Jean kesal. "Aku bahkan baru saja keluar dari kandang buaya, dan sekarang harus masuk ke sarang singa," gumamnya pelan.
"Pilih sekarang, menikah dengan Edward atau menerima cinta Darren!" perintah James tegas dan pergi meninggalkan Jean yang masih diam terpaku.
"Dasar tua bangka sialan!" serunya kesal dan mengepalkan tangan nya erat.
"Nona kita harus segera pergi menemui tuan Darren dan membicarakan ini semua baik-baik. Sebelum semua nya terlambat," usul Boy namun diacuhkan oleh Jean.
"Antar menemui Edward!" perintahnya tegas.
"Tapi Nona--"
"Sekarang Boy!"
Boy menghela nafas pasrah dan mengikuti kemauan Nona muda nya. "Semoga saja Nona tidak kecantol lagi dengan rayuan si pria hidung belang itu," gumam Boy dalam hati dan mengejar Jean yang sudah lebih dahulu berjalan di depan nya.
...----------------...