Seorang gadis yang diam-diam suka dengan seorang tentara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijab Art, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 Terkunci di Dalam Gudang
Rahma, Iyan dan Novi sedang mengerjakan tugas kelompoknya di kelas sekarang. Mereka membuat suatu rangkaian listrik paralel.
"Novi! Minta tolong potong kabelnya yah!, Rahma! Coba tempelkan kedua baterainya yah! " Ucap Iyan sambil mengotak atik saklar untuk disambungkan dengan kabel.
Iyan yang ingin mengambil tespen tanpa sengaja, tangan Iyan menyentuh tangan Rahma.
"Ish! Modus" Ucap Novi diiringi senyuman mengejek melihat hal itu.
Rahma dan Iyan sontak menjauhkan tangan masing-masing. "Maaf! " Ucap Iyan kemudian melanjutkan aktifitasnya. Rahma hanya diam dan melanjutkan aktifitasnya juga.
Iyan diam-diam tersenyum tipis, dan terlihat mukanya yang putih memerah. Lisa yang tak jauh dari mereka melihat itu dan merasa kesal.
"Awas kau Rahma! " Ucapnya dalam hati.
Waktu berlalu begitu cepat, kini mereka sedang istirahat karena bel istirahat sudah berbunyi. Rahma beranjak menuju arah kantin.
"Bu! Saya pesan rotinya 2 yah bu! Ini uangnya! " Kata Rahma sambil menaruh selembar uang kertas bertuliskan 5 ribu rupiah.
"Ini dek! " Ucap Ibu kantin memberikan 2 roti yang dipesan oleh Rahma.
Rahma pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kantin.
"Eh! Kembaliannya! " Ucapnya baru tersadar beberapa menit setelah meninggalkn kantin. Karena berhubung kantinnya ramai, dan kelihatannya ibu kantin kewalahan, Rahma memutuskan untuk tidak mengambil uang kembaliannya, biarlah jadi sedekah.
Karena kantin yang cukup jauh dari ruang kelasnya, Rahma memutuskan untuk memakan rotinya didekat gudang sekolah. Cukup sepi dan tidak ada orang, bagus untuk makan dengan tenang dan juga Rahma lebih suka menyendiri.
"Bismillah! Mmm... Enak! " Ucapnya sambil memakan rotinya itu dengan lahap.
"Bruk! " Terdengar suara dari dalam gudang,
"Meong!.. Meong! " Diiringi suara kucing yang terdengar meringis kesakitan.
Rahma yang mendengar itu penasaran dengan apa yang terjadi pada kucing itu, takutnya kenapa-napa. Rahma memberanikan diri menengok ke dalam gudang yang nampak gelap dan mencekam. Melihat sekeliling mencari-cari keberadaan kucing itu dengan mendengar suaranya. Beberapa lama kemudian Rahma melihat kucing yang tengah tertindih kursi kayu. Cepat-cepat Rahma membantu kucing itu, dan tiba-tiba...
"Dor! " Suara pintu tertutup secara tiba-tiba, membuat Rahma kaget.
Rahma cepat-cepat mengambil kucing kecil itu dan menggendongnya sambil berjalan mendekati pintu.
"Astaghfirullah! pintunya tidak bisa dibuka, apa macet kali yah?" Ucap Rahma sambil berusaha membuka pintu. Rahma melihat sekeliling yang nampak gelap. Bulu kuduk Rahma meremang, merasakan hawa dingin dan mencekam di dalam situ.
"Tolong! Tolong buka pintunya! Apakah ada orang di luar?" Teriak Rahma sambil menggedor-gedor pintu dari dalam.
"Tolong!" Teriaknya lebih keras.
Beberapa menit kemudian, tak ada respon. Rahma hanya bersender di pintu sambil memberikan roti yang baru dibelinya beberapa menit lalu kepada kucing kecil itu. Terlihat bagian pinggang dan kaki kucing itu tergores dan memerah, mungkin akibat tertimpa kursi kayu itu.
"Rahma!" Panggil seseorang dari luar. Kedengaran dari suaranya, sepertinya Reyhan.
"Iya!, Aku di dalam, tolongin aku!" Ucap Rahma kemudian.
Reyhan yang berada di luar berusaha membuka pintu itu,
"Ceklek" akhirnya pintu itu terbuka.
Ada sedikit rasa lega mendengarnya.
Reyhan segera masuk bersama dengan ibu kantin.
"Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya ibu kantin pada Rahma, sambil melirik kucing kecil yang ada di tangan Rahma.
"Maaf yah nak! Tadi ibu ingin mengembalikan uang kamu, ini nak!" Ucap wanita yang terlihat bertubuh gempal itu sambil memberikan beberapa pecahan uang.
" Pas melihatmu masuk ke dalam gudang dan kemudian tak berapa lama, datang seorang siswi lain dan menutup pintunya dengan menguncinya. Ibu hanya melihatnya dari jauh, dan berusaha lari untuk menghentikannya. Tapi, tidak sempat ibu sampai kepadanya, siswi itu pergi, tanpa ibu melihat wajahnya. Sekali lagi maaf nak!" Sambung ibu kantin menjelaskan.
"Syapa dia?, Apa tujuannya na kunciko di gudang e. Dan...apa yang mu lakukan di sini?, Kamu tidak takut apa?" Ucap Reyhan dengan nada tegasnya.
"Aku hanya berusaha untuk membantu kucing ini." Jawab Rahma polos sambil menunjukkan kucing yang ada di tangannya.
"Lain kali hati-hati!, Mungkin ada orang yang ndk na suka ko!" Ucap Reyhan kemudian berbalik badan dan hendak pergi.
"Meong!" Kucing itu bersuara, membuat Reyhan menghentikan langkahnya.
"Hmmm...kasihan!" Ucap Rahma sambil mengelus permukaan kepala kucing itu.
"Bu!, Apa boleh saya numpang di kantin ibu untuk mengobati kucing ini?" Sambung Rahma menatap ibu kantin sambil tersenyum tipis.
"Boleh saja nak! Ayo!" Jawab ibu kantin kemudian berjalan menuju ke kantinnya diikuti Rahma dan juga Reyhan. Sekarang, mungkin sudah masuk jam pelajaran. Jadi, kantin sepi.
Sesampainya di kantin, Rahma mengeluarkan obat merah dan pembalut luka yang diberikan ibu kantin kepadanya.
"Hmmm...apa yang kamu lakukan di sini?, Aku kira kamu sudah ke kelas." Ucap Rahma melihat Reyhan mengikutinya ke kantin.
"Emmmm...aku mau beli...., Bu! Gorengannya yah!" Ucap Reyhan setengah berteriak. Kemudian duduk disamping Rahma.
"Ini gorengannya!" Ucap ibu kantin beberapa saat memberikan beberapa gorengan di piring beserta sambalnya kepada Reyhan.
"Nih! Makan!" Ucap Reyhan.
"Nggak!" Jawab Rahma sambil membalut luka si kucing.
"Bukan kamu, kucingnya." Ucap Reyhan sambil sesekali melahap gorengan ke mulutnya dan tersenyum sinis.
"Ish! Mana bisa kucing makan gorengan" Rahma hanya menatap tajam Reyhan, sambil sesekali mengelus kepala kucing itu.
" Mm...Rey!" Ucap Rahma.
"Ya! Kamu panggil aku?" Ucap Reyhan dengan sambil memakan dengan lahap gorengannya.
"Bukan kamu, tapi kucing ini. Aku kasih nama Rey!" Ucap Rahma sambil tetap mengelus kucing kecil itu, kucing itu malah kelihatan nyaman di pangkuan Rahma.
Reyhan yang tengah menggigit sebagian gorengan dengan salah satu kakinya diangkat ke samping tempat duduknya malah berbalik menatap tajam Rahma.
"Huft...hhhh! Mirip!" Ucap Rahma berdiri dari tempat duduknya dan melihat Reyhan dan Rey si kucing.
"Dah Rey! Ibu makasih yah! Permisi!" Ucapnya sambil berteriak kepada kucing kecil itu dan ibu kantin sambil berlari menuju ruang kelas.
Sekarang, Kucing itu dititipin di kantin, setelah lukanya dibalut dan diberikan makanan oleh ibu kantin. Rahma merasa lega, karena ibu kantin yang baik hati ingin merawat kucing kecil itu.
"Rahma! Tunggu!" Teriak Reyhan buru-buru menghabiskan gorengannya.
"Bu! Besok saya bayar yah!...makasih!" Sambungnya kemudian berlari menghampiri Rahma.
***Next
Semoga secepatnya bisa update lagi.
Semangat 🌻
Gimana nih Thor?