🍁Sequel dari SEMESTA RAI.🍁
Ranu Wais Prianggoro.
Tampan, terlahir dari keluarga kaya. Sejak lahir, seolah seluruh perhatian dunia berpusat padanya. Pesonanya sebagai konten kreator nomor 1 di indonesia, membuatnya tidak pernah luput dari perhatian dari semua orang.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Miara Tisha, gadis yang sama sekali tidak peduli dengan ketenaran yang disandang Ranu. Gadis yang sama sekali mengabaikannya padahal orang-orang di sekitarnya sibuk menginginkan perhatian Ranu.
Dan sejak saat itu, hati Ranu seperti tertarik ke dunia Mia.
Bagaimana perjalaan kisah Ranu demi menarik perhatian Mia?
Yukk,, cuuussss...➡️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PiEl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. Inilah Yang Dinamakan Terlanjur Basah.
Seperti yang di sepakati oleh Mia dan Aura, sehabis ashar, kedua gadis itu pergi menuju ke sungai besar yang tak jauh dari rumah kecamatan. Mia dengan di bonceng sepeda motor oleh Aura, menyusuri jalanan berbatu demi sampai ke tujuan mereka.
“Bisa gak, Ra? Kalau gak bisa aku turun aja. Aku jalan dari pada jatuh.” Ujar Mia yang terus mencengkeram belakang jok sebagai pegangan.
Padahal jalanan tidak semengerikan itu. Hanya saja banyak batu besar yang ada di tengah jalan. Mia memang benar-benar takut terjatuh.
“Gak usah, Kak. Udah ahli aku sekarang.” Aura meyakinkan.
Mia menarik nafas lega kemudian turun dari motor saat Aura sudah menghentikan motornya di pinggir sungai. Banyak orang yang sedang bermain di sana. Termasuk anak-anak dan orang tua mereka.
“Waaahhhh. Untung pas lagi jernih.” Seloroh Mia menatap penuh bahagia ke arah sungai yang terbentang luas di hadapannya.
“Iya, Kak. Kan lagi musim panas. Kalau lagi musim hujan, banjir. Mana keruh lagi.”
Mia mengangguk setuju.
Sungai itu, walaupun sangat lebar namun tidak terlalu dalam. Karna itu banyak orang tua yang membiarkan saja anak-anaknya bermain sampai ke tengah. Mereka hanya mengawasi saja dari pinggiran sambil mencuci atau sekedar mandi.
“Kita gak bawa ban ya, Ra.”
“Kak Mia mau main ban karet, apa mau mandi?”
“Hehehehe. Ya sekalian. Mandi sambil main.”
“Aura pinjamin, mau?”
“Boleh.”
Dan Aurapun pergi untuk meminjam ban karet kepada warga yang sudah selesai menggunakannya.
“Bang Fandra gak ikut kesini, Kak?”
“Ngapain dia ikut?”
“Ya, kadang.”
“Ada-ada aja kamu ini.”
Aura hanya bisa meringis sambil terkekeh kecil. Namun ekspresinya tiba-tiba berubah serius dan penasaran saat melihat sebuah mobil minibus yang berhenti di dekat sepeda motornya. Bola matanya tiba-tiba berubah berbinar saat melihat sosok pira yang baru saja turun dari dalam mobil itu.
“Ra! Ayo!” Pekik Mia. Ia tidak menyadari kalau Aura sedang terpaku oleh sosok pria yang sedang tersenyum padanya dan berjalan mendekat ke arahnya.
“Dek!!!” Pekik Fuan sambil melambaikan tangannya. “Hai, Aura.” Ucapnya kepada Aura yang masih terpaku menatapnya.
“Abang!” Mia teriak tidak percaya melihat kemunculan kakaknya. Ia melambai-lambai kepada Fuan dan melepaskan pegangannya pada tali tambang yang melilit di ban karet yang sedang di naikinya. “Aaaaa!!!”
Byur!
Mia langsung nyungsep ke dalam air saat ban karetnya terbalik.
Melihat hal itu, Ranu langsung berlari ke arah Mia. Ia fikir airnya dalam sehingga ia jadi panik dan takut kalau Mia akan tenggelam dan terseret arus.
Namun Ranu merasa menjadi konyol tiba-tiba saat mengetahui kalau air sungai itu bahkan hanya sebatas pahanya saja. Sedangkan ia sudah terlanjur berdiri di hadapan Mia.
Mia yang baru bangun dari air, melihat Ranu dengan heran. Ia mengerutkan keningnya.
“Ngapain di sini?” Tanya Mia.
“Hah? O.. Eee.. Aku, mau mandi lah. Ngapa lagi.” Ujar Ranu yang sudah kepalang malu. Ia langsung mencelupkan tubuhnya begitu saja ke dalam air. Beserta dengan seluruh pakaian yang melekat di badannya.
“Apa sih, kamu ini aneh banget.” Desis Mia.
Sementara Fuan mendekati mereka dengan membawa ban karet milik Mia yang ia tangkap tadi.
“Nah.” Fuan menyerahkan ban itu kepada adiknya.
“Kok Abang bisa tiba-tiba kesini?” Tanya Mia sambil meraih ban dari kakanya.
“Iya, soalnya kita mulai dari sini buat syutingnya.” Jelas Fuan lagi.
“Jadi disini juga masuk daftar promosi?”
Fuan mengangguk.
Mia dan Fuan mengabaikan Ranu sepenuhnya. Pria itu menengelamkan diri seolah berharap rasa malunya akan ikut tenggelam dan mengalir mengikuti arus.
“Hai, Mia.” Sapa Haris dan Arnav bersamaan ketika Mia berjalan ke pinggir sungai.
“Hai.”
Mia menoleh kepada Ranu sesaat. Pria itu, masih nampak asyik berenang di air sungai yang jernih.
“Mas Fuan apa kabar?” Tanya Aura dengan wajah yang sudah bersemu merah.
“Cieee,, seneng banget yang crush-nya dateng.” Goda Mia. Membuat Aura semakin tersipu. Sementara Fuan hanya bisa terkekeh saja.
“Kayaknya seru banget tuh yang lagi berenang.” Seloroh Haris yang langsung terjun ke dalam air mengikuti jejak Ranu.
Ranu sedang kesal. Karna seberapapun ia menenggelamkan tubuhnya ke dalam air, rasa malunya tidak mau hilang. Apalagi saat ia melihat ke arah Mia yang tengah sibuk mengobrol dengan Aura di pinggiran sungai.
Namun senyuman gadis itu, mampu membuat kepalanya mengarah kesana lebih lama. Apalagi saat dia tertawa dan menampakkan gigi gingsulnya. Ada sesuatu dari Mia yang membuat Ranu tertarik untuk berlama-lama menatapnya.
Mia menyadari kalau Ranu terus melihatnya. Kemudian ia meraih ban dari sampingnya dan berjalan ke arah Ranu.
“Kenapa? Mau pake ban?” Tanya Mia.
Ranu menggeleng.
“Terus kenapa ngelihatinnya begitu?”
“Karna kamu cantik.” Ranu sangat jujur.
Mia mengerutkan keningnya. Tidak bisa di pungkiri. Hatinya berdegup saat mendapat pujian itu. Bagaimanapun ia tetap seorang wanita.
“Apaan sih.” Dengus Mia sambil menyerahkan ban karet kepada Ranu.
Walaupun Ranu tidak memintanya, tapi ia tetap menerima ban itu sambil terkekeh melihat Mia yang menjauh darinya. Bersama Aura, gadis itu memilih berenang di tempat yang agak jauh dari Ranu.
Arnav dan Fuan tidak ikut mandi. Mereka hanya mengobrol saja sambil duduk di pinggiran sungai. Memandangai teman-teman mereka yang sedang menyegarkan diri di dalam air.
Mia dan Aura memutuskan untuk menyudahi bermain air. Keduanya kini duduk di bawah pohon dengan akar yang menjuntai ke air. Memainkan kaki mereka di air. Pandangan Aura tak mau lepas dari sosok Fuan yang duduk di tempat tak jauh dari mereka.
Aura memang suka kepada Fuan. Dan semua orang tau itu. Sedangkan Fuan, dia hanya bersikap biasa saja walaupun ia tau bagaimana perasaan Aura kepadanya.
“Kak, aku mau ke kamar mandi bentar, ya.” Pamit Aura. Ia turun kemudian berjalan menjauh meninggalkan Mia sendirian.
Ranu yang mengetahui itu, menghentikan berenangnya kemudian mendekat kepada Mia dengan menyeret ban karetnya.
“Nah.” Ranu menyerahkan ban itu kepada Mia.
“Lempar aja kesana.” Tunjuk Mia ke arah pinggir sungai. Malas sekali kalau harus dia yang memegangi ban itu. “Udah selesai?”
“Udah puas. Besok lagi. Pas syuting.” Jelas Ranu kemudian mengambil duduk di sebelah Mia setelah menaruh ban di pinggiran.
“Krunya cuma bertiga doang?” Akhirnya Mia mengutarakan rasa penasarannya.
Ranu menggelang. “Jangan salah. Haris itu multi talenta dia. Dia bisa jadi kameramen, penata rias, penata gaya, bahkan sutradara sekalipun. Sampe final editing juga dia yang ngerjain semuanya. Lagian bang Fuan udah nyiapin krunya sendiri juga buat bantuin. Supaya cepet selesai.” Jelas Ranu panjang lebar.
Mia hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.
“Kapan balik ke Jogja?”
“Rencana bulan depan. Tapi lihat dulu nanti.” Jawab Mia.
Hubungan keduanya perlahan mencair. Di bandingkan dengan saat pertama mereka bertemu, sudah seperti musuh bebuyutan yang selalu bertengkar saja. Ternyata mengobrol dengan Ranu terasa menyenangkan juga. Bathin Mia.
walaupun bukan otor/novel populer dan masih sedikit yg mengenal tp aku suka ceritanya
🤣🤣🤣🤣