"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028: Departemen Penilaian Dibuka
Nomor antrean pertama habis sebelum pintu ruko dibuka.
Hendra berdiri di depan meja registrasi dengan rompi baru bertuliskan CV Prasetyo. Di tangannya ada pengeras suara kecil yang ia beli sendiri.
"Yang bawa batu satu tas, jangan langsung dibuka semua! Kita periksa satu orang per formulir, rek. Jaga tempat ini tetap tertib."
Antrean di depan ruko memanjang sampai toko fotokopi sebelah. Pegawai kantor membawa kotak beludru, pedagang pasar menenteng kantong kresek, ibu-ibu menggenggam gelang, dan sopir taksi menunjukkan cincin. Seorang kuli bangunan bahkan datang dengan mangkuk retak yang dibungkus handuk.
Budi melihat layar pendaftaran, lalu memijit pangkal hidung.
"Dua ratus tujuh puluh empat orang dalam satu hari."
Rizal menempelkan kertas baru di dinding.
`Alur pemeriksaan: registrasi - foto barang - uji dasar - sortir risiko - pemeriksaan Bayu hanya untuk kasus khusus.`
"Kalau semua langsung ke Bayu, dia tumbang sebelum makan siang," kata Rizal.
Bayu tidak membantah. Mata kirinya masih normal, tetapi ia sudah belajar bahwa kemampuan yang tidak diatur akan menjadi jebakan. Tubuhnya memiliki batas dan ia menolak dijadikan tontonan.
"Pakai alat dulu," katanya. "Timbang, lampu, loupe, magnet, uji densitas sederhana. Yang jelas palsu, jelaskan baik-baik. Yang berpotensi besar, baru naik ke meja saya."
Hendra mengangkat pengeras suara.
"Dengar, ya! Mas Bayu bekerja dengan alat dan pemeriksaan. Kalau barang kalian palsu, tuntut penjualnya. Jangan marah ke meja kami."
Satu jam pertama langsung memberi pelajaran.
Seorang pegawai bank muda membawa gelang emas dari neneknya. Matanya penuh harap.
"Katanya emas tua, Mas. Saya mau gadaikan untuk biaya ibu operasi."
Bayu hanya melihat sebentar, lalu menyerahkan gelang itu ke Budi untuk uji dasar. Warna kuningnya terlalu rata. Beratnya salah. Bekas gores kecil di bagian dalam menunjukkan logam merah kusam.
"Ini tembaga berlapis emas," kata Bayu pelan.
Wajah perempuan itu runtuh.
"Jadi tidak ada nilainya?"
"Nilai logamnya kecil. Tapi jangan langsung buang. Saya akan tulis hasil pemeriksaan awal. Bawa ke keluarga, jelaskan bahwa ini bukan emas. Kalau ada yang menjualnya sebagai emas, simpan bukti transaksi."
Ia mengambil contoh foto di layar.
"Lihat bagian sambungan ini. Lapisan emas sering menumpuk di sini. Kalau barang keluarga lain mirip, periksa dulu sebelum digadaikan."
Perempuan itu mengangguk dengan mata basah.
Tidak semua kebenaran terasa seperti kemenangan.
Menjelang siang, giliran kuli bangunan dengan mangkuk retak tiba. Bajunya masih berdebu semen. Ia meletakkan bungkusan handuk di meja seperti meletakkan bayi.
"Ini dari rumah almarhum bapak saya di Lamongan, Mas. Istri bilang buang saja. Saya takut salah."
Hendra hampir berkomentar, tetapi Bayu mengangkat tangan.
Mangkuk itu tampak buruk bagi orang biasa. Retaknya panjang. Glasirnya pudar. Tapi ketika Bayu mengarahkan lampu, tubuh porselennya menyala tipis. Mata kiri Bayu menangkap dinding halus, jejak pembakaran lama, dan pola biru yang tidak sekadar hiasan pasar.
Porselen ekspor era Ming akhir.
Rusak, tetapi asli.
"Pak, jangan jual ke orang yang datang ke rumah," kata Bayu.
Lelaki itu membeku.
"Berapa, Mas?"
"Dengan kondisi retak, nilainya tidak setinggi barang utuh. Tapi tetap bisa puluhan sampai ratusan juta rupiah jika masuk jalur yang benar. Kami bantu dokumentasi dan hubungkan ke balai lelang resmi yang bersih. Semua biaya dan komisi tertulis."
Lelaki itu duduk mendadak.
"Anak saya mau masuk SMK," bisiknya. "Saya pikir harus pinjam lagi."
Hendra memalingkan wajah.
"Debu semen masuk mata," gumamnya.
Sore hari, giliran seorang pemilik showroom mobil datang dengan dua ajudan. Ia meletakkan kotak besar di meja dan berbicara cukup keras agar antrean mendengar.
"Jade top Burma. Saya beli dua miliar. Tolong validasi cepat, Mas Bayu. Kalau benar, saya mau unggah."
Bayu membuka kotak.
Hijau batu itu cantik. Terlalu cantik.
Di bawah lampu, warna meresap tidak wajar ke retakan halus. Struktur dalamnya menunjukkan jejak bleaching dan polymer filling. B+C.
"Ini jadeite yang sudah diberi perlakuan berat," kata Bayu. "Kualitasnya jauh di bawah klaim penjual."
Senyum pemilik showroom kaku.
"Mas yakin? Sertifikatnya ada."
Budi mengambil dokumen, memeriksa nomor dan lembaga.
"Sertifikat menyebut natural color. Itu bertentangan dengan hasil pemeriksaan awal kami. Kami sarankan lab gemologi independen."
"Jangan bilang palsu di depan orang banyak."
Bayu menutup kotak pelan.
"Saya tidak bilang palsu. Saya bilang klaimnya tidak sesuai. Kalau Bapak ingin unggah, unggah lengkap dengan rekomendasi lab."
Antrean mendadak sangat sunyi.
Pemilik showroom mengambil kembali kotaknya tanpa foto.
Hari ketiga, Bu Aminah datang.
Ia tidak membawa batu. Ia membawa jam saku tua, talinya putus, kacanya retak. Perempuan itu duduk di kursi dengan kain jarik rapi dan tangan yang terus mengelus tutup jam.
"Ini punya suami saya," katanya. "Saya cuma ingin tahu, layak tidak ditinggalkan untuk cucu. Kalau murah, tetap saya simpan. Kalau berbahaya rusak, saya simpan lebih hati-hati."
Bayu membuka jam itu.
Mesinnya biasa. Merek lama kelas menengah. Nilai pasar tidak besar.
Lalu ia melihat bagian dalam tutup.
Ada ukiran kecil, hampir hilang: tahun 1949, nomor satuan, dan nama pendek seorang pejuang lokal.
Bayu menutup jam itu dengan sangat hati-hati.
"Bu, harga pasarnya mungkin tidak besar. Tapi nilainya untuk keluarga Ibu besar sekali."
Bu Aminah menatapnya.
"Kenapa, Nak?"
"Jam ini menjadi saksi perjuangan. Ada nomor satuan di dalamnya. Simpan kering, jangan dipoles kasar. Ceritakan kepada cucu Ibu siapa pemiliknya."
Tangan Bu Aminah gemetar.
"Dia dulu jarang cerita. Cuma bilang, jam ini pernah berhenti waktu kami hampir kalah."
Bayu mengembalikan jam itu dengan dua tangan.
"Kalau begitu, Bu, biarkan cucu Ibu tahu bahwa jam itu masih jalan."
Bu Aminah menangis tanpa suara.
Di belakang meja, bahkan Budi pura-pura memeriksa laporan terlalu lama.
Pada hari kesepuluh, sistem mereka mulai menemukan bentuk.
Setiap barang difoto, diberi nomor, dicatat pemiliknya, asal beli, kuitansi, sertifikat, dan hasil uji dasar. Dari ratusan pemeriksaan, 217 barang masuk kategori palsu atau klaim berisiko tinggi. Sekitar enam puluh persen menunjukkan ciri yang mirip dengan pola Bengkel: retak buatan, pewarnaan terlalu bersih, dokumen berbeda lembaga tetapi format kalimat sama.
Rizal menempel peta besar di dinding.
"Dua pintu grosir Jakarta muncul terus," katanya. "Nama tokonya beda, rekeningnya muter, tapi jalurnya ketemu di alamat logistik yang sama."
Budi menambahkan garis merah.
"Ini masih berupa database risiko yang kuat. Bukti pidananya harus dibangun lewat penyidikan."
Bayu menatap peta itu lama.
Kerumunan di luar ruko juga dipenuhi para korban.
Mereka adalah kompas.
Sore itu, seorang perempuan dari televisi Jawa Timur datang bersama kameramen kecil. Namanya Rina. Ia berbicara cepat, matanya tidak berhenti menghitung sudut gambar.
"Mas Bayu, kami dari tim produksi program nasional baru. Judulnya sementara `Pusaka atau Palsu`. Formatnya penilaian publik, rekaman di Jakarta. Kami ingin Mas Bayu menjadi salah satu juri tetap."
Hendra langsung berbisik, "Yu, masuk TV nasional. Ibuku pasti nangis lihat koen."
Budi justru bertanya, "Kontraknya bagaimana?"
Rina tersenyum. "Kami kirim draf malam ini. Ada honor, jadwal, klausul eksklusif ringan."
"Dan klausul penilaian?" Bayu bertanya.
"Maksudnya?"
"Barang boleh dipilih tim produksi. Konflik boleh diatur. Tapi hasil penilaian saya tidak boleh ditulis dalam naskah."
Rina menatapnya dua detik.
Lalu senyumnya berubah.
"Menarik. Biasanya orang minta kamera lebih banyak. Mas Bayu minta kebenaran tidak dipotong."
"Kalau yang dipotong kebenaran, saya tidak datang."
Malam itu, draf kontrak masuk lewat email dan faks kantor. Rizal membacanya sambil bersandar di kursi.
"Jakarta, bro? Itu kandang mereka."
Bayu mengambil pena.
Di dinding, peta palsu menunjuk ke dua pintu di ibu kota.
Ia menandatangani halaman pertama.
"Justru karena itu."