NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Yang Selalu Ada

Sejak malam ketika mereka memberikan restu kepada Leon, Arsen tidak langsung merasa semuanya berubah. Justru sebaliknya.

Keesokan paginya, rumah itu tetap sama. Nayla masih ribut dengan Kael karena sarapan. Raka masih sibuk dengan pekerjaannya. Gilberth masih membuat keributan hanya karena merasa suasana rumah terlalu tenang. Dan Mama tetap menjadi Mama.

Perempuan yang bangun pagi, membaca laporan perusahaan sambil minum kopi, kemudian berpindah dari satu urusan ke urusan lainnya seolah tidak pernah mengenal kata lelah. Tidak ada perubahan besar. Namun bagi Arsen, ada satu hal yang terasa berbeda.

Sekarang ia melihat ibunya bukan hanya sebagai seorang ibu. Melainkan juga sebagai seorang perempuan. Seorang perempuan yang selama puluhan tahun telah menjalani hidupnya dengan sangat kuat, dan terlalu lama sendiri.

Arsen berdiri di balkon lantai dua sambil memandang taman. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Amara sedang berbicara dengan Leon. Tidak ada percakapan yang terdengar dari sana. Hanya dua orang yang berdiri berhadapan.

Leon sesekali tersenyum. Amara menggeleng. Kemudian keduanya tertawa kecil. Arsen tersenyum. Pemandangan sederhana itu membuat pikirannya kembali kepada masa lalu.

Jauh sebelum ia mengenal Leon sebagai seseorang yang dekat dengan keluarganya, dan jauh sebelum ia tahu bahwa pria itu memiliki hubungan yang sangat dalam dengan ibunya.

Saat itu, Arsen masih remaja. Ia masih duduk di bangku SMP. Hidup mereka belum seperti sekarang. Mereka memang sudah memiliki kehidupan yang cukup baik, tetapi Arsen tidak pernah menganggap dirinya berasal dari keluarga istimewa.

Sejak kecil, ia hanya tahu satu hal. Mama bekerja keras. Itu saja. Mama bekerja untuk membayar sekolah mereka. Mama bekerja untuk memastikan mereka makan dengan baik. Mama bekerja agar mereka bisa memiliki pakaian yang layak, mendapatkan pendidikan yang baik, dan mempunyai kesempatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Tidak pernah ada pembicaraan tentang kekayaan. Tidak ada nama besar keluarga, apalagi tentang kekuasaan.

Amara berasal dari kehidupan yang sederhana. Dan ia tidak pernah menggunakan masa lalunya sebagai alasan untuk membuat anak-anaknya merasa lebih rendah dari orang lain. Justru sebaliknya. Ia selalu mengajarkan mereka untuk berdiri dengan kemampuan sendiri.

Ketika Arsen mulai memasuki masa remaja, ia pernah bertanya kepada ibunya tentang masa depan.

"Mama ingin aku jadi apa?"

Amara yang sedang melipat pakaian hanya tersenyum.

"Kenapa bertanya begitu?"

"Karena Mama pasti punya keinginan."

Amara menghentikan tangannya.

Kemudian menatap anak laki-lakinya.

"Mama punya satu keinginan."

"Apa?"

"Kamu menjadi orang yang kamu inginkan."

Arsen mengerutkan kening.

"Kalau aku salah?"

"Ya, kamu belajar."

"Kalau aku gagal?"

"Kamu bangun lagi."

"Kalau aku tidak tahu mau jadi apa?"

Amara tersenyum.

"Berarti kamu punya waktu untuk mencari tahu."

Saat itu Arsen tidak memahami betapa pentingnya kalimat tersebut.

Sekarang ia mengerti. Mama tidak pernah berusaha menentukan hidup mereka. Ia hanya memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan untuk memilih.

Dan mungkin itulah alasan Arsen tidak pernah merasa bahwa dirinya harus menjadi sesuatu demi membalas pengorbanan ibunya. Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri.

Pernah sekali, saat Arsen dan kedua adiknya sudah remaja dan tinggal di asrama, Amara meminta Arsen untuk membantunya mengelola keuangan sendiri. Arsen diminta untuk belanja kebutuhan bulanan untuk adik-adiknya, serta menyerahkan uang saku.

Arsen melakukannya dengan sangat baik. Ia merincikan pengeluaran dengan sangat jelas, dan melaporkan pada Amara. Amara sangat puas dengan apa yang telah dilakukan oleh Arsen. Semenjak itu, untuk urusan keuangan adik-adiknya, Amara menyerahkan tugas ini pada Arsen.

Beberapa tahun kemudian, setelah menyelesaikan sekolah, Arsen mulai menentukan jalan hidupnya. Ia tertarik pada teknologi. Bukan karena Mama mengarahkannya ke sana. Dan bukan karena seseorang memasukkannya ke sana.

Ia memang menyukainya. Ia belajar dan mengikuti proses seleksi. Ia pun bekerja dari bawah. Menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Pernah melakukan kesalahan, dan memperbaikinya.

Perlahan-lahan, ia mendapatkan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya.

Perusahaan tempatnya bekerja memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan asing tempat Mama bekerja, yaitu perusahaan milik Leon. Namun bagi Arsen, itu hanya hubungan profesional. Ia tidak pernah berpikir lebih jauh.

Perusahaan itu besar, dan strukturnya kompleks. Pemiliknya dikenal sangat menjaga privasi. Tidak ada yang aneh dengan hal itu.

Arsen hanya tahu bahwa Mamanya bekerja di sebuah perusahaan asing dan memiliki posisi yang cukup baik. Tidak lebih dari itu. Apalagi mengetahui bahwa bertahun-tahun kemudian, perusahaan teknologi tempat ia membangun karier itu ternyata memiliki hubungan yang jauh lebih dalam dengan ibunya.

Bahkan ketika akhirnya ia mendapatkan promosi, Arsen tidak pernah menganggapnya sebagai pemberian. Ia mendapatkannya karena bekerja keras, karena kemampuannya. Karena hasil yang ia tunjukkan, dan itulah yang selalu diyakini Arsen.

Sampai akhirnya, pada ulang tahun Mama yang ke-50, seluruh keyakinan tentang kehidupan keluarganya berubah. Hari itu ia mengetahui siapa sebenarnya ibunya.

Madam A.

Nama yang selama ini selalu ia dengar di dunia bisnis, tanpa tahu orangnya. Nama yang bahkan selalu muncul dalam percakapan profesional. Nama yang bagi banyak orang memiliki kekuatan luar biasa. Namun tidak pernah sekalipun Arsen bayangkan bahwa perempuan di balik nama itu adalah Mama.

Hari itu ia baru mengerti bahwa selama ini, Amara bukan sekadar seorang perempuan yang bekerja di perusahaan asing.

Ibunya telah membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan. Namun satu hal tidak berubah. Arsen tetap tahu bahwa semua pencapaiannya sendiri adalah hasil dari kerja kerasnya.

Mama memberikan pendidikan, dan kesempatan. Mama memastikan mereka memiliki tempat untuk berdiri. Namun Mama tidak pernah mengambil alih kehidupan mereka. Justru karena itulah Arsen semakin menghormatinya.

Ia kembali menatap taman. Leon masih bersama Amara. Pikiran Arsen kembali kepada pria itu.

Sebenarnya, ia sudah mengenal Leon jauh sebelum hubungan itu menjadi sedekat sekarang. Bukan sebagai calon pasangan ibunya. Bukan juga sebagai seseorang yang akan menjadi bagian dari keluarga.

Tetapi sebagai seseorang yang berada di dunia bisnis. Nama Leon Volkov sudah tidak asing bagi Arsen. Namun yang menarik perhatian Arsen bukanlah kekayaan atau kekuasaan pria itu. Melainkan caranya memperlakukan Mama.

Arsen mulai memperhatikannya sejak lama. Leon tidak pernah datang ke rumah dan bertingkah seolah ia memiliki hak atas kehidupan Amara. Ia tidak pernah mengatakan kepada Mama apa yang harus dilakukan. Ia pun tidak pernah memaksa.

Tidak pernah mengambil keputusan atas nama Mama. Bahkan ketika memiliki kemampuan untuk melakukannya, Leon tetap membiarkan Amara menentukan pilihannya sendiri. Bagi Arsen, hal itu sangat penting. Karena ia tahu persis seperti apa ibunya.

Amara bukan perempuan yang membutuhkan penyelamat. Atau tidak membutuhkan seorang pria untuk membayar kehidupannya. Ia juga tidak membutuhkan seseorang untuk membuat keputusan untuknya. Ia bahkan mungkin akan marah jika ada orang yang mencoba melakukan hal tersebut.

Namun mama hanya membutuhkan seseorang yang memahami bahwa kekuatannya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Dan Leon memahami itu semua.

Arsen pernah melihat sendiri bagaimana Leon menunggu ketika Mama sedang sibuk. Bagaimana ia tidak memaksanya meninggalkan pekerjaannya. Bagaimana ia tetap mendukung keputusan Mama meskipun keputusan itu tidak selalu sesuai dengan keinginannya.

Leon selalu ada.

Bukan hanya ketika semuanya berjalan baik. Tetapi juga ketika keadaan tidak mudah.

Arsen teringat satu malam ketika Mama sedang sakit. Walau tidak parah, namun cukup untuk membuat seluruh keluarga panik.

Leon datang tanpa membuat keributan. Ia hanya memastikan dokter datang, memastikan obat tersedia, kemudian duduk di ruang keluarga sampai keadaan Amara membaik.

Saat itulah Arsen mulai memahami sesuatu. Cinta tidak selalu terlihat seperti kata-kata besar. Kadang cinta terlihat seperti seseorang yang memastikan gelas air di samping tempat tidur tidak pernah kosong.

Seperti seseorang yang mengingat obat, seperti seseorang yang menunggu tanpa diminta, dan seperti seseorang yang tetap berada di sana ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.

Leon telah melakukan semua itu tanpa meminta pengakuan.

Arsen menghela napas.

Mungkin itulah alasan ia tidak keberatan ketika Leon akhirnya mengatakan bahwa ia mencintai Mama. Bahkan jauh sebelum Leon mengatakannya, Arsen sudah melihatnya.

Raka mungkin melihatnya dengan cara berbeda. Nayla mungkin merasakannya dengan hati. Tetapi Arsen melihatnya dari tindakan. Dan tindakan tidak mudah berbohong. Ia teringat percakapan mereka malam sebelumnya.

"Kami merestui Om."

Saat mengucapkan kalimat itu, Arsen sebenarnya tidak sedang memberikan izin kepada Leon.

Mama bukan milik mereka. Mama juga bukan seseorang yang membutuhkan izin anak-anaknya untuk mencintai seseorang. Arsen hanya ingin memastikan bahwa pria yang akan berjalan bersama ibunya memahami satu hal.

Amara telah memberikan hampir seluruh hidupnya untuk keluarganya. Jika Leon ingin menjadi bagian dari hidupnya, maka Leon harus memahami bahwa perempuan itu bukan hanya Madam A. Bukan hanya seorang pemimpin dan bukan hanya seorang ibu. Tapi ia adalah Amara.

Seorang perempuan yang juga berhak memiliki kehidupan untuk dirinya sendiri.

Arsen tersenyum kecil. Dari taman terdengar suara tawa. Ia melihat Leon mengatakan sesuatu kepada Amara. Amara kemudian memukul ringan lengannya.

Leon tertawa.

Arsen menggeleng.

"Benar-benar cocok."

Suara Raka tiba-tiba terdengar dari belakang.

"Kau ngomong sendiri?"

Arsen menoleh.

Raka berdiri sambil membawa dua cangkir kopi.

"Sejak kapan kau di situ?"

"Baru."

Raka menyerahkan satu cangkir kepadanya. Arsen menerimanya. Mereka berdiri berdampingan. Beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Kemudian Raka berkata,

"Kau benar-benar percaya sama Om Leon?"

Arsen menatap taman.

"Iya."

"Kenapa?"

Arsen diam sebentar.

Lalu menjawab,

"Karena dia tidak mencoba menjadi penyelamat Mama."

Raka menoleh.

Arsen melanjutkan,

"Dia hanya menjadi orang yang selalu ada."

Raka tersenyum.

"Itu jawaban yang bagus."

Arsen mengangkat bahu.

"Aku cuma mengatakan apa yang kulihat."

Di bawah sana, Amara menoleh ke arah balkon.

Ia melihat kedua anak laki-lakinya.

"Mereka sedang membicarakan kita?" tanyanya kepada Leon.

Leon menatap ke atas.

"Sepertinya."

Amara menghela napas.

"Anak-anak itu terlalu kepo."

Leon tersenyum.

"Karena mereka memperhatikanmu."

Amara terdiam.

Leon kemudian menggenggam tangannya.

"Biarkan mereka."

Amara menatapnya.

"Kenapa?"

"Karena mungkin untuk pertama kalinya mereka melihat ibunya bahagia."

Amara tidak menjawab. Namun senyum kecil muncul di wajahnya.

Di balkon, Arsen melihat senyum itu. Dan sekali lagi ia yakin bahwa ia tidak salah memilih.

Leon bukan pria yang datang untuk mengambil ibunya dari mereka. Melainkan pria yang datang untuk berjalan di sampingnya.

Dan bagi Arsen, itu sudah lebih dari cukup. Karena Mama tidak membutuhkan seseorang yang berdiri di depannya untuk melindunginya.

Mama membutuhkan seseorang yang bersedia berdiri di sampingnya. Dan Leon Volkov telah melakukan itu selama bertahun-tahun.

Arsen menyesap kopinya dan kemudian tersenyum kecil.

kali ini ia tidak melihat Leon hanya sebagai pria yang dicintai ibunya. Ia melihatnya sebagai seseorang yang mungkin memang pantas berada di dalam keluarga mereka.

Bukan karena nama, kekayaan atau kekuasaan. Melainkan karena satu hal sederhana yang jauh lebih sulit ditemukan daripada semua itu.

Kesediaan untuk selalu tetap tinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!