Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audit Brutal ala Geneviève
"Saya tidak merampoknya sendirian, Nona Montmirail. Tolong, Anda harus memercayai saya."
Suara Walikota Pesisir Timur itu bergetar hebat. Pria buncit itu jatuh berlutut di tengah Balai Keadilan Lumière. Keringat dingin membasahi kerah sutranya yang mahal. Ia menatap liar ke arah barisan menteri di bangku penonton, mencari sekutu faksi kerajaan yang biasanya melindunginya.
Namun, para menteri itu tiba-tiba sibuk menatap langit-langit, merapikan lengan baju mereka, atau membuang muka. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membalas tatapan sang Walikota.
Geneviève berdiri menjulang di hadapan pria yang sedang hancur itu. Ia melipat tangannya di depan dada. Gaun beludru birunya memancarkan aura dominasi yang absolut.
"Anda mengatakan bahwa Anda tidak merampoknya sendirian, Tuan Walikota?" Geneviève memiringkan kepalanya sedikit. Nada suaranya terdengar sangat lembut, namun racun yang terkandung di dalamnya cukup untuk membunuh seekor gajah. "Lalu, apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa Marquis de Chanteclair, paman dari Yang Mulia Putri Mahkota kita yang sangat suci, adalah otak di balik penggelapan pajak keluarga Montmirail?"
"Bukan begitu maksud saya," isak Walikota dengan suara melengking panik. Ia menyadari jebakan maut yang baru saja dipasang oleh putri Duke di depannya.
Jika ia membenarkan keterlibatan Marquis, faksi kerajaan akan langsung mengeksekusinya malam ini juga dengan tuduhan fitnah dan makar. Seluruh keluarganya di wilayah pesisir akan dibantai tanpa sisa. Faksi kerajaan sangat menjaga citra suci mereka di mata publik.
Geneviève tersenyum penuh perhitungan. Ia sudah menebak respons pengecut pria ini. Sebagai seorang mantan ahli administrasi perusahaan yang sering menghadapi sengketa bisnis, Geneviève tahu persis bagaimana cara memotong jalur hidup lawan tanpa harus memicu perang terbuka yang prematur. Menyerang Keluarga Kerajaan secara langsung saat ini adalah tindakan bodoh karena ia belum memiliki kekuatan militer dan finansial yang memadai.
Ia harus mencukur habis bulu domba itu tanpa membangunkan serigalanya.
"Hakim Ketua yang terhormat," panggil Geneviève seraya berbalik menghadap meja peradilan. Ia menunjuk buku kas kulit merah yang tergeletak di sana. "Saya telah menelaah buku catatan asli milik Walikota ini dengan sangat teliti. Dan saya menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan sekaligus menyedihkan."
Sang Hakim Tua membetulkan letak kacamatanya. "Fakta apa yang Anda temukan, Nona Montmirail?"
"Saya menemukan bukti bahwa Walikota kita ini bukan hanya seorang pencuri, melainkan juga seorang pemalsu dokumen tingkat tinggi," seru Geneviève dengan suara lantang yang menggema ke seluruh ruangan.
Kerumunan bangsawan di balkon kembali berbisik tegang. Lucien de Vaudémont, yang duduk di balkon VIP, mencondongkan tubuhnya ke depan. Mata hijau pria itu terpaku pada setiap gerakan Geneviève.
"Tuan Walikota telah memalsukan stempel cukai pesisir," lanjut Geneviève dengan artikulasi yang sangat tajam. "Dan yang paling berani, beliau telah memalsukan tanda tangan Menteri Perdagangan, Marquis de Chanteclair, di setiap lembar persetujuan pencairan dana."
Sang Walikota membelalakkan matanya. Mulutnya terbuka lebar, tetapi otaknya terlalu lambat untuk memproses alur cerita yang baru saja diciptakan oleh Geneviève.
Geneviève menatap tajam ke arah para menteri dari faksi kerajaan yang duduk di barisan depan. "Saya sangat yakin Marquis de Chanteclair yang terhormat tidak memiliki waktu untuk mengawasi setiap keping koin emas di pesisir. Beliau pasti sangat terkejut jika mengetahui bahwa nama baiknya telah digunakan oleh pejabat rendahan ini untuk membuka rekening anonim di serikat dagang bawah tanah."
Para menteri faksi kerajaan itu saling bertukar pandang. Ketegangan di wajah mereka perlahan mengendur. Mereka mulai menyadari jalan keluar brilian yang sedang ditawarkan oleh Geneviève.
Putri Duke Montmirail ini sedang memberikan narasi bahwa Marquis de Chanteclair adalah korban pemalsuan dokumen. Dengan menerima narasi ini, faksi kerajaan bisa cuci tangan sepenuhnya dari skandal korupsi tersebut. Sebagai gantinya, mereka harus merelakan seluruh uang di rekening anonim itu disita oleh pengadilan.
Ini adalah negosiasi politik yang sangat brutal dan dilakukan secara terbuka di depan publik.
Salah satu menteri senior dari faksi kerajaan segera berdiri. Pria tua itu berdehem keras untuk menutupi kegugupannya. "Nona Montmirail benar sekali. Marquis de Chanteclair adalah pria yang sangat berintegritas. Beliau pasti menjadi korban dari kelicikan Walikota yang tamak ini. Kami dari pihak kementerian akan mendukung penuh penyelidikan pengadilan terhadap rekening anonim tersebut. Rekening itu jelas murni milik sang Walikota yang mencoba mencoreng nama baik kementerian."
Walikota itu menangis tersedu-sedu di atas lantai. Ia telah dikorbankan. Rekening rahasia berisi ratusan ribu koin emas yang susah payah ia kumpulkan untuk faksi kerajaan kini diserahkan begitu saja kepada Geneviève demi menyelamatkan nama baik Marquis de Chanteclair.
Geneviève menunduk, menatap Walikota yang hancur lebur di bawah kakinya.
"Hakim Ketua," ucap Geneviève dengan nada final. "Saya menuntut agar seluruh dana di rekening anonim serikat dagang tersebut dibekukan hari ini juga. Dana itu adalah uang pajak dan hasil penjualan laut wilayah Montmirail. Totalnya mencapai seratus lima puluh ribu koin emas. Saya meminta pengadilan untuk mengembalikan hak keluarga kami secara penuh sebelum matahari terbenam."
Sang Hakim mengetukkan palu kayunya tiga kali dengan keras.
"Berdasarkan bukti tertulis yang tidak bisa dibantah, pengadilan memutuskan Walikota Pesisir Timur bersalah atas penggelapan dana dan pemalsuan dokumen," putus sang Hakim. Suaranya bergema bagaikan vonis kematian bagi sang Walikota. "Seluruh aset tersangka disita oleh negara. Dan dana di dalam rekening anonim serikat dagang dikembalikan sepenuhnya ke kas wilayah Duke of Montmirail. Tersangka akan dibawa ke penjara bawah tanah untuk menunggu hukuman gantung."
Dua orang penjaga bertubuh besar segera melangkah maju. Mereka menyeret Walikota yang sudah lemas tak bertulang itu keluar dari balai sidang.
Suara gemuruh tepuk tangan dan bisikan kagum mulai memenuhi ruangan. Para bangsawan yang sebelumnya mencibir kini menatap Geneviève dengan pandangan yang benar-benar berbeda. Tidak ada lagi wanita gila yang membakar gaunnya sendiri. Yang berdiri di tengah ruangan itu adalah seorang ahli strategi keuangan yang mematikan, yang mampu menundukkan pejabat korup tanpa menumpahkan setetes darah pun.
Odette yang berdiri di sudut ruangan tidak bisa menahan senyum lebarnya. Pelayan itu memeluk dokumen kosong di dadanya seolah itu adalah karung berisi koin emas.
"Seratus lima puluh ribu koin emas, Nona," bisik Odette saat Geneviève berjalan menghampirinya. Mata Odette berkaca-kaca karena kebahagiaan materialistis yang luar biasa. "Kita bisa menyewa seluruh kawasan komersial Lumière. Kita bisa membeli balok platina asli untuk pengrajin Anda. Le C'eow akan menjadi toko perhiasan paling mewah di kekaisaran."
Geneviève mengangguk pelan. Ia merasa sangat puas. Audit brutal yang ia lakukan semalaman membuahkan hasil yang sempurna. Modal awalnya telah kembali, utuh dan bersih secara hukum.
"Ayo kita pulang, Odette. Pekerjaan kita di sini sudah selesai. Aku butuh tidur yang layak sebelum mulai menggambar desain perhiasan besok pagi," ucap Geneviève santai.
Mereka berdua berjalan keluar dari balai sidang, membelah kerumunan bangsawan yang kini dengan sendirinya memberikan jalan sambil menundukkan kepala penuh hormat.
Di lantai dua, Lucien bangkit berdiri dari kursinya. Pria itu menatap punggung Geneviève yang perlahan menjauh menghilang di balik pintu utama.
Gaspard yang berdiri di belakangnya melangkah maju satu langkah. "Apakah Anda ingin saya menyiapkan kereta untuk mengawal Nona Montmirail pulang, Yang Mulia?"
Lucien terdiam cukup lama. Ingatan tentang cincin biru dan ungu yang ia lihat di kereta malam sebelumnya kembali berkelebat di kepalanya. Lalu, kilasan ingatan tentang suara tawa yang elegan menyusul kemudian. Semua itu sangat bertolak belakang dengan rasa benci buatan yang terus ditanamkan ke dalam otaknya.
Sihir Putih yang mengikat otak Lucien berusaha keras untuk mengubah kekaguman yang ia rasakan hari ini menjadi rasa muak, tetapi sihir itu gagal. Logika Lucien telah melihat sendiri betapa briliannya wanita itu. Geneviève tidak butuh perlindungannya. Wanita itu bahkan bisa memenangkan perang politik sendirian.
"Tidak perlu, Gaspard," jawab Lucien pelan. Suaranya terdengar sangat lelah. "Nona Montmirail memiliki pengawal dari keluarganya sendiri di luar gedung. Kita harus kembali ke markas ksatria. Aku perlu memeriksa laporan keamanan ibu kota, dan aku perlu waktu untuk berpikir dengan jernih."
Gaspard mengangguk patuh. Ksatria bayangan itu mengikuti tuannya dalam diam. Namun, sebelum berbalik, mata Gaspard sempat melirik sekilas ke arah Odette yang melangkah riang mengikuti majikannya. Gaspard membetulkan letak sarung pedangnya dengan sedikit canggung sebelum akhirnya menghilang ke dalam bayangan koridor.
Sementara itu, jauh di pusat ibu kota, Istana Soleil berdiri megah bermandikan cahaya matahari sore. Istana kekaisaran itu dilapisi pualam putih dan emas, mencerminkan kejayaan Dinasti Aurelius.
Di salah satu ruangan paling mewah di sayap timur istana, Putri Mahkota Camille sedang duduk menikmati waktu minum tehnya. Ruangan itu didominasi oleh warna putih bersih. Bunga lili segar tertata indah di dalam vas porselen kuno.
Camille mengenakan gaun sutra berwarna gading. Rambut pirangnya disisir rapi memanjang ke bawah. Wajahnya terlihat sangat damai dan suci saat ia mengangkat cangkir teh porselen ke bibirnya yang berwarna merah muda alami.
Pintu ruangan terbuka perlahan tanpa suara ketukan. Seorang pria paruh baya dengan pakaian menteri melangkah masuk. Wajah pria itu sangat pucat, dan napasnya memburu seolah ia baru saja dikejar anjing pemburu.
"Paman," sapa Camille dengan senyum lembutnya yang mematikan. Ia meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas tatakan. "Mengapa Anda terlihat begitu panik? Apakah pajak kain sutra dari wilayah selatan mengalami masalah lagi?"
Marquis de Chanteclair, Menteri Perdagangan kekaisaran sekaligus paman kandung Camille, berjalan mendekati meja teh dengan langkah gontai. Pria itu meletakkan sebuah gulungan perkamen berstempel pengadilan di atas meja.
"Kita kehilangan pesisir timur, Camille," bisik sang Marquis dengan suara bergetar. "Walikota bodoh itu tertangkap. Pengadilan menyita seluruh dana di rekening rahasia kita. Seratus lima puluh ribu koin emas lenyap dalam satu kali ketukan palu hakim."
Senyum di wajah Camille membeku seketika.
"Lenyap?" ulang Camille pelan. Suaranya yang biasa mendayu-dayu kini terdengar datar dan dingin. "Bagaimana bisa lenyap? Rekening itu anonim. Dan Walikota itu tahu betul bahwa ia harus tutup mulut atau aku akan memotong lidah istri dan anak-anaknya."
Sang Marquis menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak berani menatap mata keponakannya yang terlihat seperti malaikat itu.
"Dia memang tutup mulut," jelas sang Marquis. "Geneviève de Montmirail menggelar sidang darurat siang ini. Wanita gila itu tiba-tiba berubah menjadi monster persidangan. Dia membeberkan semua bukti penggelapan pajak. Dia sengaja menuduh Walikota memalsukan tanda tanganku."
Camille mengerutkan keningnya. "Lalu?"
"Lalu, Geneviève menggunakan alasan pemalsuan itu untuk menyatakan bahwa rekening anonim tersebut adalah murni milik Walikota yang mencoba mencoreng nama kementerian. Para menteri kita di sana tidak punya pilihan lain selain mengiyakan narasi itu untuk menyelamatkanku dari tuduhan korupsi. Sebagai imbalannya, pengadilan menyita rekening itu dan mengembalikannya secara utuh kepada keluarga Montmirail."
Keheningan yang sangat mencekam turun menyelimuti ruangan serba putih tersebut.
Camille menatap gulungan perkamen di atas meja. Seratus lima puluh ribu koin emas bukanlah jumlah yang kecil. Uang itu adalah modal utama faksi kerajaan untuk menyuap para komandan militer agar setia kepada mereka, sekaligus untuk mendanai pesta amal pencitraan yang selalu ia adakan setiap bulan. Kehilangan uang itu sama saja dengan memotong salah satu kaki kekuasaannya.
Dan yang paling membuat Camille marah adalah fakta bahwa Geneviève de Montmirail yang melakukannya. Wanita yang seharusnya sudah gila. Wanita yang otaknya telah ia rusak dengan Sihir Putih selama tiga tahun berturut-turut.
"Geneviève melakukan audit administrasi?" tanya Camille dengan nada berbisik yang sangat berbahaya. "Wanita bodoh yang menangis di jalanan itu memutarbalikkan logika hukum menteri senior kita?"
"Benar, Yang Mulia," jawab sang Marquis gemetar. "Kudengar Duke Vaudémont juga berada di persidangan. Lucien menatap Geneviève dengan cara yang aneh. Sepertinya sihir cuci otak Anda pada Lucien mulai melemah karena sikap Geneviève yang tiba-tiba berubah dingin padanya."
Mendengar nama Lucien disebut, sisa-sisa kesabaran Camille langsung menguap ke udara.
Malaikat suci kekaisaran itu mendadak kehilangan ketenangannya. Tangan kirinya bergerak dengan kecepatan kilat, menyapu seluruh perlengkapan minum teh dari atas meja kayu tersebut.
PRANG!
Teko porselen kuno dan cangkir teh yang mahal itu hancur berkeping-keping menghantam lantai marmer. Teh hangat tumpah membasahi ujung gaun sutra gading milik Camille, meninggalkan noda kecokelatan yang terlihat seperti lumpur kotor.
Sang Marquis melompat mundur ketakutan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Wajah polos dan rapuh milik Camille telah menghilang sepenuhnya tanpa sisa. Otot rahangnya menegang. Mata birunya yang biasanya memancarkan belas kasih kini berkilat penuh dengan kebencian murni dan amarah yang meledak-ledak. Bibirnya melengkung membentuk seringai kemarahan yang sangat mengerikan.
"Beraninya wanita jalang itu," desis Camille. Hawa dingin yang memuakkan tiba-tiba merayap di seluruh penjuru ruangan. Aura Sihir Putih yang telah terkontaminasi oleh niat jahat mulai berputar di sekitar tubuh Camille, membuat bunga lili segar di dalam vas perlahan layu dan menghitam.
"Aku sudah bersusah payah merusak ingatan mereka berdua agar keluarga Montmirail dan Vaudémont saling membenci. Aku membuat Geneviève terlihat seperti anjing kampung yang mengemis cinta." Camille mencengkeram tepi meja hingga kuku jarinya memutih. "Bagaimana mungkin sihir leluhur ini bisa dipatahkan hanya karena wanita itu memutuskan untuk berhenti peduli?"
Sang Marquis tidak berani bersuara. Ia tahu bahwa keponakannya yang terlihat seperti dewi ini memiliki monster yang sangat gelap di dalam hatinya.
Camille menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak sihir di dalam darahnya. Ia berdiri perlahan, mengabaikan pecahan porselen tajam di dekat kakinya.
"Paman," panggil Camille dengan suara yang kembali lembut dan mendayu-dayu, namun terdengar jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Ya, Yang Mulia."
"Kirimkan surat undangan resmi kepada seluruh keluarga bangsawan utama ibu kota. Katakan bahwa Putri Mahkota akan menyelenggarakan pesta dansa musim gugur di Istana Soleil minggu depan." Camille tersenyum manis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Pastikan nama Geneviève de Montmirail tertulis dengan tinta emas di barisan teratas. Jika wanita itu berani memamerkan kecerdasannya di pengadilan, maka aku akan memastikan dia melakukan kesalahan fatal di wilayah kekuasaanku. Aku sendiri yang akan menghancurkan sisa-sisa kewarasannya di istana ini."