Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Fitnah Pertama
Hari itu aku pulang bekerja dengan perasaan bahagia. Gaji pertamaku setelah menikah akhirnya sudah masuk ke rekening. Sesuai rencana, Aku menelpon suamiku mengenai makan malam di luar nanti malam.
"Mas.." Panggilku di telpon setelah diangkat.
"Iya sayang? Ada apa? Kamu butuh sesuatu kah?" Tanya mas Viyan.
"Engga mas.. aku cuma mau ngomong kalau aku udah gajian nih.. jadi nanti malam jadi yaa? Kita makan di restoran ramen" Ucapku.
"Wah Selamat ya sayang.. Tapi astaga sayang.. Mas lupa, Hari ini mas sudah terlanjur terima kerjaan dari atasan nih. Maaf banget sayang. Mas baru ingat saat kamu bilang tadi." Ucap Mas Viyan.
Aku sedikit kecewa. Namun karena ku tau rumitnya pekerjaannya, jadi aku pahami itu.
"Iya sudah mas., enggak papa kok." Ucapku agak kecewa.
"Sayang.. Maafin mas yaa.. Mas sungguh lupa waktu terima kerjaan ini tadi"
"Iya mas, enggak papa kok."
Aku tutup telpon itu dan melanjutkan pekerjaan ku.
**
Sepulang kerja aku putuskan untuk membeli beberapa makanan untuk keluarga.
Seekor ayam bakar.
Buah-buahan.
Roti.
Serta beberapa camilan kesukaan Mas Viyan. Aku juga membeli sepotong kecil kue. Bukan untuk merayakan sesuatu yang mewah. Aku hanya ingin mengucap syukur karena Allah masih memberiku kesempatan untuk bekerja. Sesampainya di rumah, aku meletakkan semua belanjaan di atas meja makan.
"Wah, beli banyak juga."
Suara Dinda terdengar dari belakang.
"Iya. Mumpung hari ini ada rejeki." Ucapku.
"Asyik." Ucap Dinda.
Belum sempat aku membuka plastik belanjaan, Dinda sudah mengambil satu kotak roti.
"Mbak, ini aku ambil ya." Ucapnya tak tau diri.
"Iya."
Lalu dia mengambil lagi buah anggur.
"Kue juga ya."
"Iya.. ambil aja."
Aku hanya tersenyum.. Aku tidak keberatan berbagi.
Tak lama kemudian Mas Viyan pulang dengan membawa banyak map kerjaan kantor.
"Wah, ada ayam bakar." ucap mas Viyan.
"Iya Mas."
Mas Viyan tersenyum. "Terima kasih ya."
Aku mengangguk. "Iya mas, Mas cuci tangan dulu. baru makan"
"Iya. Maaf ya sayang.. Lain kali kita makan di luar." Ucap suamiku.
"iya mass.."
Saat kami hendak makan bersama, Bu Mirna keluar dari kamarnya. Beliau memandang meja makan yang penuh.
"Wah..."
"Masak apa ini?"
"Bukan masak, Ma. Fitri beli."
"Oh."
Beliau duduk lalu mengambil sepotong ayam. "Alhamdulillah."
Kami pun makan bersama. Untuk pertama kalinya sejak menikah, suasana makan malam terasa cukup tenang. Aku sampai berpikir... Mungkin semuanya mulai membaik. Namun ternyata aku kembali terlalu cepat berharap.
----
Selesai makan, aku masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Ketika kembali keluar, kulihat wajah Bu Mirna sudah berubah muram.
"Fitri." Panggil mertuaku.
"Iya, Ma?"
"Gaji kamu berapa sih?" Tanya beliau dengan penasaran.
Aku sedikit terkejut.
"Maaf Ma, itu privasi aku sama Mas." Jawabku.
"Loh. Mama cuma tanya."
"Iya. Tapi kami memang sepakat enggak membahas nominal gaji."
Bu Mirna tersenyum tipis. "Oh...rahasia ya sekarang."
"Bukan begitu, Ma."
"Ya sudah."
Beliau berdiri lalu masuk ke kamarnya. Aku menghela napas pelan. Semoga saja Mama benar-benar mengerti dan berhenti menanyakan gajiku atau ATM ku.
**
Keesokan paginya. Aku sedang menyiram tanaman di depan rumah. Dari dalam rumah, terdengar suara Bu Mirna sedang berbincang dengan seorang tetangga bernama Bu Siska. Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Aduh Bu..."
Suara Bu Mirna terdengar begitu lirih.
"Kenapa memang, Mir?"
"Enggak apa-apa."
"Cerita saja."
"Ya beginilah."
"Menantu sekarang sudah kerja."
"Alhamdulillah dong."
"Iya."
"Tapi..."
"Apa Mir?"
"Dia enggak pernah kasih Mama uang sepeser pun."
Aku langsung membeku.
Apa? Aku menoleh ke arah ruang tamu.
"Katanya uangnya mau ditabung."
"Kasihan ya Bu Mirna."
"Iya. Kok bisa menantunya begitu. Padahal wajah nya kelihatan kalem"
"Tidak tau Bu, padahal kan tinggal di rumah ku"
Hatiku terasa diremas. Aku baru satu kali menerima gaji. Bahkan semalam belum sempat membahas uang bantuan bulanan.
Namun...
Di depan tetangga... Aku sudah dicap sebagai menantu yang tidak tahu balas budi. Aku menahan diri untuk tidak masuk dan membantah. Karena aku tahu... Kalau aku muncul sekarang... Bu Mirna pasti akan berkata aku sengaja menguping.
**
Siang harinya, saat aku sedang bekerja, ponselku bergetar. Pesan dari Bu Siska. Nomorku rupanya diberikan oleh Bu Mirna saat acara pengajian beberapa hari lalu.
"Fitri, jangan marah ya. Cuma mau kasih saran. Sudah kerja itu bagus, tapi jangan lupa bantu mertua. Mereka kan sudah baik kasih tempat tinggal." isi pesan Bu Siska.
Aku membaca pesan itu berulang kali. Dadaku sesak. Jadi... Cerita Bu Mirna mulai dipercaya orang-orang. Aku membalas dengan sopan.
"Terima kasih masukannya, Bu. Insyaallah saya dan Mas Viyan sedang mengatur keuangan keluarga kami. Mohon doanya ya, Bu."
Aku tidak ingin memperpanjang masalah.
***
Malam harinya. Aku menyerahkan sebuah amplop kepada Mas Viyan.
"Mas."
"Apa ini?"
"Menurutku mulai bulan ini kita bantu Mama."
Mas Viyan membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat uang sebesar Rp1.500.000 yang aku masukkan.
"Sayang...Ini terlalu banyak." Ucap Mas Viyan.
"Enggak apa-apa.. Kita kan masih tinggal di sini mas"
Mas Viyan tersenyum bangga. "Kamu baik sekali sayang."
Aku menggeleng pelan. "Bukan karena aku baik."
"Terus?"
"Aku cuma enggak mau ada yang bilang aku numpang tanpa membantu."
Mas Viyan mengangguk. "Besok Mas kasih ke Mama ya. Mas tambah ini"
"Iya."
Aku berharap... Setelah menerima uang itu... Bu Mirna tidak lagi menceritakan keburukanku kepada siapa pun. Namun lagi-lagi... Harapanku terlalu sederhana.
****
Keesokan paginya. Mas Viyan menyerahkan amplop itu kepada ibunya.
"Ma."
"Apa?"
"Ini dari aku sama Fitri."
Bu Mirna membuka amplop tersebut. Matanya langsung berbinar melihat isinya.
"Wah.. Alhamdulillah. Terima kasih ya." Ucap nya.
Aku ikut tersenyum lega. Kupikir semuanya selesai. Namun beberapa saat kemudian... Saat Bu Mirna keluar membeli sayur, beliau kembali bertemu Bu Siska. Dengan sengaja aku membuka jendela dapur karena sedang memasak.
Aku kembali mendengar suara beliau.
"Mir, menantumu jadi kasih uang?" Tanya Bu Siska.
"Iya sih... Tapi cuma segini." Ucap Mertua ku menunjukan 3 jari.
"Namanya juga baru gajian." Ucap ibu-ibu yang lain.
"Halah. Kalau saya jadi dia, mah pasti kasih semua gajinya ke mertua. Dia aja tinggal di rumahku, bukan siapa-siapa loh." Ucap mertuaku.
Aku memejamkan mata. Tanganku yang sedang mengaduk sayur berhenti.
Jadi...
Berapa pun yang kuberikan... Di mata Bu Mirna... Tidak akan pernah cukup. Dan untuk pertama kalinya... Aku mulai sadar. Masalah ini bukan lagi tentang uang. Melainkan tentang keinginan untuk menguasai hidupku sepenuhnya.
Bersambung...