NovelToon NovelToon
Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Status: tamat
Genre:Romantis / Pernikahan Kilat / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:7M
Nilai: 4.9
Nama Author: 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞

Delia Laros terpaksa harus menikah dengan pria tajir dan arogan yang tidak dikenalinya. Pernikahan itu bermula dari sebuah ancaman akan reputasinya.

Pria yang bernama Rafael Widjaja tersebut berniat memanfaatkan Delia Laros untuk membatalkan pertunangan yang tidak diinginkannya, namun siapa sangka ternyata tanpa sadar pria itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Akankah Rafael Widjaja mampu menaklukkan hati istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XI

Acara pemberkatan telah selesai, para tamu undangan pun sudah meninggalkan gereja Santani. Tinggallah Rafael bersama istri dan orang tuanya. Rafael tidak meminta bantuan Jodhi untuk mengantarkan mereka kembali ke hotel. Ia lebih suka mengendarai mobilnya sendiri untuk membawa keluarga barunya.

Sesampainya di hotel Aston, Rafael dan Delia mengantarkan Derry dan Emili ke kamar mereka. Walaupun sebelumnya orang tua Delia terus menolak diantarkan hingga ke kamarnya. Namun kekerasan hati Rafael tentu sulit untuk dibantah. Mereka semuanya terlihat sangat lelah karena acara pemberkatan tadi.

"Ayah dan ibu istirahat yang cukup, Delia takut nanti kalian sakit," ujar Delia saat mereka sudah berada di depan kamar.

"Kami baik baik saja nak, tapi lihatlah wajahmu sendiri. Kau lah yang terlihat sangat lelah," jawab Emili.

"Benar Delia, justru kau yang butuh istirahat," sahut Derry.

Rafael memperhatikan wajah istrinya, memang Delia terlihat lebih lelah dari kedua orang tuanya.

"Ehm... Sebaiknya kalian semua beristirahat, kita semua sama sama lelah. Ayah, ibu... bolehkah aku membawa pengantinku pulang sekarang?" tanya Rafael.

Wajah Delia merona, bisa bisanya Rafael menyebutnya pengantinku di depan orang tuanya. Benar benar membuat wanita itu malu.

Emili terkekeh geli, "tentu saja nak Rafael... Delia sudah menjadi milikmu, jadi tak perlu izin pada kami, karena tugas kami sebagai orang tuanya kini telah digantikan oleh suaminya," jawab Emili.

Derry tersenyum, "Delia adalah istrimu yang sah, tentu saja ia harus mengikuti kemanapun suaminya berada."

"Ayah... ibu... kalian kenapa bilang seperti itu," ucap Delia dengan wajah yang semakin memerah.

Kedua orang tua Delia dan Rafael tertawa.

"Oh iya... ayah dan ibu apa tidak sebaiknya tinggal di Jakarta saja? jika setuju, aku akan membelikan rumah buat kalian berdua disini," ujar Rafael.

"Tidak perlu nak... kami sudah bahagia tinggal disana, keluarga besar kami juga ada disana," tolak Derry, "lebih baik besok kita kembali pulang, yang penting Delia sudah kami serahkan padamu, tolong jaga Delia dan jika kalian merindukan kami, sering seringlah pulang kesana menengok kami," imbuhnya.

"Kalian akan pulang secepat itu?" tanya Delia tiba tiba sedih.

Melihat kesedihan pada wajah Delia, Rafael tidak tega melihatnya.

"Heeem... sayang... aku sudah meminta orang tuamu tetap tinggal disini sesuai dengan keinginanmu, tapi mereka menolak. Jangan salahkan aku, dan jangan terlihat sedih seperti ini, aku janji akan sering membawamu pulang kesana, " kata Rafael.

Delia terkejut mendengar ucapan Rafael, "kapan aku menyuruhnya meminta ayah dan ibu tinggal disini, bukankah ia yang berinisiatif sendiri? Dasar pria arogan, ia tak mau malu karena ditolak," pikirnya.

"Benar Del, jangan sedih. Jarak kita tidak terlalu jauh," ucap Derry.

"Kau bisa naik pesawat suamimu untuk mengunjungi kami dengan cepat," sahut Emili.

"Kalian tenang saja, milikku sekarang sudah menjadi milik Delia. Jadi ia bebas menggunakan fasilitas apapun yang aku miliki," ujar Rafael.

"Miliknya adalah milikku, andai saja itu nyata. Pernikahan ini hanya pura pura saja, entah sampai kapan ia mempertahankanku," pikir Delia lagi.

"Ayah dan ibu yakin tidak ingin tinggal bersama Delia di Jakarta?" tanya Delia.

"Tidak sayang... kami tetap di Bandar Lampung saja dan kau harus tetap meneruskan kuliahmu, berbahagialah bersama suamimu," kata Emili sambil memeluk Delia.

Delia tiba tiba menangis di pelukan ibunya, Emili pun tak kuasa menahan air matanya. Keduanya sama sama terisak membuat Derry dan Rafael justru menggelengkan kepala mereka.

"Ya Tuhan sayang, aku tidak berniat memisahkan kalian, jadi berhentilah menangis," goda Rafael membuat Derry terkekeh.

Keduanya melepaskan pelukannya.

"Besok ayah dan ibu mau pulang jam berapa? aku yang akan langsung menjemput kesini, jika pekerjaanku sudah selesai," ujar Rafael.

"Apa nak Rafael tidak mengambil cuti setelah menikah?" tanya Emili.

"Ada pekerjaan mendesak sebelum aku cuti bu," jawab Rafael.

"Kalau begitu tidak perlu menjemput kami, kami bisa naik bus menuju pelabuhan," ujar Derry.

Rafael menggelengkan kepalanya, "kalian sekarang orang tuaku, jadi aku harus mengantarkan kalian ke bandara dan naik pesawatku. Jangan menolak," ujarnya tegas.

"Benar kata Rafael yah, bu. Kalian pulang nunggu Delia pulang kuliah saja. Delia terlalu lama absen kuliah, Delia lupa minta cuti kuliah," ujar Delia.

Rafael terbelalak, ia lupa jika Delia masih kuliah. Ia lupa meminta cuti kuliah untuk istrinya.

"Baiklah kalau begitu, kami akan menunggu kedatangan kalian saja," jawab Emili dan mendapat persetujuan dari suaminya.

"Jika butuh sesuatu hubungi saja pihak hotel, atau hubungi pak Jodhi," ujar Rafael seraya menyerahkan kartu nama asistennya.

Mereka kembali mengangguk. Rafael dan Delia pun berpamitan dan meninggalkan keduanya di hotel Aston.

*****

Sepanjang perjalanan Delia terus murung, sikap wanita itu membuat Rafael kebingungan. Beberapa kali Rafael berdeham tapi Delia tetap bergeming.

"Aku benar benar sudah menjadi seorang istri, tapi ini hanya sebuah mimpi. Aku tinggal menunggu waktu bangunku hingga mimpiku pun lenyap," pikir Delia.

Wanita itu terus memalingkan wajahnya keluar jendela mobilnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan sayang?" tanya Rafael lembut.

Lagi lagi Delia bergeming.

"Ayolah sayang... mau sampai kapan kau terus mengabaikanku seperti ini?" tanya Rafael.

Delia menolehkan kepalanya, lalu menatap Rafael dengan tajam.

"Aku kira kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan tunanganmu, ternyata justru aku dipermalukan tadi, walaupun pernikahan kita hanya sandiwara, tapi seharusnya kau tetap menyelesaikannya," celetuk Delia.

"Maaf Delia, kemarin aku benar benar sibuk mengurus dokumen penting perusahaan, sebelum Firdaus menanganinya. Aku tidak ingin perusahaan yang aku bangun susah payah, akan hancur di tangan orang yang tak berguna. Dan kau harus tahu, pernikahan kita bukanlah sandiwara. Sudah berapa kali aku bilang, aku menginginkanmu, aku menginginkan pernikahan ini," jawab Rafael.

"Ciiiih... Ternyata perusahaan lebih penting dariku," gumam Delia.

Rafael menghela nafas panjang, "pertama, aku memang bersalah atas masalah Katrina. Kedua, perusahaanku adalah masa depan kita. Ketiga, ini tidak ada hubungannya dengan mana yang lebih penting Delia. Aku melakukannya demi kita," kata Rafael sambil menahan emosinya.

"Jadi kau lebih suka istrimu dipermalukan seperti itu," ucap Delia kesal.

Seketika Rafael menginjak remnya mendadak. Untung saja di belakang mereka tidak ada kendaraan lain.

"Apa katamu tadi?" tanya Rafael.

Delia ketakutan, ia pikir telah memancing kemarahan Rafael.

"A...a...apa...?" tanya Delia gugup.

Namun Rafael tiba tiba tersenyum lebar membuat Delia mengerutkan keningnya. Kemarahannya lenyap saat mendengar Delia mengucapkan kata "istrimu".

"Aku senang mendengar pengakuanmu barusan," jawab Rafael.

"Pengakuan?" tanya Delia.

Seketika Delia membelalakkan matanya, ia tanpa sadar mengatakan jika dirinya adalah istri Rafael. Melihat ekspresi wajah Delia, Rafael akhirnya tertawa.

"Kau berhenti tiba-tiba hanya karena itu? Dasar pria gila," gerutu Delia.

Rafael kembali tertawa, karena suara klakson mobil terdengar di belakang, Rafael pun kembali menginjak pedal gasnya dan melanjutkan perjalanannya.

"Aku tidak suka siapapun menghinamu, mempermalukanmu atau mengganggumu. Kau tenang saja sayang, aku akan menghancurkan orang yang melakukannya," kata Rafael.

Ucapan Rafael sungguh membuatnya tenang, tapi saat perjalanan mereka menuju rumah besar Widjaja semakin dekat. Ketenangan itu pun kembali musnah, wajah Delia mulai memucat karena takut harus menghadapi keluarga Widjaja terutama ayah mertuanya.

*****

Ponsel Rafael berdering. Ia segera melihat layar ponselnya. Ternyata detektif yang ia sewa menghubunginya secepat itu. Rafael menyunggingkan senyumnya seraya mengangkat teleponnya.

"Langsung ke intinya," pinta Rafael.

"Tuan muda, aku sudah menemukan keberadaan wanita paruh baya itu, dan mengetahui siapa dalang dari semua masalah ini," jawab detektif tersebut.

Rafael melihat ke arah Delia. Ia tidak ingin wanita itu tahu apa yang ia lakukan.

"Besok kita bertemu di tempat biasa," ujar Rafael seraya menutup teleponnya.

Delia penasaran siapa yang menghubungi Rafael, namun ia tak mau bertanya.

Sesampainya di rumah besar Widjaja. Keduanya turun dari mobilnya, Rafael segera menarik tangan Delia dan menggenggamnya dengan lembut.

"Tetaplah bersamaku apapun yang terjadi, jangan takut. Aku akan melindungimu sayang," ucap Rafael.

Delia menganggukkan kepalanya. Genggaman tangan Rafael tidak ia lepaskan karena ia benar benar takut saat ini. Rafael menggenggam tangan istrinya semakin erat, ia tahu Delia sangat takut terasa dari dinginnya tangan wanita itu. Dengan langkah pasti, Rafael membawa Delia kembali masuk ke dalam rumahnya.

Praaaannngggg...

Suara lemparan barang sangat keras ke arah mereka, untung Rafael segera menghindar dan melindungi Delia. Hartanto Widjaja ternyata sudah menunggu kedatangan mereka dengan wajah garangnya.

"Anak sialan... benar benar tidak mau mendengarkanku," teriak Hartanto murka.

Rafael menggertakkan giginya, "jika istriku sampai terluka, aku tidak akan membiarkanmu," balas teriaknya.

"Aku ayahmu, kau lebih membela wanita murahan itu."

"Membawa istri baru, seminggu setelah kehilangan ibuku, apakah aku masih bisa menganggapmu sebagai seorang ayah," bentak Rafael.

"Kau...!" teriak Hartanto sambil memegang dadanya yang mulai sesak.

Rafael mengepalkan tangannya, ia membiarkan Helena mengurus ayahnya. Setelah melihat pria itu tak mampu berdebat lagi dengannya, Rafael pun tak perduli lagi. Ia menarik tangan Delia menuju kamar mereka.

******

Happy Reading All...

1
Reza Muna
Luar biasa
Andariya 💖
dellia laros
Bunda Rizky
unboxink
Bunda Rizky
kenap ga punya masion sendri
Bunda Rizky
mantap
Bunda Rizky
asyik
𝕸y💞𝕄𝕆𝕆ℕ🍀⃝⃟💙
awal nya pura2.. eh kok enak ya, lanjut aja, nikah beneran aja lah 😂
𝕸y💞𝕄𝕆𝕆ℕ🍀⃝⃟💙
😂 sa ae mas rapael
🍁𝐌𝐚𝐡𝐞𝐬𝐰𝐚𝐫𝐢💃❣️
what did kan harus nya? kan udah tadi past
🍁𝐌𝐚𝐡𝐞𝐬𝐰𝐚𝐫𝐢💃❣️
lanjut
🍁𝐌𝐚𝐡𝐞𝐬𝐰𝐚𝐫𝐢💃❣️
next
𝕸y💞 Ree🍏
kenapa pap bawang ikut di part ini mamiii🤧 tissu mana tissuuu😭😭
Ree 3💚
disini ada typo mamiiiq sayang🥰
𝕸y💞 Ree🍏
congkel mata, robek mulut firdaus😒
𝕸y💞 Ree🍏
elaa raaf, sabaarr dikit atuh kan masih dirumah camer masa main sosor² aja weh🙊🚶‍♀️🚶‍♀️
𝕸y💞 Ree🍏
sipp langsung minta restu camer
gasskeun✈✈
Ree 1💚
baru ketemu udah ngajakin merid aja😌
hmmm mungkin ini memang takdir dari mami otor pernikahan pada pandangan pertama😄
lanjuutt bacaa
𝐙⃝🦜ᵇᵃˢᵉ
weh seru nih mom miss cerita nya
𝐙⃝🦜ᵇᵃˢᵉ
aku baru baca
𝕸y💞Sarinande ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
keren Thor... menarik banget pastinya recommended 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!