Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.
Aiza dan Akhmar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pertolongan
“Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Bila seseorang selamat dari keburukannya, maka setelahnya lebih mudah darinya. Dan bila seseorang tidak selamat dari keburukkannya, maka setelahnya lebih berat darinya.”
***
“Makasih, Mbak!” ucap Aiza sesaat setelah membayar pena yang baru saja dia beli dari toko buku. Ia baru saja pulang sekolah. Langkahnya gontai, melenggang keluar dari toko.
Aiza baru saja pindah sekolah, sekarang sekolahnya di Aliyah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Dia harus naik angkot dan berjalan kaki untuk melewati sebuah gang yang sulit bila dilalui angkot.
Suara ayam khas perumahan komplek warga terdengar nyaring.
Aiza membenarkan jilbab putih yang menutup kepala. Kakinya sudah sembuh. Ia bisa berjalan dengan normal. Kakaknya sangat rajin mengurut kakinya setiap malam. Beginilah definisi kakak yang baik, selalu perhatian pada adiknya.
Serombongan pria tampak duduk nongkrong di persimpangan jalan, ada beberapa batu besar yang digunakan untuk duduk, serta kursi kayu berukuran panjang yang menjadi tempat tongkrongan.
Mereka tengah berkumpul seperti orang sedang main kelereng. Eh, bukan main kelereng, tapi lebih seperti sedang bergantian menyulut api untuk rokok. Entahlah, begitulah sejenisnya.
“Sial!” pekik salah seorang pria yang tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Aiza yang saat itu tengah melewati posisi tongkrongan. Pria itu melempar benda yang ada di tangannya hingga terjatuh ke tanah. Lalu dengan matanya yang nyalang, ia mendekati Aiza.
Loh? Kok, cowok itu marah? Pikir Aiza yang melihat pria bertubuh tegap yang berjalan ke arahnya dengan ekspresi merah padam.
“Woi, lu siapa ada di sini?” hardik pria itu dengan tatapan nyalang.
“Tumben banget ada cewek lewat sini.”
“Dia ngeliat kita lagi make.”
“Bahaya tuh cewek kalau sampai ngomong ke mana- mana.”
Para pria itu bersahutan.
Aiza tidak bisa menangkap apa maksud perkataan mereka. Tapi ia sedikit bisa memahami bahwa mereka sedang melakukan praktik barang haram. Anak muda sekarang isi pikirannya rusak!
Pria bertubuh tegap dengan kemeja biru itu menarik lengan Aiza kuat dan menyeretnya menuju ke dinding beton pagar rumah warga di sisi gang.
“Hei, lepasin!” teriak Aiza sambil menyentak lengannya. Tubuh mungilnya terseret mengikuti tarikan tangan si pria berkemeja biru.
Tak berselang lama, tiba- tiba tubuh pria berkemeja biru itu didorong mundur dengan kuat hingga tubuh pria itu terhuyung dan genggamannya di lengan Aiza pun terlepas.
“Lepasin dia!” Sosok pria bertubuh tinggi dengan rambut agak gondrong melerai, memisahkan Aiza dari serangan pria galak tadi.
Eh? Loh? Aiza terkesiap menatap pria yang berdiri di tengah- tengah, aroma tubuhnya khas sekali. Seperti wangi buah jambu klutuk alias jambu biji. Pria itu tak lain adalah sosok yang menyelamatkannya beberapa minggu yang lalu, sekaligus pria yang juga melibatkannya ke dalam masalah suram. Dia baru saja datang dan langsung melerai tadi.
Wajah pria itu tampak bersih, dan... Tampan. Rambutnya agak gondrong melewati telinga dan diikat sedikit di bagian belakang.
Aiza cepat mengalihkan perhatian saat tanpa sadar sudah terlalu lama mengawasi wajah tampan itu.
"Cewek ini udah mergokin kita- kita lagi make. Entar kalau dia ngebacot kemana- mana, gimana?" tukas pria berkemeja biru itu.
"Gue bilang, jangan sakiti dia!" titah pria tampan itu mendominasi. Tatapan matanya serta nada suaranya tanpa sadar telah melumpuhkan lawan bicara. Hingga lawan bicaranya pun terdiam seperti diremot.
"Pergilah!" pinta pria itu. Suaranya terdengar dingin bak salju. Tak banyak bicara, tatapan matanya dalam.
Aiza bukannya pergi, malah terbengong. "Kamu..."
"Akhmar," sebut pria itu menyebut namanya.
"Maksudku, kamu yang..."
"Yang pernah gendong kamu. Kamu bisa pergi sekarang!" ucap pria yang mengaku bernama Akhmar itu.
Bersambung