Sahabat dan cinta. Kedua elemen itu sangat sulit untuk dibedakan. Dalam persahabatan terkadang tumbuh sebuah cinta. Cinta yang sulit di mengerti. Cinta yang sangat jarang disadari. Sahabat. Sebuah ikatan yang tak bisa diuraikan dengan sebuah kata-kata.
Dillara Chalista Putri Pratama. Gadis cantik yang selalu ceria. Namun dibalik keceriaannya terdapat sifat cengeng dan manja. Terkadang sifat kekanak-kanakannya akan muncul. Saat ia berada di dekat orang yang paling dekat dengannya.
Arlan Digantara. Pria tampan bertubuh tinggi, memiliki kepintaran diatas rata-rata, sopan dan banyak digemari kaum hawa. Namun ada yang mereka tidak tahu. Pria itu memiliki sifat jahil dan terkadang cuek jika ia sedang bersama orang yang paling dekat dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Menunggu (Ara)
Mencintaimu adalah sebuah anugerah. Memilikimu adalah sebuah berkah untukku. Wahai imamku. Izinkan aku untuk menjadi penyempurna imanmu. Izinkan aku untuk menjadi bidadari dalam syurgamu.
~Ketulusan Hati 2 ~
Wah, aku jatuh cinta pada diriku sendiri. Eh bukan aku maksudnya. Tapi pakaian adat yang aku gunakan. Saat ini aku sudah mengenakan pakaian adat aceh. Bunda bilang, jangan pernah melupakan adat sendiri walaupun sejauh mana kita pergi dari tanah kelahiran. Jadi aku dan Alan memutuskan untuk memakai adat Aceh saat acara resepsi.
Saat ini kepalaku sudah dipenuhi oleh mahkota dan perhiasan yang cukup banyak. Kepalaku lumayan sakit karena menahan beban yang cukup berat.
"Apa itu berat?" kini Alan sudah berdiri di belakangku. Aku mengangguk pelan. Suara beberapa perhiasan yang saling beradu pun membuatku tersenyum sendiri. Ini sangat unik, aku juga sangat menyukai rangkaian kalung yang begitu indah. Semuanya terlihat sangat sempurna.
Alan juga terlihat tampan dengan pakaian itu. Di kepalanya juga sudah terpasang Meukeutop. Meukeutop adalah kupiah khas aceh. Meukeutop merupakan mahkota laki-laki yang termasuk bukti kuatnya pengaruh islam yang berasimilasi dalam kebudayaan masyarakat di Aceh. Aku tahu semua itu dari bunda. Mungkin kedepannya aku akan belajar mengenai sejarah Aceh. Itu semua cukup menarik. Bagaimana pun, aku masih memiliki darah Aceh dari bunda.
"Alan, kenapa liatin Ara begitu? Ara jelek ya?" ucapku saat melihat Alan terus menatapku dari cermin.
"Hmmm... Tidak jelek-jelek amat sih. Tapi lumayan lah." Ck, apa sih maksudnya. Jadi aku jelek ya di mata Alan. Padahal menurutku ini sudah cukup cantik.
"Bercanda sayang, kamu sangat cantik. Sudah siap bukan? Ayok keluar." ucap Alan menyentuh kedua pundakku.
"Sudah, tapi ini berat banget. Bantu bangunin Ara dong." ucapku berusaha untuk bangun dan menyeimbangkan kepalaku. Alan memegang tanganku.
"Kamu yakin kuat berdiri?" tanya Alan. Aku menatapnya dan tersenyum. Sekarang aku sudah bisa menyeimbangkan kepalaku. Ku tautkan tanganku di lengan Alan. Kami pun berjalan perlahan keluar dari kamar.
"Masyaallah cucu nenek cantik sekali." seru nenek saat aku dan Alan keluar dari kamar. Semua orang pun menatapku dan juga Alan.
"Iya nek, tapi berat. Leher Ara agak sakit." ucapku sambil menyetuh hiasan di kepalaku. Nenek tersenyum dan merapikan pakaianku.
"Ini tidak seberapa sayang. Dulu saat nenek nikah dengan kakek kamu, lebih besar dari ini. Sampai 2 hari sakit leher nenek tidak hilang." nenek tertawa renyah.
"Ya sudah, sana duduk di pelaminan, sudah banyak tamu." ucap nenek. Aku dan Alan pun langsung beranjak menuju Pelaminan. Alan membantuku untuk duduk.
"Terimakasih." ucapku sambil tersenyum.
"Hey, kamu lupa? Dalam persahabatan tidak ada kata maaf atau pun terimakasih." ucap Alan menoel hidungku.
"Memang kita masih bersahabat? Kan kita sudah menikah?" ucapku tak terima. Bagaimana bisa Alan masih menganggap aku ini sahabatnya. Bukannya sekarang aku adalah istrinya?
"Jangan salah faham. Sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi sahabat terbaikku. Sahabat yang akan terus menemaniku, selalu ada di sisiku. Kamu yang mengatakan sendiri bukan? Apapun yang terjadi, kita akan menghadapi semuanya sama-sama."
Aku menatap mata Alan lekat-lekat. Ku sunggingkan senyuman terbaikku.
"Aku tidak mungkin melupakannya Alan." ucapku. Alan tersenyum sambil menyentuh daguku.
"Kamu sangat cantik." ucapnya yang berhasil membuatku sangat malu.
"Alan, apa kamu mencintaiku?" tanyaku sambil menatap wajahnya dengan serius. Alan juga kini menatapku lekat.
"Aku... Aku.... "
"Kak Ara...." Aku sangat terkejut saat mendengar suara anak-anak memanggil namakku. Aku menoleh, benar saja mereka sudah datang. Mereka adalah anak panti asuhan tempatku mengajar. Aku belum mengatakan ini sebelumnya. Setiap sabtu dan minggu aku mengajar di sebuah panti asuhan. Alan juga tidak pernah tahu tentang hal ini. Karena aku tidak pernah mengatakan padanya.
"Wah, kalian sudah datang. Kemari sayang." ucapku melambaikan tangan pada mereka. Mereka langsung berlari kearah ku. Aku tersenyum bahagia. Aku menatap Alan, sepertinya dia bingung. Aku bisa melihat raut wajahnya. Biarkan saja dia bertanya-tanya.
"Kak Ara, kak Ara sangat cantik. Apa itu berat?"tanya salah seorang dari mereka menunjuk kepalaku.
"Iya sayang, ini sangat berat." ucapku mencubit pipi cabinya.
"Kak Ara, ini pangeran yang sering kak Ara ceritakan ya?"
Ya ampun anak ini, kenapa membongkar semuanya di depan Alan. Dasar, anak kecil memang sangat polos.
"Iya sayang, tampan kan?" ucapku menatap Alan. Alan menaikkan sebelah alisnya. Aku tahu dia masih bingung.
"Mereka orang spesial yang aku maksud. Bagaimana? Apa masih merasa kamu yang spesial?" tanyaku pada Alan.
"Tidak sayang, mereka lebih spesial dariku." ucap Alan mencubit pipi salah satu dari mereka. Anak-anak mendekati Alan dan mengajaknya bicara. Mereka sangat lucu-lucu. Aku tersenyum lebar melihat kedekatan Alan dengan anak-anak. Padahal mereka baru saling kenal.
Mencintaimu adalah sebuah anugerah. Memilikimu adalah sebuah berkah untukku. Wahai imamku. Izinkan aku untuk menjadi penyempurna imanmu. Izinkan aku untuk menjadi bidadari dalam syurgamu.
***
Alhamdulillah. Rasa syukur tak henti-hentinya terucap di bibir ku. Acara resepsi dan lain sebagainya sudah selesai dengan lancar. Saat ini semua tamu dan kerbat jauh sudah pada pulang. Hanya tersisa keluarga besar.
Huh, lelah juga ternyata seharian berdiri untuk melayani para tamu. Kasian kakiku pasti sudah pada ilang bautnya karena kelamaan bediri. Semua badanku juga terasa pegel. Kepalaku juga sangat sakit karena menahan beban berat.
"Capek?" Alan duduk di sebelahku.
"Iya, kaki Ara pegel semua." ucapku sambil memijat leher yang juga terasa pegal.
"Loh, kok belum pada masuk kamar? Sana istirahat dulu, bunda tahu kalian sangat lelah." ucap bunda.
"Iya bunda, duduk dulu sebentar." ucapku tersenyum.
"Ya sudah, kalau kalian lapar bilang sama bunda ya?" aku dan Alan pun mengangguk.
"Sana masuk duluan, aku masih ada urusan dengan papah." ucap Alan. Aku membenarkan posisi duduk dan menatap Alan lekat.
"Urusan apa?" tanyaku penasaran.
"Tidak ada, hanya urusan laki-laki. Kamu harus istirahat." ucap Alan menyetuh pipiku. Aku menghela nafas dan mengangguk.
"Jangan lama." ucapku.
"Tidak akan lama, paling juga satu jam." ucapnya yang berhasil membuatku kesal. Ck, kenapa Alan sering banget sih buat aku kesal.
"Ck, terserah." ucapku. Aku bangun dari dudukku dan berjalan menuju kamar. Sepertinya aku harus berendam agar penatku hilang.
Semua perhiasan yang menempel ditubuhku berhasil dibuka atas bantuan bunda dan mama. Kepalaku sangat ringan. Aku pun langsung beranjak menuju kamar mandi untuk mengusir penat dan pegal ditubuhku.
Setelah selesai mandi, aku langsung solat dan mengaji sebentar.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Engkau telah melancarkan semuanya." ucapku sambil melipat mukena.
Ku lihat diriku di depan cermin. Apa gaun tidur ini cocok untukku? Aku tidak pernah menggunakan ini sebelumnya. Memang terasa sedikit aneh. Aku juga menggerai rambutku. Jika memang malam ini Alan meminta hak nya. Aku sudah siap lahir batin. Memikirkan hal itu, aku jadi malu sendiri. Huh, aku sangat gugup.
Ku langkahkan kakiku menuju ranjang yang sudah dihias sedemikian rupa. Aku akan menunggunya disini.
Sudah hampir setengah jam Alan belum juga menampakkan diri. Mataku juga sudah mulai berat. Beberapa kali aku menguap. Tapi aku harus menahannya. Aku harus menunggu suamiku.
Aku kembali melirik jam dinding. Sudah satu jam Alan belum juga datang. Aku sudah sangat mengantuk. Ku tarik selimut hingga menutupi setengah tubuhku. Mungkin aku harus tidur sebentar sambil menunggunya. Mataku juga sudah tidak bisa diajak kompromi. Semoga Alan membangunkanku jika aku benar-benar tertidur.