Dendam seorang adik kepada gadis yang dia cintai atas kematian kakaknya. Asmara, gadis sederhana, penyanyi dangdut hajatan yang sedang naik daun, berubah nasibnya saat sebuah tuduhan pembunuhan dia terima tanpa dia bisa membuktikan kebenarannya.
Nasib apa itu.?
sepahit apakah nasibnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rcancer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asmara..??
"Bang cilok, bang, beli.!!" teriak seorang anak kecil saat dia berlari keluar rumah. Dan pedagang yang merasa di panggil pun mendekat. "Bentar ya bang, ambil uang duulu.."
Seorang wanita paruh baya hanya geleng geleng kepala dari dalam rumah saat melihat anak kecil yang sering memanggilnya nenek mendekat.
"Nek minta duit, buat beli cilok..?"
"Kebiasaan kamu Ru, Ru, kalau mau jajan tuh bawa duit dulu, bukan malah manggil abangnya." Jawab nenek itu tapi tetep dia ngasih selembar uang dengan nominal lima ribu..
"Langit juga nek..!!" teriak cucu satunya yang baru keluar kamar.."
"Jangan minta uang nenek mulu nak.." teriak sang ibu dari arah dapur.
"ngga apa apa nok, uang nenek kan uang anak anak juga.." jawab sang nenek sembari menyerahkan lagi selembar uang dengan nominal yang sama ke anak yang dipanggil langit..
"Tapi kan itu uang buat pegangan ibu, kalau sewaktu waktu ibu butuh.."
"Iya nih mamah, kan Biru kalau minta uang nenek pas pulang sekolah doang.." Ucap sang anak yang sudah kembali dengan sebungkus cilok di tangannya.
"Bukankah tadi mamah ngasih uang sakunya banyak.."
"Tapi kan sudah habis buat jajan.."
"kalian saja yang boros, disuruh nabung, ngga mau.."
"udah nok, udah, kamu ini sma anak ngga mau kalah.."
'nati kalau kakek pulang pasar, jangan minta uang lagi loh.."
"Biru,Langit, main yuk.." Terdengar suara bocah memnggail dari arah luar. dan si anak yang merasa dipanggil segera meluncur ke sumber suara membuat sang ibu dan nenek hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ngga terasa yah nok, mereka udah gede, udah mau bisa maen sendiri,,"
"Iya bu, udah bandel, makin gede, makin susah diomongin.."
"Ya sabar, namanya juga anak anak."
"iya sih bu, kadang ngeselin, kadang gemesin."
"Apa mereka udah ngga pernah nanyain bapaknya nok.?"
"Udah engga bu, entah mereka dengar dari siapa, kalau mereka tuh anak anak yang di uang dan tidak di inginkan bapaknya.."
"Hah..!! yang bener nak.?" dan Asmara hanya mengangguk. "Ya Allah.."
"ngga apa apa sih bu, toh tanpa ayahnya, mereka juga masih bisa hidup, masih punya keluarga.."
"Tapi ya keterlaluan lah yang tega ngomong kaya gitu. ntar kalau mereka ketemu sama bapaknya gimana.?"
"Ngga bakalan ketemu bu. buktinya hampir tujuh tahun kan aku aman disini..? namanya juga di dibuang, ya wajarlah bu, sampah mana ada yang mau mungut.."
"jangan ngomong kaya gitu, kita kan ngga tahu, jalan takdir ke depannya gimana.."
"Iya sih bu, tapi engga salah kan kalau aku berharap ngga ketemu sama bapak mereka. yang ada ntar anakku diambil lagi, amit amit.."
"Ya mending kalau anak anak mu mau, kalau enggak.? malah kasian di paksa.."
"mungkin sih mereka ngga bakalan mau bu, toh mereka biarpun masih kecil tapi ngerti kalau ibunya tu udah dibuang.."
"Emang mereka pernah bilang.."
"Udah sering bu, ya terharu sih, di balik sifat nakal dan bandelnya, mereka ngga mau jauh dari mamahnya.."
"Dasar mereka itu, dewasa sebelum waktunya.."
"Hhehe bisa jadi bu.."
Sementara di tempat yang berbeda, di kabupaten yang sama, Angksa terlihat sedang memeriksa sebuah berkas. berkas laporan adanya penggelapan dana yang terjadi di kantor cabangnya yang terletak di kota Banumas.
Dan tak lama kemudian, asiten kepercayaan dan seorang pengacara serta dua orang yang didigu sebagai tersngka pun masuk keruaangan dimana Angkasa berada.
"Jelaskan.." Tanya angkasa sambil melempar berkas ke arah kedua tersangka yang sedang berlutut di depan mejanya."Jelaskan apa maksudnya itu semua.?"
Kedua orang itu hanya saling pandang. wajahnya nampak pias, tubuhnya gemetar hebat..
"Jelaskan atau tongkat bisball ini yang berbicara..!!!" ancaman angkasa yang sambil mengacungkan tongkat bisball yang sudah dia siapkan di sebelah kursinya, membuat kedua orang itu semakin merasa ketakutan.
"Ampun tuan angkasa, ampuni kami, kami bersalah, kami terpaksa melakukannya, kami hilaf.."
"Hilaf itu satu kali, dan ini, kalian berapa kali melakukannya.? HAH..!!!'
"Ampun tuan, maafkan kami, kami berjanji kami ngga akan melakukannya lagi, tolong ampuni kami.."
"berjanji..? cihh. kalian tahu. di perusahaan saya tidak ada kata ampun bagi pngkhianat. paham?!"
"kami mohon tuan, kami sangat membutuhkan pekerjaan ini.? tolong kasih kami kesempatan.."
"Don, panggil penjaga, tarik mereka keluar.."
"Tidak tuan, kami mohon, tidak, jangan lakukan itu pada kami tuan, kami mohon.."
"Baik tuan.."
Dan kedua orang itu pun diseret paksa oleh pejaga yang sedang berjaga di depan pintu kantor.
"kamu usut semua harta mereka dan sita segala fasilitasnya.." tunjuk angkasa kepada pengacara yang sedari tadi berdiri.disana.
"baik tuan.." dan pengacara itupun langsung undur diri begitu mendapat tugas.
"Don, panggil karyawan yang bernama Ririn ekawati, suruh menghadap saya.."
"baik tuan.."
beberapa saat kemudian..
"Tuan ini karyawan yang bernama Ririn ekawati.."
nampak jelas ketakutan dari wajah gadis itu. Dia ngga pernah bermimpi, kepala bagiannya tadi ngasih kabar kalau dia dipanggil untuk menghadap sama atasan utama dari perusahaan tempat dia bekerja. meski dia sangat mengidolakan orang yang menjadi atasannya itu, dia ngga pernah bermimpi akan menghadapi atasannya dalam keadaan seperti ini. wajah Angkasa begitu terlihat dingin. tidak ada gurat senyum sedikitpun di bibirnya. Sikapnya benar benar membuat seorang Ririn begitu sangat tertekan.
"Apa benar kamu yang mengerjakan laporan ini.?" tanya Angkasa dengan tatapn tajam matanya.
"Benar tuan.." jawab rrrin pelan saking takutnya.
"Kamu sendiri atau..?"
"dengan teman saya tuan, tapi teman saya sudah mengundurkan diri karena takut terjadi hal buruk.."
"kenapa harus takut.? bukankah kamu berada di pihak yang benar.?"
'Meskipun kami benar, tapi posisi kami lemah tuan, dan kami ngga bakalan sanggup melawan orang yang berada di atas kami.."
"bukankah diperusaah saya ini ada perlindungan hukum bagi karyawan. kenapa tidak kau gunakan itu.?"
'maaf tuan.."
"Sudah berapa lama kamu kerja di perusahaan ini.?"
"Sudah delapan belas bulan tuan.."
"teman kamu, apa dia masih mau bekerja disini atau dia sudah bekerja di tempat lain.?"
"Untuk saat ini dia masih menganggur tuan.."
"coba nanti kamu kasih dia penawaran buat dia, suruh bekerja di sini lagi, bilang, saya sendiri yang memintanya.."
"baik tuan.."
"Dan....."
tunt tang tang tang tuang tang......
rRrin tersentak. ponsel di sakunya berbunyi sangat keras sampai ucapan angkasa terpotong. Ririn berusaha menolak panggilan itu, namun berkali kali ponsel itu berdering lagi..
"Angkat saja dulu, siapa tahu penting.."
"dari ibu saya tuan.."
"ya sudah angkat, disini saja ngga perlu keluar, masih ada yang harus saya bicarakan dengan kamu." Ririn mengangguk, dan dia langsung menawab pelan telfon, namun suaranya masih terdengar jelas oleh Anggkasa dan doni.
"Hallo bu.?"
"iya.."
"Baik bu, tapi nanti suruh mba Asmara jemput Ririn ya bu.."
Degg.Angkasa tercengang mendengar nama Asmara disebut oleh karyawan di depannya.
@@@@@@@
author ttp konsisten...
hidup bollywood..💪
1 server qitahh...😉👄👄👄
jadi angkasa bisa melihat apa yg terjadi .... kau akan sangat2 menyesal telah memperkosa .. mempermalukan dan menyakiti hati wanita yg kau cintai angkasa ...