Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA KAMU TIDAK LAGI DI SANA
Hari pertama setelah restrukturisasi terasa aneh.
Bagi Alya, semuanya sebenarnya hampir sama.
Gedung yang sama.
Orang-orang yang sama.
Pekerjaan yang sama.
Hanya satu hal yang berubah.
Mejanya tidak lagi berada di depan ruang Raka.
Sekarang dia duduk di area Executive Office, bersama beberapa staf lain yang menangani kebutuhan seluruh jajaran direksi.
Secara profesional, posisi itu justru lebih baik.
Alya mendapat lebih banyak tanggung jawab.
Lebih banyak kesempatan belajar.
Dan lebih banyak ruang untuk berkembang.
Seharusnya dia senang.
Tetapi pukul 08.30 pagi, ketika dia sedang membuka email, pandangannya tanpa sadar mengarah ke lorong.
Pintu ruang Raka terlihat dari kejauhan.
Tertutup.
Alya menghela napas.
“Kenapa aku malah melihat ke sana?”
Dia kembali bekerja.
Lima menit kemudian, suara langkah kaki terdengar.
Alya refleks mengangkat wajah.
Raka keluar.
Tatapan mereka bertemu.
Raka berhenti sebentar.
Alya tersenyum kecil.
“Pagi, Pak.”
“Pagi.”
Raka berjalan melewatinya.
Namun setelah beberapa langkah, dia berhenti.
“Alya.”
“Iya?”
“Sudah sarapan?”
Alya mengangguk.
“Sudah.”
“Bagus.”
Raka kembali berjalan.
Alya menatap punggungnya.
Maya yang duduk di sebelahnya berbisik,
“Cuma tanya sarapan?”
Alya menoleh.
“Iya.”
Maya tersenyum.
“Dulu dia tinggal panggil kamu.”
Alya mengangguk.
“Sekarang tidak.”
“Kelihatan.”
Alya kembali menatap layar.
“Sudahlah.”
Namun diam-diam dia merasakan hal yang sama.
Ada sesuatu yang hilang.
PUKUL 10.00
Raka sedang meeting bersama dua direktur lain.
Namun pikirannya beberapa kali terpecah.
Salah satu direktur bertanya,
“Pak Raka?”
Raka tersadar.
“Ya?”
“Pendapat Anda?”
Raka melihat dokumen.
“Lanjutkan saja.”
Meeting berlanjut.
Tetapi lima belas menit kemudian, Raka melihat jam.
10.17.
Biasanya pada jam seperti ini Alya akan datang membawa laporan.
Sekarang tidak.
Tidak ada ketukan pintu.
Tidak ada suara,
“Pak, ini perlu tanda tangan.”
Raka kembali membaca dokumen.
Tidak fokus.
Dia akhirnya berkata,
“Meeting kita lanjutkan satu jam lagi.”
Semua orang keluar.
Raka kembali ke ruangannya.
Dia duduk.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Raka menatap pintu.
Kemudian mengambil ponsel.
Membuka chat Alya.
Dia mengetik:
Alya, ke ruangan saya.
Jarinya berhenti.
Dia menghapus.
Mengetik lagi:
Ada waktu?
Hapus.
Akhirnya dia menaruh ponsel.
“Tidak.”
Dia tidak boleh mencari alasan.
Alya sudah punya pekerjaan sendiri.
Dia harus membiarkannya bekerja.
Namun lima menit kemudian—
Raka menekan tombol interkom.
“Maya.”
“Ya, Pak?”
“Alya sedang apa?”
Maya terdiam sesaat.
“Sedang mengurus dokumen untuk Executive Office.”
“Baik.”
Raka menutup interkom.
Maya menatap Alya dari meja.
Kemudian tersenyum.
“Dia menanyakan kamu.”
Alya mengangkat wajah.
“Siapa?”
“Pak Raka.”
Alya berusaha terlihat biasa.
“Kenapa?”
“Tidak tahu.”
Alya kembali bekerja.
Namun sudut bibirnya terangkat sedikit.
PUKUL 12.30
Jam makan siang.
Alya sedang berjalan menuju pantry ketika seseorang memanggilnya.
“Alya.”
Dia menoleh.
Arga.
“Pak Arga.”
“Kamu makan?”
“Belum.”
“Bareng?”
Alya ragu.
Kemudian mengangguk.
“Boleh.”
Mereka berjalan menuju restoran.
Tidak ada yang menyadari bahwa dari ujung lorong, Raka melihat mereka.
Raka berhenti.
Dua orang staf yang berjalan di belakangnya hampir menabraknya.
“Pak?”
Raka segera berjalan lagi.
Namun wajahnya berubah.
DI RESTORAN
Arga dan Alya duduk berhadapan.
“Saya dengar posisi kamu berubah.”
“Iya.”
“Bagaimana?”
“Lumayan. Lebih banyak kerjaan.”
“Kamu senang?”
Alya berpikir.
“Iya.”
Arga tersenyum.
“Bagus.”
Mereka makan.
Arga kemudian berkata,
“Saya masih ingat jawabanmu waktu itu.”
Alya mengangkat wajah.
“Yang mana?”
“Ketika saya bilang saya tertarik sama kamu.”
Alya terdiam.
“Saya belum memberikan jawaban.”
“Saya tahu.”
“Dan saya minta maaf.”
“Tidak perlu.”
Arga tersenyum.
“Saya masih punya harapan.”
Alya menatapnya.
“Pak Arga…”
“Tidak apa-apa.”
Arga mengangkat tangan.
“Saya tidak akan memaksa.”
Alya mengangguk.
“Terima kasih.”
Mereka melanjutkan makan.
Namun suasana tiba-tiba berubah ketika seseorang berdiri di samping meja.
Raka.
“Alya.”
Alya langsung menoleh.
“Pak?”
Raka melihat Arga.
“Setelah makan, ke ruang saya.”
Arga tersenyum.
“Masih suka memanggil dia?”
Raka tidak membalas.
Alya berdiri.
“Baik.”
Raka berbalik.
Alya menatap Arga.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Alya mengejar Raka.
DI LORONG
Alya berjalan di sampingnya.
“Pak.”
Raka tidak menjawab.
“Bapak memanggil saya untuk apa?”
“Tidak ada.”
Alya berhenti.
“Tidak ada?”
Raka ikut berhenti.
“Ya.”
Alya menatapnya.
“Bapak mengambil saya dari makan siang hanya untuk tidak ada?”
Raka terdiam.
Alya tersenyum.
“Bapak kangen?”
Raka langsung menatapnya.
“Alya.”
“Saya cuma bercanda.”
“Jangan.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Mereka kembali berjalan.
Namun kali ini Alya tersenyum kecil.
Karena untuk pertama kalinya sejak restrukturisasi—
Raka terlihat seperti Raka yang dulu.
Sedikit menyebalkan.
Sedikit posesif.
Dan terlalu mudah dibaca.
DI RUANG RAKA
Alya masuk.
Raka duduk di kursinya.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka membuka dokumen.
“Ini.”
Alya membacanya.
“Laporan?”
“Iya.”
“Bapak bisa kirim lewat email.”
“Bisa.”
“Lalu kenapa memanggil saya?”
Raka diam.
Alya menatapnya.
Raka akhirnya berkata,
“Saya ingin kamu yang menjelaskan.”
Alya tersenyum.
“Bapak sebenarnya tidak butuh laporan ini.”
Raka mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena ini bukan pekerjaan saya lagi.”
Raka terdiam.
Benar.
Alya sekarang bukan asisten langsungnya.
Dia tidak punya kewajiban mengurus semua hal untuk Raka.
Namun Raka belum terbiasa.
Alya berkata,
“Bapak harus mulai terbiasa.”
Raka menatapnya.
“Dengan apa?”
“Dengan tidak selalu punya saya.”
Kalimat itu membuat wajah Raka berubah.
Alya langsung sadar.
“Maaf.”
Raka bersandar.
“Tidak.”
Dia tersenyum tipis.
“Kamu benar.”
Hening.
Kemudian Raka berkata,
“Saya sedang belajar.”
Alya menatapnya.
“Belajar apa?”
“Belajar tidak memanggil kamu setiap kali saya ingin.”
Alya tersenyum.
“Bagus.”
“Tapi sulit.”
Senyum Alya perlahan menghilang.
“Kenapa?”
Raka menatapnya.
“Karena saya sudah terbiasa.”
Alya tidak menjawab.
PUKUL 15.00
Hari itu Raka harus menghadiri meeting di luar kantor.
Alya tidak ikut.
Seharusnya.
Namun satu jam sebelum berangkat, Raka menerima email dari klien.
Mereka meminta seseorang dari Executive Office hadir untuk memberikan data.
Raka langsung keluar.
“Alya.”
Alya berdiri.
“Iya?”
“Kamu ikut saya.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa saya?”
“Karena mereka meminta data yang kamu pegang.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Arga yang kebetulan lewat mendengar.
“Saya bisa menggantikan.”
Raka menoleh.
“Tidak perlu.”
Arga tersenyum.
“Saya hanya menawarkan.”
“Saya tahu.”
Arga menatap Alya.
“Kalau begitu lain kali.”
Alya mengangguk.
Mereka pergi.
DI DALAM MOBIL
Alya duduk di samping Raka.
Suasana terasa familiar.
Terlalu familiar.
Alya melihat keluar jendela.
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak senang saya ikut?”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena sejak pindah posisi, Bapak mencari alasan terus.”
Raka tersenyum kecil.
“Mungkin.”
Alya menoleh.
“Serius?”
“Serius.”
“Bapak tidak takut orang kantor melihat?”
“Takut.”
“Lalu?”
Raka menatapnya.
“Saya sedang belajar menyeimbangkan dua hal.”
“Apa?”
“Pekerjaan.”
Dia berhenti.
“Dan perasaan.”
Alya membeku.
Raka kembali melihat ke depan.
Seolah kalimat itu tidak pernah keluar.
Alya tidak berani bertanya.
Tetapi jantungnya berdegup semakin cepat.
MEETING
Meeting berjalan lancar.
Alya menjelaskan data.
Raka memimpin pembicaraan.
Ketika selesai, klien memberikan apresiasi.
“Tim Anda sangat kompak.”
Raka mengangguk.
“Terima kasih.”
Alya tersenyum.
Mereka keluar dari ruangan.
Di lorong, Raka berkata,
“Kamu bagus.”
“Terima kasih.”
“Kamu bisa berkembang lebih jauh.”
Alya tersenyum.
“Bapak dulu yang mengajari saya.”
Raka menatapnya.
“Sekarang kamu sudah bisa berdiri sendiri.”
Alya terdiam.
“Bapak senang?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Raka tersenyum.
“Karena saya tahu kamu akan baik-baik saja.”
Alya menatapnya.
Ada rasa sedih yang tidak bisa dijelaskan.
Karena kalimat itu terdengar seperti Raka sedang mempersiapkan dirinya untuk melepaskan Alya.
PERJALANAN PULANG
Di dalam mobil, Alya akhirnya bertanya.
“Pak.”
“Ya?”
“Kalau suatu hari saya benar-benar pindah perusahaan…”
Raka diam.
“Bapak akan baik-baik saja?”
Raka menatap keluar jendela.
“Tidak.”
Alya terkejut.
Raka melanjutkan,
“Tapi saya akan tetap baik-baik saja.”
Alya tersenyum kecil.
“Bapak selalu seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Kelihatan kuat.”
“Karena saya harus.”
“Tidak boleh lemah?”
“Boleh.”
“Dengan siapa?”
Raka menatapnya.
Alya langsung menyesal bertanya.
Namun Raka menjawab,
“Entahlah.”
Kemudian dia menambahkan,
“Mungkin dengan orang yang saya percaya.”
Alya menunduk.
MALAM
Mereka kembali ke kantor hampir pukul 19.00.
Alya mengambil tas.
“Saya pulang.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Alya berjalan beberapa langkah.
Kemudian berhenti.
“Pak.”
“Hm?”
“Besok saya tidak ada agenda dengan Bapak.”
“Ya.”
“Jadi saya tidak perlu datang ke ruangan Bapak?”
“Tidak.”
Alya tersenyum.
“Baik.”
Dia pergi.
Raka memperhatikan.
Pintu lift tertutup.
Dan untuk beberapa alasan, dia merasa besok akan menjadi hari yang panjang.
KEESOKAN HARINYA
Pukul 08.00.
Alya datang.
Dia bekerja.
Tidak ada pesan dari Raka.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada alasan untuk bertemu.
Pukul 09.00.
Tidak ada.
Pukul 10.00.
Tidak ada.
Pukul 11.00.
Tidak ada.
Alya mulai merasa aneh.
Dia sendiri yang meminta jarak.
Tetapi ketika Raka benar-benar memberikannya—
dia justru merasa kehilangan.
Maya melihatnya.
“Kamu menunggu seseorang?”
“Tidak.”
“Pak Raka?”
Alya menghela napas.
“Mungkin.”
Maya tertawa.
“Nah.”
Alya akhirnya mengaku,
“Aku kira setelah dia tidak memanggilku, aku akan merasa lebih tenang.”
“Terus?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Alya menatap pintu ruang Raka dari jauh.
“Karena ternyata…”
Dia berhenti.
“Justru ketika dia tidak mengganggu, aku merindukannya.”
Maya tersenyum.
“Sekarang kamu tahu.”
“Tahu apa?”
“Kenapa dia dulu sering mencari alasan untuk memanggilmu.”
Alya terdiam.
PUKUL 14.00
Alya sedang berjalan menuju ruang arsip ketika seseorang memanggil.
“Alya.”
Dia menoleh.
Raka.
Dia berjalan mendekat.
“Bisa bicara?”
Alya mengangguk.
Mereka masuk ke ruang meeting kecil.
Raka menutup pintu.
“Ada apa, Pak?”
Raka berdiri di depannya.
“Tidak ada.”
Alya hampir tertawa.
“Lagi?”
Raka tersenyum.
“Ya.”
“Bapak memanggil saya hanya untuk tidak ada?”
“Sepertinya.”
Alya menggeleng.
“Bapak tidak berubah.”
Raka menatapnya.
“Justru saya sedang berubah.”
“Bagaimana?”
Raka menarik napas.
“Saya mencoba tidak mengganggumu.”
Alya diam.
“Dan?”
“Sulit.”
Alya menatapnya.
“Kenapa?”
Raka mendekat satu langkah.
“Karena ketika kamu tidak ada di sekitar saya…”
Dia berhenti.
Alya menunggu.
Raka akhirnya berkata,
“Rasanya ada sesuatu yang hilang.”
Alya menahan napas.
“Pak…”
Raka menatap matanya.
“Jangan jawab.”
“Kenapa?”
“Karena saya belum selesai memahami perasaan saya sendiri.”
Alya mengangguk pelan.
Namun sebelum mereka sempat melanjutkan—
pintu diketuk.
Keduanya langsung menjauh.
Suara Arga terdengar dari luar.
“Raka? Alya?”
Raka menatap Alya.
Kemudian membuka pintu.
Arga berdiri di sana.
“Saya mencari Alya.”
Raka menjawab datar,
“Dia sedang bekerja.”
Arga tersenyum.
“Saya perlu bicara dengannya.”
Raka melihat Alya.
Alya kemudian berkata,
“Saya bisa bicara dengan Pak Arga.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Dia pergi.
Arga masuk.
Namun sebelum pintu tertutup, Raka menoleh sekali lagi.
Tatapannya bertemu dengan Alya.
Dan Alya akhirnya mengerti sesuatu.
Jarak ternyata tidak membuat perasaan mereka hilang.
Justru sebaliknya.
Ketika mereka tidak lagi bertengkar setiap hari…
ketika tidak ada lagi alasan untuk selalu berdekatan…
mereka mulai menyadari betapa mereka saling membutuhkan.
Dan mungkin itulah yang paling berbahaya.
Karena suatu hubungan bisa bertahan dari pertengkaran.
Tetapi ketika seseorang mulai merasa kehilangan saat pertengkaran itu tidak ada—
berarti perasaannya sudah jauh lebih dalam dari yang ingin diakui.