Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
“Tolooong!”
Davira berlari kencang, tanpa tahu arah. Nafasnya tersengal-sengal, dadanya naik-turun cepat seperti hendak pecah.
Ranting-ranting menampar wajahnya, meninggalkan goresan perih di pipinya. Ia menoleh sekilas, tapi bayangan serigala yang berlari masih bergerak cepat di antara kabut dan pepohonan pinus, matanya yang berwarna keemasan menyala seperti bara api.
"Aarrghhh!!"
Bruk!
Sialnya, saat berlari, Davira tersandung akar pohon, ia jatuh tersungkur ke tanah. Lututnya perih, tapi ia tak punya waktu untuk mengeluh. Ia merangkak, lalu berdiri lagi, meski pandangannya mulai kabur karena air mata.
Sebelum sempat bangkit, suara—gedebuk, gedebuk, diikuti raungan, membuat bulu kuduknya berdiri. Lalu bayangan besar melompat dari balik kabut.
Grrrr!
Serigala Perak itu mendarat tepat di atasnya. Nafas hangat bercampur uap dingin keluar dari moncongnya, menyapu wajah Davira. Gigi-gigi tajamnya, terlihat mencekam, jarak mereka begitu dekat hingga Davira bisa mencium aroma tanah dari hembusan napas makhluk itu.
Tubuh Davira menegang. Bibirnya membeku, tak sanggup mengeluarkan suara. Hanya detak jantungnya yang terdengar memekakkan telinga, bergema di antara sunyi dan ancaman.
“Jangan…” bisiknya pelan, matanya menatap penuh permohonan ke mata makhluk itu—bola mata kuning keemasan memantulkan wajah ketakutannya.
Waktu seolah berhenti.
Manusia rapuh di bawah binatang buas raksasa, dalam sekejap bisa mengakhiri segalanya hanya dengan satu gigitan.
Dalam hatinya ia berbisik lirih, pasrah, “Inilah… kematian keduaku.”
Kelopak matanya perlahan terpejam. Ia menunggu gigitan itu datang. Tapi justru—yang terdengar adalah suara lain.
“Vareth nai’lor un tha’rin! Fenrir vel ka’sha!”
Sebuah teriakan. Dalam bahasa yang asing, Kata-kata itu meluncur seperti kilat, menghentikan Fenrir yang hendak menerkam Davira. Gigi serigala itu terkatup, matanya memicing tajam ke arah sumber suara.
Davira membuka matanya perlahan. Ia masih terbaring di salju, sementara Serigala Perak itu kini bergeser mundur beberapa langkah, menggeram rendah namun tak lagi menyerang.
Davira menoleh, matanya menyipit pada sosok asing—perempuan itu memakai mantel bulu, sedang berjongkok bersama serigala lain.
“Fenrir vel ka’sha,” perempuan itu, berbicara lagi pada Fenrir, dengan nada dan ekspresi lebih keras.
Fenrir menundukkan kepala sedikit, lalu melangkah mundur, menghilang di balik kabut dan pepohonan pinus.
Sekujur tubuh Davira gemetar hebat. Ia nyaris tak percaya masih bernapas. Untuk kedua kalinya, ia lolos dari maut—dan jika saja wanita asing itu tidak datang tepat waktu, benar kata Jenderal Oric, dirinya pasti sudah menjadi santapan Fenrir.
“Si… siapa kamu?” bisiknya lirih, masih terbata di antara sisa ketakutan.
Wanita itu tak langsung menjawab. wajahnya tersenyum, lalu mendekat dan meraih kedua tangan Davira.
“Bangunlah,” ucapnya lembut. “Kau belum seharusnya mati hari ini,” ucapnya lembut, dengan aksen yang aneh.
“Kau… bisa berbicara bahasa serigala?” tanya Davira lagi, diliputi rasa heran.
Wanita itu tersenyum samar, seolah menahan tawa. “Namaku Eira,” ujarnya pelan. “Aku seorang tabib… dan teman lama Fenrir.”
"Te-terimakasih sudah menolong ku, Dia… hampir membunuhku,” ucapnya, wajah Davira tampak pucat, nafasnya pun masih belum teratur.
Eira menatapnya lama, lalu berkata, “Dia mengenalmu, Davira,”
Davira mengerutkan kening. “Mengenalku? Tapi... aku bahkan belum pernah melihat makhluk besar dan buas seperti dia seumur hidupku!”
Eira mendekat, lututnya bertekuk di salju, sejajar dengan pandangan Davira.
“Fenrir serigala yang berbeda, dia tidak menyerang manusia tanpa alasan. Ia mencium sesuatu darimu.”
Tiba-tiba tangan Eira menyentuh dada Davira, tepat di atas jantungnya.
“Jiwamu… tidak bersih.”
Davira tersentak, menatap Eira dengan bingung dan takut. “Apa maksudmu?”
“Dalam dirimu, masih ada jejak kehidupan lama,” lanjut Eira perlahan. “Jiwa yang dulu membawa kehancuran di dunia ini. Fenrir mengenal aroma itu. Baginya, itu bau kegelapan—dan instingnya memaksa Fenrir untuk memusnahkannya.”
Davira menggeleng cepat, suaranya bergetar. “A–aku tak paham, apa maksudmu! Aku… aku cuma orang biasa—”
“Tidak ada yang biasa bila roh mereka pernah terikat pada kutukan lama,” potong Eira, tegas. “Dan kau… adalah pecahan jiwa terkutuk yang hampir menjerumuskan dunia ini ke dalam kegelapan abadi."
Glek!
Davira tertegun. Kata-kata itu seakan membekukan darahnya. Ingatannya melayang pada saat jiwanya pernah terperangkap di lorong waktu—di sana ia menyaksikan kehancuran yang terjadi setelah kematiannya sendiri.
"Kalau jiwaku terkutuk… lalu kenapa kau menolongku?”
Eira menatap sekilas ke arah serigala yang berdiri di sisinya, sebelum pandangannya kembali pada Davira. “Aku melihat sesuatu di matamu,” ucapnya pelan. “Sorot penyesalan… dan keinginan untuk memperbaiki apa yang dulu kau hancurkan.”
Begitu mendengar perkataan itu, kepala Davira mendadak berputar. Rasa pusing menyerang tanpa peringatan, membuat pandangannya goyah. Ia tak tahu kapan kesadarannya mulai memudar—dunia di sekelilingnya perlahan kabur, seolah ditelan kabut.
Sebelum matanya benar-benar tertutup, ia sempat melihat bibir Eira bergerak, seperti sedang mengucapkan sesuatu… tapi tak ada suara yang jelas. Hanya gema samar yang semakin menjauh, bersamaan dengan sentuhan dingin yang menjalar di kulitnya seperti ribuan jarum halus.
Lalu semuanya tenggelam dalam gelap.
******
Ketika matanya perlahan terbuka, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan. Bukan panas yang menyengat, tapi hangat yang menenangkan, seperti pelukan api di tengah musim dingin yang membeku.
Tubuhnya terbaring di atas permadani tebal berwarna biru dengan motif tenunan rumit. Udara di sekitarnya dipenuhi aroma kayu bakar dan herbal kering. Tepat di tengah ruangan, sebuah perapian bundar menyala lembut, lidah apinya menari, memantulkan cahaya jingga ke dinding tenda.
Tenda itu luas, atapnya melingkar dengan celah di tengah, tempat cahaya dingin menetes dari langit musim dingin. Tirai dan bantal-bantal besar bersulam simbol-simbol kuno menghiasi sekeliling.
Davira mengerjap pelan. “Ini dimana…?” gumamnya serak, khas bangun tidur.
Suara langkah halus terdengar dari balik tirai. Eira muncul, membawa mangkuk uap hangat di tangannya. Rambut kepangnya masih basah oleh salju yang mencair, dan ekspresinya tenang seperti sebelumnya.
“Kau sudah sadar,” katanya lembut, duduk di sisi tempat Davira berbaring. “Istirahatlah dulu. Kau aman di sini.”
Davira menatap sekeliling, matanya menelusuri setiap simbol di dinding tenda.
“Tempat ini… rumahmu,” gumamnya.
Eira mengangguk. “Tak ada makhluk jahat yang bisa melangkah ke sini tanpa izin.”
Davira menegakkan tubuhnya perlahan, meski kepalanya masih berdenyut. “Kenapa kau menolongku, Eira? Padahal… Fenrir jelas ingin membunuhku.”
Eira meletakkan mangkuk itu di tangan Davira. Isinya semacam ramuan hangat beraroma akar dan madu.
“Karena hidupmu bukan kebetulan,” ucapnya sambil menatap perapian. “Fenrir menyerang karena mencium jiwamu yang kelam. Tapi ia juga menahan diri karena melihat—sesuatu yang belum bangkit darimu.”
Davira menggenggam mangkuk itu kuat-kuat.
“Apa maksudmu?”
Eira menatapnya, kali ini lebih dalam. “Suatu hari nanti, kau akan mengerti rahasia yang tersembunyi di balik kebangkitan Dari kematian.”
Davira terdiam, menatap pantulan api yang menari di permukaan mangkuknya. Tiba-tiba, dari luar terdengar lolongan panjang serigala-serigala. Davira sontak panik dan beranjak berdiri.
Eira sempat menahan, “Jangan keluar!” tapi Davira sudah lebih dulu menarik tirai pintu dan melangkah ke luar.
Sreeekkk!!
Udara dingin menggigit kulitnya saat Davira membuka pintu tenda. Pandangannya terpaku pada pemandangan di luar—deretan tenda melingkar di sekitar api unggun besar, tempat beberapa pria berperawakan gagah berjaga.
Mereka mengenakan mantel bulu tebal, membawa tombak dan busur, sementara di sisi mereka duduk beberapa ekor serigala-serigala.
Davira amat terkejut, “Tempat ini… mustahil…”
Matanya menyapu lambang yang terukir di tiang kayu—simbol bulan bersayap yang hanya ia lihat di satu tempat.
“Ini… tempat suku Avarian,”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...