Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Happy reading ya,
💕💕💕💕💕💕
Ben mendekat ke arah Melodi, memepetnya ke pintu lalu menguncinya dengan kedua tangan yang bertumpu pada pintu.
Sementara Melodi menahan napas saat wajahnya berada tepat di dada bidang milik Ben.
"Panggil aku, abang!"
Melodi mengangkat wajahnya. Dia tersentak ketika dengan terpaksa menatap manik legam milik Ben yang kini sedang menatapnya juga. Jantungnya kembali berdenyut kencang. Bukan karena perasaan ketakutan seperti biasanya melainkan karena perasaan aneh yang dia sendiri tidak mengerti itu apa.
Mata Melodi menjadi tidak fokus antara menatap Ben atau menghindar dari tatapan pemuda itu. Sungguh menyesakkan berada dalam jarak sedekat itu dengan Ben. Telapak tangannya berkeringat, dan dadanya semakin berdebar kencang. Melodi hanya berharap semoga Ben tidak dapat mendengar detak jantungnya yang semakin menggila.
Sementara Ben masih diam, memandang Melodi dengan tersenyum jahil. Entah kenapa dia sangat menyukai wajah panik gadis itu. Dia sudah lupa jika apa yang dia lakukan ini bisa jadi memancing trauma Melodi dan membuatnya histeris kembali.
"Kak Ben, apa maksudmu?" Melodi memberanikan diri bersuara. Rasa takutnya terhadap pria ini sudah meluap entah ke mana.
Ben menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Melodi. "Aku ingin kamu memanggilku abang, seperti yang kamu sebut ke bibi Rodiah tadi. Panggilan itu terdengar lebih akrab." Memperlihatkan seringainya.
Melodi tidak mengerti kenapa Ben meminta itu darinya. Bukankah panggilan Kakak terdengar lebih kekinian daripada Abang. Namun, tidak ada waktu baginya untuk mencari tahu itu sekarang. Yang dia tahu, saat ini jantungnya berdetak semakin kencang. Melodi yakin Ben dapat mendengarnya. Dia merasa sangat malu, ditambah tangannya sudah mengeluarkan keringat.
"Aku ingin mengganti pakaianku." Hanya itu yang terlintas di pikiran Melodi saat ini.
Ben masih menunduk menatap Melodi. Kemudian, menarik kedua tangannya kembali dan memasukkannya ke saku celananya.
"Sepertinya kau sudah tidak takut lagi padaku sekarang," ucap Ben setengah mencibir yang membuat Melodi menyadarinya juga. Dia juga baru menyadari dia tidak histeris setelah apa yang Ben lakukan tadi padanya. Jantungnya memang berdebar, tubuhnya juga gemetar, dan mengeluarkan keringat dingin, tetapi bukan karena perasaan cemas atau takut seperti biasa, melainkan perasaan yang baru pertama kali dia rasakan saat berdekatan dengan seorang pria. Perasaan aneh dan menggebu-gebu.
"Apa kau sudah merasa nyaman denganku?"
Melodi tidak menjawab. Dia hanya mengangkat wajahnya kembali, memandangi wajah pria di hadapannya kini.
Nyaman. Mungkin memang itu yang mewakili perasaannya saat ini. Tatapan lembut dan hangat dari pria itu mampu mengubah stigma negatifnya selama ini mengenai pria-pria di sekitarnya.
"Kenapa kau hanya bengong? Ayo cepat ganti pakaianmu!"
Ben menyadarkan Melodi yang masih terbengong menatapnya.
"Ah iya, duduklah dulu Kak, aku janji gak akan lama." Melodi segera berlari menuju kamarnya sembari memukuli dadanya, mencoba menghilangkan rasa sesaknya.
Sementara Ben masih berdiri di tempatnya, mengedarkan pandangannya keliling ruangan tempatnya berada kini. Terdapat tiga ruangan di rumah Melodi. Satu kamar tidur Melodi yang barusan dimasuki gadis itu. Satunya dia tidak tau ruangan milik siapa dan satunya lagi adalah ruang tamu tempatnya berdiri sekarang. Ruang tamu itu dibuat menjadi satu dengan dapur, terlihat kompor dan berbagai peralatan memasak tersusun rapi di pojok ruangan dekat jendela. Tidak ada perabotan mewah yang Ben lihat di ruangan itu, hanya sebuah sofa panjang yang warnanya sudah memudar. Mungkin karena saking lama usianya. Sebuah meja kayu dan kulkas mini. Televisi berukuran 14 inci yang modelnya dia tidak tahu keluaran tahun berapa, karena seingatnya dia tidak pernah melihat model televisi seperti itu bahkan di gudang rumahnya sekalipun.
Melodi benar, tidak ada siapa pun di rumah itu. Mungkinkah Melodi hanya tinggal berdua dengan ibunya? Padahal, niatnya tadi ingin bertemu salah seorang keluarga Melodi. Dia ingin menanyakan prihal Melodi yang selalu histeris bila di dekati pria, termasuk yang Melodi ucapkan kalau gadis itu sangat mengenal wangi tubuhnya. Memangnya ada apa antara Melodi dan wangi tubuhnya? Seingatnya mereka belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya selain di taman waktu itu. Ben benar-benar dibuat penasaran.
"Ayo Kak, kita berangkat." Melodi sudah berdiri di sebelahnya dan gadis itu cukup mengagetkannya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊