NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 16

Fajar menyingsing anggun di atas Pegunungan Canglan, mengikis sisa-sisa kegelapan yang mengepung Kompleks Asrama Barat. Cahaya matahari pagi menembus celah-celah tebing terjal, membiaskan tirai tipis keemasan di atas lorong batu yang dingin. Di dalam Kamar Nomor Sembilan, Gongsun Zhi sudah berdiri tegak sejak fajar belum sempurna, mempraktikkan olah napas dorongan perut bawah sesuai petunjuk Shen Jue semalam.

Shen Jue membuka matanya perlahan dari meditasi ringan, merapikan jubah linen abu-abunya yang bersih. Saat kedua pemuda itu melangkah keluar dari kamar, Ruan Xi'er sudah menunggu di dekat persimpangan lorong. Gadis itu mengenakan jubah murid baru berwarna biru muda khas Akademi Canglan. Rambut kuncir duanya tertata rapi dan wajah cantiknya berseri-seri penuh semangat.

"Kalian berdua bangun pagi sekali!" sapa Xi'er sambil melambaikan tangannya gembira. "Ayo cepat, kelas teori pertama tentang roh di Aula Cendana sebentar lagi dimulai!"

Shen Jue tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Jalan santai saja, waktunya masih cukup banyak."

"Kelas pertama sangat penting," pungkasi Gongsun Zhi dengan nada suara yang kaku dan serius. "Guru teori biasanya tidak suka murid yang terlambat."

Ketiganya melangkah bersama menyusuri anak tangga batu menuju lantai tengah kompleks akademi, tempat Aula Cendana berdiri megah di bawah naungan pohon-pohon pinus purba.

Aula Cendana adalah sebuah panggung kuliah berundak yang amat luas, mampu menampung hingga lima ratus murid sekaligus. Dinding-dinding kayu cendana tua di sekeliling ruangan menguarkan aroma harum manis yang menenangkan pikiran. Di bagian depan aula, melayang sebuah prasasti batu giok putih berukuran raksasa yang memancarkan pendar cahaya keemasan tipis.

Ratusan murid baru angkatan ini sudah memadati bangku-bangku batu berundak. Seperti biasa, kubu murid kaya dari kota-kota besar yang dipimpin oleh Lu Fan mengambil posisi paling depan di dekat panggung utama. Mereka duduk berkumpul sambil memamerkan bros emas dan aksesoris berharga. Sedangkan murid-murid asal desa terpencil memilih duduk di barisan tengah dan belakang.

Shen Jue, Xi'er, dan Gongsun Zhi mengambil tempat di barisan tengah yang agak sepi. Lu Fan yang duduk di barisan depan sempat menoleh ke belakang. Ia melempar tatapan dingin berkilat dendam ketika melihat keberadaan Shen Jue, namun pemuda berkerudung linen abu-abu itu sama sekali tidak membalas lirikan tersebut, mengabaikannya seolah Lu Fan hanyalah embun pagi yang akan segera menguap.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang teratur menggema di sepanjang selasar kayu aula. Seorang pria paruh baya bertubuh jangkung dengan jubah abu-abu bertabur sulam benang emas melangkah masuk ke depan panggung. Wajahnya tegas dengan kacamata berbingkai perak menengger anggun di pangkal hidungnya. Dialah Guru Mo Shen, pengajar senior yang bertanggung jawab memberikan pemahaman teori dasar kekuatan roh di Akademi Canglan.

Guru Mo meletakkan gulungan kitab kulit di atas meja kayu di depan prasasti giok, lalu mengedarkan pandangannya yang tajam ke seluruh penjuru aula. Keriuhan murid-murid seketika padam total.

"Selamat pagi, para murid baru," ucap Guru Mo dengan suara yang jernih, dalam, dan berwibawa. "Hari ini adalah kelas pertama kalian di Akademi Canglan. Sebelum kalian diajari cara mengayunkan senjata atau memanggil binatang roh di lapangan pertarungan nyata, kalian harus memahami terlebih dahulu fondasi dasar dari kekuatan yang bermukim di dalam jiwa kalian masing-masing."

Guru Mo mengibaskan lengan baju lebarnya dengan gerakan halus. Prasasti batu giok yang melayang di belakangnya mendadak berkedip terang. Tulisan-tulisan aksara emas bermekaran mengapung di udara, membentuk dua diagram besar yang saling bersilangan.

"Di Benua Tianwu, seluruh manifestasi roh yang dibangkitkan oleh manusia dibagi menjadi dua kategori utama," jelas Guru Mo sambil menunjuk diagram aksara di udara. "Pertama adalah Roh Senjata, dan kedua adalah Roh Binatang. Roh Senjata bertumpu pada kepadatan materi, ketajaman, serta efisiensi pancaran energi spiritual. Sementara Roh Binatang bertumpu pada vitalitas fisik, transformasi wujud, serta peningkatan insting bertarung penggunanya secara drastis."

Guru Mo menggeser telapak tangannya pelan, membuat aksara emas di prasasti bergeser membentuk empat tingkatan hierarki dari atas ke bawah.

"Setiap roh yang muncul saat Ritual Panggilan Jiwa diklasifikasikan ke dalam empat tingkatan potensi bawaan," sambung Guru Mo mendalam. "Tingkat Perunggu sebagai potensi dasar, Tingkat Perak untuk potensi menengah, Tingkat Emas untuk potensi unggul, dan Tingkat Mistik untuk potensi langka yang sangat jarang ditemui di benua kita."

Desah kagum dan kasak-kusuk penuh rasa bangga langsung terdengar dari barisan depan. Lu Fan dan beberapa anak klan kaya menepuk dada mereka dengan kepala terangkat tinggi, memamerkan fakta bahwa roh mereka berada di Tingkat Perak dan Emas sejak lahir.

Guru Mo mengetuk meja kayunya pelan dengan telunjuk, memotong kebisingan murid-murid. "Namun, pertanyaannya adalah: Apakah tingkatan potensi bawaan ini menentukan batas mutlak kekuatan seorang petarung selamanya?"

Mendengar pertanyaan mendasar itu, Lu Fan langsung berdiri dan mengacungkan tangannya dengan penuh percaya diri.

"Silakan, Lu Fan," kata Guru Mo memberi izin.

Lu Fan merapikan jubah sutramerahnya, melirik penuh kemenangan ke arah murid-murid desa di belakangnya sebelum bicara. "Tentu saja, Guru!" seru Lu Fan dengan suara lantang. "Roh Tingkat Emas memiliki kepadatan energi dan kemurnian meridian yang jauh melampaui Roh Tingkat Perunggu sejak lahir. Pengguna Roh Perunggu tidak akan pernah bisa menandingi daya hancur Roh Emas, tak peduli seberapa keras mereka berlatih!"

Beberapa anak kota mengangguk setuju dengan ucapan Lu Fan, melempar lirikan meremehkan ke arah barisan tempat Shen Jue duduk.

Namun, Guru Mo tidak memberikan puji-pujian. Ia justru menggelengkan kepalanya pelan sambil mendorong kacamatanya ke atas.

"Jawaban yang sangat dangkal dan picik," kritik Guru Mo datar, membuat senyum di wajah Lu Fan seketika membeku kaku. "Tingkatan potensi bawaan hanyalah ukuran pendar energi awal saat roh itu pertama kali dibangunkan. Itu ibarat ukuran sebuah wadah air. Memiliki wadah seukuran tempayan emas tidak ada gunanya jika pemiliknya tidak paham cara mengalirkan air di dalamnya secara efisien."

Guru Mo kembali mengetuk prasasti giok, memunculkan gambaran rumit alur pembuluh meridian manusia yang bersinar biru.

"Kunci sejati dari kekuatan roh bukanlah pada wujud indah atau warnanya," tegas Guru Mo dengan nada mendalam yang menghujam dada setiap murid. "Tetapi pada Penyelarasan Aliran. Seorang pengguna Roh Senjata tingkat biasa yang mampu mengontrol alur energinya hingga tingkat presisi seratus persen, dapat dengan mudah mematahkan tebasan pengguna Roh Tingkat Emas yang aliran energinya bocor dan ceroboh."

Xi'er menyikut lengan baju Shen Jue pelan sambil berbisik gembira. "Dengar itu? Guru Mo persis mengatakan apa yang kamu bilang pada Lu Fan di pos istirahat kemarin!"

Shen Jue hanya tersenyum tipis tanpa bersuara, matanya tetap menatap tenang ke arah diagram alur meridian di panggung.

Di sampingnya, Gongsun Zhi menyimak setiap penjelasan Guru Mo dengan mata berbinar penuh rasa hormat. Ia teringat bagaimana petunjuk sederhana dari Shen Jue semalam tentang penyelarasan napas dan poros berat tombaknya langsung membuat Tombak Besi Hitam-nya terasa dua kali lebih ringan dan presisi.

"Dunia ini terlalu sibuk menilai kulit luar," batin Shen Jue tenang. "Mereka memberi label Perunggu pada belati berkaratku hanya karena pendar energinya tertutup oleh segel antik maut. Padahal jika segel itu terbuka secara penuh..."

"Di akhir kelas hari ini," pangkasi Guru Mo membuyarkan lamunan para murid, "kalian semua akan diuji secara praktis di lapangan latihan besok pagi. Setiap murid wajib mengayunkan Roh Manifestasinya ke atas Batu Uji Energi untuk mengukur kepadatan riil tebasan kalian. Di sana, kalian akan melihat sendiri siapa yang benar-benar memahami aliran rohnya, dan siapa yang cuma menang di kulit luar."

Lonceng perunggu di luar Aula Cendana berdentang nyaring menandakan kelas teori pertama telah usai. Para murid mulai berdiri dan membubarkan diri dengan semangat yang memuncak menyongsong ujian lapangan esok hari.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!