NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Bisikan dari Dasar Danau

​Malam itu, Wang Dahu meninggalkan Desa Qinghe seorang diri.

​Di punggungnya hanya tergantung selembar kantong kain berisi dua potong roti keras dan air minum seadanya. Tidak ada senjata, tidak ada pil spiritual, apalagi jimat pelindung seperti yang biasa dibawa para kultivator. Hanya sebatang kayu pungutan jalanan yang menemaninya.

​Jika ada orang yang melihatnya sekarang, mereka pasti mengira pemuda buncit itu sedang mencari tempat untuk mengakhiri hidup.

​Namun, Dahu tidak peduli.

​Harga dirinya telah diinjak-injak hari ini. Harapannya dan keberanian yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan dihancurkan begitu saja di hadapan banyak orang. Ia tidak sanggup pulang ke gubuk dan melihat sang ayah memaksakan senyum demi menghiburnya.

​Setidaknya, ia harus menemukan satu jawaban dulu.

​Apakah benar ada hal di dunia ini yang mampu mengubah nasib orang tanpa bakat kultivasi? Atau takdir manusia sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi batu loncatan yang diinjak seumur hidup?

​Dahu terus melangkah menerobos gelapnya hutan.

​Semakin jauh dari desa, udara malam terasa makin menusuk tulang. Pepohonan menjulang tinggi, dibalut kabut tipis yang merayap di antara akar-akar kuno. Bahkan suara jangkrik dan burung malam perlahan mati, menyisakan kesunyian yang mencekam.

​Dua jam perjalanan membawanya ke tempat yang ia tuju.

​Danau Pengabul Keinginan.

​Permukaannya terbentang luas diapit tebing-tebing curam. Airnya begitu jernih hingga menyerupai cermin raksasa, tetapi anehnya sama sekali tidak memantulkan cahaya rembulan.

​Dahu berhenti di bibir tebing danau.

​Cerita-cerita seram masa kecil berkelebat di kepalanya. Konon, siapa pun yang datang dengan keputusasaan pekat akan diberi jalan pintas mengubah nasib. Namun, mereka yang nekat turun ke sana saat malam sering kali tidak pernah kembali.

​Dahu menelan ludahnya yang terasa kelat.

​Kalau pun aku mati di sini... setidaknya aku tidak perlu mendengar tawa hinaan itu lagi.

​Kakinya melangkah maju. Ujung sepatunya menyentuh permukaan air.

​Plush...

​Riak kecil menyebar. Tanpa angin, air itu bergerak dengan sendirinya.

​Dahu mengernyit. Tiba-tiba sebuah suara parau bergema di kepalanya.

​“Manusia...”

​Dahu sontak berbalik. Kosong. Tak ada siapa pun di belakangnya.

​“Siapa itu?!”

​“Di sini.”

​Suara itu datang dari bawah kakinya.

​Dahu menunduk perlahan. Wajahnya kontan memucat saat melihat bayangan pekat menggeliat di dasar air.

​“Siapa kau?!” tanyanya dengan suara bergetar.

​“Pertanyaan bodoh.” Suara tua itu terdengar dingin, meneteskan ejekan yang tajam. “Katakan, manusia lemah. Untuk apa kau datang ke tempat terlarang ini?”

​Dahu mengepalkan kedua tangannya erat-erat.

​“Aku ingin menjadi kuat.”

​“Untuk apa?”

​“Untuk mengubah takdirku.”

​“Balas dendam?”

​Dahu terkesiap. Bayangan wajah Zhao Kui yang menginjak berasnya melintas. Tawa para penduduk desa menyusul. Dan yang paling mengiris hati: wajah dingin Liu Ruyan saat menghancurkan jepit rambut pemberiannya.

​“Ya,” jawab Dahu tegas, matanya menyala dalam gelap. “Aku ingin mereka berhenti menganggapku sampah.”

​Tawa mengerikan meledak dari dasar danau, memicu getaran di permukaan air.

​“Makhluk yang sangat menarik. Tak punya jalur energi, tapi berani menuntut kekuatan di hadapanku?”

​Dada Dahu terasa terbakar. Ia ingin membantah, tapi tenggorokannya kelu. Alih-alih mundur, ia justru mendongak menatap permukaan air.

​“Kalau aku memang tak berguna, kenapa kau repot-repot meladeniku?”

​Tawa itu mendadak terhenti. Sunyi menyergap sesaat.

​Lalu suara tua itu kembali terdengar, kali ini bernada lebih rendah.

​“Menarik... Setidaknya nyalimu tidak sekecil tubuhmu.”

​DARRR!

​Permukaan danau terbelah secara ajaib. Air yang tadinya tenang tersedot naik ke udara, membentuk dinding raksasa berputar. Di tengahnya, sebuah batu hitam kuno bermotif urat darah merah menyala perlahan bangkit dari dasar.

​BZZZRT!

​Tekanan spiritual yang mengerikan menyebar seketika. Dahu langsung ambruk berlutut, napasnya sesak seolah dihantam ribuan ton batu.

​Di puncak batu hitam itu, sepasang mata merah menyala terbuka lebar. Sosok bayangan raksasa melingkar di belakangnya, jauh lebih menakutkan daripada monster mana pun.

​“Aku bisa memberimu kekuatan,” bisik makhluk itu menggelegar.

​Dahu mendongak dengan susah payah. “Benarkah?”

​“Dengan kekuatanku, jalan kultivasi mana pun bisa kau hancurkan. Orang-orang yang merendahkanmu akan merayap di bawah kakimu.”

​Jantung Dahu berdegup liar. Itulah impiannya selama ini.

​Namun akal sehatnya belum sepenuhnya mati. “Apa syaratnya?”

​Makhluk itu terdiam sesaat sebelum menjawab dengan santai, “Tubuhmu.”

​Dahu membeku.

​“Dan jiwamu,” lanjut suara itu dingin. “Biarkan aku merasuki ragamu, maka seluruh kekuatan dunia ini akan berada di dalam genggamanmu.”

​Dahu menatap sepasang mata merah itu tajam. “Kalau kau mengambil tubuh dan jiwaku... bukankah itu artinya aku mati?”

​“Bodoh! Kau tidak perlu memikirkan detailnya. Cukup terima dan tunduk!”

​Dahu menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia putus asa, tapi ia tidak berniat menjadi budak dalam kematian.

​“Bagaimana aku tahu kau tidak menipuku?”

​Tekanan di sekitar danau melonjak drastis.

​“Bocah kurang ajar! Beraninya kau menawar denganku?!”

​Angin kencang nyaris menerbangkan tubuh Dahu. Namun ia memaksa bertahan. “Aku tidak tahu siapa kau dan seberapa hebat kekuatanmu. Tapi kalau kau butuh tubuhku, itu artinya kau masih menginginkan sesuatu dariku.”

​Ia menarik napas dalam-dalam. “Buktikan dulu. Apakah kekuatanmu benar-benar bisa mengangkat derajatku?”

​Makhluk itu menatapnya lekat-lekat dalam keheningan.

​Sesaat kemudian, ia mengangkat satu cakarnya ke udara.

​WUSSS!

​Batu raksasa di tepi danau tersedot dan hancur berkeping-keping menjadi debu tak kasat mata. Tanah di bawahnya ambles membentuk kawah dalam.

​Dahu terbelalak ngeri. Kekuatan semacam itu berada di luar nalar manusia.

​“Ini bahkan bukan sepersejuta dari kekuatan asliku,” ujar makhluk itu pongah. “Masih berani menolak?”

​Dahu menatap kedua telapak tangannya sendiri—tangan yang selama ini hanya dipakai membajak sawah dan menerima pukulan. Lalu ia teringat ayahnya yang tua dan kurus, berkorban demi menyuapinya bubur encer setiap hari.

​Jika ia terus menjadi lemah, ia bahkan takkan bisa melindungi satu-satunya orang yang mencintainya di dunia ini.

​Dahu mengepalkan tangan. “Aku terima.”

​Senyum mengerikan tersungging di balik mata merah itu. “Pilihan yang bijak.”

​Air danau berputar liar membentuk tangga pusaran air yang langsung menembus dasar jurang danau.

​“Turunlah. Ikuti perjanjian kita, dan kau akan mendapatkan kuasamu.”

​Dahu melangkah maju.

​Satu anak tangga. Dua anak tangga. Tiga...

​Air di sekelilingnya terbelah membentuk lorong hampa. Begitu ia menginjak dasar, sebuah altar batu kuno yang dikelilingi rantai besi hitam menyambutnya. Di tengahnya terdapat lingkaran sihir berdenyut merah.

​“Berdirilah di sana,” perintah makhluk itu.

​Dahu menurut.

​Begitu sepatunya menginjak pusat lingkaran, KLANK! Rantai-rantai besi melesat dari lantai dan membelit sekujur tubuhnya erat-erat.

​“Tunggu! Apa yang kau lakukan?!” teriak Dahu panik.

​“Bodoh! Tubuhmu kini resmi menjadi milikku!” tawa makhluk itu menggema.

​Dahu meronta sekuat tenaga. “Kau bilang mau memberiku kekuatan?!”

​“Aku memang akan memberimu kekuatan... setelah ragamu hancur lebur!”

​Kobar energi hitam pekat menyembur keluar dari celah altar, menghujam langsung ke kulit Dahu.

​ARGHHH!

​Rasa sakit yang teramat sangat merobek setiap jengkal pembuluh darahnya. Tulangnya remuk, sementara kesadarannya diserang hawa dingin yang mematikan.

​“Tubuh ini milikku! Setelah ribuan tahun terkunci, akhirnya aku bebas!” raung makhluk itu penuh kemenangan.

​Namun, tepat saat energi hitam itu hendak merangsek masuk menghancurkan inti dada Dahu...

​SRETT!

​Aliran energi itu mendadak terhenti.

​Makhluk kuno itu tertegun. “Apa-apaan ini?”

​Detik berikutnya, fenomena ganjil terjadi. Energi hitam yang tadinya mendesak masuk ke tubuh Dahu, berbalik arah secara drastis.

​Bukan merasuki... melainkan tersedot masuk ke dalam tubuh Dahu!

​Simbol-simbol merah di altar mendadak padam satu per satu. Rantai-rantai kuno bergetar hebat, mengeluarkan bunyi retakan keras.

​Dahu sendiri terpana, tak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya merasakan gelombang panas luar biasa membanjiri tubuhnya, bagaikan lautan magma yang ditelan tanpa batas.

​Makhluk di hadapannya mulai panik.

​“Hentikan! Hentikan sekarang juga!”

​Usahanya memutus ritual terlambat. Energi yang ia kumpulkan selama ribuan tahun tersedot keluar habis-habisan melalui ikatan ritual itu.

​“Makhluk apa kau sebenarnya?!” Suara angkuh itu kini berubah menjadi jeritan ngeri. “Segel kekosongan itu seharusnya menghancurkan wadah apa pun yang menyerap dayaku!”

​Altar bergetar dahsyat. Dahu yang tak sanggup menahan beban energi dahsyat itu kehilangan kesadaran, ambruk di atas altar.

​Sebelum matanya terpejam sepenuhnya, ia mendengar raungan keputusasaan yang mengguncang dasar danau.

​“Tidak! Kau... kau bukan menampungku... tapi kau sedang MELAHAPKU?!”

​Dan seketika, semuanya menjadi sunyi.

​Tubuh Wang Dahu terbaring tenang di tengah altar yang kini gelap gulita. Rantai-rantai pembelenggu telah runtuh menjadi serbuk besi.

​Namun di dalam kegelapan dasar danau, sepasang mata merah masih menyala.

​Kali ini, tatapannya bukan lagi penuh keserakahan, melainkan diliputi kengerian absolut.

​“Siapa... sebenarnya monster di dalam tubuh anak itu...?”

​Tak ada jawaban. Danau kembali membeku dalam keheningan masa lampau.

​Sementara di dalam raga seorang pemuda gemuk yang selama ini dicap sebagai pecundang, sebuah kekuatan kuno tanpa tandingan baru saja terbangun dari tidur panjangnya.

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!