NovelToon NovelToon
Singgah Yang Tertukar

Singgah Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
​Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Waktu berjalan tanpa terasa di balik tirai kamar hotel yang kedap suara. Sejuknya AC dan keheningan kamar mewah JW Marriott melarutkan segala penat dan ketegangan yang menumpuk selama perjalanan udara tadi.

Baik Elena maupun Fattah sama-sama hanyut dalam lelap yang cukup panjang, membiarkan tubuh mereka mengisi ulang energi setelah diterpa badai emosi yang bertubi-tubi.

Hingga perlahan, cahaya matahari yang mulai meredup dan menyorotkan warna jingga keemasan di balik kaca jendela besar menandakan hari telah bergeser.

Suasana sore hari menyelimuti kota Surabaya, membawa serta kesadaran yang perlahan pulih di kepala keduanya saat mereka terbangun dari istirahat singkat tersebut.

Denting pelan dering ponsel di atas nakas memecah keheningan sore di kamar hotel. Elena, yang baru saja mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya temaram yang masuk dari balik kaca, meraba permukaan meja mencari benda pipih tersebut.

Layar ponselnya menyala, menampilkan nama Matthew.

Tanpa keraguan, Elena langsung menggeser tombol hijau. Namun, alih-alih suara sapaan hangat atau rasa lega, sambungan itu langsung diisi oleh suara Matthew yang terburu-buru dan sarat akan informasi penting dari seberang sana.

"El! Kamu di mana? Aku sama Nathan sekarang lagi di Bandung, kami—"

"ohh lalu kenapa?!," potong Elena cepat. Suaranya terdengar sangat datar, dingin, nyaris tanpa emosi sedikit pun, kontras dengan kepanikan atau antusiasme yang mungkin diharapkan Matthew.

Di seberang sana, Matthew sempat tertegun sejenak, kaget mendapati respons yang begitu mati rasa dari wanita itu.

"El, Nathan berniat untuk—"

"Dengar, Matthew," sela Elena lagi, nada bicaranya menukik tajam, dingin membeku. " Satu-satunya hal yang ada di kepalaku sekarang cuma anakku yg sedang terbaring di rumah sakit."

Klik.

Tanpa menunggu balasan atau penjelasan lebih lanjut, Elena langsung memutus sambungan telepon sepihak. Tidak ada sisa amarah; yang tertinggal di dadanya hanyalah kehampaan dan rasa muak yang sudah mencapai puncaknya.

Elena menghembuskan napas panjang lewat hidungnya, lalu bangkit dari tempat tidur dengan gerakan cepat. Ia tidak punya waktu lagi untuk membuang energi pada bayang-bayang masa lalu atau drama pria-pria egois itu.

Dengan sigap, ia membasuh wajahnya di kamar mandi, merapikan pakaiannya, dan menyambar tas selempangnya.

Begitu keluar dari kamar, ia mendapati pintu kamar sebelah tempat Fattah berada juga terbuka hampir bersamaan, seolah insting mereka berdua tahu bahwa waktu untuk menemui Gavin telah tiba.

Pintu kamar terkelupas pelan, dan di saat yang sama Fattah melangkah keluar. Pria itu sudah kembali rapi dengan kemeja yang digulung rapi di bagian lengan, memancarkan wibawa yang tenang meski sisa gundah di matanya belum sepenuhnya padam.

Melihat Elena yang melangkah keluar dengan raut tegang, tatapan Fattah melembut seketika. Senyum tipis yang hangat terbit di bibirnya, memberikan sedikit kesejukan di tengah sesaknya dada Elena.

"Sudah siap?" sapa Fattah dengan suara rendah yang menenangkan.

Sebelum Elena sempat menjawab, Fattah perlahan mengangkat tangannya dan menjulurkannya ke arah Elena sebuah gestur sederhana yang sarat akan rasa aman, memperbolehkan gadis itu menggandeng tangannya agar tidak sendirian menghadapi krisis di depan sana.

Elena menatap telapak tangan Fattah sejenak. Di tengah rasa mati rasa dan keputusasaan terhadap pria-pria di masa lalunya, kehadiran Fattah terasa seperti satu-satunya pegangan yang kokoh.

Tanpa ragu, Elena menyambut uluran tangan itu, menyandarkan sejumput kekuatannya pada genggaman erat Fattah saat mereka mulai melangkah bersama menyusuri koridor hotel menuju perjalanan berikutnya: menghampiri Gavin.

Keheningan melingkupi taksi yang membawa Elena dan Fattah menembus kemacetan sore kota Surabaya. Genggaman tangan Fattah di jemari Elena tak sekalipun terlepas, seolah menyalurkan kekuatan tak bertepi untuk wanita yang kini dadanya bergemuruh hebat oleh kecemasan.

Tak butuh waktu lama, kendaraan yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama rumah sakit. Elena tak membuang waktu.

Langkah kakinya bergegas menyusuri koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam, didampingi Fattah yang sigap menjaga langkah di sisinya.

Begitu pintu ruang rawat inap Gavin terdorong pelan, pemandangan di dalam ruangan itu seketika meremukkan hati Elena. Di atas ranjang rumah sakit yang bernuansa serba putih, sosok balita kecil itu tampak begitu rapuh dengan selang infus yang menempel di tangan mungilnya.

"Gavin..." bisik Elena parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi.

Elena mendekat dengan cepat, merengkuh tubuh mungil putranya itu ke dalam pelukan hangat yang begitu ia rindukan. Seolah-olah memiliki ikatan batin yang tak terputus meski terpisah jarak dan waktu, Gavin yang semula gelisah langsung mengenali aroma tubuh sang ibu.

Tangisan pelannya mereda dalam sekejap. Jemari kecilnya meremas kuat pakaian Elena, menyandarkan kepalanya yang masih terasa hangat di ceruk leher ibunya. Balita itu bernapas makin teratur, nampak begitu nyaman dan aman di dalam buaian Elena.

Di sudut ruangan, Tamara (mami angkat Gavin) yang menyaksikan momen emosional itu perlahan menghembuskan napas lega. Sebuah senyuman hangat terukir di wajahnya yang sempat menyiratkan kelelahan.

"Akhirnya Gavin bisa tenang..." tutur Tamara lembut, suaranya sarat akan rasa syukur. Ia melangkah mendekat, mengusap pelan punggung Elena.

"Dari tadi siang demamnya naik-turun, El. Dia nggak mau tidur, rewel terus sambil nangis memanggil Papa... Barulah pas kamu datang dan peluk dia begini, dia langsung luluh."

1
Aurora odelyn Nakeisha
alurnya agak berat tapi bikin penasaran
Anandaaa
lanjutin torr gas
Langi Wijaya
ceritanya seru agak bikin tensi naik turun.....
ayo tor lanjutin update nya
Langi Wijaya
julian cowo bingung tapi clear agak out of the box pemikirannya😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!