NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekesalan Nadira

"Bang."

Rayzan mengangkat wajah.

"Siapa kamu?"

"Sultan. Adik ipar Abang."

Pria berusia sembilan belas tahun itu mengulurkan tangan, kemudian mencium punggung tangan Rayzan.

"Nggak perlu begitu."

"Menghormati Abang ipar," jawab Sultan sambil tersenyum tipis.

Kemudian ekspresinya berubah serius. "Hati-hati sama Kakak, ya."

Rayzan mengernyitkan kening. "Maksud kamu?"

"Aku tahu pernikahan ini nggak diinginkan. Aku cuma mau bilang ... Kakak punya niat buruk terhadap Abang."

"Ha?"

Rayzan semakin tidak mengerti.

"Gini, Bang ... Kakak sakit hati sama Bang Daulat. Dia mau membalas dendam kepada Bang Daulat melalui Abang."

"Balas dendam?" Rayzan terkekeh kecil. "Masih zaman ternyata."

Sultan hanya terdiam.

Sementara itu, tanpa diketahui yang lainnya, Nadira menggenggam erat ujung gaunnya.

Hari ini dia memang telah menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Namun, dalam pikirannya hanya ada satu nama.

Daulat Mahakarya.

Dan satu tekad.

Membuat Daulat merasakan sakit yang sama.

[] [] []

Ceklek!

Pintu kamar mandi terbuka lebar. Nadira memandangi seorang laki-laki yang tengah termenung di balkon kamar tidur. Bukannya menyapa, Nadira justru langsung naik ke atas ranjang.

Rayzan menoleh ke dalam kamar ketika mendengar suara seseorang. Ia kemudian menghampiri wanita itu untuk mengajaknya berbicara.

"Dira."

"Rayzan, diam! Kamu harus ingat, aku melakukan semua ini karena nggak mau membuat orang tuaku malu."

"Kamu pikir aku—"

"Ya ... Aku memang berpikir kalau kamu dan Daulat sedang mencoba mempermainkan aku."

Rayzan menggelengkan kepala. Ia semakin mendekati Nadira.

"Cukup! Jangan melangkah lagi," larang Nadira. "Kamu harus ingat, di depan semua orang kita adalah suami istri. Tapi ketika sedang berdua, kita adalah musuh."

Rayzan mengerutkan keningnya. "Ha! Aku bahkan nggak pernah berpikir untuk menganggap kamu sebagai musuhku."

"Oh, ya? Bagus sekali drama yang kalian lakukan saat ini."

"Dira, dengar—"

"Diam! Pernikahan kita cuma di atas kertas. Tidak ada malam pertama, tidak ada anak, dan tidak ada cinta."

"Kamu tahu nggak, ucapan kamu itu sama saja dengan menghina keistimewaan ijab kabul."

"Rayzan, Rayzan! Kamu berharap apa dari pernikahan kita ini?" tanya Nadira. "Malam pertama?"

Nadira tersenyum miring ke arah lelaki itu.

"Kamu salah, Rayzan ... Aku tidak ikhlas melihat Daulat bahagia. Dengan begitu, aku akan membalas dendam kepada saudaramu melalui kamu!"

Tatapan Nadira begitu tajam mengarah kepada Rayzan. Laki-laki itu berusaha tetap tenang dalam kondisi seperti ini. Jika mengikuti kata hatinya, malam ini juga dia bisa saja menceraikan istrinya.

"Aku akan memastikan kamu sendiri yang akan memintaku."

Nadira tersenyum miring. Ia kemudian menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.

"Jangan mimpi! Jangan tidur di tempatku. Silakan tidur di bawah ataupun di luar kamar."

Rayzan mengerjapkan mata. Rasanya sakit sekali mendengar setiap kalimat yang dilontarkan oleh gadis itu.

Namun, ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Ia juga bertekad untuk membuktikan kepada Daulat bahwa pernikahan mereka akan berjalan dengan lancar.

[] [] []

Menjelang pagi, Nadira terbangun lebih dulu. Betapa kagetnya dia ketika melihat seorang pria tertidur tepat di sampingnya. Bahkan, tidak ada jarak sama sekali di antara mereka.

"Rayzan!"

Bugh!

Sungguh tega. Nadira menendang pria itu hingga Rayzan terjatuh ke lantai. Rayzan terbangun dari tidurnya akibat ulah Nadira.

"Kurang ajar kamu! Kamu mau macam-macam sama aku?"

"Dira ... Jangan samakan aku dengan Daulat. Aku masih ingat dengan perkataanmu dan janjiku. Aku tidak akan pernah menyentuhmu sampai kamu sendiri yang memintanya."

Rayzan kembali memalingkan wajah ketika sebuah bantal dilemparkan oleh wanita itu ke arahnya.

"Jangan harap kamu akan mendapatkannya. Aku benci kamu, Rayzan. Aku benci keluarga kalian."

Rayzan berlalu pergi begitu saja. Waktu subuh sudah beberapa menit berlalu. Ia harus segera melaksanakan salat seperti biasa.

Sepanjang Rayzan melaksanakan salat, Nadira menangis sesenggukan. Ia masih belum bisa menerima kejadian yang telah membuat hidupnya hancur.

"Lebih baik kamu menangis dalam posisi salat. Mungkin itu akan lebih baik."

"Diam kamu!"

Bugh!

Lagi-lagi Nadira melemparkan bantal kepada pria itu hingga peci yang dikenakan Rayzan terlepas.

"Kamu tahu, Dira ... Walaupun kamu membenci pernikahan kita, kamu tetap akan mendapatkan dosa karena sudah melakukan itu kepadaku."

"Ah ... Aku benci keluarga kalian."

"Aku akan berdoa kepada Allah agar kamu tidak mendapatkan dosa setelah melakukan kekerasan kepadaku."

"Kamu dengar aku ... Sampai aku berhasil menghancurkan keluarga kalian, aku akan meminta cerai darimu."

"Dan akan aku pastikan, kata cerai tidak akan pernah terwujud dalam hidupmu."

[] [] []

Makan pagi sedang berlangsung. Rayzan sama sekali tidak merasa sedang berada di tempat asing karena Merry memberikan perhatian kepadanya dengan menyiapkan makanan.

"Dira ... Kamu jangan kurang ajar sama Rayzan."

"Maksud Mama apa?"

"Kamu pikir Mama nggak tahu kalau tadi pagi kamu bentak-bentak Rayzan? Kamu harus ingat, Rayzan adalah suamimu saat ini."

"Enggak! Kalau aku nggak memikirkan harga diri Mama sama Papa di depan orang-orang, aku nggak akan pernah menerima laki-laki ini."

"Nadira! Dengan kamu bersikap seperti ini, sama saja kamu sedang mempermalukan Papa dan Mama di depan suamimu."

"Dia bukan suamiku!"

"Dira!!!"

"Pa," lirih Merry saat suaminya berdiri. "Duduk."

Nadira mendorong piringnya ke depan. Ia kemudian segera berlalu pergi dan mengurungkan niatnya untuk sarapan.

"Rayzan ... Kami bermasalah dengan Daulat, bukan dengan kamu. Jadi, kalau Dira kurang ajar seperti tadi, kamu bisa ajarkan dia cara menjadi istri yang baik."

"Pa, Ma ... Aku mau ngomong sesuatu."

Keduanya menatap anak laki-laki mereka.

"Sebenarnya kemarin Kak Dira bilang, dia akan membalas dendam kepada Bang Daulat melalui Bang Rayzan."

Merry dan Eros saling memandang. Sikap anak perempuan mereka memang sangat keras kepala. Akan sulit rasanya jika dinasihati dalam keadaan yang sudah berantakan seperti ini.

"Selanjutnya kamu akan ngapain?" tanya Eros.

"Hari ini aku mau pulang ke rumah sebentar."

"Bawa istrimu sekalian. Dendamnya dengan Daulat, jadi dia nggak boleh mengabaikan kamu karena kalian sudah suami istri."

"Nggak apa-apa, Pa ... Aku tahu ini semuanya bukan kemauan kita. Aku juga nggak mau memaksa Dira."

"Kalau Abang nggak keras sama Kakak, kemungkinan besar Kakak akan menginjak-injak harga diri Abang," sambung Sultan.

Rayzan terdiam tanpa berkata apa-apa. Penuturan dari adik iparnya memang ada benarnya. Namun, ia harus bisa meluluhkan hati gadis itu. Barulah setelah itu ia bisa mengajarkan kebaikan kepada Nadira.

"Abang ada kerjaan nggak?" tanya Sultan.

"Ada."

"Oh, ya sudah."

"Kenapa?" tanya Rayzan sambil sekilas memandang Sultan.

"Aku rencana mau ajak Abang futsal."

"Sore boleh, tapi kalau pagi sampai siang Abang nggak bisa."

"Kalau malam?" tanya Sultan. "Jadwal yang aku booking malam hari."

"Lebih bisa lagi," sahut Rayzan.

"Oke ... Berarti nanti malam, ya, Bang. Biar aku kabarkan sama teman-teman."

"Siap."

Mereka kembali melanjutkan makan pagi. Sultan sangat senang dengan kehadiran Rayzan, berbeda dengan Daulat yang selalu memiliki banyak alasan ketika diajak untuk lebih dekat lagi.

Merry dan Eros sangat senang karena Sultan tidak ikut-ikutan membenci laki-laki itu. Bahkan, sebaliknya, mereka berdua terlihat begitu akrab.

"Abang, kan, mau pulang. Aku ikut. Minta tolong nanti singgah di kampus."

"Boleh dong."

"Berarti kamu nggak mau ajak Dira sekalian?"

"Nggak usah, Ma. Nanti yang ada dia malah marah lagi."

"Ya sudah ... Janji sama kami, jangan pernah ada kata cerai dalam pernikahan kalian. Mama nggak mau karena keegoisan Dira, dia menjanda dengan alasan yang nggak masuk akal."

"Mama sama Papa tenang aja ... Jujur, aku juga masih belum percaya dengan semua ini. Tapi aku yakin ini adalah ketentuan Allah. Dia sudah menakdirkan Rayzan dengan Ana."

Pasangan suami istri itu merasa senang. Keputusan mereka menikahkan Nadira dengan Rayzan ternyata bukan keputusan yang buruk. Terlihat dari cara Rayzan berbicara, ia memang sangat berbeda dengan Daulat.

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!