NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Presiden

Istri Kontrak Sang Presiden

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Mafia / Wanita perkasa / Beda Usia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.

Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.

Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.

Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.

Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.

Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.

Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Beban Pemilihan Ulang

Riccardo Colombo - 45 tahun

Begitu aku melangkah masuk ke ruang kerja, suara Guglielmo langsung memenuhi ruangan.

"Pukul delapan, rapat dengan dewan ekonomi. Pukul sembilan lewat tiga puluh, pertemuan dengan para pimpinan partai. Pukul sebelas, wawancara pers. Setelah itu makan siang dengan para pengusaha. Sore hari pemungutan suara untuk satu rancangan undang-undang, dan menjelang malam, rapat strategi kampanye."

Aku berjalan ke meja tanpa menanggapi, sementara dia terus menembakkan jadwalku seperti senapan mesin.

Bertahun-tahun, hidupku hanya berisi itu.

Rapat.

Pidato.

Kesepakatan.

Masalah.

Menjadi presiden tidak pernah berarti bekerja dengan jam yang jelas. Ini tugas yang menelan setiap menit keberadaanku.

Aku melonggarkan dasi, mengambil cangkir kopi yang sudah dingin, lalu menyesapnya.

"Dan sekarang bagian yang sebenarnya ingin kamu katakan, kan?" tanyaku tanpa menoleh.

Guglielmo menghela napas.

"Lawan politikmu unggul tujuh poin."

Aku diam.

"Surveinya keluar dua puluh menit yang lalu."

Kuambil laporan di atas meja dan menelusuri angkanya.

Tujuh poin.

Bukan mustahil dikejar.

Tapi mengkhawatirkan.

"Pengumuman kehamilan anak keduanya menghebohkan media sosial. Citra keluarga sempurna itu sedang menguasai kampanye."

Perlahan kututup map itu.

"Jadi kita kalah dari selembar hasil USG?"

Dia melipat tangan di dada.

"Kamu kalah dari narasi."

Aku mengangkat pandangan padanya.

"Riccardo... kamu presiden yang hebat. Ekonomi kembali tumbuh. Pengangguran turun. Tingkat kepuasan terhadap pemerintah masih tinggi. Tapi pemilu tidak dimenangkan hanya dengan angka."

Aku sudah tahu ke mana pembicaraan ini akan bermuara.

"Tidak."

"Aku belum bicara apa-apa."

"Aku hafal pidato itu."

Dia menarik napas dalam-dalam.

"Kalau kamu mau terpilih lagi... kamu butuh seorang istri."

Aku tertawa pendek.

"Kamu bercanda."

"Aku belum pernah seserius ini."

"Aku empat puluh lima tahun, Guglielmo. Aku tidak akan memilih perempuan seperti memilih menteri."

"Kamu tidak perlu jatuh cinta."

Rahangku mengeras.

"Kamu hanya perlu menikah."

Hening membebani udara di antara kami.

Dia meletakkan satu hasil survei lagi di atas meja.

"Orang-orang menginginkan kestabilan. Mereka ingin percaya bahwa presiden mewakili nilai keluarga tradisional. Lawanmu muncul bersama istri, anak-anak, bahkan anjingnya... sementara kamu datang sendirian ke setiap acara."

Kuusap wajahku.

"Jadi kemampuanku belum cukup."

"Sayangnya... belum."

Aku berjalan ke jendela besar di ruang kerja.

Di bawah sana, alun-alun penuh orang.

Sebagian mendukungku.

Sebagian membenciku.

Itu bagian dari jabatan ini.

Tapi gagasan mengubah kehidupan pribadiku menjadi strategi politik membuat perutku mual.

Aku sudah menduda sepuluh tahun, dan tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun sejak itu.

Sejak saat itu, pernikahanku adalah negara ini.

"Aku tidak akan membohongi siapa pun."

"Aku tidak memintamu begitu."

Aku berbalik menghadapnya.

"Lalu kamu minta apa?"

Dia menahan tatapanku.

"Sebuah kontrak."

Keningku berkerut.

"Pernikahan kontrak. Seorang perempuan yang bijaksana, cerdas, anggun, dan bersedia memerankan Ibu Negara sampai masa jabatan berakhir."

Aku tergelak, tak percaya.

"Kamu sudah gila."

"Mungkin."

Dia maju selangkah.

"Tapi kalau kamu kalah di pemilu ini, semua yang kamu bangun selama empat tahun terakhir bisa dihancurkan oleh pemerintahan berikutnya."

Kata-katanya bergema di dalam diriku.

Aku benci mengakuinya...

Tapi Guglielmo jarang salah.

"Lupakan saja."

"Riccardo..."

"Kubilang tidak."

Dia diam beberapa detik.

Lalu tersenyum dengan cara yang sangat kukenal.

Senyum yang hanya punya satu arti.

Dia sudah punya rencana.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, firasatku aneh: tantangan terbesarku bukan memerintah sebuah negara...

Melainkan membujuk seorang perempuan asing agar bersedia menjadi istriku.

Aku berangkat ke agenda pertamaku hari ini. Guglielmo berjalan di sampingku dalam kesunyian yang nyaris ajaib, dan aku menikmati setiap detik kedamaian langka itu.

Aku lega.

Mungkin, untuk pertama kali dalam beberapa minggu, dia kehabisan ceramah.

Ternyata salah besar.

"Hampir lupa bilang," katanya, memecah keheningan. "Malam ini ada jamuan amal Rumah Sakit Memorial Rossi."

Aku meliriknya sekilas tanpa memperlambat langkah.

"Aku tahu."

"Dan kamu tidak boleh absen. Kita sudah tertinggal di survei, Riccardo. Kita tidak boleh kehilangan dukungan siapa pun. Ingat, keluarga Rossi dan Lombardi-lah yang membuatmu menang di pemilu lalu."

Aku mengangguk singkat.

"Aku akan datang."

Senyum puas muncul di wajahnya.

"Bagus. Dan kalau kamu datang bersama pendamping, lebih baik lagi."

Sebelum aku sempat menjawab, dia menyodorkan tablet ke tanganku.

Di layar, foto-foto perempuan bergulir di depan mataku. Pengusaha, sosialita, aktris, influencer... semuanya berdandan tanpa cela.

"Pilih satu."

Aku mengangkat sebelah alis.

"Kamu serius?"

"Sangat."

Kudorong tablet itu kembali padanya.

"Aku datang sendiri."

Guglielmo memutar bola matanya, seperti sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala.

"Riccardo, kamu harus mulai memikirkan citramu."

Aku terus berjalan tanpa meliriknya.

"Citraku adalah presiden yang bekerja."

"Citramu adalah pria empat puluh lima tahun yang hidup sendirian dan mengurung diri di ruang kerja."

Pura-pura tak dengar.

Dia terus mendesak, menyebut keuntungan, mengutip survei dan strategi kampanye.

Aku mengabaikan setiap katanya.

Kalau dia kira aku akan memilih pendamping dengan membolak-balik katalog perempuan...

Dia benar-benar sudah gila.

Hari berlalu dengan kecepatan gila-gilaan.

Satu rapat bersambung ke rapat berikutnya. Aku menandatangani dekret, mengikuti wawancara, menyelesaikan krisis, menerima para menteri, dan mendengarkan laporan yang seolah tak pernah habis.

Ketika menatap jam di penghujung sore, kepalaku berdenyut.

Aku kelelahan.

Dan sebagai pelengkap, masih ada jamuan amal di Rumah Sakit Memorial Rossi.

Aku masuk ke kamar mandi pribadi di ruang kerja, mandi singkat, lalu mengenakan setelan hitam buatan khusus. Aku merapikan manset kemeja putih dan hampir selesai menyimpul dasi saat Guglielmo masuk tanpa mengetuk.

Dia berdiri di depanku. Dengan kelihaian orang yang sudah bertahun-tahun melakukannya, dia mengurai simpul dasiku dan mengikatnya ulang sampai sempurna.

"Kamu harus lebih banyak tidur," komentarnya, mengamati wajahku. "Ada lingkaran hitam di bawah matamu."

Aku memutar bola mata.

"Jangan berani-berani."

"Jangan apa?"

"Make-up."

Dia menahan tawa.

"Aku bahkan belum bilang apa-apa..."

"Aku kenal kamu. Tanpa make-up, sialan."

Akhirnya Guglielmo tertawa lepas.

"Cuma concealer."

"Tetap saja make-up."

"Tidak akan ada yang sadar."

"Aku sadar."

Dia mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Baiklah, Pak Presiden. Kamu menang."

Aku tersenyum tipis.

"Akhirnya, keputusan cerdas dari kamu hari ini."

"Nikmati suasana hatimu yang bagus ini, karena tidak akan lama."

Kuambil arloji di atas meja dan memakainya di pergelangan tangan.

"Kita terlambat?"

Dia melirik jamnya sendiri.

"Tepat waktu. Pas-pasan."

Kusambar jas dan melangkah ke pintu.

"Kalau begitu ayo berangkat sebelum kamu mengeluarkan ide konyol lainnya."

Guglielmo menyeringai miring.

"Masih sempat membawa pendamping, lho."

Aku melemparkan pandangan tak sabar.

"Jangan mulai."

Dia hanya tertawa sementara kami menyusuri koridor istana menuju pintu keluar resmi.

Beberapa menit kemudian, iring-iringan kepresidenan meninggalkan gedung, menuju Rumah Sakit Memorial Rossi.

Aku hanya berharap malam ini berakhir tanpa kejutan.

Aku sama sekali tidak tahu bahwa hidupku sebentar lagi berubah total...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!