NovelToon NovelToon
Gadis Montok Sang Don

Gadis Montok Sang Don

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Asmara / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Lenardt

Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.

Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.

Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.

Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Laras Pradipta

Selesai sarapan aku naik ke kamar dan mandi. Biarpun malu memakai apa pun di rumah ini, aku terbawa oleh cara mereka memperlakukanku. Sesaat, hanya sesaat, aku lupa apa yang akan terjadi padaku kalau mereka tahu kebenarannya, dan aku membiarkan diriku hanyut, membiarkan diriku merasa punya kesempatan untuk bahagia. Bodoh sekali aku, ya kan?

Selesai mandi aku menghampiri tasku, dan waktu hendak membukanya, kulihat ada amplop di atasnya. Aneh sekali, karena itu bukan milikku.

Kuambil amplop itu dan kulihat di baliknya ada namaku, ditulis dengan huruf besar-besar. Tulisannya jelek, omong-omong, pikirku, tapi itu tidak penting.

Kubuka amplopnya. Di dalamnya ada kartu hitam dan sepucuk surat. Langsung terpikir olehku untuk mengembalikan amplop itu dan tidak menyentuhnya lagi, tapi namaku tertulis di sana, ini untukku, jadi setidaknya aku harus membaca suratnya.

Dari yang sedikit kutahu tentangmu, aku yakin kamu tidak akan menerima apa pun yang dibelikan ibuku, dan aku tidak mau kamu pulang dengan tangan kosong, jadi kutinggalkan kartu kredit ini sebagai hadiah. Belilah apa saja yang kamu mau, kartu ini milikmu, pakai sesukamu.

Waktu kubilang ke Arya, temanku, bahwa aku akan memberimu kartu, dia bilang, "Gimana kalau dia pakai kartu itu buat kabur?" Dan aku berpikir, "Asal dia bahagia karena aku, nggak masalah, karena aku cuma mau dia baik-baik saja." Jadi, lebih dari sebelumnya, pakailah sesukamu. Tapi kalau kamu memilih tinggal, ketahuilah aku ada di sini, menunggumu pulang, siap menjagamu dan jadi suami yang selama ini kamu impikan.

Aku tahu ini bukan sesuatu yang direncanakan, percayalah, buatku pun begitu, tapi kamu masuk ke hidupku dengan cara yang gila, dan waktu aku sadar, aku sudah terpikat padamu.

Nikmati harimu bersama para perempuan gila di keluargaku.

Satria

P.S. Kamu boleh bohong bilang kartu ini ditinggalkan ayahmu, atau bilang saja yang sebenarnya, aku tidak peduli apa yang kamu katakan ke keluargaku. Aku cuma benar-benar ingin kamu tidak menahan diri, beli semua yang kamu suka atau kamu inginkan.

P.S.² Kata sandinya tanggal dan bulan kita bertemu, 2307.

Tubuhku gemetar. Aku ingin mati, ingin menghilang, sekaligus ingin menangis. Aku tak tahu harus berpikir apa atau merasakan apa, terlalu banyak perasaan sekaligus.

Surat ini membuatku bingung. Sebagian diriku menganggapnya pernyataan cinta, astaga, dia bahkan ingat tanggal kami bertemu lebih dari delapan bulan lalu. Tapi sisi diriku yang lain takut, takut percaya, takut hanyut, karena aku tahu apa yang akan terjadi begitu dia tahu aku tak akan sanggup menjalankan peranku dan mengotori seprai di malam pengantin kami.

Aku mulai menangis, dan sementara pikiranku berkecamuk ke sana kemari, aku teringat ciuman yang dia berikan sebelum berangkat. Kecupan singkat itu terasa tidak nyata, seumur hidup aku belum pernah mencium bibir siapa pun, belum pernah merasakan kupu-kupu di perut seperti pagi ini. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Kalau iya, setidaknya aku bisa mati dengan tenang, karena tahu bahwa suatu hari aku pernah merasakan sesuatu untuk seseorang, dan meski aku jelek dan gemuk, dia sanggup menulis surat indah untukku, yang akan kusimpan selamanya.

Aku bersiap cepat-cepat karena tak mau membuat siapa pun menunggu, dan kubawa kartu itu. Mau memakainya? Tidak. Tapi tetap kubawa.

Kulihat Ratna memandangku beberapa detik begitu melihatku di kaki tangga, tapi dia segera menyembunyikannya.

"Kita berangkat sebentar lagi ya? Tunggu mertuaku dulu. Nenek Sari juara kalau soal lama dandan." Aku mengangguk dan duduk di sofa menunggu bersama Ratna.

Beberapa menit berlalu, lalu pintu terbuka dan seorang laki-laki masuk. Dia lebih tua, tapi sangat mirip Satria. Laki-laki tampan, dengan gaya jahat yang sempat membuatku takut.

"Selamat pagi, sayang." Dia mencium Ratna.

"Pagi, Sayang. Laras, ini Darmawan, suamiku dan ayahnya Satria." Ratna memperkenalkan laki-laki itu, yang memang persis seperti dugaanku. Kemiripan keduanya jelas menunjukkan mereka ayah dan anak.

"Senang bertemu Bapak." Aku berdiri dan mengulurkan tangan.

"Senang bertemu, Nona." Dia membalas jabat tanganku. "Tapi maaf kalau terdengar kasar, kamu ini...?" Aku masih memilih kata untuk menjawab, tapi Ratna lebih dulu bicara.

"Ini Laras, tunangan anak kita." Alisnya berkerut dan dia memandang Ratna tak percaya.

"Tunangan? Cerita gila apa ini?" Aku duduk lagi dan menghindari kontak mata. Jelas Pak Darmawan tidak menyetujui pilihan anaknya. Tapi aku mengerti, ayah mana yang mau anaknya menikah dengan gadis gemuk seperti aku? "Aku tunggu Satria pulang buat memahami ini, soalnya aku sama sekali nggak tahu apa-apa. Kamu tahu soal ini?"

"Tadi pagi waktu sarapan dia memperkenalkan Laras ke kami." Mereka bicara seolah aku tidak ada di sana, dan itu membuat suasana jadi sedikit lebih canggung. "Nah, kami mau ke mal, makan siang di luar dan belanja sedikit, ya?"

"Boleh, tapi bawa pengawal. Aku nggak mau kalian jalan sendirian." Ratna mengangguk. "Terus Mama di mana?"

"Mama di sini, makin cantik dan makin jelita tiap hari," kata Nenek Sari yang sudah hampir sampai di kaki tangga, menarik perhatian kami.

"Pagi, Mama." Darmawan memeluknya.

"Pagi, Nak." Nenek Sari membalas pelukannya lalu langsung bergabung dengan kami supaya kami bisa berangkat.

"Hati-hati ya, para gadis." Kudengar Darmawan berkata saat kami keluar rumah dan naik ke mobil bersama dua laki-laki bertubuh tinggi yang berpakaian rapi.

* * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!