NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Euphoria Pagi hari

Udara pagi di markas pangkalan TNI AU terasa begitu sejuk bercampur aroma rumput basah. Di ruang kerjanya yang bernuansa militer kaku didominasi meja kayu tebal, bendera kesatuan, dan deretan berkas laporan patroli. Mahija duduk tegap di balik mejanya. Namun, ada satu hal yang amat ganjil dan terasa asing di ruangan itu sejak beberapa hari terakhir: senyuman di wajah sang perwira.

Sejak kepulangannya mengantar Mahika usai acara HUT TNI AU kemarin lusa, Mahija seakan bertransformasi menjadi sosok yang amat berbeda. Bibirnya tak pernah absen menyunggingkan senyum tipis, matanya berbinar penuh gairah, dan aura kaku yang biasanya mengintimidasi mendadak menguap begitu saja. Bahkan ruang kerjanya yang biasanya bernuansa dingin kini terasa jauh lebih bersahabat.

Di luar ruangan, Jaka dan Hansen tampak berdiri mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Dua prajurit itu merapat, saling sikut dengan raut wajah keheranan yang luar biasa.

"Jak, cermati muka Komandan," bisik Hansen kaku, tidak berani merubah posisi berdirinya yang tegap. "Dari kemarin lusa habis ngantar Mbak Mahika, senyum-senyum sendiri melulu. Tatapan matanya kayak orang habis menang undian alutsista."

Jaka mengangguk-angguk pelan, menahan tawa sampai bahunya bergetar tipis. "Bukan undian alutsista lagi, Sen. Itu mah efek 'miniatur wing' sama buket mawar raksasa kemarin. Tapi jujur ya, gue bersyukur banget. Sudah tiga hari ini pangkalan berasa surga."

Bagaimana tidak berasa surga? Biasanya, jika ada prajurit yang melakukan kesalahan kecil—seperti terlambat lima menit saat apel pagi atau lupa merapikan atribut seragam—Mahija tanpa ampun akan melayangkan hukuman fisik.

Mulai dari push-up lima puluh kali di bawah terik matahari, hingga lari keliling runway.

Namun, selama beberapa hari terakhir ini, keajaiban terjadi. Kemarin pagi, seorang anggota junior tak sengaja menyenggol berkas laporan hingga berserakan di depan Mahija. Bukannya memberikan hukuman pembinaan yang mengerikan, Mahija justru menepuk bahu prajurit itu sambil tersenyum ramah dan berkata,

"Tidak apa-apa, rapikan saja kembali. Manusia tempatnya salah." Prajurit junior itu bahkan sempat mengira komandannya sedang kesurupan ruh halus.

Di balik mejanya, Mahija melirik jam tangan militernya. Masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Hari ini ia tetap harus menyelesaikan berbagai tugas kedinasan di pangkalan, memastikan jadwal penerbangan latihan berjalan lancar, dan mengurus berkas administrasi kesatuan. Namun, pikirannya sudah terbang jauh melayang ke nanti malam.

Nanti malam adalah jadwal kencan resmi pertama mereka!

Mengingat kata 'kencan', senyum Mahija makin mengembang lebar. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, merogoh saku jas seragamnya, lalu mengeluarkan ponselnya.

Begitu layar ponsel menyala, hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa bilah pesan.

Senyumnya kian merekah saat mendapati barisan pesan singkat yang ia pertukarkan dengan Mahika sejak kemarin malam. Pria itu sangat protektif; begitu sampai di barak kemarin malam usai mencium puncak kepala Mahika, ia tak membuang waktu dan langsung menghubungi ponsel gadis itu untuk memastikan wanita pujaannya sudah beristirahat dengan tenang.

Mahija: Pagi, Mahika. Jangan lupa sarapan sebelum berangkat ke kampus. Hari ini saya ada dinas sampai sore di pangkalan. Nanti sore selesai dari kampus, kabari saya ya. Saya yang akan jemput kamu langsung.

Mahika: Pagi, Mahija. Iya, ini baru mau berangkat. Tidak usah repot-repot jemput, saya bisa naik angkutan umum atau ojek.

Mahija: Tidak ada penolakan, Mahika. Penumpang khusus saya tidak boleh naik angkutan umum. Tunggu saya di depan gerbang kampusmu nanti sore.

Mahija terkekeh pelan membaca balasan pesan Mahika yang kaku namun menggemaskan itu. Gadis itu selalu mencoba memposisikan diri agar tidak merepotkan orang lain, tetapi Mahija adalah perwira yang paling gigih untuk urusan "merepotkan diri demi Mahika".

Sementara itu, di sudut kota lain yang berjarak belasan kilometer dari pangkalan udara, suasana tak kalah sibuk tengah membungkus lorong-lorong pelataran gedung universitas.

Mahika berjalan tergesa menyusuri koridor lantai dua gedung fakultasnya, menenteng map tebal berisi lembaran draf skripsi dan modul perkuliahan. Langkah heels krimnya mengetuk lantai marmer dengan ritme cepat. Wajahnya agak sedikit pucat bercampur lelah, khas mahasiswa tingkat akhir yang sedang berpacu dengan tenggat waktu revisi di semester 12.

Sejak pagi tadi, Mahika harus mondar-mandir di antara perpustakaan, ruang dosen pembimbing, dan laboratorium. Beban akademis yang menumpuk di ambang batas masa studi membuat kepalanya rasanya mau pecah. Namun anehnya, di sela-sela rasa lelah yang mendera itu, ada sebuah rasa hangat yang menyelusup halus di hatinya setiap kali ia mengingat pesan singkat di ponselnya tadi pagi.

Mahika mendudukkan diri di bangku kayu di bawah pohon rindang area kampus, menghela napas panjang untuk menetralkan rasa penatnya. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan kotak kado berpita navy yang malam kemarin diberikan oleh Mahija. Di dalam kotak itu, selain pakaian anggun untuk kencan nanti malam, Mahija juga menyelipkan sebuah buku catatan riset yang sangat berguna untuk penyusunan metodologi skripsinya.

"Dasar perwira kepala batu..." gumam Mahika pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tak mampu ia tahan.

Teringat kembali bagaimana hebohnya hari-hari Mahika usai diantar pulang dari acara HUT TNI AU kemarin. Kata-kata puitis Mahija di hangar, usapan lembut di kepalanya, buket mawar putih raksasa yang memenuhi sofa rumahnya, serta ciuman di puncak kepalanya sebelum pria itu pamit pulang... semuanya terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Efek salting brutal yang diciptakan Mahija ternyata bertahan berhari-hari, membuat konsentrasi Mahika saat mengerjakan revisi skripsi sering kali buyar mendadak hanya karena membayangkan wajah tegas sang perwira.

Ponsel di dalam tas Mahika bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nama yang kini selalu sukses membuat jantungnya berdebar kencang.

Mahija: Bagaimana revisinya? Dosenmu tidak menyulitkan kan? Kalau menyulitkan, bilang ke saya. Nanti saya kirim satu regu pasukan buat berjaga di depan ruangannya.

Mahika tertawa kecil membaca pesan ngawur tersebut. Rasa lelahnya seketika sirna berganti rasa geli yang menghangatkan dada.

Mahika: Jangan aneh-aneh ya, Mahija! Ini kawasan akademis, bukan area latihan militer. Revisi saya lancar kok. Tapi sepertinya saya baru selesai agak sorean.

Mahija: Baguslah. Saya sudah jalan keluar dari pangkalan sekarang. Tunggu saya di depan gerbang utama kampus sekitar tiga puluh menit lagi. Jangan kemana-mana.

Mahika merapikan berkas-berkasnya, meremas ponselnya dengan perasaan campur aduk. Rasa gugup, antusias, malu, dan debaran asmara bercampur menjadi satu. Nanti malam adalah kencan berdua pertama mereka tanpa seragam dinas PDU yang kaku, tanpa hiruk-pikuk warga pangkalan, dan tanpa interupsi kocak dari adiknya, Fian.

Kembali ke area pangkalan, atmosfer kaku militer mendadak diwarnai pemandangan lucu di depan area parkir utama. Mahija yang baru saja keluar dari ruang kerjanya sudah berganti pakaian. Pria itu tidak lagi mengenakan seragam PDU birunya, melainkan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, dipadu celana kain hitam yang membuatnya terlihat sangat gagah, maskulin, namun jauh lebih santai.

Saat Mahija hendak melangkah menuju mobil SUV hitamnya, dua sosok berseragam dinas harian tampak mencegatnya di dekat bagasi mobil. Jaka dan Hansen berdiri tegap dengan sikap hormat kaku, namun bibir mereka menahan tawa yang hampir meledak.

"Siap, Komandan! Izin melapor!" seru Jaka dengan suara lantang yang sengaja dibuat kaku.

Mahija menghentikan langkahnya, menaikkan sebelah alisnya keheranan. "Ada apa, Jaka? Ada laporan darurat dari posko penerbangan?"

"Negatif, Komandan!" jawab Hansen tak kalah tegas, matanya melirik penampilan kasual atasannya dari atas sampai bawah. "Laporan darurat dari lini asmara! Kami berdua ingin memastikan bahwa Komandan dalam keadaan siap tempur penuh untuk eksekusi kencan pertama malam ini!"

Mahija terkekeh pelan, menepuk dahi sendiri melihat kelakuan dua anak buahnya yang sangat perhatian tapi berlebihan ini. "Kalian ini ada-ada saja. Mending kembali ke pos piket masing-masing sebelum saya suruh lari keliling lapangan."

"Siap, tidak berani, Komandan!" pangkas Jaka cepat sambil tersenyum lebar. "Tapi jujur, Komandan kelihatan ganteng banget sore ini. Semoga Mba Mahika langsung luluh total malam ini ya, Komandan! Rendang syukuran sudah menunggu!"

"Aamiin. Terima kasih dukungannya, Prajurit," balas Mahija santai sambil melempar senyum kemenangan.

"Saya jalan dulu. Jaga markas baik-baik."

Mahija membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam kabin, lalu menyalakan mesin. SUV hitam itu bergerak mulus meninggalkan gerbang pangkalan udara, membelah arus lalu lintas sore kota yang mulai padat.

Di sepanjang jalan menuju kampus Mahika, Mahija menatap lurus ke depan dengan senyuman yang tak pernah padam.

Hatinya membumbung tinggi, membayangkan raut wajah merona Mahika saat melihatnya berdiri di depan gerbang kampus nanti sore. Bagi Mahija, tugas menavigasi pesawat tempur di udara mungkin penuh risiko, namun menavigasi hati seorang Mahika Avisa Zalana adalah misi paling indah yang pernah ia jalani seumur hidupnya.

Malam kencan mereka baru saja dimulai, dan sang perwira sudah bersiap memberikan seluruh ketulusan hatinya untuk wanita yang paling ia kasihi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!