mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos gila
Tak terasa sudah hari Jumat. Hari yang paling Silla tunggu-tunggu karena besoknya ia libur kerja. Akhirnya, Silla bisa bernapas lega dan merasa tenang karena tidak akan bertemu dengan Sagara besok.
Sagara—CEO sekaligus mantannya yang super rese dan tengil itu—hampir setiap hari sukses menguras emosi Silla yang memang dasarnya moodyan. Namun hari ini, Silla bekerja dengan suasana hati yang sangat cerah, walau tumpukan pekerjaan di mejanya sama sekali tidak santai.
Sebagai gadis yang terkenal bar-bar dan ceplas-ceplos, Silla bahkan sampai berbicara sendiri saking bahagianya membayangkan hari libur besok. "Bebas juga gue besok dari si bos tengil!" gumamnya kegirangan sambil terus mengetik.
∆∆∆∆∆∆∆
Mood silla yang tadinya sangat bagus tiba tiba anjlok,ia bergerak cepat melangkah mendekat ke arah ruangan bos nya ia membuka pintu dengan
Begitu keras dan menutup nya tak kalah keras.
Silla menggebrak meja kerja Sagara tanpa memedulikan tumpukan berkas yang sedikit bergeser karena ulahnya. Napasnya memburu, matanya menatap tajam pria di balik meja yang justru menaikkan sebelah alisnya dengan senyum meremehkan.
"Sagara! Lo sengaja kan? Ini udah kelima kalinya lo nyuruh gue ganti format laporan keuangan dalam dua jam terakhir! Maksud lo apa, hah?!"entah apa mau nya pria rese ini..sehari saja dia tidak mengganggu silla mungkin pria itu akan stres berat dan bosan.
"Format yang sebelumnya kurang estetik, Silla. Saya kan CEO, wajar dong kalau mau semuanya kelihatan sempurna. Kenapa? Kamu capek?"balas sagara santai
"Estetik mata lo peyang! Ini laporan keuangan, bukan feed Instagram! Lo tuh sengaja banget nyari-nyari kesalahan gue karena status kita sekarang, kan? Jangan bawa-bawa masa lalu terus ke kerjaan bisa ga ??Pak Sagara yang terhormat!"
"Masa lalu yang mana? Yang waktu kita rebutan es krim terus kamu nangis, atau waktu kamu janji mau nemenin saya seumur hidup? Lagian, panggilnya jangan formal banget dong kalau cuma berdua. Saya lebih suka kamu panggil 'Sayang' kayak dulu."balas sagara tengil
"Heh, jaga ya mulut lo! Gue bisa aja resign hari ini juga..dan viralin kelakuan lo yang semena-mena sama karyawan!"
Sagara: "Silakan aja kalau mau resign. Tapi inget kontrak kerja kamu. Dendanya lumayan lho, cukup buat jajan kamu 10 taun ke depan mungkin. Kamu sanggup bayar?"
"Lo bener-bener licik, ya! Mood gue udah ancur dari pagi, dan lo malah sengaja mancing-mancing emosi gue. Mau lo apa sih sebenarnya?!"
"Mau saya simple kok. Duduk dulu, minum kopi yang udah saya pesenin itu, terus senyum. Jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang, mantan pacar ku sayang."
"Gak usah sok manis! Kopi lo gak bakal bisa beli kekesalan gue. Buruan kasih tahu revisi yang beneran, atau gue acak-acak ini ruangan!"
"Galak banget sih. Sini deketan, biar saya kasih tahu bagian mana yang harus diperbaiki secara langsung. Sekalian saya mau lihat muka kamu dari deket, kangen soalnya."
"Sagara!! Gue colok ya mata lo pakai pulpen?!"
"Colok aja, asal setelah itu kamu yang jadi mata saya buat selamanya."
"DASAR COWOK SINTINGGGG!!!"
••••••••••••••
Silla menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak emosi yang sedari tadi sudah membakar dadanya. Hari ini benar-benar menjadi hari yang terkutuk baginya. Belum hilang rasa lelah dan dongkol akibat ulah Sagara—CEO sekaligus mantan kekasihnya yang bersikap kekanak-kanakan dan menyebalkan di kantor—kini ia harus dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya tepat di depan pintu kosannya.