**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Rumah untukmu dan Anak-anak Kita
Tubuh Bagas membeku.
Kirana memeluk pinggangnya erat, wajah menekan dada yang masih menyimpan bau sabun, keringat, dan udara malam. Laki-laki itu tidak segera membalas. Kedua lengannya tergantung kaku di sisi tubuh, seolah pelukan adalah keadaan darurat yang tidak pernah diajarkan dalam latihan mana pun.
"Kirana," katanya pelan. "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan sederhana itu memecahkan bendungan terakhir.
"Tidak."
Suara Kirana tenggelam di jaketnya.
"Aku sama sekali tidak baik-baik saja."
Bagas menoleh ke arah teras. Bu Marni masih berdiri dekat pintu. Perempuan itu memastikan Kirana tidak dalam bahaya, lalu mundur ke ruang depan tanpa menutup pintu.
Tangan Bagas akhirnya terangkat. Ia menyentuh bahu Kirana lebih dulu, memberi kesempatan baginya untuk menjauh. Ketika Kirana justru merapat, telapak tangannya turun perlahan ke punggung atas perempuan itu.
"Menangislah kalau perlu," ujarnya.
"Aku tidak mau."
"Kamu sudah menangis."
Kirana mencengkeram kain jaketnya. "Jangan mengoreksi orang yang sedang menangis."
Bagas menutup mulut.
Air mata membasahi bagian depan jaket. Kirana berusaha menarik napas, tetapi setiap tarikan justru membawa keluar keluhan yang selama ini dipendam.
"Aku bangun setiap pagi dan tidak tahu Mama tidur di mana. Aku takut penagih menemukannya. Aku takut dua bayi ini kenapa-kenapa. Aku takut uangku habis sebelum mereka lahir."
Bagas mengusap punggungnya satu kali, canggung dan terlalu hati-hati.
"Uang pemeriksaan tidak akan habis. Aku tanggung."
"Bukan cuma uang."
"Aku tahu. Lanjutkan."
Kirana memejamkan mata. "Orang-orang melihatku seperti aku datang untuk mengambil keuntungan darimu. Mereka tidak tahu aku meninggalkan Mama sendirian supaya bisa mencarimu. Mereka tidak tahu aku muntah di perjalanan. Mereka tidak tahu setiap malam aku terbangun dan memikirkan apakah anak-anak ini akan lahir tanpa rumah yang bisa disebut rumah."
Pelukan Bagas mengencang sedikit.
"Aku tidak mau sendirian," bisik Kirana. "Aku tidak mau anak-anakku tumbuh tanpa ayah hanya karena orang lain menghancurkan hidup kita."
Kata anak-anakku menusuk Bagas. Bukan karena ia menolaknya, melainkan karena sampai malam ini Kirana masih merasa harus menyebut dua bayi itu sebagai miliknya seorang.
"Anak-anak kita," katanya.
Kirana terdiam.
"Mereka anak-anak kita."
"Kamu bisa berubah pikiran."
"Tidak."
"Semua orang bisa berubah pikiran."
"Kalau soal marah kepadamu, mungkin. Kalau soal menjadi ayah mereka, tidak."
Kirana melepaskan pelukan hanya cukup untuk menatap wajahnya. Air mata menempel di bulu mata. "Kamu bahkan belum mengenal mereka."
"Aku sudah mendengar jantung mereka."
Bagas mengucapkannya tanpa senyum. Namun Kirana teringat wajahnya di ruang USG, kaku dan pucat ketika dua detak kecil memenuhi ruangan.
"Mendengar jantung bukan berarti tahu cara menjadi ayah."
"Benar. Aku akan belajar."
Jawaban itu tidak megah. Justru karena sederhana, Kirana tidak bisa menertawakannya.
Bagas mengeluarkan saputangan yang sejak tadi masih berada di tangannya. "Boleh?"
Kirana mengangguk kecil.
Ia mengusap air mata di pipi Kirana dengan gerakan kaku. Sudut kain hampir mengenai matanya.
"Pelan," protes Kirana.
"Aku sudah pelan."
"Kamu membersihkan wajahku seperti membersihkan senjata."
"Senjata tidak banyak bergerak."
Kirana mengeluarkan suara antara tawa dan tangis. Bagas berhenti, khawatir telah mengatakan hal yang salah, tetapi sudut bibir Kirana benar-benar terangkat.
"Bagas."
"Ya?"
"Apa yang sebenarnya bisa kamu janjikan? Jangan bilang semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak mungkin tahu."
Bagas melipat saputangan yang basah, lalu memasukkannya ke saku luar agar tidak menyentuh kantong kecil berisi gelang bayi di saku dalam.
"Aku bisa berjanji hadir saat pemeriksaan, kecuali tugas membuatku benar-benar tidak bisa keluar. Kalau itu terjadi, aku cari orang tepercaya untuk menemanimu dan datang sesudahnya."
Kirana mendengarkan.
"Aku bisa melaporkan keadaan keluarga kita dengan jujur kepada atasan. Aku bisa membayar kebutuhan anak-anak sesuai kemampuanku, bukan cuma saat aku sedang merasa bersalah. Aku juga bisa membantu mencari tempat aman untuk Mama."
"Lalu tempat tinggalku? Wisma tidak bisa selamanya."
"Aku akan mencari rumah sewa kecil. Tidak harus bagus dulu, tetapi aman, dekat klinik, dan punya dapur."
"Dengan uang pinjamanmu?"
Bagas mengerutkan kening. "Kamu tahu?"
"Aku melihat cara kamu menghitung uang di kantin. Orang yang dompetnya penuh tidak menghitung sampai lembar terakhir."
"Aku bisa mengambil pekerjaan tambahan yang diizinkan, mengurangi kiriman yang tidak mendesak, dan mengatur ulang pengeluaran."
"Kamu rutin mengirim uang ke Sumberrejo."
"Kebutuhan anak-anak bukan pengeluaran sisa."
"Kalau keluargamu marah?"
"Aku yang menjelaskan."
Kirana mengusap pipi dengan punggung tangan. "Kamu bicara seolah tidak takut pada apa pun."
"Aku takut."
Ia menatap Bagas, tidak menyangka akan mendengar pengakuan itu.
"Pada apa?"
Bagas memandang halaman yang gelap. "Pada malam ketika aku menerima surat cerai dan berpikir seluruh pernikahan kita hanya cara keluarga kaya menutup malu. Pada hari pengaduan itu sampai ke kesatuan dan semua orang mengira aku mengejar uangmu."
"Kamu juga mengira begitu."
"Ya."
Kejujurannya menusuk, tetapi Kirana tidak memalingkan wajah.
"Saat kamu datang membawa kabar hamil, sebagian diriku mengira kamu kembali karena rumahmu disita," lanjut Bagas. "Aku melihat koper lusuhmu, tapi yang kuingat justru semua perkataanmu sebelum cerai."
"Karena itu kamu membuatku membuktikan anak-anak ini milikmu."
"Aku ingin kepastian. Tapi caraku bertanya membuatmu seolah harus membela kehormatanmu lagi." Bagas menarik napas. "Aku salah."
Kirana menunduk pada sepatu mereka. Jarak di antaranya tinggal beberapa sentimeter.
"Aku juga salah," katanya. "Aku meminta cerai karena marah dan malu. Aku tidak pernah bertanya apakah kamu juga dijebak."
"Kita berdua terlalu sibuk menyalahkan orang yang ada di depan mata."
"Karena orang yang sebenarnya bersalah bersembunyi dengan baik."
Bagas mengangguk.
Kirana masih mengingat pagi di vila itu. Wajah Bagas yang dingin, cahaya kamera dari lorong, dan tubuhnya sendiri yang terasa bukan miliknya. Selama ini ingatan tersebut membuatnya menegang setiap kali laki-laki itu mendekat.
Malam ini Bagas justru menunggu izin sebelum menyentuh bahunya dan sebelum mengusap air matanya. Perbedaan itu kecil, tetapi jelas. Ia tidak sedang mengulang malam yang dirampas dari mereka.
"Terima kasih sudah tidak mendorongku pergi," bisik Kirana.
"Aku hampir tidak tahu harus meletakkan tangan di mana."
"Aku tahu. Kamu kaku sekali."
"Aku belum pernah dilatih menghadapi perempuan menangis."
"Bagus. Berarti aku tidak perlu cemburu pada pengalamanmu."
Kalimat itu keluar begitu saja. Kirana membeku, sedangkan telinga Bagas perlahan memerah.
"Aku tidak bilang aku cemburu," tambahnya cepat.
"Aku juga tidak menuduh."
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali di Magelang, kesunyian di antara mereka tidak dipenuhi permusuhan.
Kirana meneliti wajahnya. Tidak ada keraguan dalam jawaban itu. Namun Ratna pernah berpesan agar ia tidak menyerahkan hidup pada kata-kata seorang lelaki, sehangat apa pun kata-kata tersebut terdengar.
Percayai tindakan. Simpan jalan keluar.
Kirana tidak melupakan nasihat itu. Rumah warisan, uang yang disembunyikan, dan surat lama tetap akan menjadi miliknya sendiri sampai ia benar-benar yakin.
"Dan rujuk?" tanyanya.
Bagas menarik napas. "Aku tidak akan memaksamu."
"Aku datang ke Magelang untuk meminta itu."
"Kamu datang karena terdesak. Aku tidak mau kita mengulang pernikahan yang pertama, dilakukan karena semua orang mendorong, lalu hancur tiga hari kemudian."
"Jadi kamu tidak mau?"
"Aku mau kalau kamu juga memilihnya setelah tidak sedang ketakutan."
Kirana menatapnya lama.
"Bagas, aku sedang hamil. Aku akan tetap takut besok, minggu depan, mungkin sampai melahirkan."
"Kalau begitu pilih saat takutmu tidak membuatmu merasa tidak punya pilihan lain."
Angin menggerakkan daun di atas halaman. Cahaya lampu membentuk bayang-bayang tipis pada wajah Bagas. Untuk pertama kalinya, Kirana melihat bahwa laki-laki itu tidak sedang menunda rujuk untuk menghindari tanggung jawab. Ia ingin mendengar persetujuan yang tidak lahir dari perangkap kedua.
"Aku belum bisa menjawab malam ini," kata Kirana.
"Tidak perlu malam ini."
"Tapi aku ingin kamu tetap datang."
"Aku datang."
"Bukan cuma kalau Bu Marni menelepon pos."
"Aku akan atur waktu."
"Dan jangan memutus sambungan sebelum aku selesai bicara."
Bagas terdiam sejenak. "Baik."
"Kamu selalu berkata baik seperti sedang menerima perintah."
"Karena permintaanmu banyak."
"Aku sedang mengandung dua anakmu. Wajar kalau banyak."
Ada sesuatu yang hangat menyebar di dada Bagas saat Kirana akhirnya menyebut kedua bayi itu sebagai anak mereka. Ia tidak menunjukkan senyum, tetapi telapak tangannya kembali menahan punggung Kirana dengan lebih pasti.
"Aku akan memberi kamu dan anak-anak kita sebuah rumah," katanya. "Mungkin kecil. Mungkin atapnya bocor dan harus kuperbaiki sendiri. Tapi tidak ada orang yang bisa mengusirmu dari sana hanya karena mereka mendengar gosip."
Air mata Kirana jatuh lagi.
"Kamu membuatku menangis lagi."
"Aku kira itu janji yang bagus."
"Memang. Itu masalahnya."
Bagas tidak memahami sepenuhnya, tetapi ia tidak bertanya. Ia membiarkan Kirana menyandarkan dahi di dadanya. Kali ini tubuhnya tidak lagi kaku.
Ia mengira perempuan itu telah memilih untuk kembali kepadanya. Kirana sendiri masih menyimpan tiga bagian kewaspadaan di antara tujuh bagian rasa percaya yang baru tumbuh. Mereka belum benar-benar memahami seluruh isi hati satu sama lain.
Namun malam itu, salah paham kecil tersebut tidak terasa berbahaya. Keduanya hanya membutuhkan tempat untuk berhenti melawan selama beberapa menit.
Kirana teringat kilatan gelang bayi di saku Bagas. Pertanyaan tentang nama Rangga kembali muncul, lalu ia menekannya pelan. Ada terlalu banyak luka yang harus disembuhkan satu per satu.
Bagas menunduk. "Soal fitnah yang memakai namamu itu..."
Kirana mengangkat wajah.
"Biar aku yang urus."