Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Aku Mau Jadi Diriku yang Dulu
Sekarang Anindya hanya perlu membuat Arya memilih tinggal ketika dua bulan berakhir.
Sementara itu, Arya punya pilihan lain yang harus dibuat lebih dulu.
Tiga hari setelah pindah ke Vila Kusuma, ia berdiri di depan cermin ruang olahraga dengan kaus hitam dan celana latihan. Angka di timbangan tidak terlalu buruk, tetapi bayangan di cermin memperlihatkan bahu yang kehilangan tenaga dan mata yang terbiasa kurang tidur.
Di belakangnya, Anindya bersandar pada pintu sambil membawa dua botol air.
"Mas Arya sudah siap?"
"Untuk apa?"
"Olahraga bareng."
"Kamu bangun jam sembilan tadi. Sekarang hampir makan siang."
"Olahraga tidak harus pagi."
Arya mengambil satu botol. "Aku belum mulai latihan berat. Hari ini cuma mengukur kemampuan."
Ia menaiki treadmill, mengatur kecepatan rendah, lalu mulai berjalan. Lima menit kemudian kecepatannya naik. Pada menit kedua belas, napasnya sudah terasa lebih berat daripada yang ia ingat.
Anindya berdiri di samping alat, tidak mengejek. Ia hanya mencatat waktu pada ponsel.
"Kenapa dicatat?"
"Supaya minggu depan kita tahu ada kemajuan."
"Kita?"
"Aku manajernya."
"Aku tidak merekrut manajer."
"Gajiku murah. Cukup ditemani sarapan."
Arya menambah kecepatan satu tingkat.
Keringat mulai muncul di pelipisnya. Paru-parunya terasa panas, tetapi sensasi itu justru membangunkan sesuatu. Dulu, sebelum menikah, ia rutin berlari lima kilometer. Ia bermain biliar bersama Bayu dan menghabiskan malam akhir pekan menamatkan gim tanpa merasa bersalah.
Setelah menikah, setiap jam yang dipakai untuk dirinya dianggap waktu yang dicuri dari Karina.
Ia menekan tombol berhenti setelah dua puluh menit.
"Besok pagi aku lari di luar," katanya.
Anindya memberikan handuk. "Aku ikut."
"Kamu kuat bangun?"
"Kalau perlu, aku tidur pakai sepatu lari."
Arya tertawa kecil. "Jangan."
Setelah mandi, ia masuk ke ruang gim. Plastik pelindung kursi sudah dilepas. Semua perangkat siap digunakan.
Arya duduk, menyalakan konsol, lalu membuka akun lama. Nama pengguna yang sudah tiga tahun tidak aktif muncul di layar. Daftar temannya dipenuhi penanda terakhir masuk ratusan hari lalu.
Ia menggenggam stik.
Jari-jarinya sempat kaku pada ronde pertama. Ronde kedua lebih baik. Pada ronde ketiga, gerak refleks lama mulai kembali. Ketika layar menampilkan kemenangan, Arya bersandar dan baru menyadari dirinya tersenyum.
Anindya masuk membawa potongan buah. "Menang?"
"Baru satu kali."
"Tetap menang."
Ia menaruh piring di samping keyboard, lalu duduk di sofa belakang. Tidak menyuruh Arya berhenti. Tidak mengeluh karena suara permainan. Tidak bertanya kapan ia akan mencari kerja.
"Kamu nggak bosan?" tanya Arya.
"Melihat Mas Arya senang tidak membosankan."
Arya kehilangan fokus dan karakternya langsung dikalahkan.
Anindya menutup mulut agar tidak tertawa terlalu keras.
"Itu salahmu."
"Aku cuma duduk."
"Kamu bicara."
"Baik. Aku diam."
Ia benar-benar diam selama tiga puluh detik, lalu menyodorkan sepotong apel ke dekat mulut Arya.
Arya menatap apel itu, kemudian Anindya.
"Katanya diam."
"Aku tidak bicara."
Arya mengambil apel dengan tangan. Anindya terlihat kecewa, tetapi tidak memaksa.
Kemenangan di layar berikutnya terasa kecil. Yang lebih penting adalah Arya berhasil duduk di sana selama satu jam tanpa mendengar suara di kepalanya yang menuduhnya tidak berguna.
Sore harinya ia menulis rencana di tablet yang disediakan di meja kerja.
Bangun pukul enam.
Lari tiga kilometer, lalu bertambah bertahap.
Menghubungi Bayu.
Memeriksa lowongan dan menyusun ulang portofolio.
Membantu Anindya memenuhi urusan wasiat tanpa menjadi beban.
Mencari alasan untuk bangga pada namanya sendiri.
Anindya membaca daftar itu dari balik bahunya. "Aku suka yang terakhir."
"Kamu mengintip."
"Aku istrimu."
"Kalimat itu bukan izin untuk membaca semua hal."
"Baik." Anindya mundur satu langkah. "Aku minta izin. Boleh aku mendukung semua yang ada di daftar?"
Arya memandangnya, lalu mengangguk. "Boleh."
Ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
Arya menerima panggilan karena mengira itu dari galeri mobil. Suara Karina langsung meledak dari seberang.
"Mas, kenapa nomorku diblokir?"
Wajah Arya menjadi datar. "Dari mana kamu dapat nomor ini?"
"Ini nomor Sherly. Kamu pulang kapan? Uang muka sudah kupakai untuk melunasi beberapa tagihan dan pesan perjalanan. Kalau urusan Anindya selesai lebih cepat, kita bisa rujuk sebelum dua bulan."
"Aku tidak akan pulang."
"Jangan mulai lagi. Kamu cuma marah karena aku mengejekmu di telepon. Ya sudah, aku minta maaf. Puas?"
"Tidak."
"Apa lagi yang kamu mau?"
Arya memandang daftar di tablet. Semua hal sederhana yang pernah ia tinggalkan kini tersusun jelas di depan mata.
"Aku mau hidup sebagai diriku sendiri."
Karina tertawa mengejek. "Dirimu sendiri? Mas, tanpa aku kamu siapa? Pengangguran yang tinggal di rumah perempuan kaya?"
Anindya berdiri beberapa langkah di belakang Arya. Tatapannya mendingin, tetapi Arya mengangkat telapak tangan, meminta ia tidak mengambil alih.
"Kamu menelepon untuk menyuruhku rujuk, lalu merendahkanku dalam napas yang sama," kata Arya. "Terima kasih. Kamu baru saja mengingatkan kenapa jawabanku tidak akan berubah."
"Mas! Aku serius. Berhenti sok keras. Kamu sengaja bikin aku marah, ya?"
"Benar."
Karina terdiam.
Arya menutup tablet, lalu berkata dengan suara setenang mungkin, "Aku memang sengaja membuatmu marah. Kalau kamu mati kesal pun, itu bukan urusanku. Jangan pakai nomor orang lain untuk menelepon lagi."
Ia memutus sambungan dan memblokir nomor tersebut.
Anindya berjalan mendekat. "Kamu baik-baik saja?"
"Lebih baik daripada lima menit lalu."
"Kenapa?"
Arya menunjukkan daftar di layar. "Karena sekarang aku tahu rencana ini bukan sekadar tulisan. Aku benar-benar tidak mau kembali menjadi orang yang lama."
Di sebuah apartemen beberapa kilometer dari sana, Karina melempar ponsel milik Sherly ke sofa.
"Kurang ajar! Dia bilang kalau gue mati kesal pun bukan urusannya!"
Sherly Anggraini mengambil kembali ponselnya dan memeriksa layar. "Lo jangan banting HP gue. Mahal."
"Lo dengar cara dia bicara? Dulu dia nggak pernah berani meninggikan suara ke gue."
"Dia juga tadi nggak meninggikan suara." Sherly menyilangkan kaki. "Itu justru masalahnya."
Karina berhenti berjalan mondar-mandir. "Maksud lo?"
"Orang yang masih sayang biasanya marah panjang. Arya singkat, lalu blokir. Kayaknya dia benar-benar nggak mau rujuk."
"Mustahil." Karina memeluk lengannya sendiri. "Dia sudah tiga tahun hidup buat gue. Dia nggak punya siapa-siapa selain gue."
Sherly memandang foto Rolls-Royce yang tadi ditemukan Karina dari unggahan seorang staf galeri. "Sekarang dia tinggal sama Anindya, punya mobil baru, dan kelihatannya mulai berani. Lo yakin dia masih merasa nggak punya siapa-siapa?"
Karina meraih bantal sofa dan melemparkannya ke lantai.
Di Vila Kusuma, Arya sudah mengganti pakaian dan berdiri di depan gerbang dengan sepatu lari.
Matahari sore memanjang di aspal. Anindya berdiri di sampingnya, juga mengenakan sepatu olahraga meski terlihat belum siap berlari.
"Mulai besok pagi," katanya, "aku akan kembali menjadi Arya yang dulu."
Anindya menggeleng.
"Bukan yang dulu."
Arya menoleh.
Perempuan itu tersenyum sambil menyalakan pencatat waktu.
"Jadilah Arya yang lebih kuat."