Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.
Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.
Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.
Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.
Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.
Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.
Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Unggahan Itu
Riccardo
Guglielmo masih memasang senyum puas di wajahnya.
"Kita punya agenda, Pak Presiden."
Kulemparkan tatapan sinis padanya.
"Apa rencanamu, orang tua keparat?"
Dia hanya merapikan dasinya, tanpa kehilangan gaya.
"Tidak ada. Hari ini kita tidak menanggapi pers."
Aku mengangkat sebelah alis, curiga.
"Lalu apa rencananya?"
"Kamu akan melakukan hal yang paling kamu kuasai."
Aku meringis.
"Dan itu?"
Guglielmo memutar bola matanya.
"Bekerja, Pak Presiden."
Aku mengembuskan napas lelah dan mengambil map di atas meja.
"Aku turun sebentar lagi." Kuserahkan map itu padanya.
"Ini salahmu. Dan terima kasih Tuhan, fotografer terkutuk itu menyelamatkan pemilihan ulangmu."
Kulemparkan tatapan mematikan.
"Satu kata lagi dan kupecat kamu."
Dia tersenyum, sama sekali tak terganggu.
"Kamu bilang begitu tiap minggu dan aku masih di sini."
Sialnya, dia benar.
Aku mandi cepat dan langsung menuju ruang kerja.
Begitu melewati koridor-koridor istana, aku merasakan ada yang berubah. Tatapan orang-orang tertuju padaku hanya sedetik sebelum dibuang ke arah lain. Percakapan terputus tepat saat aku lewat. Meski begitu, bisik-bisik tetap terdengar di belakangku.
Sial.
Berita itu menyebar lebih cepat dari dugaanku.
Kuhela napas dan terus berjalan sampai menemukan Guglielmo sedang bicara dengan dua staf. Dia melihatku dari jauh, dan seperti biasa, memamerkan senyum puas sialan itu.
Aku bahkan tak menunggunya bicara.
"Atur konferensi pers. Hari ini juga. Aku akan membantah kebohongan ini sekali dan untuk selamanya."
Dia hanya mengangkat mata dari tablet dan terus membolak-balik beberapa dokumen, pura-pura tak mendengar.
"Guglielmo."
Tak ada jawaban.
"Aku bicara padamu."
Dia menutup map pelan-pelan dan tersenyum.
"Anda terlambat untuk rapat pertama hari ini."
Kugertakkan gigi.
"Aku menyuruhmu mengatur konferensi pers."
"Dan aku bilang, Anda terlambat."
Sesaat aku sungguh-sungguh mempertimbangkan untuk memecatnya.
Sayangnya, dia terlalu kompeten.
Aku masuk ke ruang rapat dengan masih kesal.
Sisa hari lenyap dalam rentetan jadwal tanpa henti. Satu rapat politik selesai, diganti rapat berikutnya. Lalu konferensi video, penandatanganan dekret, analisis laporan ekonomi, pertemuan dengan para menteri, dan diskusi proyek yang harus disahkan.
Bahkan makan siang pun tak luput.
Hidangan disajikan di ruang kerja, dan aku terus menandatangani dokumen.
Ketika sadar, sarapan tadi pagi terasa seperti kejadian ribuan tahun lalu.
Menjelang sore, kepalaku berdenyut kelelahan.
Dasi sudah mulai mencekik, punggungku nyeri, dan tumpukan kertas di mejaku seperti bertambah dengan sendirinya.
Lalu ponselku mulai bergetar.
Aku bahkan tak perlu melihat.
Guglielmo mengambil ponsel itu sebelum aku dan memandang layarnya.
Senyum samar merekah di bibirnya.
"Matteo Lombardi..."
Dia menggeleng.
"Sudah seratus kali."
Kuulurkan tangan.
"Berikan itu."
Segera kujawab.
"Tuan Lombardi."
Di seberang telepon, suaranya sama tegasnya seperti pertama kali kami bicara.
Tanpa basa-basi.
Tanpa bertele-tele.
"Kapan Pak Presiden berencana membantah kabar yang melibatkan putri saya?"
Kupejamkan mata sesaat.
Pertanyaan itu sudah kuduga.
"Saya akan membuat pernyataan sebentar lagi."
Hening beberapa detik.
Lalu dia menjawab:
"Baguslah."
Kukira percakapan selesai.
Ternyata tidak.
"Dan satu hal lagi, Pak Presiden."
"Silakan."
"Saya lebih suka Anda tidak mengirim bunga lagi kepada putri saya."
Keningku langsung berkerut.
Bunga?
Sebelum sempat menyusun jawaban, sambungan terputus.
Kutatap ponsel di tanganku perlahan.
Lalu kutolehkan kepala ke arah Guglielmo.
Dia masih di sana, sangat fokus... berusaha tampak tak bersalah.
"Guglielmo..."
Dia mengangkat mata.
"Ya?"
"Kamu mengirim bunga untuk Bella... atas namaku?"
Sesaat dia hanya tersenyum.
Lalu melipat tangan seperti orang yang sangat puas dengan dirinya sendiri.
"Aku akui, aku punya kelemahan pada kisah romansa, Riccardo."
Kupejamkan mata dan menghitung dalam hati sampai sepuluh.
"Otakmu sudah hilang, ya, sialan?"
"Tenang."
Dia mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Bunganya sukses."
Dia membuka layar, lalu memutarnya ke arahku.
"Lihat sendiri."
Aku melirik sekilas.
Itu sebuah unggahan dari Bella.
Dia memegang buket besar mawar merah.
Cukup untuk membakar internet.
Senyum Guglielmo makin lebar.
"Ibu Negara menyukainya."
Perlahan kuangkat mata.
"Dia bukan Ibu Negara."
"Belum."
Darahku naik.
"Kamu jangan pernah lagi mengirim apa pun kepada Bella atas namaku. Dengar?"
Dia memasukkan ponsel ke saku tanpa sedikit pun penyesalan.
"Sudah terlambat."
Keningku berkerut.
"Maksudmu?"
"Karena sekarang separuh negeri percaya presidennya seorang romantis yang tak tertolong... dan separuh lagi sudah memilih-milih nama anak kalian."
Kutumpukan kedua tangan di meja dan tertawa tanpa humor sedikit pun.
"Suatu hari, Guglielmo... aku pasti memecatmu."
Dia merapikan dasi, benar-benar santai.
"Setelah kita menang pemilu, baru pecat aku, Riccardo."
Aku diam.
Dia melangkah dua langkah ke pintu dan menyeringai miring.
"Tapi sebelum itu... ada krisis yang harus kita tangani, Pak Presiden. Ada pernikahan yang harus diurus..."