Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Salah Saya?
Ani menoleh ke belakang. Di belakangnya berdiri seorang pria menggunakan seragam polisi. Wajahnya mirip dengan orang yang meneleponnya tadi pagi. Ani membaca nama yang menempel pada seragam. Nama polisi itu adalah Edwin.
‘Wajah dan namanya sama dengan orang yang tadi menelepon. Apa dia orang yang tadi menelepon?’ Ani bertanya di dalam hati.
“Ibu minggir. Jangan menghalangi jalan perawat yang sedang bertugas!” Edwin menunjuk tembok yang berada di sebelah pintu masuk IGD.
“Saya mencari suami saya yang beberapa jam yang lalu mengalami kecelakaan. Polisi yang menghubungi saya, menyuruh saya datang ke rumah sakit ini,” kata Ani.Ia tidak mau beranjak dari tempat itu sebelum mengetahui orang yang berada di dalam ambulan suaminya atau bukan.
“Siapa nama suami Ibu?” tanya Edwin.
“Nama suami saya Ahmad Fardan,” jawab Ani.
“Jadi Ibu yang bernama Ibu Ani Almira?” tanya Edwin.
“Iya, Pak,” jawab Ani.
“Ibu tunggu dulu di ruang tunggu IGD. Nanti Ibu dipanggil oleh dokter.” Edwin menunjuk ke ruang tunggu IGD.
“Saya mau lihat suami saya sekarang, Pak,” kata Ani. Ia ingin tahu keadaan suaminya. Separah apa luka suaminya?
“Nanti Ibu bisa melihat suami Ibu setelah ditangani oleh dokter. Sekarang Ibu tunggu di ruang tunggu!” ujar Edwin dengan tegas.
Akhirnya Ani mengikuti apa yang dikatakan Edwin. Percuma ia memaksa untuk bertemu suaminya, polisi dan pihak rumah sakit pasti tidak mengijinkan Ani untuk melihat keadaan suaminya. Ani pun meninggalkan tempat itu. Ia menuju ke ruang tunggu.
Namun, ia sempat menoleh ke belakang sebentar. Ia melihat para perawat mengeluarkan korban kecelakaan dari dalam mobil. ‘Apakah itu Mas Fardan?’ Ani bertanya di dalam hati.
“Bu, jangan di sini. Ibu tunggu saja di ruang tunggu!” Polisi lain turut mengusir Ani dari pintu masuk IGD. Ani pun meninggalkan tempat itu menuju ke ruang tunggu.
Ani duduk di ruang tunggu. Ia melihat di sekelilingnya, banyak orang yang sedang menunggu pasien yang berada di ruang IGD. Ani menghela napas panjang, ia memutuskan untuk menelepon mertuanya untuk menceritakan apa yang terjadi pada Fardan.
Ani mengeluarkan telepon seluler dari dalam tas. Ia pun menelepon mertuanya. “Assalamualaikum, Ma,” ucap Ani ketika mertuanya menjawab telefonnya.
“Wa’alaikumsalam.” Terdengar jawaban Nita di telepon. Ani pun menceritakan apa yang terjadi pada Fardan kepada Nita. “Astaghfirullahaladzim.” Nita kaget mendengar cerita Ani.
“Sekarang bagaimana dengan keadaan Fardan?” tanya Nita.
“Ani belum tahu. Polisi menyuruh Ani menunggu di ruang tunggu,” jawab Ani.
Ketika Ani sedang berbicara dengan Nita, seorang suster keluar dari ruang IGD. “Keluarga Ahmad Fardan.” Suster memanggil Ani.
Ani mendengar panggilan suster. “Ma, sudah dulu. Suster manggil Ani. Assalamualaikum.” Ani mengakhiri percakapan.
Ani bangun dari tempat duduk lalu mendekati suster. “Suster, saya keluarga Ahmad Fardan,” kata Ani.
Suster itu menoleh ke Ani. “Ibu siapanya Pak Fardan?” tanya suster.
“Saya istrinya, Sus,” jawab Ani.
“Kalau begitu sekarang Ibu ke loket pendaftaran pasien IGD. Ibu daftar dulu di sana. Berikan lampiran ini ke loket pendaftaran. Nanti kalau sudah mendaftar, Ibu berikan bukti pendaftaran ke saya.” Suster memberikan secarik kertas kepada Ani.
“Baik, Sus.” Ani membawa lampiran yang diberikan oleh suster. Ia berjalan menuju ke loket pendaftaran pasien IGD. Ia menyerahkan lampiran dan kartu asuransi kesehatan milik suaminya kepada petugas yang berada di loket pendaftaran.
Setelah selesai mendaftar Ani meninggalkan loket pendaftaran. Ketika ia hendak ke ruang IGD ia bertemu dengan dua orang polisi. Salah satu di antara mereka menoleh ke Ani dan menatap Ani dengan tajam dengan wajah yang seram. Seolah-olah polisi itu sedang marah kepada Ani. Ani ketakutan ditatap seperti itu. Ani sempat melihat nama yang menempel di seragan polisi tersebut. Nama polisi itu adalah Ardi.
Ketika mereka berpas-pasan, polisi yang bernama Ardi terus saja memandanginya dengan wajah sangar. Seolah-olah Ardi akan menyerangnya. Polisi yang berada di sebelah Ardi melihat apa yang dilakukan oleh Ardi. Ia langsung menepuk bahu Ardi.
“Bang, tenang Bang. Jangan emosi!” kata polisi itu dengan suara pelan. Ani sempat mendengar perkataan polisi itu. Ia bingung mengapa polisi itu mengatakan demikian kepada Ardi? Ia tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga Ardi begitu marah kepadanya?
Kedua polisi itu menuju ke loket pendaftaran, Ani sempat menoleh ke belakang. Ia berjalan sambil memperhatikan Ardi dari belakang. Tiba-tiba Ardi menoleh ke arah Ani. Tanpa sengaja Ardi melihat Ani yang sedang memperhatikannya.
Ani terkejut, ia langsung menghadap ke depan. ‘Aduh, bagaimana ini? Ketahuan deh, kalau aku sedang memperhatikan dia,’ kata Ani di dalam hati.
‘Malu-maluin aja.’ Ani pun berjalan cepat menuju ruang IGD. Sesampai di depan IGD, ialangsung masuk ke ruang IGD. Ia menghampiri suster yang tadi memberikan lampiran.
“Sus, ini bukti pendaftaran pasien bernama Ahmad Fardan.” Ani memberikan lampiran bukti pendaftaran kepada suster.
“Ibu tunggu di luar. Nanti di panggil lagi!” ujar suster.
“Baik, Sus.” Ani pun meninggalkan ruang IGD.
Ketika Ani hendak keluar dari ruang IGD, tanpa sengaja ia kembali bertemu dengan Ardi. Namun, kali ini Ardi bersikap acuh ketika bertemu dengan Ani. Ani bingung melihat perubahan sikap Ardi.
Ani tidak langsung keluar dari ruang IGD tetapi ia memperhatikan Ardi dari belakang. Ardi masuk ke ruang IGD khusus untuk perempuan. Setelah Ardi tidak terlihat, Ani pun keluar dari ruang IGD.