Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Rumah
...بسم الله الرحمن الرحيم...
***
Magelang, 2022
Tepat seminggu setelah Mahija dan Fian bertemu seorang wanita di pantai yang bernama Mahika Avisa Zalana.
Mobilnya kini terparkir rapih dihalaman rumahnya, Fian yang sudah bersiap langsung turun dari dalam mobil. Berlari memasuki rumah tanpa mengkhawatirkan Mahija yang kerepotan membawa tasnya.
"Fii!! " panggil Mahija dari luar rumah.
Seorang pria paruh baya datang menghampiri Mahija yang sedang mengangkut tas dari dalam bagasi mobil, Mahendra Satria Al-Ghifari. Ayah dari Mahija dan Fian.
"Sudah sampai ternyata.. " sapa ayahnya pada Mahija yang tengah sibuk mengambil tas.
"Eh-Ayah, Assalamu'alaikum ayah" sapa Mahija yang langsung mencium punggung tangan sang ayah.
"Sudah lama kalian tidak pulang Bi.. "
"Iya ayah.. "
"Bagaimana kabar kalian? " tanya sang ayah.
"Alhamdulillah ayah baik, bagaimana dengan ayah? Apakah checkup rutin di RS bhayangkara nya selalu baik? "
"Ayah baik saja, alhamdulillah. "
"Alhamdulillah ayah.. "
"Masuklah dahulu, nanti kita bercerita. "
"Abaaang.. " sapa sang umma, Almira Wirdania yang langsung memeluk putra sulungnya ini.
Ruang tamu sudah terhidang berbagai cemilan diatas meja, susu dan teh hangat tersaji untuk Mahija dan Fian. Kedua putra kesayangan akhirnya pulang juga setelah sekian lama.
"Bagaimana? Sehat kan?? "
"Alhamdulillah ummaa" ujar Mahija.
"Taruh dulu tasnya ke kamar, umma mau ambil kue dulu di belakang "
Fian sudah duduk manis menegak segelas susu, menikmati cemilan yang di minta oleh Fian sejak sehari sebelum mereka pulang ke rumah.
"Woaaaaah ummaa gak pernah gagal deh, malaikat umma cantik sangat pandai memasak, ini makanan paling mantap sedunia, sejagat raya, se alam semesta umma cantikk " puji Fian bertubi-tubi.
Mahija juga mengangguk secara tidak langsung menyetujui perkataan dari Fian, memang seenak itu makanan yang di buat oleh ummanya. Hingga membuatnya selalu rindu akan masakan sang ibunda.
"Iya ma, enak banget" sahut Mahija yang duduk bersebelahan dengan Fian.
Almira wirdania hanya tersenyum melihat kedua putranya menikmati makanan yang sudah dibuatnya, lisannya merekah bak bulan sabit.
"BUBUN punya ayah mana?? " tanya Mahendra Satria Al-Ghifari, yang tak lain dan tak bukan ayah dari Abri Fian Al-Ghifari dan Mahija Biantara Al-Ghifari.
Mahija dan Fian saling beradu pandang, mendengar apa yang di ucapkan oleh sang ayah barusan.
"Bubun??? " ucap Fian yang diikuti oleh Mahija yang terkekeh kecil mendengar Fian mengulangi ucapan dari sang ayah.
"Astagfirullah mas.. Malu sama anak-anak loh, ada anak-anak gak malu apa?? " jawab umma sembari menyajikan teh di atas meja.
"Biarin, Almira wirdania hanya milik Mahendra Satria Al-Ghifari seorang" Tegas sang ayah.
"Ya Allah, tabahkan lah hamba dalam menghadapi cobaan perbucinan ini. Tunjukkan lah hidayah pada jodoh hamba, yang seperti malaikat yang saat ini sedang rebahan di kamarnya, beri dia petunjuk bahwa calon suaminya saat ini sedang di goda dunia kebucinan yang hqq. " ucap Fian dramatis seraya menengadahkan kedua tangannya seperti sedang berdoa.
Mahija hanya tertawa geli melihat tingkah laku adiknya ini, ada saja ucapan nyeleneh yang secara tidak sengaja keluar dari lisan sang adik.
"MAA-MMAA-UMMAAA" cicit Fian yang langsung lari ke arah sang umma, duduk bersebelahan dengan ummanya sembari memegang erat lengan sang umma.
"Kenapa dek..??"
"Masa ma, 5 hari lalu, bang Bian ngelempar Fian pake sendal cuma perkara cemilan di minta, benjol nih bundd " adu Fian pada ummanya seketika langsung diberi tatapan tajam dari Mahija yang duduk di sebrang sofa.
"Abaaang.. " Lirih ummanya yang langsung di anggukan oleh Mahija.
"Maaf gak sengaja, soalnya ada serangga kemarin jadi meleset ke Fian umma" Mengalihkan pembicaraan dari fakta sebenarnya.
"BOHONG UMMA!! " bantah Fian langsung.
"Sudah-sudah minta maaf kalian berdua, sama-sama salah.. Abang adek seharusnya saling menjaga bukan saling menyakiti"
"Maaf ummaa.. " Serempak Mahija dan Fian
"Kalian ini, tidak di asrama, tidak di rumah selalu saja ada perdebatan diantara kalian. Gak bosan apa debat mulu?? " tanya sang ayah yang melihat tingkah kedua putra nya itu.
"Maaf ayah.. " Mahija dan Fian kembali meminta maaf.
"Tapi ayahh... Kalau tidak berdebat dalam sehari saja, dengan bang Bian rasanya seperti ada yang mengganjal. Salah satu tugas dan kewajiban Fian adalah berdebat dengan bang Bian, karna berdebat dengan bang Bian akan memunculkan emosi bang Bian yang menggelora dan membuat bang Bian emosi adalah salah satu kebahagiaan Fian ayah " ucap Fian bak anggota parlemen yang sedang berpidato mencalonkan dirinya.
Ayahnya takjub atas jawaban dari Fian, hanya bisa menggeleng kan kepalanya pada putra bungsunya ini. Mahija hanya pasrah saja, tidak ingin meladeni sang adik. Ia akan membalasnya nanti ketika di asrama.
"Masyallah, sama persis seperti ayahnya " ucap umma Almira sembari tertawa kecil melihat tingkah Fian.
Fian bercerita tentang apa saja yang terjadi selama ia bertugas menjadi pilot pesawat tempur Indonesia, Fian baru saja di beri amanah 3 bulan yang lalu ditempatkan di batalyon yang sama dengan sang abang.
Bukan main dia sangat senang mendengar ia akan ditugaskan di batalyon yang sama dengan abang kandung nya, pasalnya ia sudah lama tidak bertemu dengan abangnya itu.
Mahija hanya diam dan mendengar kan dengan seksama saat Fian bercerita tentang markas tempat nya bertugas, hanya dengan cara sederhana inilah ia dapat membahagiakan orang tuanya.
Mahija kini sudah berada di kamarnya, beristirahat di atas ranjang tidur lamanya. Melihat ke arah dinding kamar yang penuh dengan foto-foto semasa menjadi taruna akademi angkatan udara dahulu, tentu saja komunikasi antar letting sesama taruna masih terjalin hingga kini.
Drrrt drrrrt
Sebuah notifikasi pesan dari grup alumni akademi.
Lett. 20. Singgit
Yo, yng saat ini sdng berada di Magelang
Kmpul nongkrong breng almni akmil 20 juga sini
Di angkringan legendaris dpan akmil.
Lett. 20. Wardan
Sipp lurr.. Sgera mnuju CP.
Lett. 20. Tubagus
Oke sgra meluncur ke posisi.
^^^Oke sgera mnuju TKP^^^
Mahija segera berganti pakaian bersiap menuju perkumpulan alumni akademi, Ia mencari dimana wanita satu-satunya yang paling cantik dirumah ini. Ia mengecek ke kamar, hanya ada sang ayah yang masih melaksanakan sholat dzuhur. Apakah umma ada di dapur..
"Alhamdulillah.. Umma.. Abang mau pergi sebentar ke perkumpulan alumni akademi, boleh tidak umma sayang?? " tanya Mahija meminta izin.
"Iya boleh, tapi makan malamnya dirumah. Sisakan ruang di perutmu untuk masakan umma " Jelas ummanya yang langsung di anggukan oleh Mahija.
"Oke kalau begitu abang pamit ya ma, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
***
"Duduk bro" sambut lettingnya yang melihat Mahija yang baru saja tiba.
"Terimakasih"
"Jadi siapa nih yang akan maju dengan rekanitanya? Sudah lama tidak ada undangan yang mampir lagi setelah lettu. Zaki kemarin" tanya seorang letting.
"Sabar sebentar lah, mencari pasangan bukan seperti mencari rekanita, ini masalah hidup dan mati. Seumur hidup kita akan bersama dia terus " Jelas Wardan pada seluruh letting yang hadir.
"Halaaah mulutmu suh, bilang saja koe itu jomblo sekarang. Tidak perlu alasan lain" sahut Letting yang lain sambil bercanda.
"HAHAHAHAHA" tawa para letting pecah seketika setelah mendengar ucapan dari temannya.
Wardan hanya tersenyum malu pada seluruh Letting, karna apa yang diucapkan memang lah sesuai fakta yang ada di lapangan.
"Bagaimana lettu. Mahija? Sudah ada rekanitanya ? Atau masih kosong seperti dulu semasa akademi? Penatarama Gita Dirgantara Akademi Angkatan Udara Yogyakarta sampai rela berendam di kolam lumpur karna tidak membawa rekanita disaat acara malam akbar." tanya Lettu. Zaki.
"Siap belum ada lagi ini, masih belum yakin apakah pantas atau tidak "
"Ooh sudah ada target terkunci ternyata" Seru Wardan dan Tubagus bersamaan.
Suasana semakin riuh dengan canda tawa, bernostalgia semasa menjadi taruna, saling ejek ketika mengingat momen lucu dan sesekali melirik taruna akmil yang berlalu lalang di depan pintu masuk.
Wajah-wajah para perwira muda yang gagah nan berani, mengabdikan dirinya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mereka menikmati siang hari ini dengan damai dan penuh dengan kerinduan semasa pendidikan dahulu, bahkan mereka juga rindu pada pelatih dan saling tanya kabar pelatih sekarang bagaimana dan sedang bertugas dimana.
______________