NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Tiket Kereta dan Bayangan Masa Lalu ​

​Dua lembar tiket kelas ekonomi dengan ujung yang sudah lecek tergenggam erat di jemariku. Asap knalpot dan aroma minyak tanah di terminal antar kota Malam itu beradu dengan udara dingin yang menusuk.

​Di sampingku, Rayan duduk membisu di atas ransel besarnya yang berat. Sejak pemakaman Ibu dua hari lalu, hampir tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengekor, persis seperti yang dilakukannya belasan tahun lalu saat Ayah melangkah pergi meninggalkan rumah kami.

​"Rayan, minum dulu," kataku seraya menyodorkan botol air mineral.

Ia menggeleng tanpa menatapku. Matanya kosong, menatap lalu lalang calon penumpang yang sibuk dengan urusan masing-masing.

​"Kamu harus makan, Rayan. Perjalanan kita masih delapan jam," tekan ku lagi, mencoba menahan nada suaraku agar tidak terdengar membentak. Ada rasa lelah yang amat sangat menumpuk di dadaku. Lelah fisik karena mengurus administrasi dan proses pemakaman. tapi yang lebih menyiksa adalah lelah batin.

​Anak kecil di dalam diriku seolah kembali berbisik: Lihat, Reno, kamu tidak akan pernah bisa istirahat. Kamu selalu harus jadi yang kuat.

​Aku menarik napas panjang, menelan kembali kekesalan itu. Aku tahu Rayan sedang hancur. Tapi aku juga hancur. Bedanya, aku tidak punya kuasa untuk menunjukkan kehancuran itu di depan siapapun.

​"Mas...," suara Rayan akhirnya terdengar, pelan dan parau di tengah bisingnya klakson kereta.

​"Kenapa?"

​"Kenapa Ibu harus pergi pas kita belum punya apa-apa?"

​Pertanyaan itu menghantam dadaku tepat di bagian yang paling memar. Aku tidak punya jawabannya. Dulu, saat Ayah pergi, aku mempertanyakan hal yang sama kepada Tuhan: Kenapa kami harus ditinggalkan pas kami masih butuh dilindungi? Sekarang, pertanyaan itu kembali berulang lewat mulut adikku sendiri.

​"Ibu udah enggak sakit lagi, Rayan," jawabku datar, kalimat klise yang sebenarnya bahkan tidak bisa menghibur diriku sendiri. "Yang penting sekarang kita jalanin apa yang ada di depan. Di Jakarta nanti, kamu fokus sekolah. Mas yang cari uang."

"Tapi Rayan mau kerja aja, Mas. Rayan mau bantu—"

​"Enggak," potongku cepat dan tegas. Mataku menatapnya tajam. "Kamu harus tamat SMA. Jangan sampai kamu kayak Mas yang harus putus kuliah cuma demi bayar kebutuhan rumah."

​Rayan menunduk dalam-dalam. Rahangnya mengeras, ada penolakan yang tertahan di sana, tapi ia memilih diam.

​Klakson kereta jurusan Jakarta meraung panjang, menandakan armada siap diberangkatkan. Aku berdiri, memanggul tas pakaian kami yang beratnya tak seberapa dibanding beban yang membayang di kepala.

Aku mengulurkan tangan ke arah Rayan. Ia menatap tanganku sejenak, lalu perlahan menggenggamnya. Tangannya dingin. Di detik itu, aku sadar bahwa perantauan ini bukan sekadar tentang bertahan hidup di kota orang, melainkan tentang dua jiwa yang sama-sama terluka, mencoba saling menyembuhkan di tengah tempat yang tak kenal belas kasihan.

Deru mesin kereta menemani kesunyian kami di sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Rayan tertidur lelap di pangkuan ku, memeluk erat tas ransel kesayangan nya seolah takut kehilangan satu-satunya barang peninggalan Ibu. Aku menatap keluar jendela, membiarkan bayangan masa lalu kembali membayang jelas di kaca berembun. Kehidupan baru telah di mulai. Meski tanpa kepastian, aku berjanji akan selalu menjadi pelindung yang tak pernah patah bagi adikku.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!