Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Rasa Bersalah
"Astaga!" pekik Syafiya yang begitu kaget.
Dia langsung bangun dan terduduk tegak di atas ranjang, memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden.
Dia melihat ke arah sekelilingnya dengan napas terengah-engah.
Dinding bercat krem, meja rias kayu dengan cermin oval, dan gantung gaun di sudut ruangan.
"Eh... sudah di kamarku, ya?" gumam Syafiya lega, mengelus dadanya yang terasa sesak.
Namun, sedetik kemudian ingatan tentang kejadian tadi malam mendadak berputar kembali di otaknya bagaikan kaset rusak.
Bisikan dingin Zeffan, dekapan erat yang mengunci geraknya, dan ancaman berbahaya pria itu di kegelapan malam terasa begitu nyata.
Bagaimana bisa ia terbangun di kamarnya sendiri? Apakah Kak Zeffan yang memindahkannya saat ia akhirnya tertidur karena kelelahan menangis? Atau semua itu cuma mimpi buruk? Tapi sentuhan hangat dan aroma sandalwood itu terasa terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur.
Syafiya menggelengkan kepalanya kuat-kuat agar tidak lagi memikirkan itu.
"Nggak, nggak boleh mikirin itu lagi. Itu pasti cuma mimpi... Ya, pasti cuma mimpi buruk," bisiknya berusaha menenangkan diri sendiri, meski hatinya gelisah luar biasa.
"Aku harus mandi, nanti Mommy akan mencariku," gumam Syafiya sambil melangkah cepat bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian, Syafiya sudah tampil rapi dengan pakaian kerjanya untuk pergi ke butik.
Ia berjalan menuruni anak tangga dengan langkah perlahan, memegangi pegangan tangga kayu jati itu erat-erat. Jantungnya berdebar kencang setiap kali melangkahkan kaki.
Saat mendekati area ruang makan, suara riuh khas pagi hari keluarga Arkananta terdengar.
"Syafiya? Sudah bangun, Sayang?" sapa Mommy Marlina hangat ketika melihat Syafiya berjalan mendekat. Mommy
sedang menata piring-piring berisi sarapan di atas meja.
"E-eh, iya, Mommy. Pagi, Mom..." balas Syafiya dengan senyum kaku, berusaha menutupi gurat kelelahan dan wajah pucatnya.
"Pagi, Syafiya. Sini duduk, sarapan dulu sebelum kita berangkat ke butik," panggil Mommy ramah sambil menunjuk kursi kosong.
"Iya, Mom, terima kasih," jawab Syafiya singkat.
Ia baru saja hendak menarik kursi ketika sebuah suara langkah kaki mantap terdengar dari arah tangga. Syafiya mendadak membeku di tempatnya.
"Pagi, Mom," sapa sebuah suara berat yang begitu familiar.
Zeffan berjalan santai menuju meja makan. Pria itu tampak sangat segar dengan kemeja kerja yang sudah terpasang rapi, rambutnya tersisir rapi ke belakang, dan wajahnya tampak begitu tenang—seolah tak terjadi apa-apa tadi malam.
"Pagi, Zeffan. Bukannya istrimu baru pulang nanti siang?" tanya Mommy Marlina heran saat melihat Valerie berjalan di belakang Zeffan sambil menggendong Elvano yang berusia satu tahun.
"Nggak jadi, Mom. Mas Zeffan semalam jemput Valerie sama Elvano jam empat subuh karena Elvano rewel kangen papanya," sahut Valerie lembut sambil tersenyum manis pada suaminya, lalu mendudukkan Elvano di kursi bayi.
Mata Syafiya terbelalak.
Jadi Kak Zeffan jemput Kak Valerie jam empat subuh?! Setelah kejadian semalam?!
Zeffan tidak membalas ucapan istrinya. Tatapan matanya yang tajam dan pekat justru mengarah lurus pada Syafiya yang berdiri mematung di dekat kursi.
"Kenapa berdiri aja, Syafiya? Nggak duduk?" tanya Zeffan dengan nada suara tenang, namun ada penekanan terselubung di balik kalimatnya.
Syafiya tersentak, dengan cepat mengalihkan pandangannya ke bawah.
"I-iya, Kak. Ini mau duduk."
"Kamu kenapa, Syafiya? Wajahmu agak pucat. Kurang tidur ya gara-gara bantu Mommy lembur di butik semalam?" tanya Valerie perhatian.
"A-ah, enggak kok, Kak Valerie. Cuma... cuma agak mengantuk sedikit," jawab Syafiya gugup, jemarinya meremas pinggiran roknya di bawah meja.
"Kalau capek, nanti di butik istirahat dulu aja, Syafiya. Jangan dipaksakan," tambah Mommy Marlina penuh kasih sayang. "Oya, Zeffan, nanti kamu bisa mampir ke butik sebentar jam makan siang? Ada berkas dokumen kiriman Daddy yang ketinggalan di sana."
Zeffan mengambil cangkir kopinya, menatap Syafiya yang makin menundukkan kepala.
"Bisa, Mom," jawab Zeffan datar, bibirnya mengukir tipis senyuman misterius. "Lagipula... ada hal penting yang memang harus saya selesaikan di butik nanti siang."
Berikut draf adegan lanjutan untuk menyambung kecurigaan dan keheranan Syafiya, dengan porsi dialog yang lebih dominan:
Setelah beberapa menit kemudian, semuanya sudah selesai sarapan. Piring-piring kotor mulai dirapikan, dan mereka siap berangkat ke tujuan masing-masing.
Tetapi satu hal yang membuat Syafiya heran.
Saat berjalan menuju area parkir depan rumah, ia melihat Mommy Marlina masuk ke dalam mobil bersama Valerie dan Elvano. Sementara itu, Zeffan sudah berdiri di samping mobil sedan mewahnya sambil membukakan pintu penumpang depan.
"Ini kenapa aku berangkatnya sama Kak Zeffan sih? Kak Valerie malah berangkat sama Mommy," gumam Syafiya dalam hati, matanya berkedip panik.
"Syafiya, tunggu apa lagi? Ayo masuk," tegur Zeffan, suaranya terdengar datar namun menuntut.
Syafiya mundur satu langkah, tangannya meremas tali tasnya erat-erat. "K-Kak, kenapa nggak aku ikut mobil Mommy aja? Biar Kak Valerie yang sama Kak Zeffan."
Mommy Marlina yang baru menyalakan mesin mobilnya membuka kaca jendela dan menoleh ke arah mereka. "Syafiya, kamu bareng Zeffan aja ya, Sayang! Mobil Mommy mau mampir dulu ke rumah teman Mommy buat titip dokumen sekalian antarkan Valerie sama Elvano belanja."
"Tapi, Mom—"
"Sudah, jangan banyak alasan. Nanti kita terlambat," potong Zeffan cepat. Pria itu menatap Syafiya dengan kilat mata yang tak menerima penolakan.
"Syafiya, bareng Mas Zeffan aja. Sekalian minta tolong temani dia ke kantor sebentar sebelum drop kamu di butik," tambah Valerie ramah sambil tersenyum dari dalam mobil Mommy.
Syafiya makin memucat. Ia menatap Mommy dan Valerie bergantian, merasa terjebak tanpa jalan keluar.
"I-iya, Kak Valerie..." sahut Syafiya akhirnya dengan suara sangat pelan.
Setelah mobil Mommy berlalu meninggalkan halaman rumah, suasana di sekitar garasi mendadak menjadi begitu hening dan mencekam. Zeffan masih memegangi gagang pintu mobil yang terbuka.
"Masih mau berdiri di situ sampai sore?" tanya Zeffan, alisnya terangkat sebelah.
Syafiya berjalan pelan menghampiri mobil itu, matanya terus menunduk menatap lantai. "Kak Zeffan sengaja, ya?"
"Sengaja apa?" tanya Zeffan santai.
"Sengaja atur jalan ini biar aku cuma berdua sama Kakak!" tuduh Syafiya berbisik tajam, takut ada pelayan rumah yang mendengar.
Zeffan terkekeh pelan, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Syafiya hingga gadis itu menghentikan langkahnya secara refleks.
"Kalau iya, kenapa?" bisik Zeffan tepat di samping telinga Syafiya. "Kamu pikir kamu bisa lari begitu saja setelah kejadian semalam, Syafiya?"
"Kak Zeffan, tolong bersikap profesional! Kakak itu punya istri!" tegas Syafiya, dadanya naik turun menahan emosi dan ketakutan.
"Masuk," perintah Zeffan pendek, mengabaikan perkataan gadis itu. "Atau aku seret kamu masuk dan kita tunda keberangkatan ke butik?"
Syafiya menggepalkan tangannya kuat-kuat. Dengan hati yang diliputi rasa bersalah dan ketakutan, ia akhirnya terpaksa melangkah masuk ke dalam mobil Zeffan.
anak siapa hayooo
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰