NovelToon NovelToon
Sistem Permintaan Tak Terbatas

Sistem Permintaan Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.

Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.

Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.

Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Ruang tamu keluarga Wijaya dipenuhi porselen mahal dan lukisan-lukisan yang lebih mahal lagi. Alex duduk kaku di sofa, mengenakan kemeja terbaik yang dia punya, sementara di seberangnya, keluarga calon istrinya duduk dengan wajah yang tidak bisa dia baca.

"Kami sudah membicarakan ini baik-baik," kata Pak Wijaya, ayah dari Sarah, tunangan Alex sejak lima tahun lalu. Suaranya tenang, tapi tangannya terus meremas ujung jasnya sendiri. "Pertunangan ini... akan kami akhiri."

Alex tidak langsung menjawab. Dia menatap Sarah, yang duduk di samping ayahnya dengan mata menunduk, tidak berani menatap balik.

"Ini janji Ayah saya dengan Ayah Anda," Alex akhirnya berkata, suaranya masih terkendali meskipun tangannya mulai mengepal di atas paha. "Ayah saya menyelamatkan perusahaan keluarga ini bertahun-tahun lalu. Bapak sendiri yang bilang, janji itu tidak boleh dilanggar."

Pak Wijaya menghela napas panjang, seperti seseorang yang sudah menyiapkan jawaban ini sejak lama. "Aku tahu, Alex. Dan aku tidak akan pernah melupakan jasa ayahmu. Tapi keadaanmu sekarang... berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Kamu bukan lagi pewaris keluarga Hartono." Pak Wijaya mengucapkannya pelan-pelan, seolah setiap kata itu menyakitinya sendiri. "Semua orang tahu, sejak ayahmu meninggal, harta keluarga sudah jatuh ke tangan adikmu."

Alex diam.

Dia tahu itu. Dia sudah tahu itu sejak hari pemakaman ayahnya, ketika surat wasiat dibacakan di depan seluruh keluarga besar, dan nama yang muncul sebagai penerima seluruh perusahaan bukanlah namanya sendiri, melainkan nama Daniel—adik tirinya, anak dari hubungan gelap ayahnya yang baru terungkap setelah kematiannya.

Daniel yang lebih muda tiga tahun darinya. Daniel yang lulus dengan predikat terbaik dari universitas luar negeri. Daniel yang, meski lahir dari aib yang seharusnya memalukan keluarga, ternyata jauh lebih dihormati dibanding Alex yang sah secara garis keturunan.

"Kamu tidak marah?" tanya Pak Wijaya, memperhatikan wajah Alex yang tetap datar.

"Marah tidak akan mengubah apa pun," Alex menjawab pelan. "Dulu Ayah bilang, jaga nama baik keluarga. Sekarang keluarga itu bahkan sudah tidak menganggapku bagian darinya."

Sarah akhirnya mengangkat wajahnya. "Alex, aku minta maaf. Bukan aku yang memutuskan ini."

"Aku tahu," Alex menjawab, dan dia memang tahu. Sarah tidak pernah punya kuasa apa pun dalam keluarganya sendiri, sama seperti dirinya yang tidak pernah punya kuasa apa pun sejak ayahnya tiada.

Pak Wijaya berdiri, tanda bahwa pertemuan ini sudah selesai. "Kami akan mengembalikan semua hantaran yang pernah diberikan keluarga kalian. Anggap saja ini... permintaan maaf kami."

Alex ikut berdiri, membungkuk sopan meski dadanya terasa seperti ditekan sesuatu yang berat. "Terima kasih atas waktunya, Pak."

Dia berjalan keluar dari rumah besar itu tanpa menoleh ke belakang. Mobilnya—yang sebenarnya bukan miliknya, melainkan fasilitas kantor yang dipinjamkan untuknya—terparkir di halaman depan.

Di dalam mobil, Alex duduk diam untuk beberapa saat, tangannya masih memegang kemudi tapi tidak menyalakan mesin.

Dia teringat percakapan dengan pengacara keluarga tiga bulan lalu, ketika dia mencoba menuntut haknya atas warisan.

"Maaf, Tuan Alex. Surat wasiat sudah sah secara hukum. Tidak ada celah untuk digugat."

Dia teringat wajah ibunya yang menangis diam-diam di kamar, tidak berani protes karena posisinya di keluarga besar itu juga sudah goyah sejak dulu.

Dan dia teringat satu hal yang paling menyakitkan: bahwa selama bertahun-tahun, dia berusaha menjadi anak yang baik, pekerja yang rajin, tunangan yang setia—tapi semua itu tidak ada artinya ketika hartanya sudah tidak ada.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Alex menyalakan mesin mobil dengan tangan yang gemetar bukan karena sedih.

Tapi karena marah yang tidak tahu harus disalurkan ke mana.

1
Israel
alah bct kwontol. tinggal minta semua kebohongan daniel terungksp di public apasusah nya sih. author alay bau kencur pmo otak isekai. halu 100%
Israel
tlol bet kenapa ga minta regenerasi tanpa batas?
Israel
Tlol
Leonardo Akob
Saya suka baca Novelton
Anonim
bodoh mc nya buat aja permintaan uang tidak terbatas unlimited
Israel: Bullshit
total 5 replies
Ria Gazali Dapson
kasian alex , bertubi² cobaan nya
Syahraman [Hiatus]
pergi ke isekai
Israel: bct lu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!