Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membatalkan Pertunangan
Sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan memasuki gerbang besar sebuah mansion megah.
Mobil itu berhenti tepat di depan tangga utama. Seorang pengawal segera melangkah maju dan membukakan pintu belakang.
Seorang pria Delvin Yang, turun dari dalam mobil dengan langkah tenang dan penuh wibawa. Tatapannya dingin, sementara beberapa pelayan yang berdiri di depan mansion langsung menundukkan kepala memberi hormat.
“Tuan Muda, Anda sudah tiba,” sapa salah satu pelayan.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya melangkah masuk ke dalam mansion dengan ekspresi tenang.
Pria itu memiliki wajah tampan dengan garis wajah tegas dan postur tubuh tinggi serta tegap. Setiap langkahnya memancarkan aura berwibawa dan sulit didekati.
Tatapannya yang dingin membuat siapa pun yang berada di dekatnya tanpa sadar menahan napas.
Setelah memasuki mansion, Delvin berjalan menuju ruang keluarga.
Di dalam ruangan tersebut, terlihat seorang pria tua yang merupakan ayahnya, Nico Yang, bersama keponakannya, Mark Yang.
Delvin tiba di hadapan mereka.
“Pa!” sapanya.
“Delvin, baguslah kau sudah pulang!” sahut Nico.
“Paman,” sapa Mark sambil bangkit dan menundukkan kepala dengan hormat.
Delvin duduk bersama mereka. Tatapannya bergantian mengarah kepada Nico dan Mark.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Mark menolak menikahi putri keluarga Wei, Vivi. Perjanjian pertunangan itu sudah dibuat sejak dahulu. Kalau kita membatalkannya, kita harus memiliki alasan yang kuat agar keluarga kita tidak dituduh mengingkari janji dan nama baik keluarga tidak ikut memburuk,” jelas Nico.
Delvin menoleh kepada Mark.
“Mark, apa alasanmu menolak Vivi Wei?”
“Paman, tolong bantu aku. Walaupun tidak ada lagi wanita lain di dunia ini, aku tetap tidak sudi menikahi wanita sombong itu,” jawab Mark tegas.
“Sifatnya sangat buruk. Kalau dia hanya bodoh, mungkin aku masih bisa menerimanya. Tapi dia selalu meremehkan orang lain. Aku tidak ingin menghabiskan hidup bersama wanita seperti itu.”
Delvin terdiam sejenak sebelum berkata, “Sejak dahulu keluarga Wei memang tidak pernah memiliki reputasi yang terlalu baik.”
“Aku juga pernah mendengar beberapa kabar tentang mereka. Putra keluarga Wei pernah terlibat skandal dengan seorang janda, sementara anggota keluarga lainnya bahkan sampai masuk penjara. Sedangkan Vivi sendiri sering dikabarkan menindas orang lain, terutama teman-temannya di universitas.”
Delvin menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Aku justru penasaran. Keluarga mereka dikenal sebagai keluarga terpandang, tetapi bagaimana sebenarnya cara orang tua mereka mendidik anak-anaknya?”
Ia kemudian menatap Nico.
“Kalau begitu, pertunangan ini dibatalkan juga tidak masalah.”
Nico mengangguk.
“Benar. Kalau pertunangan ini dipaksakan, wanita itu hanya akan mempermalukan keluarga kita.”
Nico menatap Delvin dengan serius.
“Delvin, aku serahkan masalah ini kepadamu. Kumpulkan semua kesalahan dan skandal Vivi Wei. Kita akan menggunakan bukti tersebut untuk membatalkan pertunangan secara sepihak.”
Nico berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan dingin,
“Wanita seperti itu tidak layak menjadi menantu keluarga Yang.”
“Baik,” jawab Delvin singkat.
“Paman, terima kasih. Akhirnya aku bisa terbebas dari pertunangan ini,” ucap Mark dengan wajah lega.
“Kau cukup fokus belajar dengan baik. Sisanya, biar Paman yang mengurusnya,” kata Delvin tenang.
“Siap, Paman!” jawab Mark dengan semangat.
Penjara Wanita
Siang itu, Vivian sedang menyantap makanannya dengan tenang ketika dua narapidana datang dan sengaja duduk di hadapannya.
Keduanya menatap tajam ke arah gadis itu.
“2187, semalam beberapa tahanan dilarikan ke rumah sakit. Aku penasaran, sehebat apa sebenarnya dirimu,” ucap salah satu tahanan dengan nada menantang.
Vivian tetap menyantap makanannya sebelum mengangkat pandangan.
“Apakah Vivi Wei lagi yang mengirim kalian untuk menggangguku?”
“2187, kami dibayar untuk mencegahmu keluar dari penjara. Kalau ingin menjadi nona besar keluarga Wei, kau harus tahu diri,” hina tahanan lainnya.
Vivian meletakkan sendoknya perlahan. “Tahu diri?”
Ia menatap kedua wanita itu dengan tatapan dingin.
“Darah keluarga terpandang mengalir di tubuhku. Lalu, di mana letak kesalahanku?”
Vivian menyandarkan tubuhnya ke kursi..“Kalian hanya anjing suruhan kakakku. Apa kalian begitu bangga menjadi anjing penjilatnya?”
Wajah kedua tahanan itu langsung berubah. “Dasar kurang ajar!”
Salah satu tahanan tiba-tiba meraih kerah baju yang dikenakan Vivian dan menariknya dengan kasar.
Namun, Vivian bergerak lebih cepat.
Ia segera menangkap pergelangan tangan tahanan tersebut dan menahannya kuat-kuat.
“Lepaskan!” bentak wanita itu.
Vivian menatapnya dingin.
Tanpa membuang waktu, Vivian meraih garpu yang berada di atas meja dan menusukkannya ke tangan tahanan tersebut.
“Akh!”
Tahanan itu langsung melepaskan kerah Vivian sambil meringis kesakitan. Luka tusukan tersebut mengeluarkan darah.
Vivian mencabut garpu itu dan meletakkan kembali di atas meja, lalu menatap keduanya dengan tenang.
“Aku sedang makan. Jangan menggangguku.”