Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Damar Penyuka Sesama Jenis?
Di sisi lain, Nafisa yang kini masih mengendarai motornya menuju kantor. Namun, di tengah perjalanan matanya seketika terbelalak.
“Ya ampun, laptopku ketinggalan!”
Nafisa spontan menepuk dahinya sendiri. Ia baru teringat bahwa laptop yang akan digunakan untuk presentasi bersama klien masih tertinggal di rumah.
“Aduh, gimana, sih? Kenapa bisa lupa?” gerutunya sambil melirik jam di pergelangan tangan.
Padahal, beberapa menit lagi ia seharusnya sudah tiba di perusahaan. Jika terus melanjutkan perjalanan tanpa membawa laptop, ia bisa kesulitan saat harus mempresentasikan hasil pekerjaannya.
Nafisa menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang sejenak. Namun, tak ada pilihan lain. Ia harus kembali ke rumah untuk mengambil barang tersebut.
“Terpaksa putar balik lagi, deh.”
Setelah memastikan jalanan cukup aman, Nafisa memutar arah motornya dan kembali menuju rumah ibunya.
. . .
Beberapa saat kemudian, motor Nafisa akhirnya memasuki pelataran rumah ibunya.
Begitu berhenti, ia segera mematikan mesin dan turun tanpa melepaskan helm yang masih melekat di kepalanya.
Ia bergegas menaiki teras, lalu meraih gagang pintu.
Dan begitu memasuki rumah, langkah Nafisa terhenti ketika mendengar suara ibunya dari arah meja makan.
“Loh, kok pulang lagi?”
Nafisa menoleh. “Iya, Bu. Aku—”
Ucapannya terhenti saat ia menyadari pakaian
yang dikenakan ibunya yang membuatnya spontan mengerutkan kening.
“Bu, kenapa pakai baju itu?” tanyanya.
Bu Yuliana justru terlihat santai. Ia merapikan sedikit pakaiannya, kemudian menatap putrinya.
“Ibu kegerahan, Naf. Jadi, pakai ini saja.” Ia mengibaskan tangan seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. “Lagian, Damar gak ada di rumah, gak papa, kan, Nafisa.”
Matanya masih menyapu penampilan ibunya sejenak sebelum akhirnya ia hanya mengangguk kecil.
“Oh, ya sudah, Bu. Gak papa,” jawabnya ragu. “Kalau gitu aku ke kamar dulu ambil laptop, Bu.”
Tanpa menunggu jawaban, ia segera berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa sambil sesekali melirik jam tangannya.
. . .
Sesampainya di depan kamar, ia langsung mendorong pintu dan masuk. Pandangannya segera menyapu meja tempat ia biasa meletakkan barang-barang sebelum berangkat kerja.
Nafisa segera menghampiri meja rias tempat laptopnya tergeletak. Ia mengambil benda itu, lalu memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan tergesa-gesa.
“Aku harus cepat,” gumamnya.
Ia baru saja hendak berbalik ketika suara notifikasi terdengar.
Kling!
Nafisa spontan merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Namun, setelah memeriksa layar, ia tidak menemukan notifikasi apa pun.
“Loh, kalau bukan hp ku, lalu hp siapa yang bunyi?”
Tatapannya menyapu seisi kamar hingga akhirnya berhenti pada meja kecil di sebelah tempat tidur. Sebuah ponsel tergeletak di sana, layarnya menyala sesaat sebelum kembali redup.
Nafisa mengernyit.
“HP-nya Mas Damar ternyata ketinggalan juga.”
Ia melangkah mendekat. Niatnya semula hanya ingin memastikan apakah ponsel itu masih berdering atau tidak. Namun, tepat ketika ia sampai di sisi meja, suara notifikasi kembali terdengar.
Kling!
Nafisa menunduk. Sebuah pesan baru muncul di layar ponsel suaminya.
Akhirnya, ia mengambil ponsel itu.
Layar menyala di tangannya. Nafisa langsung melihat nama pengirim yang tertera di bagian atas notifikasi.
‘Pak Joan?’
Ia lalu membaca isi pesan tersebut melalui pratinjau.
Pak Joan: Damar, hari ini pulang jam berapa? Ketika kamu pulang nanti, ada yang mauku tunjukin sama kamu, Dam.
Gerakan jari Nafisa terhenti. Keningnya semakin berkerut. Ia berusaha memahami maksud pesan tersebut.
Deg.
Dadanya berdegup kencang. ‘Gak mungkin Mas Damar penyuka sesama jenis.’
Namun, belum sempat ia mencerna kembali isi pesan tersebut, suara seorang pria di belakangnya terdengar.
“Kamu nggak kerja?”
Nafisa tersentak. Ia buru-buru menoleh, hampir menjatuhkan ponsel yang masih berada di tangannya.
“Mas Damar?”
Matanya membulat ketika mendapati suaminya sudah berdiri di belakangnya. Tapi dirinya berusaha menormalkan keterkejutannya.
“Mas pulang buat ambil HP yang tertinggal, kan?” tanya Nafisa sambil menatap suaminya lekat.
“Iya,” jawab Damar, lalu mengambil alih Hp yang masih ada di tangan Nafisa dengan sedikit kasar. “Lain kali, jangan cek sembarangan HP orang, Nafisa. Itu namanya gak sopan.”
Nafisa mengernyitkan kening. “Loh, kenapa aku gak boleh lihat HP kamu, Mas?” tanyanya heran. “Kan kita suami istri. Masa cek HP suami gak dibolehin?”
Nafisa berusaha memahami jalan pikiran Damar yang melarangnya mengecek HP suaminya sendiri.
“Iya, barang suami gak semuanya boleh di cek, Nafisa. Mas punya privasi. Coba kalau Mas periksa HP-mu tanpa izin, kamu pasti bakalan gam terima, kan?”
Nafisa terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan.
“Terima kok, selagi aku gak menyembunyikan apa pun dari kamu,” jawabnya tanpa ragu.
Ia menatap suaminya lekat. Helaan napas pendek yang keluar dari mulut suaminya terdengar di indera pendengarannya.
“Oh ya, Mas. Tadi ada pesan tuh dari Pak Joan,” ucapnya, dan berhasil membuat tatapan Damar terbelalak.
“Sudah kamu baca pesannya?”
Nafisa terdiam saat melihat kepanikan suaminya yang terasa begitu janggal baginya.
‘Apa aku berbohong saja ya?’
“Jawab Naf.”
Pada akhir dirinya menggeleng pelan tanpa berbicara. Dan beberapa detik kemudian, helaan napas terdengar dari mulut suaminya.
Dan alih-alih melanjutkan pembicaraan, Damar justru memalingkan wajahnya.
“Lain kali jangan diulangi lagi.”
Setelah berkata demikian, Damar berbalik dan melangkah meninggalkan kamar tanpa menunggu ucapan lain..
Nafisa masih berdiri di tempatnya. Pandangannya mengikuti punggung sang suami hingga pria itu benar-benar menghilang dari balik pintu.
Nafisa menarik napas panjang. Sebelum akhirnya ia melangkah keluar kamar.
.
Sementara itu, Damar sedang dalam perjalanan menuju kantor. Setelah berhasil mengambil ponselnya yang tertinggal di rumah.
Sejak ia meninggalkan pelantaran rumah mertuanya, sambungan telepon dengan ibu mertuanya masih berlangsung. Kedua tangannya tetap sibuk mengendalikan kemudi, sedangkan suaranya sesekali terdengar menanggapi ucapan wanita di seberang telepon.
Begitu mobilnya melewati jalan utama,
“Iya, sayang. Untung saja aku datang tepat waktu,” ujar Damar.
“Lain kali hati-hati, Dam. Kalau sampai Nafisa membaca pesan ibu, bagaimana?”
“Iya, iya, Bu Bos. Lain kali aku hati-hati deh.” Damar terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana.
“Malam ini jadi, kan, barbequean?”
“Jadi dong, sayang.” Senyum Damar langsung mengembang.
Ia kembali menjalankan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah hijau.
“Masa aku melewatkan malam spesial kita?”
“Kalau begitu, sekalian saja beli costum yang bentuk macam.”
Damar tertawa kecil mendengar permintaan itu.
“Beres, Sayang. Aku nggak sabar buat malam ini.”
“Iya, iya. Sudah, Ibu mau belanja dulu.”
“Oke, Sayang.”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Damar mengakhiri panggilan.
Kedua sudut bibirnya terangkat.
. . .
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Damar memasuki pelataran perusahaan. Ia bekerja sebagai sales di PT AeroTea Group. Setelah menemukan tempat parkir yang kosong, ia memundurkan mobilnya perlahan hingga posisinya tepat di antara garis pembatas.
Mesin mobil dimatikan. Damar meraih tas kerjanya, kemudian membuka pintu.
Brak!
Pintu mobil tertutup setelah ia turun. Sambil membenahi kerah kemejanya, Damar melangkah menuju gedung perusahaan dengan senyum tipis.
Setibanya di dalam gedung perusahaan, Damar melangkah melewati pintu masuk menuju lobi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Pak Ahmad, kepala supervisor yang bertanggung jawab mengawasi kinerja tim sales, sedang berdiri sambil membaca buku catatan di tangannya.
Damar segera menghampiri pria itu. Ia berusaha memasang senyum ramah.
“Pak Ahmad, selamat pagi,” sapanya.
Pria paruh baya itu mengangkat kepala. Begitu netranya melihatnya, ia menutup buku catatannya.
“Sudah datang rupanya.”
“Iya, Pak.” Damar mengangguk sopan.
Pak Ahmad menyelipkan buku catatannya ke bawah lengan, lalu mulai menyampaikan arahan dengan nada serius.
“Bulan ini kita harus mencapai target. Pokoknya, kamu harus lebih giat menawarkan produk kita kepada pedagang kecil maupun besar. Dan juga, kalau kamu bisa mencapai target, akan saya beri bonus.”
Damar mengangguk beberapa kali. “Siap, Pak. Saya akan berusaha mencapai target yang sudah ditentukan.”
“Bagus.” Pak Ahmad menepuk bahu Damar sekilas. “Kalau begitu, ayo persiapan. Sebentar lagi kita mulai keberangkatan.”
“Baik, Pak.”
Damar kembali mengangguk, kemudian mengikuti Pak Ahmad menuju ruang persiapan.
Di sisi lain, Nafisa baru saja tiba di perusahaan tempatnya bekerja. Setelah memarkirkan sepeda motornya, ia bergegas menuju gedung kantor sambil membenarkan tali tas di bahunya.
Namun, baru saja menginjakkan kaki di lobi, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat atasannya berdiri tak jauh dari pintu masuk. Pria itu menatapnya dengan ekspresi dingin, seolah-olah sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.
Pak Dewangga Alvarez Mahardika.
‘Sudah ganteng, kaya tujuh turunan, tapi sayangnya belum nikah. Ya ampun, yang begini harus di hindari, soalnya yang bujang lapuk suka sensitif-pan. Dikit-dikit marah, dikit-dikit ngambek.’
Nafisa menelan ludah.
‘Ya ampun, kali ini di ceramahin berapa jam? Tapi aku belum telat kok. Bisa-bisanya dia sudah stay di sini. Apa Pak Dewangga ngefans sama aku ya?’
“Berhenti membicarakan saya, Nafisa “
Nafisa berusaha memasang senyum lebar hingga menunjukkan deretan giginya, berharap bisa mencairkan suasana sebelum atasannya mulai mengomel.
“Tutup mulutmu. Ada cabai di gigimu.”
Senyum Nafisa seketika lenyap. Ia buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan, lalu menunduk malu. Sial! Padahal tadi ia sudah berusaha tampil manis di depan atasannya.
“Kenapa bisa sampai telat?”
Nafisa mengangkat alis. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan atasannya, lalu menyipitkan mata untuk memastikan angka yang ditunjukkan jarum jam tersebut.
Pukul tujuh lewat tiga puluh.
Sementara itu, jam masuk kerja masih pukul delapan lewat sepuluh.
Nafisa mengernyit. Ia kembali menatap jam tangan itu, memastikan dirinya tidak salah melihat.
“Ngapain kamu lihat-lihat jam tangan saya? Kamu kepingin ya?” tanya Dewangga. "Beli saja di toko.”
Nafisa mengangkat wajah dan mendapati Dewangga buru-buru menyembunyikan tangannya di belakang tubuh.
Nafisa nyaris tertawa melihat tingkah atasannya. Namun, ia segera menahan diri dan berdiri lebih tegak.
“Saya Cuma lihat jam, Pak. Dan saya belum telat kok,” bantahnya.
“Lalu?”
“Sekarang masih pukul tujuh lewat tiga puluh. Jam masuk kerja kita pukul delapan lewat sepuluh, kan?”
Nafisa masih memperhatikan ekspresi wajah atasannya yang terlihat gugup.
Pandangannya lalu berpindah ke arah pintu masuk. Beberapa karyawan baru saja datang dengan santai, bahkan ada yang masih sibuk mengobrol sambil berjalan menuju lift.
Ia menunjuk ke arah mereka, tapi pandangannya kembali menatap ke arah Dewangga.
“Mereka saja baru masuk, Pak. Kenapa Bapak tidak bertanya kepada mereka kenapa datangnya telat?”
Pandangan atasannya terlihat mengikuti arah telunjuknya sekilas, kemudian kembali menatap ke arahnya.
“Ya, karena mereka pasti mengurus suami, mengurus rumah, atau—”
“Atau apa, Pak?” potong Nafisa cepat.
Ia melipat kedua tangan di depan dada, menatap atasannya dengan ekspresi tak percaya.
“Bapak lupa kalau saya juga sudah menikah?”
Nafisa menunggu jawaban keluar, namun beberapa detik menunggu. Dewangga justru menatapnya tanpa mengatakan apa pun.
Nafisa mendengus pelan.
“Bapak bahkan gak bertanya soal kemarin. Saya lelah atau tidak, tidur saya nyenyak atau tidak. “Sekarang, boro-boro bertanya begitu. Saya malah langsung diinterogasi pagi-pagi begini. Saya ini jadi seperti anak tiri saja.”
“Nafisa—”
“Sudahlah, Pak. Saya mau kerja.”
Tanpa menunggu jawaban, Nafisa berbalik dan melangkah melewati atasannya karena kesal. Ya meski hal ini sudah menjadi rutinitasnya setiap bertemu.
“Nafisa, saya belum selesai!”
Nafisa terus berjalan menuju ruang kerja, pura-pura tidak mendengar panggilan atasannya.
Dewangga yang masih berdiri ditempatnya, hanya bisa terdiam membisu. Netranya masih mengikuti punggung Nafisa yang perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di balik lorong.
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.