Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cukup perhatian kecil
Nisa membuka perlahan pintu rumahnya saat ada ketukan yang disertai dengan salam. Begitu pintu terbuka matanya langsung disuguhi wajah tampan sang suami yang tampak begitu bahagia terlihat di binar matanya yang bersinar riang. Suaminya pasti baru saja selesai menonton pertunjukan teater sang kekasih hati yang bahkan hanya mendapat peran sebagai figuran. Itulah sebabnya yang membuat wajah sang suami bahagia, bukan karenanya tapi karena wanita lain
Rangga memasuki rumah masih dengan senyum yang masih menempel di wajahnya
"Kelihatannya mas rangga bahagia sekali! Apa yang membuat mas terlihat bahagia seperti itu?" tanya Nisa lembut walau dia sudah tau alasan sang suami terlihat bahagia
"Kau tahu! Aku memang sedang bahagia sekarang, dan yang membuatku bahagia adalah berita tentang Tiwi yang akan mendapatkan peran utama untuk teater akhir bulan depan. Dia mendapat peran sebagai putri tidur Aurora. Ah... Dia memang tampak seperti seorang putri" cerita Rangga antusias
"Oh... Dia sungguh sangat beruntung" jawab Nisa lesu untuk menanggapi kalimat sang suami. Rangga bahkan tidak memikirkan perasaannya saat dia memuji-muji Tiwi didepannya.
"Iya, dia memang beruntung dan besok aku akan menemuinya untuk mengucapkan selamat atas penunjukannya sebagai pemeran utama." Rangga mengatakannya dengan wajah tersenyum, dia benar-benar terlihat bahagia dengan apa yang akan segera dilakukannya
"Tapi besok kan waktunya aku check up ke rumah sakit, mas! Mas harus menemaniku, tidak mungkin aku pergi sendiri," ujar Nisa dengan suara lembut yang penuh luka dan yap... Rangga baru sadar apa yang baru saja dia ceritakan. Pasti Nisa sangat tersakiti dengan cerita yang keluar dari mulutnya yang begitu memuji-muji Tiwi. Seakan tidak ada wanita di dunia ini yang lebih sempurna daripada Tiwi. Pria itu bahkan lupa akan waktu Check up kehamilan istrinya itu.
Rangga perlahan memandang pada wajah Nisa yang terlihat sendu dengan mata yang selalu sembab. Mata itu selalu terlihat begitu selama pernikahan mereka yang hampir delapan bulan itu.
"Apa mas lupa?" tanya Nisa dengan nada lembut dan disertai dengan senyum yang berusaha untuk ditampilkannya dengan baik. Sungguh dia tidak dapat tersenyum lepas saat hatinya terasa tercabik-cabik. Rangga merasakan sedikit tidak enak pada istrinya itu karena faktanya dia memang lupa akan jadwal pengecekan keadaan janinnya.
"Tidak," sahut Rangga berbohong, dan Nisa sudah sangat mengerti dengan jawaban itu
"Kita akan ke rumah sakit besok. Sekarang sebaiknya kamu istirahat, aku akan ke kamarku lebih dulu." lanjut Rangga dengan wajah yang kembali terlihat dingin. Dia langsung melangkah masuk ke kamarnya meninggalkan Nisa yang hanya bisa terdiam sembari menghelakan nafasnya.
Apa yang bisa Nisa lakukan saat sekarang dia-lah tokoh antagonisnya dalam kisah cinta Rangga dan Tiwi. Nisa harus berbesar hati dengan fakta kalau Rangga bahkan tidak sudi untuk bersentuhan dengannya setelah kesalahan fatal yang dilakukannya, apalagi jika Rangga akan membiarkan mereka satu kamar. Rasanya itu sangat mustahil walau mereka kini berstatus sebagai suami istri.
🍀🍀🍀
Nisa, wanita mungil itu kembali menahan tangis saat telinganya menangkap suara tawa suaminya di dalam kamar Rangga. Pria itu sedang telponan dengan kekasihnya, karena itulah tawa itu terdengar sekarang.
Sebenarnya Nisa tidak berniat menguping, dirinya bermaksud hendak menyerahkan selimut baru untuk suaminya yang lupa digantinya pagi tadi saat mencuci selimut lamanya. Tapi apa yang didapatnya? Nisa kembali menepuk dadanya mendengar kata-kata manis penuh cinta yang di lontarkan suaminya untuk Tiwi sang kekasih hati. Ah, andai Rangga juga bersikap dan berucap semanis itu padanya?
Nisa meremas kuat dadanya yang kembali terasa berdenyut oleh rasa sakit yang tidak terlihat. Walau dia sudah mencoba untuk berdamai dengan rasanya yang menggebu-gebu, tapi tetap saja rasanya sakit saat mendengar pria yang dicintainya bersikap dan berujar manis pada wanita lain. Nisa bahkan harus menerima kenyataan saat pertama kali memasuki rumah itu mereka sudah pisah kamar. Hal manis apa yang kau harapkan dari suamimu, Nisa?.
Perlahan Nisa mulai mengetuk pintu kamar sang suami walau dia kembali berusaha untuk terlihat seakan tidak mendengar apa-apa. Setelah ketukannya terdengar suara Rangga yang menyuruhnya untuk masuk.
"Ada apa?" tanya Rangga dengan nada yang terdengar judes begitu melihat Nisa. Pria itu sebenarnya cukup merasa kesal kegiatannya mengobrol dengan sang kekasih harus terhenti karena kehadiran Nisa.
"Aku hanya ingin menyerahkan selimut untukmu Mas, dan sekaligus bertanya, apa Mas Rangga sudah makan malam? Apa perlu aku siapkan makanan untuk Mas makan?" tanya Nisa lembut penuh perhatian. Dia sadar kalau Rangga belum makan malam sejak kepulangannya tadi.
"Tidak perlu, sebaiknya kamu tidur istirahat, jaga kesehatanmu dan juga bayinya" ucap Rangga melembut saat melihat wanita itu cukup kelelahan dengan sikapnya. Bukan tidak mungkin Nisa mendengar pembicaraannya dengan Tiwi tadi, dan Rangga juga tidak mungkin untuk terus menutup telinga akan kata-kata Nisa yang terus mengatakan mencintainya. Tapi apa boleh buat, Rangga tidak memiliki perasaan layaknya cinta pada Nisa. Bagi Rangga, Nisa selamanya hanyalah sahabatnya. Entah itu akan bertahan kedepannya atau tidak. Biarlah takdir yang menggores pena untuk kisahnya dan Nisa.
Perlahan air mata merembes dari mata sembab Nisa, dan meluncur di permukaan kulit wajah wanita itu. Dia tersenyum dengan tulus memandang wajah suaminya. Hanya ini, cukup perhatian kecil seperti ini saja yang dia dapatkan dari Rangga maka dia akan begitu bahagia. Tidak perlu perhatian lebih, cukup dengan kalimat pria itu yang menyatakan kekhawatiran akan kesehatannya dan bayi dalam kandungannya. Maka Nisa sudah sangat merasa bahagia. Terdengar konyol dan berlebihan, tapi setelah semua yang dihadapinya setelah pernikahan mereka, Nisa sudah tidak mengharapkan perhatian lebih lagi. Cukup perhatian kecil, maka dia akan sangat berpuas diri dengan itu. Bagaimana pun dia telah melakukan kesalahan, dan biarlah pengabaian ini menjadi hukumannya.
Air mata yang turun dengan senyum yang terkembang terasa sangat kontras di wajah Nisa hingga berhasil membuat kerut kebingungan di wajah Rangga.
"Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" tanya Rangga mencoba mengutarakan kebingungannya.
"Karena aku bahagia" jawab Nisa masih dengan senyum tulusnya juga air mata yang masih saja turun. Itu bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Nisa yang sudah terlalu sering menangis bahkan tidak dapat lagi mengontrol air matanya yang bahkan akan keluar saat dia merasa bahagia.
"Maksudnya?" kening Rangga semakin berkerut bingung. Dia tidak mengerti apa yang membuat Nisa bahagia. Apa itu dari kalimat asalnya barusan?
"Bahagia itu abstrak Mas. Mungkin Mas Rangga bahagia saat dengan Mbak Tiwi, maka saat-saat seperti inilah yang membuatku bahagia. Saat Mas Rangga mempedulikan kesehatanku dan calon bayi kita," ujar Nisa menjelaskan seraya mengelus perut buncitnya.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean