NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Sepatu Kotor di Atas Meja

Gedoran pintu itu tidak seperti ketukan. Lebih seperti hantaman.

BRAK! BRAK! BRAK!

Kayu triplek kamar kontrakan petak itu bergetar hebat. Debu tipis yang menempel di kusen atas berjatuhan.

Clarissa tersentak. Ia buru-buru menarik ujung daster tidurnya yang sedikit tersingkap di bagian paha. Wajahnya masih merah, napasnya masih belum teratur. Matanya langsung mencari Rendy dengan panik.

"Mas... itu Ibu," bisik Clarissa, suaranya bergetar. "Jam tangan Dion hilang? Mas... kamu nggak ambil, kan?"

Satu kalimat terakhir itu, meski diucapkan dengan sangat pelan, menghantam dada Rendy lebih keras dari gedoran pintu.

Rendy menatap istrinya lekat-lekat. Ada guratan ragu yang sangat tipis di mata Clarissa. Ragu yang wajar untuk seorang istri yang terjepit antara suami dan keluarganya, tapi tetap saja menyisakan perih.

Rendy menghela napas, menepis rasa perih itu. Ia mengelus pipi halus Clarissa dengan punggung jarinya.

"Mas nggak pernah sentuh barang Dion, Sa. Kamu tahu itu. Mas nggak butuh jam tangan seperti itu," jawabnya tenang.

Padahal di dalam dadanya, darah Pradipta-nya mendidih. Jam tangan merek Kaisar? Di lemarinya di rumah utama, ada puluhan jam dengan harga yang bisa membeli satu rumah di komplek ini. Tapi sumpahnya untuk hidup mandiri dan diuji tanpa harta membuatnya harus menelan semua ini.

Ia bangkit. Membetulkan kaos polosnya yang sudah agak melar, lalu membuka pintu.

Wajah Rosma, ibu mertuanya, langsung menyeruak. Matanya menyala-nyala, bibirnya manyun menahan amarah. Di belakangnya, Dion, adik ipar Rendy, berdiri dengan kemeja kerja yang sudah rapi, dasi sedikit miring, dan senyum penuh kemenangan yang tidak bisa disembunyikan.

"Jangan pura-pura tuli kamu, Rendy!" bentak Rosma sambil menunjuk tepat di depan hidung Rendy. Jari telunjuknya yang memakai cincin imitasi besar itu hampir menyentuh kulit Rendy. "Dion bilang jam tangan Kaisar hadiah ulang tahunnya hilang dari meja kamarnya! Tadi pagi cuma kamu yang bolak-balik lewat depan kamarnya! Siapa lagi kalau bukan kamu!"

Di gang sempit kontrakan, beberapa tetangga sudah mulai mengintip dari balik gorden.

"Saya dari subuh hanya di dapur membantu Clarissa, Bu. Saya tidak pernah masuk ke kamar Dion," jawab Rendy. Suaranya tetap datar, ia berusaha menjaga kehormatan di depan orang banyak.

Dion maju selangkah. Ia bersedekap, memamerkan jam tangan kulit murahnya yang lain.

"Alah, ngeles aja kerjaanmu! Siapa lagi yang butuh uang cepat kalau bukan kamu? Utangmu di warung Bu Yanti aja belum lunas, kerjaan cuma sopir tembak serabutan. Paling jam tanganku mau kamu gadaikan buat bayar utang! Dasar menantu miskin!"

Kata "menantu miskin" itu diucapkan dengan penekanan yang begitu menghina.

"Dion, jaga mulutmu!" Clarissa tiba-tiba muncul dari balik punggung Rendy. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya keras. "Mas Rendy bukan pencuri! Kalau nggak ada bukti jangan asal nuduh! Kamu yang ceroboh naruh barang!"

"Kamu ini selalu bela suami kere itu, Clarissa! Sudah buta kamu sama cinta!" potong Rosma cepat, menarik lengan Clarissa. "Sudah, jangan banyak alasan! Ayo ke depan! Pak RT ada di ruang tamu! Biar dia yang jadi saksi, biar semua orang tahu kelakuan maling suamimu itu!"

Rendy menarik napas panjang. Kepalan tangan kirinya mengeras di samping paha. Tangan kanannya yang memar karena mengangkat galon air kemarin berdenyut nyeri.

"Baik. Kita selesaikan di depan," katanya.

Mereka berjalan ke ruang tamu yang sempit. Di sana, Pak RT dan seorang tetangga yang mau mengurus surat domisili memang sedang duduk di sofa. Mereka tampak canggung melihat keluarga itu datang dengan wajah tegang.

Rosma langsung pasang drama. "Pak RT, lihat Pak! Kami kemalingan! Jam tangan mahal anak saya hilang!"

Dion melihat ada penonton, justru semakin bersemangat. Ia ingin mempermalukan Rendy sehancur-hancurnya.

Ia duduk santai di sofa kulit yang sudah mengelupas itu. Lalu, dengan gerakan yang sangat disengaja, ia mengangkat kedua kakinya yang masih memakai sepatu kulit hitam penuh lumpur basah sisa hujan semalam.

Dan meletakkannya tepat di atas meja kaca ruang tamu. Tepat di sebelah cangkir teh hangat milik Pak RT yang masih mengepul.

Semua orang di ruangan itu diam.

Pak RT melirik cangkir tehnya, lalu melirik sepatu berlumpur itu dengan tidak enak hati.

"Eh, kakak iparku yang paling rajin di rumah ini," panggil Dion dengan nada manis yang dibuat-buat, tapi penuh racun. "Lihat nih. Sepatuku kotor kena lumpur di depan gang tadi. Becek banget."

Dion menggesekkan sol sepatunya ke permukaan kaca. Srekkk...

Bekas tanah coklat basah yang kotor dan sedikit bau comberan itu menempel jelas di atas meja kaca bening.

"Ambilkan lap. Bersihkan sepatuku sekarang," perintah Dion, menatap Rendy tanpa rasa bersalah. "Di depan Pak RT, tunjukin kalau kamu itu masih ada gunanya sedikit di rumah ini. Kalau nggak, ya aku anggap kamu maling jam tanganku karena sakit hati nggak dihargai."

Waktu seakan berhenti.

Clarissa melihatnya. Melihat suaminya, pria yang ia cintai, disuruh membersihkan sepatu kotor seperti seorang jongos di depan ketua RT.

Darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Air matanya tidak lagi bisa ditahan. Ini sudah keterlaluan.

"DION! KAMU SUDAH KELEWATAN!" jerit Clarissa. Suaranya pecah. Jemarinya mengepal sampai memutih. "Dia itu kakak iparmu! Dia suamiku! Dia bukan pelayanmu! Kamu tidak punya hak!"

"Kakak ipar?" Dion tertawa hambar, tawa yang sangat menghina. "Kakak ipar macam apa yang cuma numpang makan, numpang tidur, dan tidak punya harga diri? Lihat tuh mukanya, sudah mau nangis dia disuruh lap sepatu!"

Rendy tidak bergerak. Ia hanya menatap sepatu kotor itu, lalu menatap wajah Dion.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun penyamarannya, sorot mata Rendy yang biasanya redup, mengalah, dan sabar, kini berubah total.

Dingin. Dalam. Penuh kuasa.

Itu adalah tatapan Rendy Pradipta. Tatapan pewaris tunggal Pradipta Group. Tatapan yang biasa membuat direksi-direksi berumur dua kali lipat darinya menunduk takut.

Tatapan itu membuat senyum Dion membeku sesaat. Ia merasa seperti ditatap oleh seekor harimau yang sedang menahan diri untuk tidak menerkam.

Jika Rendy mau, satu panggilan telepon saja ke asisten pribadinya, karir Dion sebagai staf pemasaran di perusahaan menengah itu bisa tamat dalam lima menit. Satu kata saja, kontrakan ini bisa ia beli lunas.

Tapi ia menahan. Janjinya pada mendiang kakeknya untuk menemukan cinta yang tulus tanpa embel-embel harta masih ia pegang.

Emosinya yang hampir meledak itu menumpuk di dadanya, sesak.

Sebelum Rendy sempat melangkah atau mengatakan sesuatu yang akan ia sesali, Clarissa bertindak.

Dengan kekuatan yang tidak pernah Rendy duga dari tubuh mungil istrinya, Clarissa menyambar pergelangan tangan Rendy dengan cengkeraman yang sangat kuat.

Wajahnya merah padam. Kombinasi malu, marah, dan sakit hati.

Tanpa peduli teriakan ibunya dan tatapan kaget Pak RT, Clarissa menarik Rendy dengan sentakan kuat. Ia menyeret suaminya melewati lorong sempit, menjauh dari ruang tamu yang penuh penghinaan itu, menuju ke belakang rumah.

Ia mendorong Rendy masuk ke kamar mandi utama yang berubin abu-abu, ikut masuk, lalu membanting pintu kayu itu.

BRAK!

Grendel besi diputar kasar. Terkunci.

Di dalam kamar mandi yang lembap itu, hanya ada suara tetesan air dari keran yang bocor. Clarissa bersandar di balik pintu, dadanya naik turun dengan cepat. Air matanya mengalir deras.

"Maaf, Mas... maaf..." isaknya pelan. "Aku nggak kuat lihat kamu digituin..."

Rendy menatap istrinya. Amarahnya yang tadi membara, perlahan luluh melihat tangis Clarissa. Ia maju, memeluk pinggang istrinya erat. Memeluknya untuk melindunginya.

Clarissa membalas pelukan itu. Ia menjambak pelan rambut belakang Rendy, menarik wajah suaminya mendekat. Ia mencium Rendy. Bukan ciuman mesra biasa. Ini adalah ciuman seorang istri yang ingin mengatakan bahwa suaminya berharga. Bahwa di matanya, Rendy adalah segalanya.

Rendy membalas. Ia mengangkat tubuh Clarissa hingga punggungnya bersandar di pintu. Mereka melupakan dunia luar. Hanya ada mereka berdua di ruang sempit itu, saling menguatkan.

Napas mereka masih memburu ketika —

TOK! TOK! TOK!

Ketukan pelan, tidak keras, tapi sangat disengaja terdengar tepat di belakang kepala Clarissa.

Keduanya membeku. Ciuman mereka terhenti.

Hening sesaat. Lalu terdengar suara gesekan langkah kaki di luar.

Sebuah bisikan dingin, penuh kemenangan, terdengar sangat jelas dari celah pintu kayu.

"Aku tahu kalian sembunyi di dalam. Romantis sekali."

Itu suara Dion.

"Kalian pikir dengan bersembunyi masalah selesai? Pak RT sudah aku kasih lihat rekaman CCTV di kamarku. Jelas sekali tadi pagi siapa yang masuk ke kamarku dan mengambil jam tanganku."

"Keluar sekarang. Atau aku putar rekamannya di depan Pak RT dan semua tetangga."

Clarissa membeku. Wajahnya pucat. Ia menatap Rendy dengan mata membelalak ketakutan.

Rekaman CCTV? Padahal Rendy bersumpah tidak pernah masuk!

Apa sebenarnya isi rekaman itu?

1
Dian Paramita Dewi
---
[TERIMA KASIH 15,0K POPULARITAS]
Makasih 217 komen, 1249 Like, 24 Fans & 20 bintang 5 yang udah baca dari pagi-sore ini! 😭 Popularitas naik 700 sehari karena #KalenderKebab viral! Menurut kalian janin Clarissa kuat nggak setelah baca surat Valerie? Komen "KUAT" biar aku semangat nulis Bab 55! Aku balas malam ini! - Dian Mita
Nathalie Tyas
terus semangat berkarya Kak
Dian Paramita Dewi
Terima kasih 209 komen, 1170 Like, 23 Fans & 19 bintang 5! 😭 Popularitas 14,3K & Views 2,57K karena kalian! Aku baca semua komen pagi-sore ini. Komen "LANJUT" ya biar aku semangat! ❤️ - Dian Mita
Dian Paramita Dewi
Makasih udah baca sampai Bab 53 ini 😭 Popularitas udah 14,3K karena 209 komen & 1170 Like kalian! Aku baca semua komen "JAGA RENDY" pagi-sore ini. Doain Clarissa kuat buka brankas ya! Komen "LANJUT" biar aku semangat nulis malam ini ❤️ - Dian Mita
Dian Paramita Dewi
Makasih 209 komen! Bab 26 selesai, lanjut Bab 27 ya! ❤️
Dian Paramita Dewi
Makasih udah baca Bab 26! 😭 209 komen & 1170 Like kalian bikin Popularitas 14,3K! Komen "LANJUT" ya biar aku semangat nulis Bab 27! ❤️ - Dian
Dian Paramita Dewi
Makasih 209 komen & 23 Fans! Bab tayang! Popularitas → karena kalian! Komen LANJUT ya! ❤️
Dian Paramita Dewi
Makasih udah baca sampai Bab 24 ini 😭 Popularitas udah 14,3K karena 209 komen & 1170 Like kalian!
Dian Paramita Dewi
Makasih 209 komen, 1170 Like, 23 Fans & 19 bintang 5! 😭 Pagi-sore ini Views naik 100 jadi 2,57K & Popularitas 14,3K karena kalian! Aku baca semua komen kalian, nangis terharu.
Dian Paramita Dewi
Alurnya seru banget....membawa emosi penmbaca....bikin geregetan....Rendy tetap baik sama mertua dan keluarga istrinya 👍
Putri Dewi
Menantunya sabar banget menghadapi mertua yang seperti itu....😔
Anandayu Official
bab 50 Kak
Sean Nathania
update bab 51 kak 💪
Mita Ayu
ceritanya membuat emosi pembaca naik turun, seolah - olah pembaca ikut di dalam cerita
Ririn Tyas
semangat bab 49 💪
Ririn Tyas
update bab selanjutnya Kak 🤭
Ririn Tyas
update bab 49 kak
Ririn Tyas
update bab 44 kak 😍
Ririn Tyas
selanjutnya Kak bab 33
Ririn Tyas
selanjutnya bab 31 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!