Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sepatu Kotor di Atas Meja
Gedoran pintu yang berulang membuat ruang kamar yang sempit itu serasa berguncang. Clarissa buru-buru merapikan gaun tidurnya yang agak tersingkap, mengusap wajahnya yang masih memerah dengan napas yang belum sepenuhnya teratur. Matanya menatap Rendy dengan pancaran cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Mas... jam tangan Dion hilang?" bisik Clarissa pelan, suaranya bergetar. "Tidak mungkin kamu yang mengambilnya, kan?"
Rendy menatap istrinya lekat-lekat. Ada sedikit rasa nyeri di relung hatinya melihat ada guratan keraguan kecil di mata Clarissa, namun ia segera menepisnya. Ia mengelus pipi Clarissa yang halus dengan punggung jarinya yang tak terluka. "Mas tidak pernah menyentuh barang-barang Dion, Sa. Kamu tahu itu."
Rendy beranjak dari kasur, membetulkan letak kaosnya, lalu melangkah menuju pintu. Ketika daun pintu kayu itu ditarik membuka, wajah Rosma langsung menyambutnya dengan tatapan berapi-api. Di belakang mertuanya, berdiri Dion—adik ipar Rendy yang bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah perusahaan menengah—dengan kemeja kerja yang sudah rapi dan wajah penuh kepuasan.
"Jangan pura-pura tuli!" bentak Rosma sambil menunjuk muka Rendy dengan telunjuknya. "Dion bilang jam tangan merk kaisar hadiah ulang tahunnya kemarin tidak ada di meja kamar! Hanya kamu satu-satunya orang asing di rumah ini yang bolak-balik melewati kamarnya pagi ini!"
"Saya tidak pernah masuk ke kamar Dion, Bu. Pagi ini saya hanya di dapur," jawab Rendy datar, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski ketegangan mulai membakar dadanya.
Dion maju satu langkah, bersedekap dada sambil tersenyum sinis. "Alah, tidak usah ngeles! Siapa lagi yang butuh uang cepat kalau bukan kamu? Utangmu di mana-mana, kerjaan cuma sopir serabutan. Paling-paling jam tangan itu mau kamu gadaikan!"
"Dion, jaga bicaramu!" Clarissa muncul dari balik tubuh Rendy, menyela dengan suara bergetar menahan marah. "Mas Rendy tidak pernah mencuri! Jangan asal menuduh kalau tidak ada bukti!"
"Kamu selalu saja membela suami kere ini, Clarissa!" potong Rosma cepat. "Sudah, tidak usah banyak alasan. Ayo ke ruang tamu! Pak RT dan Pak RW ada di depan, sekalian biar semua tetangga tahu tabiat suamimu!"
Rendy menarik napas panjang, menahan gemuruh di dadanya. Ia mengepalkan tangan kiri di samping paha, sementara tangan kanannya yang memar masih terasa nyeri berdenyut. "Baik, kita selesaikan di depan."
Mereka melangkah ke ruang tamu. Namun, bukannya polisi seperti yang digertakkan Rosma tadi, di sana hanya ada Pak RT dan seorang tetangga sebelah yang sedang bertamu untuk mengurus surat domisili. Melihat kehadiran tamu tersebut, Dion justru tampak semakin sengaja ingin mempermalukan Rendy.
Dion duduk santai di sofa kulit ruang tamu, mengangkat kedua kakinya yang masih mengenakan sepatu kulit hitam berdebu dan meletakkannya tepat di atas meja kaca—tepat di samping cangkir teh hangat milik Pak RT.
"Eh, Kakak IPA-ku yang rajin," panggil Dion dengan nada meremehkan yang amat kental. "Sebelum kita bahas soal jam tangan yang hilang, lihat ini. Sepatuku kotor terkena lumpur di depan gang tadi."
Dion sengaja menggesekkan sol sepatunya ke permukaan meja kaca hingga meninggalkan bekas tanah basah yang kotor dan berbau. Pak RT yang duduk di sebelahnya tampak canggung dan tidak enak hati, namun tidak berani mencampuri urusan keluarga tersebut.
"Ambilkan lap dan bersihkan sepatuku sekarang. Di depan Pak RT, tunjukkan kalau kamu memang ada gunanya sedikit di rumah ini," perintah Dion tanpa rasa bersalah.
Clarissa yang berdiri di samping Rendy langsung mengepalkan jemarinya hingga memutih. "Dion! Kamu sudah kelewatan! Mas Rendy itu kakak iparmu, bukan pelayanmu!"
"Kakak ipar?" Dion tertawa hambar, suara tawa yang sarat akan penghinaan. "Kakak ipar macam apa yang cuma menumpang makan dan tidak punya harga diri? Kalau dia tidak mau bersihkan, ya sudah, berarti benar dia yang mengambil jam tanganku karena merasa tidak dihargai!"
Rendy menatap Dion. Sorot matanya yang biasanya redup dan mengalah, kini menyala rapat oleh kilatan dingin yang membuat Dion sempat tertegun sejenak. Rendy adalah seorang Pradipta—darah konglomerat mengalir di tubuhnya. Jika bukan karena janjinya untuk menyamar dan hidup mandiri demi menguji cinta sejati tanpa bayang-bayang harta, satu kibasan tangannya saja bisa menghancurkan karir Dion dalam hitungan detik.
Namun, Rendy menahan gejolak itu. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan emosi yang hampir meledak di dada.
Sebelum Rendy sempat melangkah maju atau mengucapkan sepatah kata pun, Clarissa menyambar pergelangan tangan kiri Rendy dengan cengkeraman yang sangat kuat. Wajah Clarissa tampak merah padam oleh kombinasi rasa marah, malu, dan sakit hati melihat suaminya diperlakukan seperti binatang.
Tanpa memedulikan teriakan ibunya atau tatapan heran Pak RT, Clarissa menarik tubuh Rendy dengan sentakan kuat menuju bagian belakang rumah. Langkah kakinya begitu cepat dan tergesa-gesa, menuntun Rendy melewati lorong sepi hingga tiba di depan kamar mandi utama yang berada di dekat area cuci.
Clarissa mendorong Rendy masuk ke dalam kamar mandi, ikut melangkah masuk, lalu membanting pintu kayu itu hingga tertutup rapat. Sreeek! Kunci grendel besi diputar dengan sentakan kasar oleh jemari Clarissa yang gemetaran.
Suara gemericik air dari kran yang bocor halus mengisi kesunyian di dalam kamar mandi berubin abu-abu itu. Udara di dalam terasa lembap dan hangat.
Rendy berdiri membeku, menatap istrinya yang kini bersandar di balik pintu yang terkunci. Dada Clarissa naik turun dengan napas yang memburu cepat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes menyusuri pipinya yang mulus.
"Sa..." panggil Rendy serak, mencoba meraih bahu istrinya.
Namun, Clarissa justru maju menerjang tubuh Rendy. Kedua tangannya mencengkeram erat kerah kaos polos yang dikenakan Rendy, menarik kepala suaminya ke bawah.
Bibir Clarissa mendarat secara agresif di atas bibir Rendy.
Itu bukanlah ciuman lembut seperti biasanya. Ciuman kali ini dipenuhi oleh luapan emosi yang membara—rasa marah pada keluarganya, rasa bersalah yang mendalam, dan gairah protektif seorang istri yang tak sanggup lagi melihat pria yang dicintainya diinjak-injak.
Clarissa melumat bibir Rendy dengan berani dan menuntut. Lidahnya menyapu lembut, mengajak Rendy dalam pusaran gairah yang instan dan membakar. Rendy yang sempat terkejut, seketika kehilangan seluruh pertahanan dirinya. Emosi dan amarah yang menumpuk di dadanya menetas menjadi gairah liar yang menuntut balasan.
Rendy melingkarkan lengan kirinya di pinggang Clarissa, mengangkat tubuh mungil istrinya hingga punggung Clarissa menempel rapat pada daun pintu kayu di belakangnya. Tangan kanannya yang memar menahan tengkuk Clarissa, menyatukan wajah mereka tanpa jarak sedikit pun.
Desahan napas Clarissa terdengar tertahan dan memburu di antara selipan ciuman mereka yang semakin dalam. Gesekan halus antara gaun tidur katun tipis yang dikenakan Clarissa dengan kaos kasar Rendy menciptakan aliran panas yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Jemari Clarissa menyusup ke balik rambut belakang Rendy, meremasnya pelan saat Rendy memindahkan sasaran bibirnya menuju leher mulus Clarissa, menyesap kehangatan kulit di sana dengan sentuhan yang intens dan menggebu.
Clarissa memejamkan mata erat-erat, menikmati sensasi dominasi suaminya yang begitu terasa di balik dinding kamar mandi yang sempit. Di dalam ruangan tertutup ini, Rendy bukanlah pria miskin yang lemah; dia adalah pria penuh kuasa yang sanggup membuat seluruh tubuh Clarissa bergetar lemas dalam naungan dekapan hangatnya. Rasa panas yang membakar perut bawah Clarissa membuat kakinya melemah, sepenuhnya menggantungkan tumpuan tubuhnya pada lengan kekar Rendy yang melingkari pinggulnya.
Keduanya tenggelam dalam kehangatan gairah yang membakar, saling menyalurkan rasa sakit dan cinta yang terisolasi dari kekejaman orang-orang di luar sana. Napas mereka menyatu, berat dan terengah-engah dalam ritme yang semakin cepat—
KNOCK! KNOCK!
Buku jari seseorang mengetuk permukaan kayu pintu kamar mandi tepat di belakang kepala Clarissa. Tokan itu tidak keras, namun sangat berjarak dan disengaja.
Ciuman Rendy terhenti seketika. Tubuh Clarissa membeku kaku dalam dekapan Rendy, mata indahnya terbuka lebar dengan pupil yang membesar karena terkejut.
Suara langkah kaki yang tertahan di balik pintu diikuti oleh keheningan singkat, sebelum sebuah suara bernada dingin dan penuh kemenangan terdengar berbisik sangat dekat dari celah pintu kayu tersebut.
"Aku tahu kalian ada di dalam..." bisik suara Dion, terdengar begitu jelas dan merindingkan di tengah desah napas mereka yang belum reda. "Kalian sedang bersembunyi, kan? Keluar sekarang, sebelum aku dobrak pintunya di depan Pak RT!"