NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Tidak Bisa Terbang

Mobil melaju perlahan memasuki pelataran depan lobi utama Dirgantara Group. Begitu mesin berhenti, suasana di sekitar gedung tinggi bertingkat puluhan itu sudah tampak berbeda dari biasanya.

Bisik-bisik kasak-kusuk seolah tertahan di udara, menggantung bersama ratusan pasang mata yang diam-diam mencuri pandang dari balik dinding kaca lobi.

Doni turun lebih dahulu untuk membukakan pintu penumpang.

Naya menarik napas panjang, berusaha meredakan degupan jantungnya yang masih berpacu liar. Saat melangkah keluar, genggaman tangan Arka yang hangat dan kokoh menyambut jemarinya, memberikan pijakan emosional di tengah riak kecemasan yang melingkupinya.

Begitu pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan kemarin itu melangkah melewati pintu kaca otomatis menuju lobi utama, atmosfer seketika mengencang.

Area lobi yang biasanya diwarnai lalu-lalang formal para profesional kini mendadak dipenuhi keheningan buatan. Para staf, sekretaris divisi, hingga jajaran manajerial yang berpura-pura sibuk memegang dokumen atau menatap layar ponsel, sebenarnya sedang melirik tajam penuh rasa penasaran ke sosok wanita di samping CEO mereka.

Sebab, tidak ada satu orang pun di gedung itu yang mengenali siapa wanita asing tersebut.

“Siapa cewek yang dibawa Pak Arka? Bukannya kemarin Pak Arka baru nikah mendadak?” bisik seorang staf pemasaran di balik pilar besar, suaranya pelan namun dipenuhi prasangka.

“Iya, beritanya kemarin heboh banget! Tapi aneh, kan? Nggak ada yang tahu latar belakang cewek itu dari mana. Tiba-tiba kemarin sah jadi istri penerus Dirgantara Group,” sahut rekannya dengan nada menyindir.

“Pantas saja rumor kelainan Pak Arka di internet makin liar pagi ini. Logikanya, mana mungkin bos sekelas Pak Arka yang tak pernah dekat dengan wanita tiba-tiba mendadak menikahi cewek asing yang tidak jelas asal-usulnya kalau bukan karena dipaksa... atau 'digaet' pakai cara halus?”

“Jangan-jangan cewek itu pakai pelet atau guna-guna makanya Pak Arka sampai mau langsung nikah kemarin tanpa publikasi jelas? Mukanya polos begitu tapi tahu-tahu sudah bisa gandeng bos besar.”

Tuduhan-tuduhan implisit itu berembus kencang bagai angin dingin. Naya meremas pelan jemari Arka, menundukkan kepala saat merasa tatapan menilai dan penuh selidik dari puluhan pasang mata seolah menguliti harga dirinya. Rasa malu dan tertekan bercampur menjadi satu, membuat langkah kakinya terasa berat.

Namun, Arka tidak membiarkan istrinya tenggelam dalam intimidasi massa tersebut.

Tanpa menghentikan langkah, Arka justru makin mempererat genggaman tangannya di jemari Naya. Pria itu menyilangkan jarinya di antara jemari Naya, lalu menarik tubuh wanita itu lebih rapat ke sisinya, sebuah gestur protektif yang tegas dan tak terbantahkan.

Arka menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah lobi. Pandangan matanya yang tajam dan dingin menyapu seluruh penjuru ruangan. Seketika itu pula, para karyawan yang tadi berbisik-bisik langsung menunduk dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk karena takut berhadapan langsung dengan aura mengintimidasi sang CEO.

“Doni,” panggil Arka dengan nada suara rendah yang bergema tegas di area lobi yang hening.

“Siap, Pak,” jawab Doni cepat, mengubah mode bercandanya menjadi mode profesional seketika.

“Kumpulkan seluruh kepala divisi dan tim legal di ruang rapat utama dalam waktu sepuluh menit. Siapa pun yang terbukti menyebarkan rumor tak berdasar atau bergosip di jam kerja... persiapkan surat pemutusan hubungan kerjanya hari ini juga.”

Pernyataan lugas Arka memicu gelombang kepanikan halus di antara para staf yang mendengarnya. Wajah-wajah yang tadinya menduga-duga dan sinis kini berubah pucat pasi.

Arka kemudian menunduk kecil, menatap Naya dengan tatapan yang seketika melunak. “Ayo. Ruangan saya lebih tenang dari tempat ini.”

Dengan dagu terangkat dan langkah mantap, Arka menuntun Naya menuju lift khusus eksekutif, meninggalkan keheningan mencekam dan rasa takut yang membayangi para karyawan di lobi.

*

*

Lift eksekutif membawa Arka dan Naya naik tanpa suara menuju lantai teratas. Keheningan di dalam kabin berlapis cermin itu terasa jauh lebih menenangkan dibandingkan atmosfer penuh intimidasi di lobi tadi, namun gejolak di dalam dada Naya belum sepenuhnya mereda.

Sensasi hangat dari genggaman Arka masih tertinggal di jemarinya saat pintu lift terbuka, memperlihatkan lorong sunyi yang menuju langsung ke ruangan sang CEO.

Doni yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka segera mendahului untuk membukakan pintu kayu mahoni berukuran ganda.

“Pak Arka, Bu Naya, silakan,” ujar Doni sopan. “Saya akan segera mengurus rapat dengan tim legal dan jajaran kepala divisi sesuai perintah Bapak.”

Arka mengangguk singkat. “Pastikan tidak ada media atau rumor internet yang lolos dari pemantauan tim legal, Doni.”

“Baik, Pak. Saya permisi.” Doni membungkuk hormat lalu berbalik pergi, meninggalkan pasangan itu di dalam ruangan kerja eksekutif yang begitu luas dan megah.

Ruangan itu didominasi warna-warna gelap yang elegan dengan kaca patri besar di satu sisi yang menyajikan pemandangan lanskap kota dari ketinggian puluhan lantai. Sebuah sofa kulit tebal bernuansa cokelat tua tertata rapi di area tamu, tak jauh dari meja kerja besar milik Arka.

“Duduklah dulu, Naya,” kata Arka halus, melepas kancing jas hitamnya lalu menyampirkannya di sandaran kursi kerja sebelum berjalan mendekati sofa.

Naya melangkah pelan dan mendudukkan dirinya di tepi sofa. Matanya menatap hamparan gedung-gedung di luar kaca, tetapi pikirannya berkelana jauh. Kata-kata staf pemasaran di lobi tadi terus bergema di kepalanya bagai kaset rusak.

Rumor kelainan... cewek asing yang tidak jelas asal-usulnya... dipaksa... pakai pelet...

Naya meremas lututnya sendiri, jemarinya memutih. Tuduhan tentang dirinya yang dikatai menggunakan cara licik memang menyakitkan, tetapi satu hal lain yang jauh lebih mengusik benaknya adalah bagian rumor tentang Arka.

Mengapa orang-orang bisa berspekulasi sesadis itu tentang pria setampan Arka?

“Naya.”

Suara berat dan hangat Arka memecah lamunannya. Naya tersentak kecil dan mendongak, menemukan Arka sudah berlutut dengan satu kaki di depan sofa tempatnya duduk. Pria itu menaruh sebuah cangkir teh hangat di meja kaca kecil sebelum menatap lurus ke dalam manik mata Naya.

Jarak mereka kini begitu dekat. Tatapan Arka yang tajam di lobi tadi kini melunak sepenuhnya, memancarkan kedalaman intuisi yang seolah mampu membaca setiap sudut tergelap dari pikiran Naya.

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Arka pelan. Tatapannya meneliti raut wajah Naya yang tampak tegang.

Naya tersentak kecil. Pertanyaan itu lolos begitu saja sebelum Naya sempat menyaringnya di dalam kepala. Pikirannya yang kalut dan emosi yang berkecamuk membuat pertahanannya runtuh seketika.

“Rumor itu...” Spontan kata itu meluncur dari bibir Naya, suaranya nyaris bergetar.

Naya langsung menggigit bibir bawahnya, merutuki kecerobohannya sendiri. Wajahnya seketika memanas saat menyadari betapa tidak sopannya kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata Arka yang masih berada sangat dekat dengannya.

Namun, alih-alih menunjukkan riak kemarahan atau ketegangan, kekehan pelan suara Arka justru terdengar di udara.

Sebuah tawa renyah dan rendah yang sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah didengar oleh karyawan Dirgantara Group.

Arka menarik napas santai, lalu menyandarkan satu tangannya di sandaran sofa tepat di sebelah paha Naya.

“Kenapa? Kamu khawatir reputasi suamimu rusak, atau...” Arka sengaja menggantung kalimatnya, menurunkan nada suaranya hingga menjadi bisikan berat yang menggetarkan indra pendengaran Naya, “...kamu ragu dan penasaran dengan kebenarannya?”

Naya mendongak kaget, matanya membelalak sempurna melihat seringai tipis yang terukir di bibir Arka.

“Pak Arka, maksud saya, Arka... saya tidak bermaksud—”

“Naya,” potong Arka santai, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Naya yang panik. “Apa kamu benar-benar percaya kalau 'burung' suamimu ini tidak bisa terbang?”

Deg.

Wajah Naya meledak merah padam. Pertanyaan yang begitu gamblang dan blak-blakan dari pria bernuansa dingin itu membuatnya membeku sepenuhnya.

–tbc–

1
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Kecewa Arka tahu ada guling mati di ranjangnya 🤣🤣
sunaryati jarum
Semoga acara yang kau tangani sukses,Naya.
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): amiiiiin......
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
paha oh paha 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): terbayang-bayang paha mulus ya😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Makin lemes Arka ,emak suka
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 tidak bisa tidur,balas saja Naya seolah guling juga,impas
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 😂😂😂😂😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Yakin benengmu tetep kokoh Nak Arka.
sunaryati jarum
Bener tuh kata Doni
sunaryati jarum
Mengapa gengsi Arka,emak sumpahin kau memanggilku perjanjian dan bucin pada istri kontrakmu 😂😂😂
sunaryati jarum
Benar dugaan emak ,kamu itu sarjana yang hanya kurang beruntung.Kamu beruntung punya sahabat yang tepat buat melaksanakan tantangan Oma Soraya.Semogs berhasil Dera,dan melebihi ekspektasi mereka yang meremehkan kamu
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 bagaimana cara membuktikan Arka, jika burungmu bisa terbang?
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ya dikeluarin dari sangkarnya atuh kak🤭🤭🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Pilihan mendadak pada Naya ternyata tepat ,dia cerdas mungkin sarjana juga,cuma nasib yang kurang beruntung
Maseni Maseni
saatnya menunggu arka tersiksa dengan perasaannya sendiri.... sementara naya B aja dan enjoy dgn kerjaanya yg baru

buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): oke😉👌🏻
total 1 replies
Rian Moontero
mampir ah😄👍
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): thank you🙏
total 1 replies
Tiara Bella
kasian sekali km Naya.....Arka jangan galak² Napa km....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!