Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ku Kira Mimpi Basah?
"Ah, Paman tahu Qing Long juga ternyata?"
Wajah Kakek Lubis tiba-tiba tampak canggung saat menatap lukisan tersebut. "Chandra, apa jangan-jangan empat lukisan ini... semuanya hewan suci kuno?"
"Tepat sekali, Paman. Hebat Paman bisa menebaknya!"
DING!
Suara gema gong mendadak terdengar kencang di telinga Kakek Lubis.
"Hei, Manusia! Jika Tuanku ingin menjual lukisan ini, belilah dengan harga yang mahal! Untuk lukisanku, kamu harus membelinya dengan harga seribu kilogram emas!"
Kakek Lubis tercengang. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sumber suara tersebut. Tiba-tiba, mata lukisan naga Qing Long bersinar redup.
"Apa mungkin lukisan ini yang berbicara?" gumam Kakek Lubis dalam batin.
"Benar, ini aku, Qing Long. Aku bersedia menjaga tempatmu, dengan catatan kamu hanya membeli lukisanku saja!" gema suara Qing Long kembali terdengar di telinganya.
"I-ini... beneran suara sang naga!" gumam Kakek Lubis dengan mata terbelalak.
"Baik... baik, Tuan Naga. Saya akan membeli lukisan Tuan," ucap Kakek Lubis terbata-bata sambil mengangguk pelan.
Chandra memandang wajah Kakek Lubis yang sedari tadi melamun. "Paman? Halo, Paman?"
"Ah! Hahaha! Chandra... baiklah, aku beli lukisan ini saja! Lukisanmu ini sungguh mahakarya yang luar biasa. Aku taksir harganya bisa mencapai seribu kilogram emas!"
"Wah, Paman bercanda? Aku tidak akan menjualnya semahal itu. Satu juta rupiah saja untuk Paman."
"Ahh..." Kakek Lubis memandang lukisan Qing Long kembali.
"Terserah Tuanku saja. Tapi kamu harus lebih paham apa yang sebaiknya kamu lakukan," tutup Qing Long, hingga matanya kembali menjadi lukisan biasa.
Segera Kakek Lubis mengeluarkan ponselnya.
Ting-tong! Transaksi berhasil: 100.000.000 Rupiah.
"Apa?! Ini kemahalan, Paman!"
"Sudah, sudah! Anggap saja ini hadiah dari kakek tua ini, hehe."
"Seandainya kamu sadar, Chandra... kamu sudah membawa hewan suci ke galeriku. Seratus juta ini tidak ada apa-apanya," gumam Kakek Lubis dalam hatinya.
"Baiklah kalau begitu, aku terima. Terima kasih banyak, Paman. Lalu untuk ketiga lukisan ini bagaimana?"
"Tidak, tidak! Cukup naga Qing Long saja. Yang lain biarkan beristirahat dengan tenang bersama Chandra."
"Hahaha, Paman ini ada-ada saja. Memangnya mereka ini makhluk hidup sampai bilang begitu?"
"Kamu saja yang tidak menyadarinya, Chandra," bisik Kakek Lubis dalam hati.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Paman."
"Jangan!" Kakek Lubis dengan cepat menahan tangan Chandra.
"Ada apa, Paman? Apa ada yang bisa aku bantu?"
Kakek Lubis memasang wajah memelas dan mulai berakting. "Galeriku ini sudah ratusan tahun berdiri, diwariskan dari kakek buyut hingga sampai ke tanganku sekarang, Chandra. Tapi untuk generasi selanjutnya, aku bingung. Cucuku, Sabrina, dia terlalu modern dan sudah jadi CEO perusahaan kecantikan. Cucuku yang lain sedang di Belanda. Apa kamu mau jadi pengelola galeriku? Kamu bebas memajang karyamu di sini!"
Wajah Kakek Lubis berbinar penuh harap.
"Paman, tapi aku bukan keluarga Paman? Apa boleh?"
"Itu bisa diatur! Sabrina kebetulan masih jomblo. Kamu bisa pendekatan dulu dengan cucuku."
"Sampai seperti itu, Paman? Ini pasti akan sulit mengingat status cucu Anda..."
"Sudahlah, kamu jangan berpikir macam-macam! Sekarang kamu tinggal di sini. Di ujung sana ada tempat tidur, dan sekarang kamu resmi jadi pengelola galeri ini!"
"Serius, Paman?"
"Tentu saja!"
"Wah, aku bisa hemat uang kalau begini! Tidak perlu tinggal di kontrakan," batin Chandra kegirangan.
"Baik, aku terima, Paman!"
"Hahaha! Syukurlah, syukurlah! Galeri Teratai Hitam selamat!"
Kakek Lubis langsung memeluk Chandra, sementara Chandra hanya tersenyum lebar karena merasa tertimpa rezeki nomplok dua kali hari ini.
***
"Interior kamar ini begitu bagus, tapi sayang terasa agak kuno."
Chandra merebahkan badannya di atas kasur yang berada di kamar galeri. Saat matanya mengedarkan pandangan, perhatiannya tertuju pada sebuah lukisan kuno yang penuh debu di sudut ruangan.
Huuuhhh!
Chandra meniup debu tebal pada lukisan tersebut. "Lukisan apa ini? Aneh banget."
Chandra terus membersihkan kanvas itu hingga sosok di dalamnya terlihat jelas. Tergambar seorang wanita mengenakan pakaian bangsawan berwarna merah. Parasnya tampak pucat namun anggun, dengan sembilan ekor meliuk di belakang tubuhnya.
"Apa ini Kyuubi? Hahaha. Tapi sayang sudah mulai rusak. Baiklah, aku restorasi saja."
Chandra mengambil peralatan melukisnya. Perlahan tapi pasti, dia merapikan kembali lekukan demi lekukan tubuh hingga wajah wanita itu. Dia memberikan sentuhan warna baru yang serasi dengan lukisan aslinya.
"Nah, gini kan bagus! Hehe," ucap Chandra sambil memandangi hasil kerjanya. "Begitu cantik, anggun, dan mempesona. Sayangnya kamu punya ekor. Tapi kalau kamu manusia sungguhan, aku rela jadi suamimu."
Chandra menggantung kembali lukisan tersebut lengkap dengan bingkai baru yang rapi.
"Lumayan melelahkan. Tapi hari ini aku punya seratus juta! Aku bisa belanja puas besok, terlebih sekarang sudah punya pekerjaan tetap. Aku bisa tidur tenang tanpa memikirkan tagihan."
Chandra kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Perlahan-lahan, kesadarannya mulai runtuh dan dia tertidur lelap.
Tanpa disadari Chandra, lukisan Siluman Rubah itu mendadak bercahaya keemasan, disusul sorotan cahaya putih yang menyilaukan!
"Aku bebas... Terima kasih, Suamiku."
Kaki mulus melangkah keluar dari dalam lukisan. Bentuk tubuhnya yang indah dan berlekuk sempurna menjelma utuh menjadi wanita cantik berbalut gaun merah terurai, lengkap dengan sembilan ekor di belakangnya.
"Ratusan tahun Yueji terkurung dalam lukisan usang itu... Kini aku terlepas dan bisa menghirup udara bebas!" ucap Yueji, sang Siluman Rubah, dengan wajah sumringah.
Yueji menatap Chandra yang tertidur lelap. "Semua ini berkat suamiku. Aku harus memberikan kado spesial untuknya."
Yueji melangkah anggun, menaiki ranjang, lalu menindih tubuh Chandra pelan-pelan. "Suamiku, aku akan berikan yang terbaik untukmu..."
Mata Chandra perlahan terbuka samar. "Aroma harum apa ini?"
Tanpa sadar, tangan Chandra mendekap dan meraba tubuh di atasnya. Yueji tersenyum menikmati belaian tersebut.
Saat Chandra melirik ke arah dadanya, matanya mengerjap. "Wah... mimpi yang sangat indah! Bulat sempurna dan memiliki daya pegas yang luar biasa!" gumam Chandra dalam hati.
"Suamiku, apa kamu mau Yueji mulai duluan?"
Tanpa ragu Chandra menjawab, "Baiklah, kalau tidak keberatan..."
Siang itu menjadi siang yang liar bagi Chandra. Erangan Yueji membuat Chandra semakin bergairah, hingga tanpa sadar Yueji mengeluarkan cakarnya karena terlalu menikmati momen tersebut.
SRET!
"AAAA! Apa ini?!" teriak Chandra merasakan rasa perih yang luar biasa di area bahunya.
Pria itu tertahan saat Yueji terengah-engah di atas pangkuannya. Chandra meraba area yang sakit. "Apa?! Darah?!"
Seketika Chandra mendorong Yueji hingga wanita itu terlempar ke samping. "I-ini bukan mimpi?!" teriak Chandra seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Sayang... jahat banget sih lempar aku kayak gitu? Pinggangku sakit tahu!" ucap Yueji sambil cemberut.
"Ka-ka-kamu siluman! Beraninya kamu merenggut kesucianku!" pekik Chandra merengek.
"Sayang, aku istri kamu. Tadi kamu sendiri yang bilang!"
"Aku? Bilang seperti itu?!" Chandra menunjuk dirinya sendiri.
"Emm, benar!" jawab Yueji sambil tersenyum manis.
"Kamu gila, ya! Masa ak—" Seketika Chandra teringat ucapannya sendiri saat memandangi lukisan itu tadi.
Yueji perlahan menundukkan wajahnya. "Suamiku... apakah kamu sudah mulai ingat?"
Yueji menyeringai. Taring kecil muncul di bibirnya, mata indahnya berubah tajam menyerupai rubah, dan sembilan ekor putih menyala mekar di belakang tubuhnya.
"SILUMAN!!!!!!"