NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

BAB 2

BARA PENGKHIANATAN

Tawa itu bergetar di telapak tangan Rey.

Pemuda itu tidak langsung memahami. Alisnya mengerut, lalu mengikuti arah pandangan Lani yang baru saja naik dari bagian bawah tubuhnya.

Wajahnya berubah.

"Lo ngetawain gue?"

Lani tidak bisa menjawab karena mulutnya masih dibungkam. Namun matanya sudah mengatakannya dengan sangat jelas.

Semua ancaman itu. Semua gaya sok berbahaya itu. Tubuh Rey sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan kepadanya.

Yang ada hanya kemarahan seorang pemuda terluka yang putus asa ingin membuat orang lain ikut berdarah.

Jari Rey berpindah dari dagu ke leher Lani. Tekanannya tidak cukup untuk menghentikan napas, tetapi cukup keras untuk menghapus sisa tawanya.

"Gue bisa bikin lo berhenti ketawa."

Langkah kaki di lantai atas semakin dekat.

Lani menghentakkan lutut ke sisi paha Rey. Saat tubuh tinggi itu goyah, ia mendorong sekuat tenaga, menyelinap dari bawah lengannya, lalu berlari ke kamar mandi tamu di ujung lorong.

Pintu hampir tertutup ketika telapak Rey menahannya.

"Keluar."

"Pergi!"

Lani mendorong daun pintu dengan bahu. Rey melawan dari luar. Celah di antara mereka mengecil dan melebar, memperlihatkan satu mata pemuda itu yang masih dikelilingi darah kering.

Lampu ruang tamu menyala lebih terang.

"Lani?" Suara Gunawan terdengar dari dekat tangga. "Rey?"

Rey berhenti mendorong.

Lani memanfaatkan jeda itu untuk menarik pintu, tetapi ujung sepatu Rey sudah terselip di ambang. Pemuda itu mengangkat telunjuk ke bibir. Tatapannya menjanjikan sesuatu yang lebih buruk jika Lani bersuara.

"Kenapa kotak obat berantakan begini?" tanya Gunawan.

Bayangan laki-laki itu melintas di lantai marmer. Hanya beberapa langkah lagi sebelum ia melihat mereka.

"Aku di kamar mandi, Ko," jawab Lani. Suaranya pecah. Ia berdeham cepat. "Gelas airku jatuh. Rey membantu membereskannya."

Hening sesaat.

"Kamu sakit?"

"Cuma kedinginan. Ko Gunawan tidur saja. Besok rapat pagi, kan?"

Gunawan menghela napas. "Jangan lama-lama di bawah. Rey, setelah selesai, temui Papa."

"Besok aja," sahut Rey datar.

"Papa bilang setelah selesai."

Langkah itu akhirnya menjauh, menaiki tangga satu per satu. Lani menunggu sampai suara pintu kamar tertutup di atas. Baru kemudian ia membuka pintu dan menghantamkan telapak tangannya ke pipi Rey.

Plak!

Kepala Rey terlempar ke samping.

Bekas merah segera muncul di kulit yang belum memar. Darah di sudut bibirnya pecah lagi.

"Itu untuk tanganmu di leherku," kata Lani. Napasnya masih tersengal. "Kalau kamu menyentuhku lagi, aku akan bilang semuanya kepada papamu."

Rey menjilat darah di bibirnya. "Tadi kesempatan lo. Kenapa bohong?"

Pertanyaan itu membuat Lani terdiam.

Karena Gunawan pernah menyelamatkan keluarganya. Karena rumah ini adalah rumah seorang ayah dan putranya, sedangkan ia hanya sebuah kesepakatan yang bisa berakhir kapan saja. Karena jika semuanya meledak malam ini, orang pertama yang tetap akan ditanya kesalahannya adalah dirinya.

Namun Rey membaca diamnya sebagai kelemahan.

"Lo nggak akan bilang," gumamnya.

Lani berbalik. "Jangan terlalu yakin."

Baru dua langkah, lengannya ditarik. Dunia berputar. Rey mengangkat tubuhnya ke bahu seolah berat Lani tidak berarti apa-apa.

"Turunkan aku!"

Tinju Lani menghantam punggungnya. Rey terus berjalan menuju kamar di lantai satu yang sejak kepulangannya dipakai sebagai kamar tidur. Ia menendang pintu hingga terbuka, membawa Lani masuk, lalu memutar kunci.

"Rey!"

Ia menjatuhkan Lani ke tepi tempat tidur. Tidak cukup keras untuk melukai, tetapi cukup membuat baju tidur sutranya tersingkap di paha.

Lani buru-buru menarik kain itu. "Apa sebenarnya masalahmu?"

"Perempuan kayak lo."

"Bukan." Lani berdiri, meski lututnya gemetar. "Kamu bahkan baru mengenalku. Jadi, siapa yang sebenarnya membuatmu marah malam ini?"

Tatapan Rey membeku.

Ponsel di atas meja bergetar.

Sekali. Dua kali. Lalu berulang tanpa jeda.

Nama Lynn memenuhi layar bersama deretan notifikasi WhatsApp.

Rey meraihnya dan membalik ponsel itu. Terlambat. Lani sudah melihat satu pesan yang muncul paling atas.

`Rey, please jawab. Kamu suka aku, kan?`

"Keluar," kata Rey.

"Buka pintunya."

"Gue bilang keluar dari urusan gue."

Ia menyambar gelas di meja dan melemparkannya ke dinding. Pecahannya jatuh di lantai seperti hujan kecil.

Beberapa jam sebelumnya, gelas lain juga pecah di depan Rey.

Di sebuah bar kawasan Senopati, Lynn sedang tertawa dengan wajah dekat ke bahu Ivan. Terlalu dekat. Tangan sahabat yang sejak sekolah selalu berdiri di sisi Rey itu berada di pinggang Lynn, tersembunyi dari meja lain tetapi tidak dari pintu tempat Rey berdiri.

Lynn melihatnya lebih dulu.

Senyumnya lenyap.

"Rey..."

Ivan segera bangkit. "Gue bisa jelasin."

Rey tidak ingat siapa yang memukul lebih dulu. Ia hanya ingat kerah Ivan di tangannya, suara kursi jatuh, dan Lynn berteriak agar mereka berhenti. Ia ingat tinju sahabatnya menghantam pelipis. Ia ingat membalas sampai petugas keamanan menyeret mereka ke arah berbeda.

"Kami nggak pernah resmi pacaran," teriak Lynn sambil menangis. "Kamu sendiri nggak pernah bilang suka sama aku!"

Enam tahun. Rey mengenal Lynn sejak usia enam tahun. Gunawan pernah menertawakan mereka dan berkata suatu hari keluarga Tio dan Tan mungkin benar-benar menjadi besan. Tidak ada cincin, tidak ada lamaran, tidak pernah ada pertunangan. Hanya sebuah kalimat orang dewasa yang oleh Rey disimpan terlalu serius.

Setelah mamanya pergi dan rumah mereka pecah, Lynn serta Ivan adalah dua orang yang tidak pernah ia ragukan.

Malam ini keduanya mengajarkan bahwa kebodohan Rey bukan memercayai janji. Kebodohannya adalah memercayai manusia.

Getaran ponsel membawa Rey kembali ke kamar.

Lani berdiri di dekat pintu, satu tangan memegang kerah baju tidurnya. Tatapannya tidak lagi hanya marah. Ada belas kasihan di sana.

Rey membencinya.

"Jangan menatapku seperti itu," ujar Lani pelan.

"Seperti apa?"

"Seolah aku musuhmu. Aku bukan perempuan di ponsel itu."

"Semua perempuan sama."

"Kalau begitu, kamu belum cukup dewasa untuk mengenal perempuan."

Rey melangkah maju. Lani mundur sampai punggungnya menyentuh pintu.

"Jangan," katanya.

"Tadi lo berani ketawa."

"Dan aku masih bisa melakukannya."

"Coba."

Rey menahan kedua tangan Lani di sisi tubuhnya. Wajahnya mendekat. Lani memalingkan kepala, tetapi jari Rey mencengkeram dagunya dan memaksanya kembali.

Bibir mereka bertemu dalam benturan kasar.

Tidak ada kelembutan. Tidak ada rayuan. Hanya rasa darah dari luka Rey, napas yang kacau, dan kemarahan yang ia paksa masuk ke ruang paling pribadi milik orang lain.

Lani menggigit bibirnya.

Rey tersentak mundur. Darah segar muncul lagi.

"Aku bilang jangan." Suara Lani bergetar, tetapi matanya tidak lari. "Kamu dikhianati mereka, lalu kamu ingin menjadi lebih buruk daripada mereka?"

Untuk satu detik, cengkeraman Rey melemah.

Lani mendorongnya. "Buka pintu."

Ponsel kembali bergetar.

`Aku salah.`

`Tapi kamu nggak pernah memilih aku.`

`Rey, please.`

Mata Rey tertuju pada pesan-pesan itu. Sesuatu yang kosong membuka diri di wajahnya. Kemudian ia memandang Lani dan keputusan buruk terbentuk begitu saja.

"Dia mau tahu apa gue suka sama dia," katanya.

"Itu bukan urusanku."

"Sekarang jadi urusan lo."

Rey meraih ponsel. Lani mencoba menjauh, tetapi pemuda itu menarik sabuk baju tidurnya. Simpulnya lepas. Kain sutra bergeser dari satu bahu.

"Rey, hentikan!"

Ia menahan Lani menghadap pintu. Tangan Lani mencengkeram kain di depan dada, sementara punggung dan bahunya terbuka dalam cahaya lampu. Tidak ada wajah di bingkai kamera. Hanya kulit pucat, tali tipis yang jatuh, dan tangan Rey di sisi pinggangnya.

Kilatan putih menyambar.

Lani membalikkan tubuh dan merampas ponsel, tetapi Rey mengangkatnya tinggi.

"Hapus."

"Kenapa? Wajah lo nggak kelihatan."

"Hapus sekarang!"

"Kalau lo bicara soal malam ini ke Papa, foto ini bakal lebih dulu bicara."

"Kamu sakit."

"Mungkin."

Rey membuka Instagram. Jempolnya bergerak cepat ke akun Lynn, memilih foto itu, lalu mengetik satu kalimat.

`Aku juga udah punya.`

Lani menerjang. Terlambat.

Tulisan `Terkirim` muncul di bawah foto.

"Kamu nggak tahu apa yang baru saja kamu lakukan." Mata Lani panas, tetapi ia menolak menangis di depan pemuda itu. "Kalau foto itu tersebar, aku akan lapor. Kepada papamu, kepada polisi, kepada siapa pun yang perlu tahu."

Rey menatap layar tanpa ekspresi. "Silakan."

"Buka pintunya."

Ia tidak bergerak.

Lani memukul dadanya sekali. "Buka!"

Amarah di wajah Rey sudah padam. Yang tersisa jauh lebih mengganggu, kehampaan seorang anak yang baru membakar rumah hanya agar tidak sendirian dalam gelap.

Ia akhirnya memutar kunci.

Lani merapatkan baju tidurnya dan keluar tanpa menoleh. Di lorong, kakinya hampir kehilangan tenaga. Ia menahan dinding sampai bisa bernapas lagi, lalu berjalan cepat menuju kamar di lantai atas.

Ia tidak tidur. Sebelum azan Subuh terdengar samar dari kejauhan, sebuah tas kecil sudah terisi pakaian, dompet, dan dua kartu bank miliknya.

***

Pukul tujuh pagi, kursi Lani di meja makan kosong.

Rey duduk dengan kacamata hitam menutupi mata lebam. Gunawan berdiri di dekat jendela sambil menelepon.

"Rumah sakit mana?" tanyanya.

Suara Lani terdengar kecil dari pengeras suara. "Rumah sakit swasta dekat apartemen Wiwid. Dia sakit sejak semalam, lalu aku ikut demam karena kehujanan. Aku akan menemaninya beberapa hari."

"Kenapa tidak bilang sebelum pergi?"

"Ko masih tidur. Aku tidak mau mengganggu."

Gunawan melirik Rey. "Kirim lokasi. Saya suruh sopir mengantar kebutuhanmu."

"Nggak usah. Wiwid sudah mengurus semuanya. Aku tutup dulu, Ko. Dokternya datang."

Sambungan terputus.

"Kamu tahu dia pergi jam berapa?" tanya Gunawan.

Rey menyendok nasi goreng tanpa selera. "Mana gue tahu."

Ponselnya menyala di samping piring.

Percakapan Instagram dengan Lynn masih terbuka. Foto bahu Lani berada tepat di atas kalimat yang ia kirimkan semalam.

Di bawahnya, tanda pesan itu telah berubah.

Dilihat pukul 02.19.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!