"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persekutuan di kantor
Minggu-minggu berikutnya, pola yang mulai Rain curigai semakin jelas terlihat. Vera dan Farrel tampak semakin sering terlihat berdiskusi berdua di luar konteks rapat resmi, sesekali tertangkap sedang berbisik-bisik di sudut pantry atau bertukar pesan di ponsel masing-masing dengan ekspresi yang sengaja disembunyikan setiap kali Rain lewat. Itu membuat Rain curiga, tapi teringat pesan Kenzo, dia membiarkan nya saja.
Puncaknya terjadi ketika Rain mengajukan proposal strategi campaign besar untuk kuartal berikutnya dalam rapat gabungan dengan direksi regional. Proposal itu sudah dia susun dengan matang, didukung riset mendalam dan proyeksi hasil yang menjanjikan.
"Sebelum kita lanjut ke pembahasan proposal ini," Farrel menyela di tengah presentasi Rain, "saya rasa perlu disampaikan, ada beberapa masukan dari tim internal Marketing sendiri yang menunjukkan keraguan terhadap pendekatan ini."
Rain merasa jantungnya berdebar kencang mendengar interupsi tak terduga itu. "Masukan dari siapa, Pak Farrel?"
Farrel melirik ke arah Vera, yang duduk di ujung meja dengan ekspresi yang berusaha terlihat netral. "Vera, silakan sampaikan pandangan kamu."
Vera berdiri dengan sikap yang tampak ragu-ragu di permukaan, namun kata-kata yang keluar justru terdengar terstruktur rapi, seolah sudah dipersiapkan sebelumnya. "Saya rasa, beberapa asumsi dalam proyeksi ini terlalu optimis, Pak. Berdasarkan pengalaman saya di lapangan, target yang ditetapkan Kak Rain sepertinya kurang realistis untuk kondisi pasar saat ini."
Ruangan menjadi hening sejenak. Rain menatap Vera dengan campuran rasa terkejut dan kecewa, menyadari bahwa ini adalah manuver yang sudah direncanakan matang-matang antara Vera dan Farrel untuk menjatuhkan kredibilitasnya di depan direksi regional.
Jujur saja itu membuat Rain sedikit khawatir. Campuran emosi antara marah dan merasa dikhianati rekan setimnya sendiri membuatnya ingin menangis.
---
Di tengah situasi yang mulai memanas itu, suara lain tiba-tiba muncul dari sudut ruangan yang selama ini jarang bersuara dalam rapat-rapat besar.
"Maaf, saya ingin menambahkan sesuatu," kata Dito, staf junior yang selama ini lebih memilih diam, kini berdiri dengan tangan sedikit gemetar namun suara yang cukup tegas. "Saya yang mengumpulkan sebagian besar data untuk proyeksi ini bersama Kak Rain. Angka-angka yang digunakan sudah melalui verifikasi ketat dengan tiga sumber data berbeda, termasuk riset lapangan langsung yang kami lakukan sendiri selama tiga minggu terakhir."
Semua mata di ruangan itu kini beralih ke Dito, yang jarang sekali berani berbicara panjang lebar dalam forum sebesar ini.
"Faktanya," Dito melanjutkan, keberaniannya semakin bertambah, "Vera sendiri yang meminta saya untuk melakukan sebagian besar riset lapangan ini, karena dia sendiri jarang turun langsung mengecek kondisi pasar. Jadi saya agak heran kalau sekarang data ini dianggap kurang realistis."
Ruangan itu semakin hening, kali ini dengan ketegangan yang berbeda, ketegangan yang mengarah pada Vera, yang wajahnya mulai memerah menahan rasa malu dan gugup.
"Saya... maksud saya bukan begitu," Vera mencoba membela diri, namun suaranya kini terdengar jauh lebih goyah dibanding sebelumnya.
Salah satu perwakilan direksi regional, yang sejak tadi memperhatikan situasi itu dengan seksama, akhirnya angkat bicara. "Saya rasa, diskusi soal validitas data ini lebih baik diselesaikan secara internal terlebih dahulu, sebelum dibawa ke forum sebesar ini. Mari kita lanjutkan pembahasan proposal utama."
---
Rapat itu akhirnya berlanjut dengan lebih kondusif, dan proposal Rain berhasil disetujui dengan beberapa catatan kecil yang wajar, jauh dari skenario buruk yang sempat coba diciptakan oleh Farrel dan Vera. Namun, ketegangan di antara mereka jelas belum sepenuhnya usai.
Selesai rapat, Rain segera menghampiri Dito, yang masih tampak sedikit gemetar setelah keberaniannya berbicara di depan forum besar tadi.
"Dito, makasih banget udah berani ngomong tadi," kata Rain tulus, menepuk pundak stafnya itu dengan penuh apresiasi.
"Saya cuma nggak tahan lihat data yang saya kerjain susah payah dibilang nggak valid begitu aja, Kak," jawab Dito, tersenyum kecil meski masih terlihat sedikit gugup. "Lagipula, saya udah lama perhatiin cara kerja Vera. Rasanya udah waktunya seseorang bicara jujur."
"Kamu berani banget," Rain memuji, "padahal kamu tahu risikonya bisa aja bikin hubungan kamu sama Vera makin nggak enak."
"Kadang kita harus milih, Kak," jawab Dito bijak, jauh melampaui usianya yang masih relatif muda dalam dunia kerja. "Antara jaga hubungan yang nggak sehat, atau berdiri buat apa yang bener. Saya pilih yang kedua."
Rain tersenyum bangga, menyadari bahwa di tengah dinamika kantor yang penuh intrik, dia menemukan sekutu yang tidak terduga namun sangat berharga, seseorang yang mengutamakan integritas di atas kenyamanan semata.
---
Malam itu, Rain menceritakan seluruh kejadian dramatis di rapat kepada Kenzo, yang mendengarkan dengan penuh perhatian dari layar video call.
"Aku bangga banget sama kamu," kata Kenzo setelah mendengar cerita lengkap itu. "Kamu tetap tenang dan profesional, meski dijebak kayak gitu di depan direksi regional."
"Untung ada Dito yang berani angkat bicara," Rain mengakui. "Kalau nggak ada dia, mungkin situasinya bakal jauh lebih buruk buat aku."
"Ini pelajaran penting juga," Kenzo menambahkan. "Kadang, orang-orang yang paling diem di tim, justru yang paling loyal dan berintegritas. Sementara yang paling ramai cari perhatian di depan atasan, belum tentu punya karakter yang sama baiknya."
Rain mengangguk setuju. "Aku belajar banyak dari kejadian ini. Bukan cuma soal Vera dan Farrel, tapi juga soal pentingnya membangun tim berdasarkan kepercayaan yang tulus, bukan sekadar loyalitas yang keliatan di permukaan."
"Gimana sikap Farrel sama Vera sekarang, setelah kejadian tadi?" tanya Kenzo, penasaran dengan perkembangan situasi itu.
"Farrel masih coba jaga image di depan direksi, tapi jelas kelihatan dia lagi cari cara buat nutupin kekalahannya tadi," jawab Rain. "Vera sendiri kelihatan lebih diam dari biasanya sejak kejadian itu. Mungkin dia sadar, manuvernya udah kelewat kentara buat semua orang di ruangan."
"Tetap waspada aja," Kenzo mengingatkan. "Orang-orang kayak mereka biasanya nggak akan berhenti cuma karena satu kali gagal. Mereka bakal cari cara lain buat coba lagi di kesempatan berikutnya."
Rain menghela napas, menyadari kebenaran dalam peringatan itu. "Aku bakal tetap waspada. Tapi setidaknya sekarang aku tahu, aku nggak sendirian menghadapi ini. Ada Dito yang bisa dipercaya, dan ada kamu yang selalu dukung aku, meski dari jauh."
"Selalu," jawab Kenzo tegas, senyumnya terlihat hangat dari layar ponsel. "Dan inget, aku juga bakal segera nyusul ke sana. Nggak akan lama lagi."
Percakapan malam itu memberikan Rain kekuatan baru untuk menghadapi tantangan-tantangan berikutnya yang mungkin masih akan datang, baik dari Farrel yang terus mencari celah untuk menjatuhkannya, maupun dari dinamika politik kantor yang rumit, dengan keyakinan bahwa integritas dan kerja keras yang konsisten pada akhirnya akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk diakui.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...